MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
SURPRISE


__ADS_3

Hari mulai sore, mentari yang panas mulai meredupkan cahayanya sedikit demi sedikit. Kapten Biru masih setia pada jalan aspal yang mulai tak bersahabat ketika memasuki jalan berbatu desa Pringjaya.


Minggu ini para tentara remaja mendapatkan izin bermalam. Hati kapten tampan itu tiba-tiba terasa kosong. Kerinduannya pada sang kekasih muncul tanpa diterka-terka.


Bayangan wajah cantik Rengganis sejak tadi bermain indah di kedua bola matanya. Hal itulah yang menjadi alasan utama Kapten Biru melajukan motor kesayangannya menuju desa yang cukup terpencil ini.


Sejak Rengganis memutuskan untuk kembali ke negari gingseng untuk meneruskan pendidikannya, Kapten Biru sering menghabiskan waktu liburnya di desa ini. Setidaknya berada di desa Pringjaya membuat kapten muda itu merasa lebih dekat dengan dokter muda yang telah mengambil seluruh hatinya.


Kapten Biru menghentikan laju motor besarnya di sebuah tikungan perkebunan kopi. Perlahan kedua kakinya melangkah masuk ke dalam perkebunan.


"Aku merindukanmu, Yang." Kapten Biru mengusap batang pohon besar yang dulu pernah menjadi sandaran tubuh Rengganis saat pertama kali jumpa dirinya.


Mata elang Kapten Biru memandang sekeliling, memori yang terekam indah di ingatannya tiba-tiba terkuak kembali. Laki-laki tampan itu tersenyum mengingat semua tingkah konyol yang dulu pernah dilakukannya dan Rengganis.


"Eh ada Pak Kapten." Mang Duar yang terlihat kaget menghentikan kegiatannya.


"Bersih-bersih, Mang?" pertanyaan retorik Kapten Biru yang sebenarnya tak perlu dijawab.


"Iya, Pak, dapet perintah dari juragan Kohar, katanya rumput mulai tinggi-tinggi."


"Oh iya, silakan dilanjutkan, Mang. Maaf saya jadi sering mengganggu Mang Duar." Kapten Biru sedikit malu karena ini bukan kali pertama Mang Duar memergokinya berjalan-jalan sendirian di dalam area perkebunan kopi tempatnya mengambil upahan mengoret kebun.


"Gak apa-apa, Pak, saya malah senang ada yang temani bekerja." Mang Duar menghentikan gerakan tangannya dan duduk bersandar di sebuah pohon kapuk besar sambil mengusap peluh di keningnya.


Kapten Biru ikut berjongkok tak jauh dari Mang Kohar yang kini sedang mengipas-ngipas tubuhnya dengan topi caping yang tadi dipakainya di kepala.


"Lagi libur, Pak Kapten?" tanya Mang Duar ramah.


"Iya, Mang, bingung mau kemana," jawabnya jujur.


Jika hatinya sedang merindu begini, kapten muda itu memang memilih tak kembali ke rumah. Ia lebih senang menghabiskan harinya dengan termenung sendiri di desa Pringjaya yang selalu mampu memberinya ketenangan tersendiri.


"Kangen Bu Dokter ya, Pak?" tanya Mang Duar lagi. Beberapa kali mendapati sang kapten yang senyum-senyum sendiri di dalam perkebunan membuatnya sadar, kapten tampan itu sedang membayangkan perjumpaan pertamanya dengan dokter cantik kebanggaan desa Pringjaya--Rengganis.


Kisah cinta Rengganis dan Kapten Biru bukanlah rahasia lagi bagi penduduk desa. Mereka semua paham benar tentang perjalanan cinta dua orang hebat itu sejak awal perjumpaan.


"Kapan Bu Dokter akan kembali kemari, Pak, kami juga sudah sangat rindu padanya. Dokter Rengganis adalah dokter terbaik yang pernah ada di kampung ini."


"Saya juga tidak tahu kapan dia akan kembali, kita doakan saja agar studinya diberi kemudahan dan kelancaran jadi dokter kesayangan kita bisa cepat mengabdi lagi di sini. Berkumpul bersama kita lagi." Ada riak-riak bahagia dalam nada suara Kapten Biru.


