MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
DUNIA GELAP


__ADS_3

Bau obat menyeruak ke dalam penciuman Rengganis, seberkas sinar menembus kedua kelopak mata menuju langsung ke dalam retina. Jari tengah Rengganis bergerak seiring mata sayunya yang mulai membuka sedikit demi sedikit.


Setelah sukses melebarkan kedua matanya dengan sempurna, netra gadis itu mengerjap beberapa kali berusah menyapu kabut yang terasa menutupi lensa matanya yang indah. Tangan kanan memegang kepalanya yang terasa berat. Rengganis sekali lagi memejamkan mata mencoba menahan rasa sakit yang dirasakan.


“Rengganis, apa yang sakit, Nak?” Suara Mami terdengar cemas.


“Mami? Apa aku bermimpi?” Rengganis berusaha berkata meski bibirnya terasa sangat lemah.


“Gak, Sayang, Rengganis tidak bermimpi.” Nenek yang sedari tadi memegangi tangan Rengganis ikut menjawab.


“Rengganis gak percaya nenek sama mami datang ke desa Pringjaya?” Rengganis menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


“Ini bukan di desamu, Nak.” Mami tersenyum.


“Jadi dimana kita sekarang, Mi?” Renganis membelalakan matanya. Ia mulai sadar, ruangan tempatnya berbaring bukanlah di salah satu ruang yang berada di puskesnya.


“Papi dapat kabar Rengganis sakit dan hampir masuk ke dalam sebuah bahaya besar. Papi marah dan segera meluncur ke desa serta membawa Rengganis pulang.”


“Apa yang sakit, Nak? Berkemaslah, Mi. Kita akan bawa Rengganis ke rumah sakit terbaik di Singapura.” Papi masuk ke dalam ruang inap VVIP sebuah rumah sakit swasta terbesar dan termahal tempat Rengganis berbaring.


“Tapi, Pi. Rengganis tidak apa-apa.” Rengganis menolak.


Gadis itu memang masih merasakan nyeri yang teramat sangat di seluruh tubuhnya tapi bukan itu yang Rengganis cemaskan. Ia lebih memikirkan keadaan puskesmas dan desa Pringjaya yang saat ini pasti sedang kacau.


Hatinya begitu penasaran apa yang terjadi pada Astuti, sudahkah ia diketemukan? Bagaimana Jurangan Plenggo dan anaknya, Bono? Sudahkah mereka diringkus? Kapten Biru, ya Kapten Biru pasti sangat mengkhawatirkannya. Sedang apa dia saat ini?


Mata Rengganis yang layu bergerak memandang sekeliling ruangan.


“Apa ini tanggal 27, Mi?”


“Iya betul, Nak. Ada apa?” Mami mengelus kepala anak kesayangannya.


“Besok mereka pulang.” Rengganis memaksakan tubuhnya yang masih lemah untuk bangkit. Tangannya melepas jarum infus yang terpasang kokoh di tangannya.


“Rengganis ada apa, Nak?” Papi, Mami, dan Nenek terlihat cemas.


“Rengganis harus kembali ke sana, Pi. Sekarang!” Rengganis mencoba untuk berdiri, tapi kedua kakinya masih sangat lemah hingga akhirnya tak mampu menopang tubuhnya.


“Rengganis—Rengganis harus tetap beristirahat.” Papi membopong tubuh putri semata wayangnya.


“Kita harus segera berangkat ke Singapur, Mi.”


“Pi, Rengganis mohon. Rengganis tahu apa yang terjadi pada tubuh Rengganis. Rengganis tak apa-apa, Pi. Percayalah. Rengganis gak mau ada ke Singapur.” Mata Rengganis berkaca-kaca.


Laki-laki tangguh yang masih menyimpan ketampanan masa mudanya itu betul-betul luluh melihat wajah memelas putrinya.


“Baiklah, kita akan tetap di sini tapi Rengganis harus berjanji mau dirawat sampai kondisi Rengganis membaik. Setelah Rengganis pulih, Papi akan antar Rengganis kembali ke sana.” Papi menyerah atas permohonan putri kesayangannya itu.


“Pi, apa gak ada jalan yang bisa membuat Rengganis pindah tugas ke sini saja, Pi. Agar dekat dengan kita?” Mami memohon.


“Akan Papi usahakan secepatnya Rengganis dipindahtugaskan ke rumah sakit yang paling bagus di sini.” Papi menggenggam lengan putrinya yang mulai dipasangkan kembali jarum infus oleh seorang perawat.


“Rengganis gak mau, Pi. Biarkan Rengganis di sana. Setidaknya untuk sementara waktu. Rengganis suka tinggal di sana.” Sekali lagi Rengganis memohon sesuatu yang bertolak dengan keinginan kedua orang tuanya.


Nenek tersenyum, wanita tua itu sadar, cucu manjanya kini mulai berubah, sudah ada rasa tanggung jawab dan kemandirian di dalam hatinya.


