MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
PRIA BERHATI HANGAT


__ADS_3

Rengganis menatap laki-laki bermata sipit di depannya itu lekat-lekat. Lesum pipit yang sama dengannya bersarang dikedua pipi laki-laki tampan yang tampak putih kemerahan. Jenis kulit yang bisa dikatakan sangat bersih untuk ukuran laki-laki.


“Ye Jun, Choi Ye Jun,” ucapnya memperkenalkan diri.


“Hey,” tegurnya lagi saat Rengganis tak memberikan respon pada tangannya yang telah terangkat siap bersalaman.


“Oh ya,” Rengganis membalas salam lewat tangan kanannya yang dilekatkan di tangan Ye Jun.


“Anda bisa bahasa Indonesia?” Rengganis tampak keget.


“Tentu, tapi bahasa Indonesia sedikit lebih susah untuk belajar, jadi belum terlalu baik,” ucapnya dengan aksen Seoul.


Rengganis mengangguk-angguk paham. Ia senang setidaknya Ye Jun bisa menjadi translator baginya meski tak semua kosa kata dikuasai laki-laki tinggi dan tampan itu.


“Eomma pun belajar bahasa Indonesia sedikit lebih untuk menyambut Aera,” Ye Jun bercerita dengan antusias.


“Oh ya?” Rengganis tampak tersanjung mendengar kedatangannya begitu dinantikan dan disambut spesial oleh keluarga Tuan Choi Yong Jin.


“Hmmm,” anguk laki-laki itu menggemaskan.


“Sini,” Ye Jun tiba-tiba menarik Rengganis duduk di sebuah kursi besi di ruang tunggu itu.


Rengganis bergegas melepaskan tangan Ye Jun, gadis cantik itu sedikit kikuk.


“Oh, mianhaeyo,” Ye Jun segera menarik tangannya turun. Laki-laki itu merasa bersalah.


“Kwaenchanayo.” Ye Jun tak kalah kagetnya mendengar pelafalan Rengganis yang dengan lancar mengucapkan kata dalam bahasa korea.


“Kamu bisa bahasa negaraku?” Ye Jun menyusul Rengganis yang telah duduk di kursi tunggu terlebih dahulu.


“Ye,” Rengganis menunjukkan kemampuannya berbahasa Korsel. Tak terlalu sulit bagi Rengganis yang telah mengikuti khursus bahasa Korea sejak dua bulan lalu setelah dirinya tahu ia akan segera terbang ke negeri gingseng melanjutkan studinya.


“Hebat Aera,” puji Ye Jun.


“Aera?” Rengganis yang sedari tadi dipanggil dengan sebutan itu menjadi tergelitik hatinya untuk tahu apa yang dimaksud Ye Jun.


Ye Jun Menggeser posisi duduknya menghadap tepat ke wajah Rengganis.


“Nama, Aera.” Ye Jun menunjuk dokter muda di depannya.


“Aku?” Rengganis ikut menunjuk ke dirinya sendiri.

__ADS_1


“Ya.” Ye Jun manggut-manggut lagi.


“Hahaha. No. Aku Rengganis, bukan Aera.” Rengganis cekikikan. Dia yakin akan sulit bagi mulut Ye Jun menyebut namanya dengan benar.


“Aera, Cinta, love.” Tangan Ye Jun membentuk hati di depan dada.


Rengganis menghentikan tawanya yang luas meski tetap menatap Ye Jun dengan geli.


“Reng-” Gadis itu mulai membantu Ye Jun melafalkan ejaan namanya.


“Re-,” Ye Jun mengikuti meski terdengar logat yang lucu.


“ Ga-“


“Ga.”


“Nis.”


“Nis.”


“Rengganis.” Dokter cantik itu mengeja pelan-pelan namanya.


“Aera.” Ye Jun tak mau kalah.


“Ayo, pulang.” Ye Jun menunjuk ke suatu arah.


Rengganis tak menjawab dengan kata-kata, gadis itu menunjukkan responnya langsung dengan gerakan. Ia berdiri dan menyeret tas kopernya.


“Aku saja,” Ye Jun mengambil alih koper berwarna yang digeret Rengganis. Tak sengaja tangan laki-laki itu menggenggam tangan Rengganis.


Sekali lagi gadis cantik itu tampak kaget. Ye Jun pun tak kalah kaget.


Apa ini yang dibilang Tuan Choi laki-laki gila kerja. Sepertinya dia terlalu hangat untuk ukuran laki-laki yang tak punya pacar. Batin Rengganis.


Sebenarnya dalam hati Ye Jun getaran yang tak biasa itu tiba-tiba mendalu-dalu. Tak pernah ia bisa sedekat ini dengan wanita sebelumnya terlebih wanita yang baru dikenal. Tapi kali ini perasaan yang membuat jantungnya tak bisa berdetak dengan normal itu begitu mengganggunya hingga matanya tak ingin berpaling sedetik pun dari wajah cantik Rengganis.


