
“Kapten, apa kabar?” Bidan Maya berlari menghambur ke luar refleks memeluk Kapten Biru. Wanita tua itu benar-benar tak menyangka dapat melihat kehadiran prajurit tampan itu di desa ini lagi.
Kapten Biru tersenyum dan membalas sambutan hangat Bidan Maya dengan merangkul wanita tua yang tingginya hanya sebatas leher Kapten Biru. Mereka berjalan melewati pintu pagar bambu PKM menuju teras depan.
“Banyak yang berubah dari sebelumnya ya, Bu?” Mata Kapten Biru memendar menyapu setiap titik halaman puskesmas yang mereka lewati.
“Lebih rapi dan indah sekarang,” sambungnya.
“Ini semua berkat Bu Dokter Rengganis, Kapten.”
“Rengganis?” Pipi Kapten Biru terasa hangat.
“Iya, beberapa hari sebelum Dokter Rengganis memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya, dokter hebat itu berhasil menggerakkan masyarakat desa untuk sukarela bekerja bakti memperbaiki fasilitas puskes.”
Tatapan Kapten Biru lurus ke arah Bidan Maya, telinganya terpasang siap mendengarkan semua cerita bidan senior yang telah dianggap Rengganis sebagai ibunya sendiri itu dengan seksama.
“Bukan itu saja, papi Dokter Rengganis juga menyumbangkan banyak alat medis terbaik untuk membantu pelayanan masyarakat desa Pringjaya. Beruntung sekali kali pernah memiliki dokter hebat dan keren seperti beliau.”
Kapten Biru tersenyum kekagumannya pada gadis cantik yang mampu membuat hatinya berbunga-bunga tanpa melakukan apa pun itu semakin bertambah besar seiring dengan rasa rindu yang semakin memburu pula di dalam dadanya.
“Kapten pasti rindu pada Dokter Rengganis?” pertanyaan Bidan Maya ini sebenarnya tak perlu dijawab karena ia sendiri sebenarnya sudah cukup yakin dengan jawaban tentang bagaimana perasaan laki-laki berambut cepak yang kini sedang mengamati seorang dokter laki-laki yang sedang sibuk dengan pasien-pasiennya. Ada gejolak cemburu yang masih terus bergeliat tak tertahan acap kali sosok Fattan terlihat di hadapannya.
“Saya tahu betul bagaimana besarnya cinta Dokter Rengganis untuk Kapten.” Kapten Biru kembali menoleh ke arah Bidan Maya berdiri. Wanita itu mengangguk beberapa kali.
“Betapa sulitnya Dokter Rengganis melepas kepergian kapten ke Libanon. Bersusah payah ia harus bangkit dari keterpurukkannya saat tahu Kapten berfoto mesra dengan rekan seprofesi Kapten, siapa itu ya namanya, saya lupa.” Bidan Maya berusaha mengingat-ingat nama wanita yang pernah diceritakan Rengganis padanya.
“Tapi nyatanya saya tak memiliki hubungan dengan wanita itu, Bu!” Kapten Biru terlihat panik.
“Sama seperti perasaan kapten saat menatap Dokter Fattan seperti itulah dokter Rengganis kami merasakannya,” tandas Bidan Maya yang mampu membuat jantung Kapten Biru mendadak terasa sakit.
“Belum lagi saat Kapten Biru menggantung perasaannya, gadis itu tak mampu menyentuh makanan berhari-hari.”
“Rengganis!” Kapten Biru memegang dadanya yang terasa sesak. Penyesalan yang terlalu dalam tiba-tiba menyerang bahkan hampir melumpuhkan semangatnya.
“Pantas dia lari menghilang dari jangkauanku, Bu. Mungkin ia tak ingin memaafkan aku. Kesalahanku padanya terlalu besar,” sesal Kapten Biru.
“Kapten harus berjuang untuk mendapatkan kembali hatinya sekali lagi karena saya sangat yakin satu-satunya orang yang mampu membahagiakannya hanya Kapten. Saat ini dokter Rengganis pasti sedang merindukan Kapten.”
“Aku akan mencarinya, Bu. Kemana pun itu aku pasti menemukannya.”
