
Bulan sabit lagi-lagi sedang menggantung indah di langit malam. Suasana sedikit terasa gerah. Laki-laki tampan dengan kemeja kotak-kotak abu-abu berpadu putih dan hitam duduk gelisah di teras rumah semi joglo dan modern.
Sesekali laki-laki itu terlihat berdiri lalu melongok ke dalam, tak lama ia kembali jalan mondar-mandir dan duduk gelisah. Kali ini kesabarannya terlihat benar-benar habis. Tanpa melepas sepatu yang telah dikenakannya, Kapten Biru masuk ke dalam rumah mengetuk pintu kamar ibu keras-keras.
“Bu, ayo cepetan, ini sudah jam tujuh. Bisa terlambat kita!”
“Ya ampun, Le. Jadi uwong kok gak sabaran banget. Kan janjinya jam delapan. Ini baru setengah tujuh loh.”
“Ih udah ayok berangkat.” Kapten Biru menarik lengan ibunya.
“Kosek to. Sanggul ibu mengot iki.” Ibu melepaskan tangannya dari gandengan Biru dan kembali masuk ke dalam kamar.
“Ya Tuhan!” Biru mengusap wajahnya dengan kasar.
“Rasain!” bisik ibu dari dalam kamar sambil menahan tawa.
“Emang enak. Itu lo rasanya kami nunggu kamu, Le, waktu mau lamaran sama Nak Tika. Hehe.” Ibu terkikik kecil.
“Ibumu belum juga siap, Biru?” Bapak dan Kangmas Banyu yang muncul dari halaman depan ikut duduk menunggu ibu di kursi teras.
Lebih dari lima belas menit akhirnya ibu keluar dari kamar. Dengan kebaya tutu bunga-bunga kecil berwarna coklat muda dan warna dasar hitam polos semakin memancarkan darah ningrat dalam dirinya.
“Sudah? Yakin gak ada yang ketinggalan?” tanya Biru jengkel.
“Giliran mau janjian sama keluarga pacarnya aja semangat, ibu dieret-eret disuruh cepet-cepet. Kemarin waktu sama Nak Tika waduh disuruh mandi aja kayak disuruh pergi perang. Pake acara ngelamun di kamar mandi segala!” Ibu bersungut-sungut.
“Ibu ini kayak gak tahu anak muda aja.” Bapak tersenyum melihat kelakuan anak bungsu dan istrinya yang sejak dulu kala hobi berdebat.
“Aku bawa mobil sendiri aja, Pak,” seru Mas Banyu.
"Loh kok gak bareng di mobil ini aja, Le. Muat kok,” protes ibu.
“Ah nanti kalau tiba-tiba ada yang kabur lagi bawa mobil terus kita pulang naik apa?” Banyu terkekeh mengingat ulah adiknya yang membawa kabur mobil di hari pertunangannya dan Tika tempo hari.
Bapak dan ibu yang mendengar itu ikut tertawa.
Sorot terang dari lampu sebuah mobil terlihat masuk ke pelataran rumah Pak Suryo yang luas.
“Aku ikut!” teriak Mas Arga setelah membuka kaca mobilnya.
“Loh kok jadi ikut semua gini,” protes Kapten Biru.
“Ini kesempatan bagus untuk bisa belajar bisnis dari keluarga Brata Warman. Lagi pula kami mau membuktikan sendiri bagaimana cantiknya calon adik ipar kami,” pungkas Arga penuh semangat.
“Oke, aku ikut di mobilmu aja kalau gitu, Ga.” Mas Banyu berlari mengitari mobil Arga dan membuka pintu dengan semangat.
“Ayo-ayo nanti keburu calon besan kita nunggu kelamaan.” Bapak segera naik ke atas mobil.
__ADS_1
Biru segera mengambil posisi di depan tepat di samping pakde Karto yang selalu setia mengambil alih kendali mobil saat Pak Suryo melakukan perjalanan kemana pun itu.
“Hari ini gak bakal kabur lagi kan, Den?” ledek Pakde Karto.
“Sepertinya sih begitu,” Kapten Biru menanggapinya dengan cengengesan.
“Wah, pakde harus siap-siap nih kalau gitu,”
“Iya, pakde harus stand bye di mobil karena bisa saja sewaktu-waktu saya akan kabur.”
Semua memandang bingung pada Kapten Biru.
“Kabur ke KUA maksudnya. Hahaha. Pada serius amat sih?” Kapten Biru tertawa riang. Bu Suryo memukul lengan putra bungsunya itu karena kesal.
Begitulah selama di perjalanan, suasana ceria selalu menyelimuti mereka. Hanya Bu Suryo yang beberapa kali melontarkan kata-kata pedas sebagai luapan rasa jengkelnya harus kalah dengan keinginan putranya.
“Padahal ibu pengen banget besanan sama orang gede dan baik hati kayak Pak Danu. Sama-sama darah biru, darah priyayi.” Ibu bersungut-sungut.
Kapten Biru melirik wajah ibu dari kaca tengah mobil. Terlihat sekali lipatan-lipatan kecewa pada wajah ibu.
“Lah Nak Rengganis ini juga kan kaum elit, Bu. Bapak percaya Biru ini anak kita, dia gak akan salah memilih pasangan.” Pak Suryo membela Kapten Biru.
“Elit, tapi kuliahan luar negeri, pasti rambutnya pirang kukunya di cet hitam. Udah gitu keluarganya pasti sog borju. Kesel ibu! Males sebenernya ngikutin maumu pergi makan malam dengan keluarga mereka. Pasti niatnya mau pamer harta.”
