
Ruang tengah sebuah vila yang cukup mewah terasa begitu menakutkan untuk dua orang wanita muda, mereka disekap oleh anak manja juragan Plenggo. Laki-laki yang selalu tergila-gila pada pesona wanita.
Bono selalu mendapatkan apa yang dia inginkan sejak kecil. Hal itu membuatnya jadi terbiasa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Begitu juga dalam urusan wanita.
Setiap hari kerja Bono berkeliling kampung mencari wanita-wanita muda yang akan dijadikan sasarannya. Dengan kekayaan yang dimiliki ayahnya, mudah bagi Bono mendapatkan semua wanita yang disukainya.
Entah karena tergiur oleh harta atau karena rasa ketakutan akhirnya semua wanita yang disukai Bono harus bertekuk lukuk padanya. Tak jarang Bono melakukan perbuatan-perbuatan tercela hanya untuk mendapatkan buruannya.
Rengganis adalah salah satu targetnya, Bono mengenal Rengganis sejak masa SMA. Rengganis adalah cinta yang tak mungkin bisa digapai Bono. Selain Rengganis memiliki pengawalan ketat karena keluarga Rengganis memiliki kekuatan financial dan termasuk keluarga terpandang, Bowo juga bukan siapa-siapa saat ia bersekolah di kota. Ia hanya anak kos biasa, tidak lebih.
Karena itu, Bono hanya mampu memandang Rengganis dari jauh tanpa berani mendekatinya. Terlebih lagi Rengganis adalah gadis pujaan semua laki-laki di sekolah. Siapalah Bono yang hanya anak juragan kampung bila dibandingkan dengan para pesaingnya yang merupakan pewaris-pewaris harta kekayaan dan bisnis kelas kakap orang tua mereka.
Namun, Bono tak pernah tinggal diam tanpa usaha. Sejak hari pertama Rengganis masuk sekolah menjadi siswa baru, Bono telah menaruh hati padanya. Sejak saat itu tak pernah sehari pun Bono lupa mengirimkan surat, kartu pos atau hadiah kepada Rengganis.
Laki-laki itu berharap dengan segala perhatiannya, Rengganis akan mulai penasaran dan mencari dirinya serta menaruh hati atas kebaikan hati Bono. Namun, kenyataan tak selalu seindah harapan. Rengganis bukannya penasaran dan jatuh hati pada si pengirim surat ia malah merasa seperti sedang dikuntit oleh seorang penjahat.
Pernah ia melaporkan semua kejadian ini pada pihak berwajib didampingi papi, mami bahkan neneknya ke kantor polisi. Keluarga Rengganis merasa terganggu oleh teror surat-surat cinta yang diterima putri kesayangan mereka.
Papi Rengganis pun telah menyewa dektektif bayaran untuk mencari siapa pemuda yang nekat menjadi fans gelap Rengganis. Bono sempat ketakutan dan menghentikan tindakannya itu selama setahun. Kejadian itu membuat cinta Bono pada Rengganis berubah menjadi benci. Benci yang bercampur dengan rasa cinta dan obsesi.
Setelah Bono lulus dari sekolah, Bono memutuskan untuk berkuliah ke kota kembang yang letaknya cukup jauh dari kota asalnya, ia mengambil jurusan pertanian seperti yang disarankan ayahnya. Sejak saat itu Bono menjadi jarang mendengar kabar Rengganis. Namun, bukan berarti ia melupakan gadis cantik itu.
Sebelum pulang ke kampung halaman, Bono sempat mengirimkan sebuah pisau belati ke rumah Rengganis. Kekesalan hatinya seperti ingin ditumpahkannya lewat surat ancaman yang berisi sumpah serapah atas penolakan Rengganis pada cintanya yang belum sempat terucap.
Bertahun-tahun telah berlalu. Rengganis dan keluarga bahkan telah melupakan kejadian yang sempat menggegerkan seluruh kota itu. Papi Rengganis tak tinggal diam, ia mengerahkan semua anak buah dan kaki tangannya mencari siapa yang mengirimi putrinya surat ancaman yang menakutkan itu.
Tapi saat kericuhan itu terjadi, Bono telah aman melenggang pulang ke sebuah kampung yang tak bisa terjangkau oleh akal Papi Rengganis.
Dalam kurun waktu yang lama itu bukan tak pernah Bono bertemu Rengganis. Beberapa kali laki-laki itu memandangi Rengganis dari jauh, melihatnya melakukan semua kegiatan rutinnya sehari-hari saat libur perkuliahan.
Bono selalu menyempatkan diri memantau Rengganis meski dari jauh saat ia memiliki kesempatan untuk datang ke kota dimana keluarga Rengganis tinggal.
Perjalanan urusan perkuliahan Bono tak semulus Rengganis. Ia menamatkan S1 nya dalam waktu yang cukup lama. Tujuh tahun Bono baru bisa mendapatkan gelar yang diidam-idamkan ayahnya dan saat kembali ke kampong, Bono begitu terkejut, gadis yang digilainya ternyata berada di sana.
