
Langit berbintang dan ditemani terang remang-remang bulan sabit yang menggantung di langit malam seakan tak berarti buat seorang laki-laki berkulit putih kemerahan karena sering terjemur panasnya matahari. Hanya gelap dan engap yang tak hingga rasa yang bisa dirasakannya kini.
Kakinya melangkah pasti mendekati para tamu undangan yang terlihat asik dengan obrolan santai ditemani banyaknya kudapan malam yang mewah.
“Tuan … eh … Den … eh … Pak. Tunggu, mau kemana?” Bik Onah terlihat panik melihat laki-laki yang diperintahkan mami Rengganis untuk pergi tak mengganggu jalannya pesta malah semakin masuk ke halaman luas rumah Rengganis yang menjadi tempat berlangsungnya acara standing party.
“Tuan, Den, Pak, harus panggil apa saya?” Bik Onah menepuk-nepuk jidatnya.
“Tolong jangan masuk, nanti saya yang dimarah nyonya besar. Tolong saya, Pak!” pinta Bik Onah yang nyatanya mampu menghentikan langkah Kapten Biru.
“Dimana Rengganis, Bik. Saya harus ketemu.” Mata Kapten Biru memerah menahan perasaan marah, kesal serta kecewanya.
“Non Rengganis gak ada, Pak.” Bik Onah keceplosan.
“Tadi katanya acara lamaran Rengganis!” Nada bingung terdengar jelas dari suara Kapten Biru.
“Rengganis memang tidak ada di sini tapi kami kedua belah pihak keluarga besar telah sepakat dengan lamaran pada malam hari ini. Rengganis juga sudah setuju, malah dia yang meminta acara pernikahannya untuk dipercepat. Maaf Anda siapa ya?” Tiba-tiba mami Rengganis muncul dan menerangkan semua pada Kapten Biru.
“Saya Biru, Tante. Maaf jika mengganggu kenyamanan tante sekeluarga. Saya hanya ingin menjelaskan semuanya pada Rengganis. Saya mencintai anak tante. Tolong beri saya kesempatan sekali saja untuk membuktikan saya pantas menjadi menantu tante,” ucap Kapten Biru penuh harap.
“Biru, tante minta maaf, tante suka dengan perjuangan Nak Biru. Tante menghargai keberanian dan ketulusan Biru tapi mohon maaf ini sudah jadi keputusan Rengganis dan keluarga besar kami. Tante harap Biru mengerti.” Mami menepuk pundak Kapten Biru lembut.
“Dimana Rengganis sekarang, bolehkah saya bertemu sekali saja?”
“Rengganis masih di Korea, Nak. Mungkin akan kembali dua atau tiga hari sebelum hari akad.”
Daaaar. Kilat berkekuatan besar seakan menyambar kepala Kapten Biru. Membelahnya menjadi dua sama besar. Menghanguskan hatinya yang merah menjadi hitam.
Biru membalikkan tubuhnya lunglai. Langkahnya bagai tak bertenaga sama sekali. Perlahan ia kembali ke atas motor dan mengepalkan tangannya keras-keras meninju udara seakan ingin mengeluarkan segala bentuk amarahnya.
“Nyonya—” Bik Onah memasang wajah sedih.
“Demi Rengganis, Bik.” Mata mami juga terlihat berkaca-kaca.
“Tapi, Nyonya—”
“Sudah, Bik, ini rahasia kita berdua. C-U-K-U-P, jangan dibahas lagi.” Mami berlalu meninggalkan Bik Onah yang masih berdiri mematung memeluk nampan sambil menatap Kapten Biru yang semakin menjauh.
**
__ADS_1
Deburan pantai di malam hari seperti sengaja memekakkan telinga Kapten Biru yang tidur telentang di atas pasir putih luas. Tiupan angin pantai yang menderu seakan mengupas kulit ari laki-laki tampan itu.
Wajah pucatnya tak berekspresi sama sekali. Matanya yang tajam menatap bulan sabit yang membalas tatapannya dengan tak kalah sengit. Kapten Biru benar-benar sudah tak peduli lagi dengan perutnya yang tak terisi seharian ini sama seperti hatinya yang kosong tak berisi juga.
“Rengganis, inikah hukuman atas keegoisanku selama ini? Aku hanya cemburu, Re! Aku tak kuat melihatmu dekat dan diinginkan laki-laki lain selain aku. Cuma itu! Aku tak pernah benar-benar berniat untuk berpisah. Aku hanya ingin kamu bahagia, tak terlalu terikat dengan hubungan jarak jauh kita.”
Kapten Biru menghempaskan tangannya ke pasir pantai berkali-kali. Darah yang keluar dari robekan kulit tangannya yang menghempas batu-batu karang yang terbawa air ke atas pasir tak membuatnya merasa sakit. Hatinya sudah teramat perih malam ini tak ada sakit yang lebih parah menandingi luka di dalam hatinya.
Kapten Biru mengangkat tubuhnya, duduk memandangi air laut yang terlihat gelap tanpa cahaya.