Laki-laki bermata tajam itu memang sudah sangat paham bagaimana warga desa menghormati dan menyayangi Rengganis. Gadis cantik itu memang telah menjadi bagian terpenting dalam masyarakat desa.


"Baiklah, Mang, sepertinya hari sudah mulai senja. Saya harus melanjutkan perjalanan."


"Pak Kapten akan menginap dimana malam ini?" tanya Mang Duar lagi.


"Sepertinya di penginapan Mas Udai."


"Cocok Pak Kapten, warungnya Mas Udai malam ini bakal rame. Ada acara katanya, tapi saya belum tau jelas acara apa itu. Tadi denger sekilas dari Siti--istri saya, waktu anter makan siang."


"Oh ya, pasti seru."

__ADS_1


Penginapan Mas Udai sebenarnya hanya terdiri dari dua kamar kecil yang sangat sederhana. Lebih tepat disebut kos-kosan harian. Tapi hanya penginapan itulah yang ada di desa ini. Banyak warga yang menawari Kapten Biru untuk menginap di rumahnya tetapi kapten muda yang berpostur tubuh tinggi gagah itu tak ingin merepotkan orang lain jadi ia memilih untuk tidur di penginapan Mas Udai yang sederhana.


"Baiklah kalau begitu sampai ketemu di sana ya, Mang."


"Iya, Pak. Sampai jumpa di warung Mas Udai." Mang Duar mengamati bayangan Kapten Biru yang semakin menjauh.


Kapten Biru kembali menghidupkan mesin motornya dengan jaket bomber hijau army dan celana tactical cream penampilan kapten muda itu tampak lebih macho.


Satu jam lebih Kapten Biru menghabiskan waktu memutari sudut-sudut kampung. Menyegarkan kembali ingatan-ingatan indahnya kala berdua dengan Rengganis dulu.


Dari jauh Kapten Biru melihat Mas Udai tengah sibuk menyusun kursi dan meja-meja dibantu Wisnu--putra sulungnya.


"Wah, sepertinya lagi repot ni, Mas Udai?" sapa Kapten Biru sambil melepas helm di kepalanya.


" Eh, Kapten Biru." Mang Udai meletakkan beberapan kursi yang tadi sempat diangkatnya. Laki-laki berusia empat puluh tahunan itu berjalan menyongsong kedatangan Kapten Biru.


"Apa kabar, Mas Udai?" Kapten Biru menyalami suami Mbak Winah ini.


"Baik Kapten, alhamdulillah."


"Mbak Winah mana, Mas? Kok sendirian saja di warung, tumben. Saya mau pesan kamar satu ya, Mas." Kapten Biru duduk di sebuah kursi plastik yang telah disusun Mas Udai.


"Oh iya, Kapten. Nanti saya rapikan dulu. Spreinya belum dipasang. Mbak Winah itu di sana sama--" Mas Udai sengaja memutus kalimatnya.


"Sama siapa, Mas?" Entah mengapa jantung Kapten Biru tiba-tiba berdetak keras.


"Sama Dokter Rengganis, di sana." Mas Udai menunjuk batang pohon kelapa rubuh yang dahulu menjadi tempat Kapten Biru dan Rengganis makan mie instan.


"Rengganis!" Kapten Biru menggeletakkan plastik rempeyek yang baru saja dibukanya. Kaki panjangnya berlari menuju tempat Mbak Winah dah Rengganis berada. Kerinduannya yang teramat dalam membuatnya tak lagi peduli dengan tatapan bingung Mas Udai.


Tiba-tiba larinya terhenti, matanya menatap tajam seorang gadis yang sedang duduk membelakanginya. Rambut hitam gadis itu bergerak-gerak ditiup angin sore.


"Yang!" panggil Kapten Biru.


Rengganis menoleh dan memberikan senyum termanisnya.


Rengganis berlari ke dalam pelukkan kapten muda itu. Jantungnya berdegup kencang, rindu yang selama ini menggunung tiba-tiba mencair seketika.


"Surpriseeeee!" teriaknya di telinga Kapten Biru setelah puas memeluk laki-laki itu.