Kata-kata yang biasanya membeku tiba-tiba saja meluncur lancar saat ia berada di hadapan Rengganis. Sesekali laki-laki itu memegangi dadanya memastikan bunyi debarannya tak terdengar ke telinga gadis yang kini sedang berjalan di sebelahnya.


“Bersih banget kotanya,” Rengganis berhenti di depan pintu bandara, mengedarkan pandangan matanya dari kiri ke kanan. Terkagum-kagum atas kota yang baru pertama ini disinggahinya.


“Boleh kapan-kapan aku lihat negeramu?” tanya Ye Jun dengan mata penuh rasa penasaran. Laki-laki itu tak pernah menduga gadis yang diceritakan ayahnya bisa secantik ini. Gadis pertama yang mampu membuat matanya tak ingin berkedip satu detik pun.

__ADS_1


“Of Course, kamu harus ke sana!” Rengganis merapatkan jaket tebal yang dipakainya.


“Pasti negaramu indah?” Laki-laki berhidung mancung itu sangat yakin negara tempat ayahnya bertugas sangat cantik seperti apa yang selama ini diceritakan ayahnya. Apalagi setelah melihat Rengganis keyakinannya semakin kuat.


“Tentu saja, kamu harus lihat semua provinsi yang ada. Tiap provinsi punya bahasa yang berbeda, punya adat yang berbeda, punya objek wisata unggulan yang super cantik dan yang pasti semua makanan Indonesia itu lezat.” Rengganis mencoba mengingat semua yang ia tahu dari Indonesia.


“Oh ya? Apakah kamu sudah melihat semua yang ada?”


Gadis cantik berpostur tubuh ideal itu tersenyum malu-malu.


“Belum,” jawabnya pendek.


“Kenapa? Apa kamu terlalu sibuk?’


“Hmm, bisa dikatakan begitu, dan asal tuan tahu, Indonesia punya 34 provinsi dan tiap provinsi itu memiliki daratan dan lautan yang amaaat luas. Tidak akan cukup waktu satu tahun untuk terus mengunjungi setiap tempat.”


Ye Jun menyipitkan matanya yang memenag berukuran kecil seolah sedang membayangkan apa yang dikatakan Rengganis.


Begitu pula lamunan Rengganis yang tiba-tiba pulang ke tanah air, merindukan suasana desa Pringjaya dan kota tempatnya di besarkan. Dua tempat yang selama beberapa waktu ini menjadi tempat bermukim paling nyaman untuknya.


Hmm, Rengganis menghembuskan napasnya berat. Kini, ia harus segera bisa beradaptasi dengan culture dan keadaan Negara ini. Ia harus selalu ingat tujuan utamanya datang kemari. Meraup semua ilmu yang bisa dipelajarinya sebanyak mungkin.


“Jangan sedih, aku janji akan selalu ada untukmu.” Ye Jun menatap dalam ke retina mata Rengganis. Laki-laki itu seolah-olah tahu apa yang sedang dipikirkan gadis cantik berpipi merah muda itu.


Rengganis tersenyum. Dia senang, Ye Jun bersikap baik dan ramah terhadapnya. Ia akan memiliki keluarga baru di sini.


“Ayo!” Ye Jun membukakan pintu mobilnya.


Seorang laki-laki paruh baya dengan rambut depan yang sedikit botak terlihat duduk di belakang stir mobil siap mengantarkan kemana pun tujuan tuannya dan nona baru yang ia tahu akan tinggal di rumah majikannya untuk beberapa waktu.


“Mau kemana kita? Apa ada yang ingin kamu lihat sebelum kita kembali ke rumah?” tanya Ye Jun ramah.


“Sepertinya aku ingin segera pulang saja, kelak kamu harus mengantarku mengunjungi setiap detil kota ini. Janji?” Rengganis memberikan jari kelingkingnya.


“Janji,” Ye Jun meletakkan jari kelingkingnya di atas jari kelingking Rengganis. Tak luput lagi dari tawa ceria, dua anak manusia yang baru saja saling kenal itu melewati jalan-jalan lebar kota Seoul dengan hati gembira.


“Aku akan selalu ada di sisimu,” pikir Ye Jun, senyum laki-laki yang baru kali ini mengenal cinta it uterus mengembang. Dengan semangat dan tak kenal lelah ia menjawab semua pertanyaan Rengganis mengenai kotanya dengan cara yang unik.


Apakah Rengganis akan menjalin cinta baru bersama Ye Jun?


Kandaskah kisah cintanya yang selama ini menggantung bersama Kapten Biru?

__ADS_1


Bagaimana sambutan A-Young, istri Tuan Choi?


Kita tunggu lanjutan kisahnya di My Possessive Captain episode berikutnya!


__ADS_2