MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
LARI


__ADS_3

BIRU


“Lah kok malah belum mandi? Acaranya kan jam 10, Le!” Suara Bu Suryo terdengar panik lagi.


Laki-laki tampan yang ditanya masih pura-pura asik menonton TV tanpa menghiraukan teguran sang ibu.


“Biru! Denger ndak sih ibu ngomong?” teriak ibu kesal.


“Dengar, Bu’e. Tapi ini masih jam Sembilan kan? Sebentar lagi Biru mandi selesaikan berita ini dulu.” Kapten Biru masih saja tak acuh, tubuhnya benar-benar enggan untuk beranjak pergi meninggalkan kursi goyang, tempat paling favoritnya jika berada di rumah.


“Kamu itu sengaja ngulur waktu ya, Le? Mau batalin acara gitu maksudnya? Kenapa gak dari kemarin?” Ibu berdiri berkacak pinggang di depan Kapten Biru.


“Iya-iya, aku mandi.” Biru mematikan pesawat televisi melalui remot di tangannya dan dengan ogah-ogahan berjalan ke belakang.


Meski di kamar tidurnya tersedia kamar mandi, sejak dulu Kapten Biru lebih suka menggunakan kamar mandi umum di bagian belakang. Tempatnya lebih luas dan terbuka, jika mandi di sana Kapten Biru pasti akan menghadapkan langsung tubuhnya pada sebuah sumur yang biasa disebut belik. Sumur dengan mata air yang mengagung tak pernah kering. Dalamnya kurang dari satu meter. Hingga Kapten Biru yang berpostur tubuh tinggi bisa dengan mudah menciduknya dengan gayung tanpa bantuan tali timba.


Sampai di belakang, Kapten Biru tak langsung bergegas mandi. Ia duduk dulu di sebuah bangku kayu yang terdapat pada taman kecil belakang rumah sebelum sampai di tempat mandi.


“Ada yang bisa aku lakukan untukmu, Dek?” Tiba-tiba Kangmas Banyu keluar dari dalam WC belakang.


Kapten Biru hanya mengangkat kedua tangannya. Ia sendiri tak tahu lagi apa yang harus diperbuat untuk menggagalkan acara pertunangan hari ini.


“Ini semua gara-gara ibu!” Mas Banyu duduk di sebelah adik bungsunya itu.


“Ibu melakukan ini untuk kebaikanku, Mas. Aku tahu itu.”


“Kalau begitu ya sudah cepetan mandi kita berangkat. Hal baik gak boleh ditunda-tunda.” Kangmas Banyu tersenyum meledek Kapten Biru.


“Tapi hatiku sakit. Aku gak bisa.”


“Kalau begitu kabur saja. Beres to!” usulnya asal.


“Kalau kamu kabur dan kembali ke asrama, kamu pasti gak bakal denger lagi kemarahan bapak dan omelan ibu. Nanti aku kabari kalau kemarahan mereka sudah padam. Baru kamu pulang. Gimana?” sambungnya.


“Aku ingin sekali melakukannya, Mas, tapi ada kehormatan yang harus aku jaga. Kehormatan keluarga kita dan kehormatan keluarga atasanku. Aku tak bisa melakukannya.” Kapten Biru menggeleng.


“Ah, rumit.” Mas Banyu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Biru yang masih sibuk dengan lamunannya.


“Dengar! Putuskan! Jangan lama-lama, baju batik baruku ini nanti kusut!” ancamnya.


Kapten Biru diam saja, matanya masih tampak kosong. Dia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.


“Biruuuuu, ayo to, Le! Sudah jam sepuluh lewat. Masyaallah anakku!” jerit ibu dari pintu besar yang membatasi rumah bagian utama dan halaman belakang.


Biru tak menjawab, langkahnya gontai mendekati dingklik di kamar mandi. Tangannya sibuk memainkan pancuran air yang terbuat dari bambu besar.


“Haduh, Pak. Ini telat kita, wes telat tenanan.” Bu Suryo modar-mandir di hadapan suaminya.

__ADS_1


“Sebentar, bapak kamari yang di sana, biar gak khawatir.” Bapak mengambil inisiatif untuk menelepon calon besannya.


“Wes, Bu, aman! Mereka mengerti kok.” Bapak mencoba menenangkan istrinya.


“Dah ibu duduk dulu, ini diminum tehnya. Dari tadi Amara lihat ibu belum makan apa-apa.” Istri Mas Arga menuangkan teh ke gelas dan menarik satu toples camilan menjadi lebih dekat ke tangan ibu mertuanya.


“Ibu gak bisa makan. Nduk. Gak kolu.”


“Udah to, Bu, makan dulu. Nanti sakit lagi. Orang sibuk acara nanti ibu sakit malah repot,” Mas Arga ikut bersuara.


“Eh kamu malah doain ibu yang gak-gak.” Ibu terlihat tambah sewot.


“Bukan doain ibu tapi—”


“Sudah-sudah.” Ibu membuka tas tentengnya dan mengambil sebuah kipas dari sana, dengan gesit tangannya menggerak-gerakkan kipas hitam bergambar bunga anggrek itu di depan wajahnya.”


Tak lama Biru lewat di tengah-tengah mereka hanya menggunakan handuk. Langkahnya santai seperti tak terjadi apa-apa.


“Dek, ayo, kasian ibu.” Mbak Kharisa mendekati Biru.


“Seandainya kalian tahu perasaanku, Mbak.” Biru masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi ke wajah kakak iparnya itu.


