
Matahari mulai tergelincir dari singgasananya yang paling tinggi, senja memanggil-manggil sendu untuk datang.
Dokter cantik yang baru saja datang beberapa hari lalu ke desa Pringjaya setelah rehat hampir satu bulan di sisi orang tuanya itu tampak buru-buru memasuki rumah dinas.
Bidan Maya dan Fattan mengikutinya dari belakang. Bidan Maya berhenti dan memutar tubuhnya.
"Dokter, biar saya coba bicara dengan Dokter Rengganis. Dokter Fattan sebaiknya tunggu di sini." Bidan Maya memberi saran.
Fattan tak punya pilihan lain. Laki-laki itu mengganguk menyetujui ide wanita berambut putih yang bergegas melangkah mendekati rumah mess Rengganis.
"Assalamualaikum, Dok." Bidan Maya memasuki ruang tamu sederhana yang hanya terdapat satu set sofa usang dan satu buah lemari buku. Namun, satu pot besar bunga kuping gajah berdaun merah di pojok ruang membuat suasana sedikit terasa nyaman dan asri.
Bunga yang ditanam Rengganis dan Astuti kala itu, saat Astuti membawa bibit bunga berdaun lebar sepulangnya dari pasar desa. Kini, pot besar yang terisi penuh dengan rimbunan daun kuping gajah itulah yang menjadi obat rindu Rengganis pada Astuti.
"Ada apa, Dok?" tanya Bidan Maya sembari duduk di sisi tempat tidur Rengganis.
"Saya harus pulang, ada yang harus saya selesaikan," jawab Rengganis, tangannya masih sibuk memasukkan beberapa benda ke dalam tasnya.
"Apa tentang Kapten Biru?"
Rengganis menghentikan aktivitasnya dan menarik kursi kayu meja belajar mendekat ke arah Bidan Maya duduk.
"Aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini," Rengganis berkata dengan mimik serius.
"Tapi ini sudah hampir sore." Bidan Maya memandang jam dinding yang tergantung dengan jarum menunjuk ke angka tiga.
"Tak apa, jalanan kan sudah aman. Lagi pula aku ini pembalap, Bu." Rengganis tersenyum.
"Aku akan pastikan sebelum pukul enam mobilku sudah melaju di jalanan aspal ibu kota," celoteh Rengganis, Bidan Maya ikut tertawa mendengarnya.
"Hati-hati, Dok," pesan wanita tua itu.
"Telepon aku jika itu bisa meredakan sedikit kekhawatiran Bu Bidan. Ini kutinggalkan nomor teleponku yang bisa Ibu dan yang lain hubungi kapan saja. Oke, aku harus pergi." Rengganis berdiri dan meraih tas kerja fossilnya yang berwarna hitam gelap.
"Biar kuantar," Fattan menjajari langkah kaki Rengganis yang cepat.
"Terima kasih, Dokter Fattan. Tapi tolong bantu aku." Rengganis berhenti melangkah.
"Tolong jaga warga desa baik-baik seperti sebelumnya, saat aku belum tiba di sini. Aku akan segera kembali setelah urusanku selesai."
Fattan terdiam tak mampu menentang keinginan Rengganis.
"Maafkan aku yang selalu merepotkanmu ya, Dok," ucap Rengganis tulus.
Fattan menggangguk.
"Apa pun akan kulakukan untukmu."
"Apa?" Rengganis pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan Fattan.
"Aku ... aku ...."
"Baiklah, baiklah aku akan mendengarkannya sepulang nanti. Sekarang aku agak terburu-buru, tentu kamu tidak mau kan, sahabatmu yang manis ini lagi-lagi harus merasakan bermalam di tengah perkebunan kopi?" Rengganis bergidik mengingat banyak hal yang telah terjadi padanya di desa ini.
Fattan mengangguk sekali lagi. Berusaha mengikhlaskan Rengganis pergi.
"Hati-hati ya, cepat hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Gadis cantik itu melambaikan tangannya dari jauh.
"Bidan Maya, Dokter Fattan mau oleh-oleh apa?" teriak Rengganis dari dalam mobilnya.
"Tidak perlu repot-repot, Dok." Bidan Maya membalas lambaian tangan dokter kesayangannya itu.
