MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
PELARIAN


__ADS_3

Vila milik keluarga Plenggo yang amat luas ternyata di bangun megah di atas tanah seluas 1000 hektar di sebuah dataran bertebing perbukitan hijau.


Dua orang anak manusia terlihat sedang mengitari luasnya peternakan dan kebun bunga yang terletak di belakang vila.


“Sayang, Apa kamu tidak lelah? Kakiku mulai sakit ini. ” Bono menyeka berkali-kali keringat yang mulai turun di keningnya. Anak manja yang tak terbiasa melakukan pekerjaan berat itu mulai berjalan dengan terseok-seok. Beberapa kali dia merunduk dan menghentikan langkahnya.


“Bisa gak sih panggil aku Rengganis saja, jangan sayang-sayang!” ucap Rengganis ketus. Gadis itu merasa begitu muak acap kali Bono memanggilnya dengan kata sayang.


“Loh kenapa? Kamu kan calon istriku! Lagi pula aku gak bohong, aku memang benar-benar menyayangi kamu, Rengganis,” Bono berusaha kembali berdiri.


“Ya aku gak biasa aja. Please, panggil aku Rengganis.” Dokter muda itu menghentikan langkahnya, berbalik ke belakang menghadap Bono dan mengatupkan kedua tangannya ke depan dada.


“Jadi aku gak boleh panggil sayang?” Bono melotot kesal. Matanya memancarkan keraguan.


“Bukan begitu. Em—em ,” Rengganis terlihat sedang berpikir keras, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal.


“Boleh sih, Bon, tapi jangan sekarang ya. Nanti kalau sudah menikah baru boleh deh panggil aku sayang. Jadi kita gak kayak anak abg yang lagi alay-alaynya itu. Aku jijik!” Rengganis memasang wajah serius.


“Oke, asal kamu bahagia aku ikut apa mau kamu deh.” Bono menyerah. Kakinya mencoba melangkah lagi, mengejar Rengganis yang sudah jauh meninggalkannya.


Rengganis kembali berbalik ke depan dan meneruskan langkahnya tanpa peduli dengan usaha Bono yang mencoba menjajarkan langkahnya dengan kaki Rengganis yang sengaja melangkah dengan cepat.


“Itu, kalau ke arah sana akan ke mana?” Rengganis menunjuk sebuah pintu pagar yang terlihat terbuka. Pintu kayu itu menyatukan dua buah jaring pagar yang terbuat dari kawat-kawat tajam.


“Ke perkampungan warga. Tapi bukan desaku. Itu desa Sidoraharjo. Jangan berani-berani ke sana. Aku tak bisa menyelamatkanmu jika kamu nekat ke desa itu”


“Jadi ayahmu tidak memiliki kekuatan di sana?”


“Pengaruhnya masih ada. Tapi ya tidak terlalu kuat. Asal kamu tahu, Pak Kadesnya adalah musuh bebuyutan ayahku.”


“Mengapa begitu?” tanya Rengganis penasaran.


“Dulu pernah memperebutkan seorang gadis.”


“Oh ya?”


“Ya, salah satu bidan yang bekerja di puskesmu. Meski tua memang terlihat masih sangat cantik. Bisa dibayangkan mudanya seperti apa. Begitu pula dengan anaknya yang malang. Cantik.” Bono seperti sedang teringat sesuatu. Badannya aempat bergidik.


“Maksudmu Bidan Maya?” Mata Rengganis membulat tak percaya.


“Ya, betul,” jawab Bono dengan senyum kudanya.


“Lalu Bidan Maya memilih kepala desa itu?” Rengganis menunjuk ke arah desa yang dimaksud.


“Ya, tapi ayahku tak akan mungkin membiarkan saingannya menang—” Bono menggantung ceritanya, nyata sekali laki-lki itu sedang menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


“Sudahlah. Ayo kita kembali, aku sudah lelah.” Bono menarik tangan Rengganis.


“Hey, kamu bilang akan menunjukkan peternakan kudamu. Mana?” Dokter cantik itu menyentak kasar tangan Bono. Ia mencoba mencari cara agar bisa tetap meneruskan siasatnya.