“Renggaaaaaaaaniiiiiiiiiiss, kamuuu mengkhianatikuuuu!” Kapten Biru berteriak sekuat-kuatnya pada laut lepas yang dingin itu.
Beberapa muda-mudi yang sedang asik berduaan sempat menoleh ke arahnya, lalu kembali dengan obrolan mereka seperti sediakala.
Rengganis mengusap-usap telinganya yang tiba-tiba terasa gatal.
“Ada apa?” tanya Yu Jin menatap Rengganis erat-erat.
“Tak apa, tiba-tiba telingaku terasa tak nyaman,”
“Ayo, kita harus ke dokter.”
“Hahaha, iya-iya, maafkan aku. Aku lupa bahwa kamu seorang dokter, Rengganis.” Yu Jin menyusul Rengganis dan berusaha menjajarkan langkahnya dengan gadis cantik di sisinya.
Yu Jin tak pernah merasa malu meski berkali-kali diabaikan oleh Rengganis. Laki-laki itu selalu menempel pada dokter muda itu tanpa jeda. Saat melakukan pekerjaan kantornya pun hanya Rengganislah yang ada di benaknya karena itu secepatnya ia akan melakukan tugas-tugas kantor dan segera menyusul Rengganis dimana pun ia berada.
“Mau kemana kita?” tanya Yu Jin berharap Rengganis akan meminta dirinya mengantarnya jalan-jalan.
“Sudah pukul 22.00 kita pulang.”
“Ah kamu masih terbiasa dengan jam malam. Ini masih terlalu sore kita bisa jalan-jalan.”
“Aku lelah, aku ingin segera pulang. Ada beberapa tugas yang harus aku serahkan besok pagi.”
“Oke, baiklah, kalau begitu ayo kita pulang.” Yu Jin mendahului langkah Rengganis dan membuka pintu mobilnya untuk mempersilakan Rengganis masuk terlebih dahulu.
“Kamsahamnida,” ucap Rengganis.
“Yeee,” Yu Jin tersenyum manis sambil menyilangkan tangan kanannya membentuk gerakan hormat.
__ADS_1
**
“Kapten, Anda baru pulang?” Lettu Abi yang melihat Kapten Biru masuk ke dalam barak bujangan di pagi hari segera menyambutnya.
“Ya,” jawab Kapten Biru singkat.
Lettu Abi paham betul jika sudah begini keadaannya artinya Kapten Biru sedang tak ingin diganggu tapi apa daya dia harus menyampaikan pesan dari wadanyon padanya.
“Izin, Kapten, ada pesan dari Wadan, jika kapten sudah kembali harap segera menghubungi beliau.”
Kapten Biru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Malam gelapnya ternyata belum juga selesai meski matahari telah terbit. Sekali lagi ia tertangkap basah menghilang dari kesatuan, mungkin kini hukuman telah menunggunya.
“Kapten, ada yang bisa saya bantu?” tawar Lettu Abimanyu.
“Tidak usah, terima kasih ya.” Kapten Biru merebahkan tubuhnya di dipan bujangan yang hanya berukuran lebar satu meter.
Secepat kilat ia mengeluarkan phonecell dalam saku jaket dan mengaktifkannya. Sejak semalam sengaja Kapten Biru tak mengaktifkan gawainya. Ia tak ingin diganggu oleh siapa pun saat perasaannya sedang hancur terpuruk ke jurang yang paling dasar.
Beberapa pesan masuk, belum sempat Kapten Biru membukanya sebuah panggilan tiba-tiba muncul di layar HP.
“Assalamualaikum, Ibu, ada apa?”
“Waalaikumsalam. Kemana saja kamu, Le, semalaman Ibu telepon kok gak aktif.”
Kapten Biru hanya menarik napas kuat-kuat. Ia tak mungkin menceritakan apa yang dialaminya semalam pada ibu.
“Biru sudah ditunggu wadan, Bu. Nanti Biru telepon ibu lagi ya,” putus Biru tak ingin memperpanjang masalah dengan perbincangan pagi dengan ibu.
“Tunggu—tunggu, sebentar saja, ibu cuma mau ngingetin. Waktumu tinggal seminggu lagi. Kalau sampai minggu depan gak bisa nunjukkin kalau kamu beneran punya pacar. Ibu akan langsung pesen baju sama cincin tunangan. Inget itu!”
“Bu, tolong kasih Biru waktu, Bu. Biru masih banyak kegiatan belum bisa cuti, bagaimana mau bawa Rengganis ke rumah.”
“Oalah namanya Rengganis to. Bagus namanya, pokoknya satu minggu. TITIK.” Bu Suryo mematikan teleponnya.
Biru membanting telepon genggamnya ke lantai. Hatinya benar-benar tak karuan hari ini. Matanya menatap lemari pakaian.
“Aku harus bisa menyusulnya ke Korea!” Mata Kapten Biru menatap tas rangsel yang berada di atas lemari baju inventaris barak remaja.
Apa yang terjadi berikutnya? Kita tunggu cerita selanjutnya ya!
__ADS_1