“Jangan gitu, Bu. Mereka sudah jauh-jauh dari ibu kota datang ke sini mau jumpai kita. Ayo kita tunjukkan keramahan dan budaya kita.”ucap bapak bijaksana.
“Ini dia restonya. Yok, Bu, turun dulu,” ajak Biru.
“Baru ya, Le, tempat makan ini?” tanya ibu. Matanya berbinar melihat tempat makan yang dipilih putranya sangat indah. Perpaduan wisata alam dan kuliner.
“Ini salah satu restonya papi Rengganis, Bu,” jawab Biru sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Oh ya?” Ibu pura-pura tak suka.
“Tapi kayaknya bagusan tempat makan yang biasa ibu kumpul sama temen-temen sekolah ibu. Resto Gegar Wisata, pemandangannya keren di tengah hutan bambu gitu. Sejuk.” Ibu terus mengoceh sambil masuk ke restauran.
“Ibu sering ke sana?”
“Iya to, sering banget. Itu punya temen sekolah ibu yang katanya sekarang jadi konglomerat kaya. Anaknya perempuan juga lo denger-denger. Mau ibu kenalkan?”
Kapten Biru tertawa kecil enggan menanggapi kata-kata ibu.
Mas Arga dan Mas Banyu sudah ada di sana. Dari jauh Kapten Biru melihat lambaian tangan mereka.
“Itu Kangmas Banyu, Bu.” Tunjuk Kapten Biru.
“Pada belum datang ya, Le?” tanya ibu.
__ADS_1
“Belum, Bu, sabar, namanya orang sibuk, lagian perjalanan mereka jauh.”
“Ih ibu paling ndak suka sama orang yang gak tepat waktu.” Ibu merekatkan kedua tangannya di dada.
“Sepuluh menit gak datang kita pulang saja!” perintah ibu.
Belum selesai ibu bicara, “Assalamualaikum,” suara merdu seorang gadis mengagetkan mereka.
“Hey,” Kapten Biru langsung berdiri. Matanya tak mampu lepas dari gadis cantik yang malam itu menggunakan dress navy selutut dengan eksion gambar bunga-bunga kecil berwarna perak lengkap dengan belt kecil berwarna merah. Sepatu silver berkilap pun membuat kaki jenjang Rengganis semakin tampak indah.
Lengan panjang dengan pola kancing penuh di sekitar pergelangan tangan membuat kesan anggun, formal, dan sopan menjadi satu kesatuan. Rambutnya yang di gelung tinggi dengan sedikit guraian di sekitar wajah membuat gadis cantik itu kian memesona mata.
Rengganis mencium tangan Kapten Biru dengan takzim. Wajah ibu yang sedari tadi berkerut tiba-tiba berubah menjadi kencang tanpa kerutan. Apa yang dilakukan Rengganis benar-benar telah meruntuhkan gambaran sombong dan urakan dalam benak ibu. Kini kesan pertama yang tertangkap oleh kedua orang tua Biru adalah gadis sempurna yang berdiri tegak memohon restu mereka.
Pak Suryo, Bu Suryo, Mas Banyu dan Mas Arga semua disalami Rengganis. Mereka terdiam tak tahu harus bicara apa.
“Apa kabar, Ibu, Bapak, Mas? Mohon maaf saya agak telat—”
“Oh gak papa—gak papa.” Bu Suryo memotong kata-kata Rengganis.
“Sebenarnya bukan telat, kami sudah dari tadi sore tiba, tapi papi dan mami sibuk di sana mempersiapkan semua, Sepertinya mereka begitu bersemangat ingin bertemu keluarga Mas Biru.” Rengganis menunjuk sebuah saung besar yang terlihat terang benderang dari resto utama.
Ayo, Pak, Bu, kita ke sana. papi, mami dan nenek sudah menunggu.” Rengganis menggandeng manja lengan ibu layaknya seorang anak gadis yang sedang bermanja ria pada ibu kandungnya.
Awalnya ibu tampak kaget tetapi setelah itu suasana hatinya amatlah bahagia.
“Aku gak nyangka, Rengganis pandai mengambil hati ibu,” bisik Mas Arga.
Kapten Biru tersenyum malu-malu. Dalam hati ia membetulkan kata-kata Mas Arga. Betapa takjubnya ia dengan kemampuan gadis pilihan hatinya itu.
“Selamat malam, Pak Suryo, Bu Suryo,” sapa papi.
“Iya selamat malam.” Pak Suryo menjabat tangan papi dan memeluknya tanda keakraban.
“Kayaknya kenal?” Mami dan Bu Suryo saling tunjuk dan saling pandang lebih dekat.
“Ini Mega Ruminten Wicaksono, Kan?” tanya mami.
“Betul, Cahya Gita Wardana Su'ef. Hahaha.” Mami dan Bu Suryo saling berpelukan erat sambil berputar-putar.
“Calon mertuamu ini teman satu gank mami, dulu.” Mami terus memeluk sahabat lamanya sementara yang lain hanya memandangi tingkah konyol dua ibu-ibu yang usianya tak lagi muda itu.
“Ayo-ayo duduk, kita cerita dulu,” ajak mami.
“Kami dulu bintangnya sekolah loh! Semua orang kagum dan takut pada kami. Mereka memanggil kami ‘Kaum Darah Biru’,” kenang Bu Suryo penuh sukacita.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Tetap setia di My Possessive Kapten ya!
__ADS_1