"Bawakan aku cintamu, Re," bisik Fattan lirih.
Bidan Maya mendengar apa yang baru saja dikatakan Fattan, perempuan berambut putih itu hanya memunduk seolah-olah tak mengerti apa yang sedang terjadi diantara para pemuda-pemudi ini.
"Akan kuantarkan kau pada memilikmu," Rengganis tersenyum manis sambil mengusap sweater biru bertulis namanya di dada dan nama Kapten Biru di punggung.
Tak perlu waktu lama, roda mobil pajero Rengganis mulai melanglang membuka jalan berbatu desa Pringjaya.
**
Pagi dalam balutan rindu yang menggebu-gebu, seorang gadis cantik berbalut blazer coat biru muda dengan dress putih di dalamnya terlihat turun dari sebuah mobil mewah.
__ADS_1
Sepatu Cristian Louboutin berwarna putih membuat langkah Rengganis terlihat semakin anggun memesona. Setiap mata memandangnya lekat-lekat, senyum manis tak pernah lepas, selalu tergambar pada wajahnya yang cantik jelita.
Siapa yang tak akan terpana dengan nilai nyaris 100 untuk seorang wanita berpenampilan luar biasa seperti itu.
Sesekali Rengganis mengganggukkan kepalanya, menyapa orang-orang yang ditemuinya di parkiran. Gadis itu semakin mempererat pelukannya pada clutch putih di tangan, mencoba mengurangi debaran jantung yang semakin lama semakin berirama.
Dreeet. Telepon genggam Rengganis berbunyi.
“Dimana, Nak?” Suara perempuan bernada lembut terdengar dari dalam gawai.
Tante Divya isteri Om Danu pasti sedang menunggunya saat ini, wanita penuh wibawa itu selalu penuh kasih dan perhatian pada Rengganis, meski dirinya sendiri telah memiliki dua orang anak perempuan, Tika dan Adinda.
“Ini baru sampai di pintu masuk, Tante.”
“Tunggu di sana ya, nanti Adinda dan Nak Abi menyusul ke situ,” perintah Tante Divya.
“Abimanyu maksudnya, Te?” tanya Rengganis.
“Iya, Om Abi. Rengganis kenal?” tanya Tante Divya tak kalah penasaran.
“Iya, Tante, kalau orang yang kita maksud itu sama berarti Rengganis kenal.” Rengganis tertawa kecil.
“Baiklah, kalau begitu lebih mudah ya ketemunya. Soalnya agak susah mencari orang di dalam keadaan seramai ini.”
“Betul Tante, ini sih lautan hijau namanya.” Rengganis tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pada dua ibu-ibu berbaju hijau pupus khas istri prajurit yang lewat. Dua wanita yang terlihat tampak anggun itu membalas senyum Rengganis.
“Itu,” seorang gadis muda berlari mendekati Rengganis.
“Adinda,” Dokter muda itu melebarkan tangannya menyambut pelukan rindu teman kecil yang selalu dianggap sebagai adiknya sendiri.
Ya, Adindavo Shabitha Danu, adik perempuan Lettu Tika yang memiliki sifat dan watak yang sangat jauh berbeda dengan kakaknya. Jika Tika lebih cenderung tomboi dan mandiri, Adinda lebih menjurus ke feminin dan manja.
Saat Tika bertengkar dengan Rengganis, Adinda akan lebih berpihak pada Rengganis ketimbang kakak kandungnya sendiri. Bagi Adinda, Rengganis adalah tolok ukur dan trand centre.
Maka tak heran, Adinda pun memilih jejak Rengganis untuk bersekolah di fakultas kedokteran dengan kampus yang sama.
“Apa kabar, Kak?” Adinda memeluk dan mencium pipi mulus Rengganis beberapa kali berusaha menunjukkan betapa gembiranya ia dapat berjumpa dengan idolanya sejak kecil.
“Baik, Sayang. Adinda?”
“Baik juga,”
“Apa kabar, Dokter?” Abimanyu menjabat tangan Rengganis.
“Wah, kalian sudah saling kenal rupanya.” Adinda tampak kaget.