“Rengganis gak takut tinggal di desa yang sepi seperti itu? Desa yang jauh dari kata aman.” Mami tidak yakin atas apa yang diucapkan putrinya yang manja itu.


Belum lama ini Rengganis menelepon mereka dengan tangis berderai-derai menceritakan ketidaknyamanannya tinggal di desa Pringjaya. Namun, belum seminggu dari kejadian itu pendapat gadis ini sudah berubah 180 derajat. Mereka semua tak akan pernah tahu. Semua ini terjadi karena kekuatan cinta. Cinta seorang Kapten Biru.

__ADS_1


“Baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang Rengganis harus istirahat lagi ya.” Papi merapikan selimut di tubuh Rengganis. Setelah itu tangan Papi memegang tangan istrinya yang masih memandang sedih ke arah putrinya, seakan laki-laki itu memberi isyarat agar mereka mengalah saja agar tak semakin membebani pikiran Rengganis.


Mami langsung paham apa yang dimaksudkan oleh Pak Brata Warman, Pengusaha sukses yang telah mendampingi hidupnya selama 26 tahun ini. Mereka berdua berangkulan keluar dari ruang rawat Rengganis.


Nenek tersenyum, mengusap tangan lemah cucu kebanggaannya.


“Nenek ke luar juga ya, biar Rengganis bisa istirahat.” Nenek bersiap berdiri meninggalkan Rengganis.


“Tidak, Nek.” Rengganis memegang tangan nenek.


“Nenek tetap di sini ya, Rengganis rindu tembang yang selalu nenek nyanyikan buat Rengganis di waktu kecil untuk menemani Rengganis tidur.”


Wanita tua yang terlihat sangat bijaksana itu mengangguk, beberapa kali tangannya mengusap rambut panjang Rengganis.


“Iya, Sayang, Nenek akan nyanyikan buat Rengganis.” Nenek tersenyum penuh cinta.


“Nek, aku menemukannya.” Mata tua nenek yang mulai penuh dengan keriput memicing ingin tahu.


“Menemukan apa, Nak?” Senyum tuanya kembali merekah.


“Seseorang yang membuat hati Rengganis terus bergetar, laki-laki yang selalu membuat Rengganis merasa rindu meski dia ada di depan mataku.” Wajah oval Rengganis terlihat bercahaya, matanya yang bening cukup menunjukkan betapa ia jatuh hati pada laki-laki itu.


“Oh ya?” Nenek penasaran.


“Iya, Nek. Dia persis seperti yang nenek ceritakan. Laki-laki yang mampu mengombang-ambing hati Rengganis, laki-laki yang mampu memerintah Rengganis tanpa membuat Rengganis merasa keberatan dengan semua permintaannya.” Rengganis mencoba duduk lagi.


“Siapa dia?” tanya nenek.


“Kapten Biru.” Rengganis memasang wajah serius.


“Seorang serdadu?” Rasanya nenek tak percaya dengan apa yang didengarnya, cucu manjanya bisa jatuh cinta pada seorang prajurit yang biasanya tegas dan tanpa kompromi.


“Ih, Nenek, gitu kan, ngeledekin Rengganis.” Dokter muda itu membuat wajah cantiknya penuh dengan ekspresi kesal.


“Iya—iya, Sayang. Nenek jadi gak sabar ingin ketemu laki-laki yang mampu membuat hati cucu nenek yang cantik ini bergetar.” Nenek memeluk Rengganis gemas.


“Besok hari terakhir Rengganis bisa berjumpa dengannya di sana, Nek. Mereka akan kembali ke kota asal mereka. Bagaimana Rengganis bisa mengungkapkan semua perasaan Rengganis jika tak bisa berjumpa dengannya meski untuk terakhir kali.” Rengganis menunduk sedih.


“Nenek akan bantu bicara pada Papi.” Nenek memberi semangat pada cucunya.


“Benar, Nek?” Rengganis menepalkan kedua tangannya penuh semangat.


“Tentu saja, apa yang tak bisa nenek lakukan demi cucu cantik nenek ini?”


“Terima kasih, Nenekku yang paling baik.” Rengganis memeluk tubuh nnenek sekali lagi.


“Nenek keluar dulu ya, nanti akan coba nenek bicarakan pada kedua orang tuamu agar besok mereka mengizinkan Rengganis kembali ke sana. Rengganis tidur yang nyenyak ya, Sayang.” Nenek mencium kening Rengganis.


Gadis cantik dengan penuh luka gores di tubuhnya itu melambaikan tangan yang berisi jari-jari lentik dengan kuku yang putih bersih. Bibirnya yang merah ranum tanpa pemulas bibir buatan menyunggingkan senyum penuh harapan.


**


“Bagaimana? Siap berangkat?” Papi yang berada di samping Pak Ali, driver mereka hari ini memberikan aba-aba.


