
“Kok gak diangkat, Kak, teleponnya?” tanya Faiha sambil mulutnya terus bergoyang menguyah makanan.
“Oh ya,” Rengganis meletakkan potongan pizza yang telah digigitnya dan menyempatkan meneguk seperempat gelas lemon mint yang mengalir ke tenggorokkanya melalui satu buah pipet berwara putih.
Faiha beberapa kali harus menghentikan gerakan mulutnya hanya untuk lebih serius mendengarkan percakapan Dokter Rengganis dan sang penelepon.
“Udah, Kak?” tanya Faiha setelah Rengganis menutup teleponnya.
“Hem, bentar lagi dia video call, masih kurang percaya kalau aku lagi sama kamu doang.”
Tak lama HP di tangan Rengganis benar-benar berbunyi, Gadis cantik itu berniat segera mengangkat vidcall di gawai pintarnya. Ia tak ingin kapten kesayangannya akan curiga dan marah karena dirinya yang terlambat mengangkat video call darinya.
“Ni dia vidcall lagi! Ini adalah panggilan ke sembilan puluh tujuh kali buat hari ini aja.” Rengganis bersungut-sungut.
"Hahaha luar biasa, Kak, dia terlalu takut kehilanganmu rupanya." Faiha bertepuk tangan.
"Luar biasa apanya, ini sih berlebihan." Rengganis menghentikan Faiha yang terus bertepuk tangan.
"Sabar, Kak." Faiha nyengir. Gadis itu paham benar perasaan Rengganis.
"Dah buruan diangkat nanti dia marah lagi loh."
"Oh iya," Rengganis menekan tuts terima.
"Hallo, assalamualikum," salam Rengganis lembut.
“Wa'alaikumsalam, coba lihat keadaan sekelilingmu!” peritah Kapten Biru.
“Ya ampun,” Rengganis tapak memutar-mutar HP-nya meyakinkan kekasihnya bahwa tak ada pria lain di sekitar Rengganis yang perlu dicurigainya.
“Lihat tak ada kan?” dokter muda itu tampak menahan tawa.
“Bener ya gak ada laki-laki di sana?”
“Hahaha, percayalah padaku. Aku hanya cinta kamu.”
“Padamu aku percaya tapi tidak pada laki-laki di luar sana,” tegas Kapten Biru.
“Iya deh, iya deh.” Rengganis mengalah.
Sejak bersama Kapten Biru, Rengganis memang menjadi lebih dewasa. Perlakuan Kapten Biru yang over protektif mampu ditanggapinya secara santai dan tak tersulut emosi.
"Bagaimana? Apalagi yang perlu aku tunjukkan agar kamu percaya?" tantang Rengganis.
“Oke cukup, selamat makan siang ya, Yang. Jaga diri, ingat ada aku yang menantimu di sini penuh cinta.” Kapten Biru melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Siap komandan!” Rengganis tersenyum senang.
“Bye, I love you," ucap kapten tampan itu penuh perasaan.
“Love you too,” jawab Rengganis.
Klik, sabungan telepon dimatikan.
“Duh segitu romantisnya,” Faiha yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka kini telah berani buka suara.
“Ini sih bukan romantis tapi posesif!”
“Iya!” Faiha ikut tertawa. Dalam hati gadis berhijab pink muda itu mengiyakan kata-kata kakak tingkatnya itu.
Faiha tahu benar, kejadian seperti ini bukan kali pertama yang dilihatnya. Bagaimana Kapten Biru selalu mengisi setiap waktu Rengganis dengan telepon dan chat mesra bahkan terkadang chat marahnya, semua Faiha tahu. Bisa dibilang Faiha adalah saksi setiap jam bahkan setiap menit kapten tampan itu memastikan keberadaan kekasihnya jauh dari laki-laki lain.
Sudah lima bulan dari pertemuan Rengganis dan Kapten Biru kala dokter muda itu pulang ke tanah air. Sejak saat itu, kian hari sikap posesif Kapten Biru makin menjadi-jadi.
"Saya salut atas kesabaran, Kakak."
"Mau bagaimana lagi? Resiko punya pacar TNI ya gitu. Posesif romantis." Rengganis kembali melanjutkan makan siangnya.
"Cie, kayaknya sudah tau banyak nih tentang kehidupan tentara," ledek Faiha.
"Iya dong, aku gak pernah bosan untuk belajar bagaimana cara mencintai mereka dengan benar. Aku mulai membiasakan diri dengan ikatan dan aturan-aturan yang kelak akan menjadi rule kehidupan kami," terang Rengganis dengan santainya.
"Makasih ya, Adikku." Rengganis mencubit pipi Faiha.
"Seru ya, Kak, punya pacar tentara?"
"Seru banget, kayak ada manis-manisnya gitu."