“Ya, sangat kenal.” Rengganis mengedipkan sebelah matanya.
“Ini pacar Adinda?” tembak Rengganis.
“Wah, bukan, Kak. Mas Abi ini teman sekelasnya, Mbak Tika.”
“Tapi saya lebih suka temenan sama adiknya, Dok. Cerewet.” Lettu Abi terus terang. Mereka serempak tertawa.
“Panas, yok kita duduk di sana. Mama sudah tungguin Kakak dari tadi.” Ajak Adinda.
Rengganis mengikuti langkah gadis ceria yang dengan semangat menggandeng tangannya sejak tadi seakan tak lagi mau melepasnya. Sesekali wajah Adinda memandang lekat wajah Rengganis.
“Ada apa?” Rengganis tampak salah tingkah.
“Ada yang salah?” tangan kiri Rengganis memegang pipinya berusaha merapikan sapuan make up tipis yang tadi dipulasnya sebelum berangkat.
“Enggak, gak ada yang salah. Cantik banget malah,” jujur Adinda.
“Ah masak?” Wajah Rengganis bersemu merah.
“Iya, dari tadi ibu-ibu persit di sana gak berenti-berenti berbisik. Pasti mereka kagum banget sama kecantikan Kakak.” Adinda menunjuk sekumpulan Ibu-ibu berseragam persit yang sedang berbincang seru di sisi tiang penyangga.
Rengganis menundukkan kepalanya seraya melepas senyum manisnya. Mau tak mau sekumpulan Ibu-ibu itu membalasnya dengan ramah pula.
“Jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya, Kakak malu.” Rengganis mencubit perut Adinda.
“Ih biar aja, hahaha. Ini sensasi yang selalu aku suka kalau jalan sama Kak Rengganis.”
“ Oh ya? Apa itu?” tanya Rengganis.
“Selalu jadi pusat perhatian orang banyak. Selalu dibanjiri decak kagum dan tatapan iri. Hahaha. Itu rasanya luar biasa tau, Kak.”
__ADS_1
“Dasar ya, anak nakal. Dari dulu gak pernah berubah selalu bisa aja ngerjain Kakak.” Rengganis merangkul kuat tubuh langsing Adinda hingga gadis itu berakting kesulitan bernapas.
Lettu Abi yang mengikuti langkah mereka dari belakang beberapa kali tersenyum bahkan ikut tersipu mendengar obrolan dua gadis cantik di depannya.
“Itu pacarmu kenapa senyam-senyum terus?” tanya Rengganis.
“Ye, siapa bilang pacarku? Bukan!”
“Terus ngapain ngikutin kita?” Rengganis berbisik lagi, memastikan suaranya tak terdengar Lettu Abi.
“Papa yang telepon, Papa bilang mau ikut antar sohibnya satgas tidak? Terus dia datang, aku rasa dia terpaksa, karena Papa yang ajak dia gak berani menolak. Hahaha,” jawab Adinda terus terang.
“Lagi pula ada atasannya yang harus dia temui untuk memberikan suport tuh katanya, gak tahu deh siapa," sambung Adinda.
Rengganis menghentikan langkahnya. Ia mengingat sesuatu yang seharusnya ditanyakan sejak tadi pada Abimanyu, laki-laki yang dengan refleks ikut menghentikan langkahnya saat Adinda dan Rengganis berhenti tadi.
“Bagaimana kabar Kapten Biru?” wajah rengganis terlihat sangat tegang.
Adinda yang melihat kejadian itu sedikit terpana. Matanya tak lepas dari wajah wanita muda yang sangat dikaguminya itu.
Lettu Abimanyu yang ditatap begitu terlihat tergagap. Wajahnya merah, pandangan matanya segera berlari menatap sudut mata Adinda, seakan sedang memohon pertolongan untuk diselamatkan dari pertanyaan yang sulit dijawabnya.
“Saya kurang tahu kabar Kapten, yang saya tahu ia berada di dalam pasukan itu.” Abimanyu menunjuk barisan prajurit berseragam loreng infil.