“Besok saja lagi ya. Santai, kelak pasti akan kamu lihat. Toh semua ini akan menjadi milik kita, milikmu juga.” Bono menaikan kacamatanya.


“Aku mau sekarang.” Rengganis tetap bersikeras.


“Aku benar-benar lelah, Rengganis. Ayo kembali, jangan sampai aku memaksamu.” Bono seperti mulai kehilangan kesabaran.


Rengganis melirik pintu pagar yang entah mengapa hari ini dibiarkan terbuka oleh penjaganya. Otaknya bekerja lebih keras.


“Bruk.” Tiba-tiba Rengganis mendorong tubuh Bono yang memang telah lunglai tanpa tenaga. Gadis itu berlari sekencang-kencangnya menuju pintu pagar. Bono berteriak kuat-kuat memanggil anak buahnya yang sudah terlanjur memilik jarak yang lumayan jauh darinya.


Rengganis berlari secepat yang ia bisa menggunakan sisa-sisa tenaga yang masih ada dalam tubuhnya. Ia tak ingin kembali tertangkap oleh anak buah Bono. Bisa kacau nasibnya jika sempat tertangkap lagi kali ini. Rengganis bisa bernasib sama seperti tikus yang terjerat dalam jebakan. Bono tak akan memberinya ampun dan penawaran lagi, tak akan mungkin ia memberi kepercayaan lagi meski ia berbohong sebisanya.


“Rengganis kembali!” perintah Bono. Sementara para lelaki berbadan kekar terlihat semakin mendekat ke arah Bono yang masih berdiri berjingkat-jingkat kesal.


Rengganis tak sempat lagi menoleh ke belakang. Kakinya yang jenjang diayunkannya secepat kilat. Ia berlari sekencang yang ia bisa.


“Haps.” Akhirnya Rengganis berhasil keluar pintu pagar pembatas antara lahan perkebunan milik keluarga Plenggo dan tanah luas tak terawat entah milik siapa.


Alang-alang tumbuh setinggi pinggang. Sementara tumbuhan rambat berduri seakan mencoba meghalangi langkah kaki Rengganis. Gadis itu tak lagi peduli dengan kaki mulusnya yang telah penuh luka robekan oleh duri-duri dan ranting kayu yang menghadangnya.


“Cari dia!” Suara Bono melengking kuat memecahkan langit senja yang berwarna orange tua kehitaman.


Berjam-jam lamanya anak buah Bono keluar masuk perkebunan, berkeliling mencari Rengganis. Namun, gadis itu tak juga bisa ditemukan.


“Dasar bodoh!” Bono mencak-mencak jengkel saat Brandox datang kehadapannya tanpa membawa Rengganis.


“Maaf, Den. Kami sudah cari ke segala penjuru tapi tidak dapat. Mana sebentar lagi hari akan gelap,” lapor Brandox.


“Memangnya kenapa kalau gelap? Kamu takut? Terus mau pulang tidur di bawah selimut emakmu, gitu?” Bono melotot.


“Sa—sa—saya rabun ayam, Den,” aku Brandox malu-malu. Takut suaranya terdengar teman-temannya yang lain.


“Ah apa lagi itu rabun ayam? Saya gak mau tahu apa pun alasannya. Saya mau Rengganis segera diketemukan,” jerit Bono.


“Jika sampai tak diketemukan bisa mati kita,” sambungnya.


“Maksud, Aden?” Brandox tampak tak mengerti.


“Jika perempuan itu bisa selamat, keluarga besarnya pasti akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menjebloskan kita ke penjara bahkan mungkin akan membunuh kita.” Bono kelimpungan.


“Tenang saja, Den. Kita tinggal minta bantuan Ayah Den Bono. Selesai semua masalah,” ujar Brandox santai.

__ADS_1


“Gundulmu itu! Kamu pikir Rengganis itu gadis kampung yang biasa kalian tangani selama ini. Kekayaan ayahnya itu bisa lebih 100X lipat dari kekayaan keluargaku. Paham?”


Brandox kaget bukan kepalang. Mulutnya menganga tak dapat berkata-kata. Sekarang ia tahu mengapa Bono begitu tergila-gila pada gadis itu. Tidak seperti perasaannya, perasaan Bono pada gadis lain hanya bertahan sebentar, lalu dibuang setelah majikannya itu bosan.