“Saya doakan semoga cinta dokter dan Kapten Biru segera dipersatukan ya, Kapten—” Bidan Maya menghentikan kalimatnya melihat Dokter Fattan berjalan mendekati mereka.
“Apa kabar, Kapten?” Dokter Fattan menyodorkan tangan kanannya.
__ADS_1
“Baik,” jawab Kapten Biru. Tiba-tiba keadaan menjadi serba canggung.
“Saya pamit ke belakang sebentar. Kapten mau mau teh atau kopi?” tawar Bidan Maya, sengaja pergi menghindari keadaan kaku diantara mereka bertiga.
“Apa saja, Bu, terima kasih banyak.” Kapten Biru melepas senyumnya.
“Baiklah. Dokter?”
“Saya tidak usah, Bu. Masih kenyang,” tolak Fattan.
“Mari kita ngobrol di ruangan saya,” ajak Dokter Fattan.
“Sepertinya lebih enak berbincang di sana.” Kapten Biru menunjuk kursi panjang yang terbuat dari susunan bambu-bambu bulat yang di cet putih di bawah pohon jambu di halaman samping PKM.
“Ayo!” Dokter Fattan menyetujui usul Kapten Biru.
“Bagaimana kabar Rengganis?” tanya Fattan hati-hati.
“Dia baik-baik saja,” jawab Kapten Biru mencoba menutupi kenyataan dari hubungan cinta mereka yang mengantung tak jelas.
“ Syukurlah kalau begitu. Aku selalu berharap mendapatkan tempat yang sangat spesial seperti dirimu di hatinya, Kapten. Tapi tak akan pernah bisa.” Fattan mengembuskan napasnya yang terasa berat.
“Apa kalu rela melihatku bersama Rengganis?”
“Demi melihatnya bahagia, aku akan kesampingkan rasa kecewaku, Kapten. Berjuanglah, lakukan yang terbaik.”
“Kapten!” panggil Bidan Maya dengan nampan berisi dua gelas teh hangat dan sepiring kue onde-onde yang masih hangat pula.
“Lain kali saya mampir kemari lagi. Saat ini ada sesuatu yang harus saya kerjakan.”
Kapten Biru berjalan cepat menuju motornya meninggalkan Bidan Maya dan Dokter Fattan yang masih bengong, larut dalam kebingungan.
Hari masih cukup siang untuk memulai perjalanan menuju kota. Kapten Biru sempat melirik arloji hitam di tangan kanannya sebelum menarik pedal gas motor.
“Waktuku tak banyak. Aku harus segera mencarinya sebelum jatuh tempoku pada janji ibu ditagih!” Kapten Biru segera melajukan kendaraannya dengan cepat berharap segera sampai ke tujuan dimana ia akan memperoleh informasi keberadaan Rengganis.
Kelok demi kelok jalan kampung yang berbatu dilalui Kapten Biru hingga akhirnya memasuki kawasan perkebunan. Kapten biru memperlambat kecepatan motornya, ia ingin mengingat kembali masa-masa awal perjumpaannya dengan gadis cantik pujaan hatinya.
Kapten Biru menghentikan motor yang dikendarainya tepat pada posisi mobil Rengganis terparkir kala itu. Laki-laki itu turun manarik napas dalam-dalam, kedua tangannya terbentang lebar, mata elangnya tenggelam dalam kelopak matanya yang terpejam. Bayangan bagaimana ia menarik paksa Rengganis untuk segera mengikuti langkahnya begitu terasa segar bagai baru saja kemarin terjadi.
Biru membuka kembali kedua netranya menyadarkan diri bahwa harus menjalani kenyataan bahwa kini dirinya terpisah dari gadis cantik yang malam itu meringkuk ketakutan di dalam mobil mewahnya.
Sekali lagi Kapten Biru melirik jam tangannya, baru bergerak tiga puluh lima menit dari waktu sebelumnya. Ia memutuskan kembali dilanjutkannya perjalanannya menuju kota, perasaan tak menentu dalam hati membuat laki-laki itu segera ingin sampai dan mendapatkan apa yang sangat diinginkannya.