**


Waktu telah menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit. Mobil keluarga Biru telah sampai di pelataran rumah Lettu Tika. Tamu-tamu dan sanak saudara sudah terlihat cukup ramai. Beberapa keluarga dekat Tika berdiri berbaris menyambut kedatangan pihak besan.


Satu per satu keluarga Tika disalami oleh Kapten Biru, tak sedikit para gadis yang hadir berdecak kagum melihat bagaimana penampilan calon suami Lettu Tika itu.


“Mbak Tika memang gak salah pilih,” ucap gadis bergaun coklat susu.


“Ganteng banget!” sambut yang lain.


“Bodynya war biaasaak,” gadis berambut panjang dengan sedress dari bahan brukat berwarna kuning gading terus mengawasi gerakan Kapten Biru.


Kapten Biru sempat menghela napas sangat panjang sebelum memasuki rumah Tika. Tubuh panas, kakinya bagai sedang mengijak bara api yang sedang menyala garang.


Ibu berbalik dan menghampiri kapten Biru merapikan bagian kerah baju batik motif sidoasih yang dikenakan putranya. Dia tampak bangga melihat betapa gagahnya anak bungsu kesayangannya itu. Celana dasar, jam merk AC berwarna hitam dan sepatu kulit berwarna hitam pula seakan menyempurnakan penampilannya hari ini.


Bukan karena untuk Tika Kapten Biru tampil ganteng dan rupawan seperti itu tapi memang aura dan pembawaannya sejak dulu sudah begitu. Tak peduli apa pun yang dikenakannya ia akan terlihat penuh pesona.


“Pak Suryo dan ibu mari kita bicara di dalam,” ajak Pak Danu sopan.


“Oh iya,” Pak Suryo dan Bu Suryo kompak berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan tangan papa Tika.


“Kita ngopi-ngopi dulu di dalam. Biar anak muda itu ngobrol-ngobrol dulu.” Pak Danu menunjuk Tika, Adinda, Lettu Abi dan beberapa teman mereka yang lain.


Sepuluh menit telah berlalu, sebenarnya bukanlah waktu yang lama, tapi bagi Kapten Biru waktu selama itu sudah cukup membuat jantungnya siap meledak.

__ADS_1


“Masih lama? Aku sudah pingin pulang.” tanya Kapten Biru dingin pada Tika.


Tika diam tak berniat menjawab pertanyaan laki-laki yang sebenarnya diidam-idamkannya itu.


“Sudah gak sabar ya, Mas?” ledek Dinda.


Gantian kali ini Kapten Biru yang tak berniat menjawab apa-apa.


“Tuh mereka.” Tunjuk Adinda.


Para tetua keluar dari ruang keluarga Pak Danu. Mereka mengambil tempat duduk dengan tertib dan teratur seperti sudah dilakukan gladi posisi sebelumnya.


“Silakan dimulai.” Pak Danu memberi isyarat pada pembawa acara.


“Jeruk Medan jeruk Mandarin


Dibelinya di pulau penyu


Kami ucapkan selamat datang para hadirin


Di pesta pertunangan Adinda dan Lettu Abimanyu.”


Tepuk tangan bergemuruh, suara tawon pun mendengung seketika. Beberapa wajah tampak bingung dan sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri.


Kapten Biru yang saat itu masih hanyut dalam dunianya yang kelam tak begitu mendengar jelas apa yang barusan diucapkan pembawa acara. Wajahnya masih datar tanpa ekspresi apa pun.


“Mari kita sambut yang paling berbahagia hari ini, calon dokter kita Adindavo shabitha Danu dan Lettu Abimanyu, silakan ke kursi singgasana yang telah disulap menjadi sangat indah.”


Kapten Biru terhenyak mendengar apa yang disebut master of ceremony kali ini terlebih saat Abimanyu dan Adinda berdiri dan bejalan bergandengan menuju kursi singgasana mereka.


Tanpa sengaja tubuh Kapten Biru tiba-tiba berdiri sendiri sesuai komando dari alam bawah sadarnya. Lettu Abi yang melihat hal itu kembali berdiri dari kursi yang didudukinya dan melangkah mendekati Kapten Biru.


“Izin Kapten, mohon maaf saya harus melakukan ini demi Kapten dan wanita yang saya cintai.” Kapten Biru menoleh pada Lettu Abi dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Maksudmu?” tanya Kapten Biru bingung.


“Adinda bilang, pesawat Dokter Rengganis mungkin akan segera sampai di bandara. Kapten harus bergegas ke sana. Pastikan orang pertama yang dilihatnya adalah kapten.”


“Terima kasih, Letnan.” Kapten Biru merlari tak kenal arah. Tak ada lagi yang ada di pikirannya selain wajah cantik wanitanya. Kali ini ia tak ingin gagal lagi.


“Biru?” Mas Arga yang duduk di tenda depan berdiri melihat adiknya lari tergopoh-gopoh.


“Mas, tolong berikan kunci mobilmu!” pintanya. Arga menyodorkan kunci mobil yang baru diraihnya dari dalam kantong.


“Ada apa?” tanya Arga bingung.


“Ceritanya nanti saja, aku tak ingin kehilangannya lagi kali ini.” Kapten Biru bergegas membuka pintu mobil dan melaju cepat di jalan raya.

__ADS_1


Nah, sekian dulu ya cerita kali ini, simak terus kelanjutannya di episode berikutnya!


__ADS_2