"Mulai deh ngiklan," protes Faiha. Rengganis tertawa melihat ekspresi wajah Faiha.
"Kamu mau punya pacar tentara? nanti aku minta Mas Biru kenalin kamu ke temen-temennya mau?" tawar Rengganis.
"Em, boleh pilih gak?"
"Pilih apa?" Rengganis penasaran.
"Aku mau pengusaha aja dong, Kak, yang kaya seperti papi Kak Rengganis. Minta kenalin pengusaha muda yang keren gitu sama papi. Siapa tahu ada jodohku diantara mereka."
"Ye, kamu, dasar mata duitan. Haha." Rengganis berdiri dan berjalan menuju lemari es untuk mengambil sebotol air mineral.
"Aku serius, Kak!" teriak Faiha.
__ADS_1
Rengganis hanya mengacungkan jari jempolnya dari belakang.
**
7 Bulan Kemudian
"One-twoooo-threeeee!" barisan wisudawan yang telah berjajar rapi tiba-tiba melempar topi toga mereka ke atas. Kilatan cahaya menyambar-nyambar dari puluhan kamera di depannya.
Kebahagiaan luar biasa yang kini sedang mereka rasakan. Saling rangkul, saling bersalaman dan saling memberikan semangat.
Ini adalah kali terakhir mereka berkumpul sebagai mahasiswa pascasarjana yang telah menyelesaikan pendidikan mereka selama beberapa tahun ini. Wajah-wajah ceria yang memancarkan kepuasan dan ribuan rencana ke depannya.
Begitu juga dengan Rengganis. Beberapa kali gadis cantik itu melambaikan tangan kepada rekan-rekan seangkatannya. Kesuksesan yang diperolehnya menjadi wisudawan terbaik dengan total nilai tertinggi membuat dirinya laksana bintang spesial di acara prosesi wisuda hari ini.
Bukan hanya pada wajah Rengganis, senyum bangga itu pun terlukis jelas di wajah papi, mami, dan nenek yang kini berdiri dari kejauhan memandang betapa cantik dan penuh prestasinya putri mereka dengan tatapan penuh rasa syukur.
Beberapa wisudawan mengambil kesempatan ini untuk mengajak Rengganis berswafoto. Rengganis tak dapat mengelak dari permintaan mereka, menghitung hari ini adalah hari spesial dan perpisahan mereka. Wajar saja beberapa teman laki-lakinya ingin mengabadikan momen kebersamaan terakhir mereka.
Dret-dret. Rengganis mengambil gawai di dalam tas tangannya. Beberapa kali menimbang akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengabaikan panggilan itu.
Rengganis sengaja meminta mami dan papi untuk tidak mengabari Kapten Biru tentang acara hari ini, dokter muda itu ingin memberi surprise yang indah pada sang kekasih.
Terang saja ia tak dapat menerima panggilan Kapten Biru saat ini, jika ia melakukannya maka gagalah sudah semua rencana yang telah disusunnya dengan manis dari beberapa bulan lalu.
Rengganis tahu, Kapten Biru pasti marah besar seharian ini Rengganis telah mengabaikan panggilan teleponnya. Entah berapa ratus panggilan tak terjawab yang tertulis di gawai milik Rengganis. Gadis itu bisa memastikan laki-laki tampan yang sangat dicintainya itu pasti sedang uring-uringan saat ini.
"Maafkan aku, Yang." Rengganis berniat memasukkan kembali gawainya ke dalam tas saat sebuah pesan kembali masuk.
"Sekali lagi tak jawab, sore nanti aku terbang ke sana." Tak lama berselang, panggilan Kapten Biru kembali masuk.
Rengganis tak punya pilihan lain, akhirnya kali ini iya memutuskan untuk mengangkat telepon Kapten Biru.
"Uhuk-uhuk," Rengganis pura-pura batuk.
"Kamu sakit, Yang?" Kemarahan Kapten Biru tiba-tiba berubah menjadi kekhawatiran.
"Iya, ini lagi antre mau periksa. Aku lagi di rumah sakit, nanti telepon lagi ya, bye."
"Oke-oke, kabari aku secepatnya." Kapten Biru menutup telepon.
Kapten Biru hanya dapat mondar-mandir-mondar-mandir kebingungan. Mendengar kabar Rengganis yang tak sehat membuat hatinya begitu sakit. Sekali lagi diraihnya phonecall dalam saku.
Tut-tut. Rengganis kembali membuka tas tangannya dan mendapati phoncallnya kembali menerima panggilan dari kapten kesayangan.
"Maaf," Rengganis mengabaikan kembali panggilan itu dan berlari menyongsong beberapa dosen mereka yang baru saja keluar dari gedung senator.
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya? Sabar dan terus nantikan ya!