“Kalau sampai Papinya Rengganis tahu kita menciderai putri tunggalnya, habislah kita! Ia bisa membayar preman kelas dunia yang jauh lebih hebat dan lebih sakti dari kalian untuk menjadikan kita semua ayam cincang. Aku gak mau jadi sate ditangan Papi Rengganis. Cepat cari lagi!” Bono mendorong tubuh Brandox. Tapi tubuh besar yang didorongnya tak bergeming barang sedikit pun bahkan tubuh kurus Bono sendiri yang terpental ke belakang.


“Oh.” Bono menjentikkan jarinya. Laki-laki itu seperti telah mengingat sesuatu.


“Ada apa, Den?” tanya Brandox penasaran.


“Cepat cari di desa Sidoraharjo. Kemungkinan gadis itu menuju ke sana.”


“Ta—ta—tapi, Den?”


“Ah tidak ada tapi-tapian. Pokoknya cari sampai ketemu,” bentak Bono.


Brandox dan beberapa orang tukang pukul bayaran keluarga Plenggo segera bergerak menuju ke desa Sidoraharjo mencari Rengganis, meski mereka tahu perang kampung bisa saja terjadi jika kepala desa mereka, Pak Waru Harmawan tahu anak buah Plenggo berani menginjakkan kaki di desanya.


Sementara Rengganis masih terlunta-lunta di dalam perkebunan dengan pohon-pohon besar yang menyeramkan. Hanya ada kegelapan yang ia temui. Ia bingung, beberapa kali ia hanya mampu berputar-putar di tempat yang sama.


Ia tak bisa berhenti meski kakinya terasa sakit dan perih. Tubuhnya mulai letih, perut keroncongan itu membuatnya ingat pada sosok nenek dan maminya.


“Mi, Pi. Rengganis takut? Doakan anakmu ini agar bisa selamat.” Rengganis bersender pada pohon tanjung yang berusia lumayan tua. Rengganis menangis sesenggukkan.


Wajah Kapten Biru tiba-tiba berkelebat keluar masuk dalam pikiran wanita muda yang sedang dalam ketakutan yang paripurna itu. Kerinduannya pada sosok gagah itu terasa begitu nyata.


“Kapten, tolong aku.” Rengganis berharap Kapten Biru datang menyelamatkannya seperti waktu itu. Hanya dia yang bisa diharapkannya saat ini.


Tubuh Rengganis semakin terasa lemah. Matanya penuh kunang-kunang berwarna kuning yang mengitari seluruh lensa netranya. Rengganis ingat sejak kemarin malam memang ia belum sempat makan, ia sempat berharap bisa makan siang bersama dengan laki-laki yang dicintainya. Namun, nyatanya ia malah terdampar di sebuah kejadian yang memaksanya kembali masuk ke sebuah perkebunan yang menakutkan seperti saat ini.


“ Mbak Astuti.” Rengganis ingat nasib Astuti yang masih terkurung di vila Bono. Jangan-jangan karena keputusan Rengganis, Astutilah yang akan menanggung konsekuensinya.


“Maafkan aku, Mbak. Aku egois.” Rengganis tak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Astuti, perempuan yang selalu bersikap baik padanya itu.


Rengganis menyandarkan tubuhnya yang penuh luka pada batang pohon besar di belakangnya. Ia tak sanggup lagi berjalan lagi mencari kampung yang dibicarakan Bono sore tadi. Ia pasrah, ia hanya mampu berdoa saat ini.


Tiba-tiba kedua mata Rengganis melihat kelap-kelip nyala obor terlihat dari jauh, semakin mendekat semakin mendekat dan “Tap.” Rengganis jatuh tak sadarkan diri.


Cahaya apakah yang semakin mendekat ke arah Rengganis?


Apakah anak buah Bono dapat menemukannya?


Atau Kapten Biru yang diharapkan mampu menyelamatkan nyawanya sekali lagi benar-benar datang?


Kita tunggu kisah selanjutnya!

__ADS_1


__ADS_2