"Gadis nakal." Kapten Biru mengacak-acak rambut kekasihnya.


"Dari mana kamu tahu aku akan datang?" tanya Kapten Biru penasaran.


"Aku sudah pastikan kamu pasti kemari, Lettu Abi telah membocorkan semuanya untukku," ungkap Rengganis.


"Wah, mungkin cintanya yang besar padamu membuatnya rela menghianati atasannya sendiri." Cemburu Kapten Biru memburu lagi.


"Kalau mau marah, aku pulang lagi ni," ancam Rengganis main-main.


"Hahaha," mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah.


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.


Suara adzan Magrib berkumandang.


"Ayo, sekarang waktunya aku mulai menjadi imammu." Kapten Biru menggandeng lembut lengan Rengganis.


Rengganis tertawa mendengarnya sementara hatinya yang berbunga-bunga itu terus berdebar keras.


Bersama mereka mengambil wudu di pancuran belakang rumah Mas Udai dan melaksanakan sholat berjamaah dengan sangat khusuk dan tenang.


Hanya perasaan damai yang kini ada di hati mereka. Ini adalah pengalaman pertama bagi Kapten Biru menjadi pemimpin sholat untuk Rengganis. Hatinya begitu bahagia.


Malam ini, hampir semua warga desa datang berbondong-bondong ke warung Mas Udai dan Mbak Winah. Rengganis sengaja mengundang mereka sebagai acara syukuran kecil-kecilan atas selesainya ia menjalani pendidikannya di negeri orang.


"Kenapa gak bilang sama aku?" protes Kapten Biru setengah berbisik di telinga Rengganis.


"Bukan kejutan namanya kalau kuberitahu." Rengganis balas berbisik.


"Satu lagi," Rengganis membetulkan duduknya sebelum memulai cerita.


"Warung ini telah kubeli. Kita akan mengelolanya bersama Mas Udai dan Mbak Winah."


"Kenapa bisa begitu?" tanya Kapten Biru ingin tahu.


"Aku datang di saat yang tepat. Tadi siang, Mas Udai dan Mbak Winah hampir menjual warung, rumah dan tanahnya ini ke tengkulak yang biasa menjadi penghisap darah para petani di desa ini."


"Lalu?" tanya Kapten Biru tidak sabaran.


"Setelah kutanyakan, akhirnya mereka mengaku kalau mereka sangat membutuhkan uang untuk biaya berobat Melati, putri bungsu mereka yang sedang sakit. Mereka harus membawanya ke kota untuk di operasi secepatnya," cerita Rengganis.


"Akhirnya kuputuskan untuk membeli rumah dan tanah ini dengan harga yang baik agar mereka punya uang yang cukup untuk biaya berobat Melati."


"Jadi maksudmu kelak yang akan mengelola warung ini tetap Mas Udai tetapi modalnya kita yang beri?" Kapten Biru mulai menangkap arah pembicaraan Rengganis.


"Betul. Kita akan kembangkan desa ini menjadi desa agrowisata. Keindahan alam, perkebunan, sawah, wisata air dan adat istiadat yang masih murni ini akan menjadi salah satu daya tarik wisatawan kemari. Kita bantu perekonomian mereka. Bagaimana?" Rengganis menaikkan sebelah alisnya.


"Dasar otak bisnis," Kapten Biru tertawa sambil sekali lagi mengacak-acak rambut Rengganis.


"Aku setuju," ucap Kapten Biru dari jauh sambil melangkah meninggalkan Rengganis yang masih duduk di mejanya.


"Sip," Rengganis mengangkat jempolnya.


Laki-laki gagah itu kini duduk membaur bersama warga lain sementara Rengganis pun telah bergabung dengan Bidan Maya dan ibu-ibu lainnya. Sesekali dua kekasih itu saling melirik dan melempar senyum malu-malu dari jauh.


Malam yang betul-betul indah dan hangat. Bulan pun bergantung mesra di balik awan malam yang menghembuskan hawa dinginnya pegunungan.


Kira-kira kebahagiaan seperti apalagi yang akan ditemui sepasang kekasih ini? Nantikan ceritanya di episode mendatang ya!

__ADS_1


__ADS_2