Mata Rengganis dan Adinda berbarengan mengekor kemana arah telunjuk Abimanyu tertuju. Lautan hijau kekuningan berbaret biru itu membuat siapa yang berada di dalamnya tak dapat dikenali lagi. Semua terlihat sama
“Bisa bantu saya bertemu dengan Kapten Biru?” pinta Rengganis, matanya yang putih bening menyiratkan permohonan yang tulus.
Abimanyu tak dapat menolak permohonan itu. Kepalanya mengangguk menyetujui permintaan dokter cantik di hadapannya.
“Saya coba ya, Dok. Soalnya beberapa menit lagi upacara akan dimulai. Saya tidak yakin Kapten Biru bisa keluar lagi dari pasukannya.” Abimanyu meraih ponsel di saku celana PDL-nya yang berukuran besar.
Beberapa kali Lettu Abi mencoba menelepon tetapi tak juga diangkat.
“Mungkin sudah hampir mulai, Kapten Biru sudah gak bisa angkat teleponnya lagi. Tapi saya coba kirim pesan.” Abimanyu dengan cekatan mengetik beberapa kata di layar phonecell pintarnya.
Adinda mengerti apa yang terjadi, gadis itu memeluk tubuh Rengganis yang seakan tak bertenaga, berusaha menguatkan Rengganis yang tiba-tiba terlihat rapuh.
Usaha Rengganis sia-sia, hanya karena terlambat beberapa menit saja. Gadis itu menyesali, kenapa ia tak melarang Pak Bakar, sopir Papa, ikut mengantri bahan bakar mobilnya dahulu saat berangkat tadi. Jika saja ia meminta Pak Bakar untuk terus melaju mungkin ia telah bertemu dan menyelesaikan semua kesalahpahamannya dengan baik saat ini.
Rengganis pikir acara pelepasan tak akan se-on time ini. Gadis itu lupa, ini adalah upacara militer yang terkenal disiplin dan tak pernah molor. Rengganis menyadari kekhilafannya.
Penyesalan panjang itu membuat jantungnya merasa begitu sesak. Ia ingin menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Tapi gadis cantik itu mencoba untuk kuat, ia tak ingin memperlihatkan ketidakberdayaannya saat ada puluhan bahkan ratusan pasang mata mengamatinya.
“Apa kita tak bisa lebih mendekat ke sana?” Rengganis menunjuk ke arah barisan ibu-ibu berpakaian hijau pupus yang terlihat memanjang rapi.
“Itu khusus istri prajurit, Kak. Kita tidak bisa bergabung.”
“Mama di sana?" tanya Rengganis.
“Di sana,” tunjuk Adinda, ke arah yang berbeda dari dugaan Rengganis.
Rengganis paham, sebagai istri seorang kolonel, pasti Tante Divya sedang berkumpul dengan para istri pembesar TNI di sana.
“Kita telat, harusnya kita bisa melihat lebih jelas jika berada di sana. Tapi sekarang sudah ditutup jalannya, sudah tidak bisa lewat lagi,” jelas Abimanyu.
“Tolong aku, Letnan. Lettu Abi kan juga tentara pasti tahu caranya.” Rengganis merapatkan kedua telapak tangannya.
Abimanyu memutar otaknya, hatinya betul-betul tak sanggup melihat wanita cantik di depannya merasa kecewa.
“Aku telepon, Papa.” Adinda membuka tas selempang dan mengeluarkan handphonenya.
Dreeet, HP Lettu Abi berbunyi. ‘Kapten Bro’ memanggil.
“Siap, kapten.” Letnan Abimanyu menjawab telepon.
Rengganis tiba-tiba merampas gawai yang ada di telinga Abimanyu dan menempelkan ke telinganya dengan tergesa. Abi dan Adinda yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu terperangga kaget.
Rengganis tak lagi peduli dengan sekitar. Wajahnya merah padam, dokter muda itu tampak memejamkan matanya sambil menarik napas yang sangat dalam dan panjang. Lalu perlahan mulutnya mulai terbuka dan berucap:
“Kapten, aku mencintaimu—”
...
Hayoooo penasaran kan dengan apa yang terjadi?
Tunggu episode berikutnya!
__ADS_1
Terima kasih untuk semua perhatiannya buat Dokter Rengganis dan kapten Biru.
Salam hormat author.