“Siap,” Rengganis, Mami, Nenek dan Bik Unah menjawab serempak.


“Kalau begitu kita let’s gooooooo,” teriak Papi.


Semua begitu bersemangat menuju desa Pringjaya. Demi menuruti keinginan putri semata wayang mereka untuk segera kembali ke desa, mereka semua berniat untuk ikut serta mengantarkan Rengganis.

__ADS_1


“Mami penasaran, seperti apa kampung itu hingga Rengganis bersikukuh ingin tetap tinggal di sana.” Mami terlihat sangat antusias.


“Mi, kalau kita buka sebuah agrowisata dan penginapan seperti bungalow-bungalow indah gitu mungkin akan ramai yang berkunjung ke desa itu, Mi.”


“Wah ide bagus tuh.” Insting bisnis Dokter Rengganis memang tetap menyala terang meski gadis itu lebih memilih menjadi seorang dokter.


“Kalau Mami lihat keadaan di sana, pasti Mami bakalan jatuh cinta. Pemandangannya indah banget, Mi. Alaaaaamiiii banget, udaranya segar tanpa polusi deh pokoknya,” puji Rengganis.


“Iya deh yang sudah jatuh cinta, semua memang terasa indah.” Nenek mencibirkan bibirnya.


“Wah sepertinya Mami ketinggalan berita nih, hayo ngaku anak mami sudah jatuh cinta sama siapa?” Mami menyenggol lengan Rengganis.


“Aw,” Rengganis mengaduh, berpura-pura kesakitan untuk mengalihkan pembicaraan.


“Oh, maafkan Mami. Mana yang sakit, Nak?” Mami memeriksa luka-luka di lengan Rengganis.


“Papi bersumpah akan mematahkan tangan laki-laki yang membuatmu seperti ini seandainya mereka masih hidup.” Gigi Papi bergemeretak jengkel membayangkan kesulitan demi kesulitan yang diderita putrinya di sana.


“Maafkan kami datang sangat terlambat, Nak.” Papi menyesali ketidaktahuannya selama ini.


“Tidak apa, Pi. Jangan remehkan anak Papi yang kuat ini. Rengganis kan bukan anak kecil yang cengeng lagi.” Rengganis memamerkan sederet giginya yang tersusun dengan sangat rapi.


“Nah—nah itu puskes Rengganis, Pi. Stop di depan sana ya Pak Ali!” pinta Rengganis.


“Oh iya, Non.” Pak Ali sempat melirik ke kaca tengah.


“Cit,” Mobil yang dikendarai Pak Ali berhenti tepat di pintu pagar puskesmas kecil. Mobil pribadi Dokter Rengganis tampak terparkir di garasi puskes menunggu empunya yang sedang baru pulang dari kota.


“Ayo, Mi, turun!” pinta Rengganis, sepertinya gadis muda itu sudah tak sabar ingin mendengar kabar tentang semua yang terjadi di desa Pringjaya.


Dengan langkah tertatih dan sesekali terseok, Rengganis masuk ke ruang tunggu mencari seorang perawat atau Bidan Maya di sana. Wanita tua itu pasti sangat cemas memikirkan keadaannya.


“Mbak Katmia!” panggil Rengganis pada seorang perawat yang sedang sibuk mendata pasien seorang diri.


“Dokter!” wajah Katmia terlihat amat senang melihat dokter kesayangan mereka kembali dengan keadaan yang mulai membaik. Perawat itu memeluk Rengganis penuh kebahagiaan.


Mami dan Papi melihat kejadian itu dengan penuh haru, mereka tak menyangka kehadiran Rengganis diterima begitu hangat di sana.


“Dokter—dokter—dokter, para penduduk desa satu persatu berdiri memberi salam pada gadis cantik yang sangat terkenal di kampong mereka.


“Iya—iya, mari.” Rengganis repot menganggukkan kepalanya menjawab semua salam yang ia terima dari semua orang hari itu.


“Bidan Maya mana, Mbak?”


Tiba-tiba Katmia tertunduk, air matanya mengalir.


“Ada apa, Mbak?”


“Bidan Maya masih terbaring di ruang rawat inap, Mbak Astuti—” gadis itu tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


“Ada apa dengan Mbak Astuti?”


“Kita sedang berduka, Mbak. Mbak Astuti telah tiada.”


“Apa?” Rengganis memegang kepalanya yang lagi-lagi terasa begitu berat. Mata beningnya mengatup dengan sangat rapat, dunia Rengganis menjadi kembali gelap. Gadis itu kembali tak sadarkan diri. Rasa bersalah menekan sangat kuat di dalam hatinya.


Apa yang akan terjadi dengan Rengganis?


Bagaimana pula kelanjutan hubungan dokter muda dan Kapten tampan itu?

__ADS_1


Kita cari jawabannya di episode mendatang!


__ADS_2