__ADS_1
“Rengganis!” ucap bibir Kapten Biru menyebut nama dokter muda itu entah untuk yang keberapa kali. Terus menerus hal itu dilakukan hingga akhirnya motor kesayangan Kapten Biru itu berhasil membawanya ke sebuah kompleks perumahan elit yang diduga salah satunya adalah rumah milik milyarder kaya, papi gadis yang dicintainya, Rengganis.
Kapten Biru menghentikan laju kendaraannya di sebuah rumah besar yang terlihat ramai. Kakinya dengan penuh percaya diri melangkah masuk ke gerbang besar yang terdapat sebuah pos satpam di depannya.
“Maaf, apa saya bisa bertamu ke rumah Pak Brata Warman?” tanya Kapten Biru pada dua orang security yang bertugas menjaga rumah keluarga Brata. Awalnya ia hanya berspekulasi. Jika memang itu bukan rumah Rengganis, pasti para penjaga akan menjawab dengan menunjukkan rumah Pak Brata yang sebenarnya.
“Oh silakan, Pak. Sejak tadi sudah banyak tamu yang berdatangan.” Ternyata tebakan Kapten Biru tidak meleset.
“Tamu?” tanya Kapten Biru bingung.
“Iya, dari tadi banyak tamu-tamu elit datang ke rumah. Bukankah bapak juga diundang untuk menghadiri acara di rumah Pak Brata?” Seorang satpam bernama Priyanto memperhatikan penampilan Kapten Biru yang tak sama dengan para tamu lainnya.
“Ada apa?” Kapten Biru merasa kikuk dipandangi Priyanto detil dari atas ke bawah.
“Tidak, Pak, tidak apa-apa. Silakan,” jawab Priyanto serba salah.
“Terima kasih.” Kapten Biru melangkah masuk melewati pintu gerbang utama.
Rumah yang tampak paling mewah diantara rumah lainnya terlihat begitu terang benderang malam ini. Mobil-mobil mewah dan berkelas tampak berbaris mengisi halaman dan jalanan depan rumah.
“Pantas saja satpam-satpam tadi memperhatikanku dengan tatapan curiga.” Kapten Biru seolah baru sadar dengan keadaannya.
“Tamu-tamu yang lain pasti berjas dan mengendarai mobil mewah berbeda denganku yang menggunakan jins dan jaket begini, bermotor pula.” Kapten Biru seolah menertawakan dirinya sendiri.
Kapten Biru menghentikan langkahnya setelah melangkah beberapa meter dari pos pintu gerbang. Ia ragu untuk masuk, mungkin waktunya tidak tepat. Bik Onah yang sedang sibuk membawa beberapa piring melihat seorang laki-laki yang berada di depan pintu pagar. Perempuan paruh baya itu berjalan berniat mendekati sampai sebuah tangan tiba-tiba menariknya.
“Mau kemana, Bik?” tanya mami.
“Itu ada tamu tapi gak mau masuk, saya mau tanya dulu, Nyonya.” Mami Rengganis ikut melihat ke arah Kapten Biru.
“Sepertinya itu laki-laki yang dimaksud Rengganis,” gumam mami.
“Tentara itu, Nyonya? Wah pantes Non Rengganis jatuh cinta. Dari jarak jauh saja sudah kelihatan ganteng,” Bi Onah meremas-remas tangannya sendiri.
“Jangan aneh deh, Bik! Cepat temui, bilang jangan ganggu acara!”
Perempuan yang mencepol asal rambutnya itu kembali meneruskan langkahnya.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Bik Onah sambil memandangi wajah tampan Kapten Biru tanpa berkedip.
“Ada acara apa, Bik? Kok ramai sekali?” tanya Kapten Biru penasaran tanpa berniat menjawab pertanyaan Bik Onah sebelumnya.
“Ehm, ini ada acara lamarannya Non Rengganis.”
__ADS_1
“Rengganis?” Mata Kapten Biru membelalak. Dadanya bertabuh kencang seakan segera lepas dari tempatnya. Kepalanya menggeleng-geleng cepat. Hatinya hancur berkeping-keping tanpa sisa lagi.
Duaaaaaar … penasaran? Sampai jumpa di episode berikutnya ya!!! Bye.