Sesegera mungkin Bono mengatur rencana penculikkan terhadap dokter muda yang ditugaskan dikampungnya itu. Dengan bantuan orang-orang ayahnya, ia mulai bergerak melakukan eksekusi rencana.
Dengan cara apa pun Bono ingin mendapatkan Rengganis, wanita muda yang telah lama dimimpi-mimpikannya.
“Seandainya sejak dulu kamu memberi respon baik terhadap perasaanku, mungkin tak akan begini akhir nasibmu.” Bono memutari Rengganis yang dipaksa berjongkok, disebelah gadis muda itu seorang perawat dengan tubuh gemetaran dan air mata berlinangan penuh rasa ketakutan.
“Bawa gadis ini ke ruang sekap. Aku tak berminat padanya,” perintah Bono pada dua laki-laki bertubuh besar di dekatnya.
Dua laki-laki itu dengan gesit menarik paksa tubuh Astuti yang meronta-ronta sebisanya.
“Kamu gila, lepaskan dia. Dia tak bersalah,” Rengganis berteriak-teriak, ia tak tahan melihat Astuti diseret paksa dengan dua laki-laki tak berprikemanusiaan itu. Masing-masing dari mereka menarik sebelah tangan Astuti. Astuti tampak begitu kesakitan.
__ADS_1
“Biadab! Lepaskan dia kubilang.” Rengganis terus mengumpat pada Bono. Laki-laki yang dicaci makinya malah tertawa senang, penuh kemenangan.
“Teriaklah sesukamu, Sayang.” Bono mengelus rambut halus Rengganis.
“Teriaklah, tak akan ada yang bisa menolongmu. Sekarang hanya ada kamu dan aku. Hanya kita berdua.” Bono mencium rambut Rengganis.
“Pergi kataku, jangan coba-coba dekati aku, laki-laki kurang ajar.” Rengganis menyentak tangan Bono.
“Kamu tak akan bisa lari lagi dariku sekarang. Kamu milikku. Lihat, takdir membawamu kemari. Ke kampungku. Takdir membuatku leluasa untuk memilikimu. Hahaha,” Laki-laki berambut belah samping itu terus tertawa seperti sedang menikmati ketakutan yang dirasakan wanita yang tak pernah mau menganggap cintanya.
“Kini kamu punya dua pilihan, berdamai denganku lalu kita menikah baik-baik, kamu bisa jadi Ny. Bono yang terhormat. Maka kamu akan menjadi orang yang paling disegani di sini atau aku harus memaksamu untuk menjadi milikku malam ini dan akhirnya besok pagi anak buahku harus membunuhmu.” Bono berdiri.
“Silakan pikirkan aku akan menghitung sampai sepuluh.”
Otak Rengganis berputar, hal utama yang ahrus dia lakukan adalah bertahan hidup. Ia harus keluar dari sini hidup-hidup tanpa kurang sutu apa pun. Sisanya akan diurus kemudian.
“7, 8, 9—”
“Oke. Aku akan ikut kehendakmu. Aku akan menjadi istrimu. Puas!” teriak Rengganis.
“Nah, begitu baru pintar. Aku suka wanita cerdas sepertimu.” Bono melepaskan ikatan tangan Rengganis.
“Kamu tidak berniat membohongiku kan?” Bono mengurungkan tangannya yang telah bergerak membuka ikatan tangan Rengganis.
“Oke aku percaya.” Bono melanjutkan niatnya membuka tali pengikat tangan Rengganis.
“Kamu mau pesta pernikahan model apa ratuku?” Bono duduk di sebelah Rengganis, tangannya melingkar ke pinggang dokter cantik itu. Bono memperlakukan Rengganis seakan-akan pacarnya sesungguhnya.
“Psikopat,” bisik Rengganis.
“Apa?” tanya Bono.
“Ah tidak, tanganku sakit.” Rengganis nyengir, tangan kanannya sibuk memijit-mijit pergelangan tangan kirinya.
“Kemari, aku pintar memijit. Itu kata ayahku.” Bono menarik tangan Rengganis dan memijatnya sepenuh hati.
“Bagaimana? Enak?” tanya Bono dengan manis.
“Hehe. Enak.” Rengganis nyengir-nyengir sebal. Sebenarnya tak bisa dibohongi pijatan Bono memang sedikit meredakan sakit akibat tali yang diikat terlalu kencang ditangannya tapi rasa kesal dalam hati Rengganis telah membuat semua perlakuan baik Bono padanya seperti sesuatu yang menjijikkan.
“Ini benar vilamu?” Rengganis memulai aksinya.
“Iya benar. Ini vilaku, vila keluargaku.”
“Jadi dapat dipastikan kelak akan jadi vilamu, karena kamu yang akan mewarisi semua kekayaan Juragan Plenggo.”
__ADS_1
“Benar.”
“Ah itu tak mungkin, aku tak percaya. Saudara-saudaramu pasti akan berperang berebut harta warisan.”
“Aku tidak memiliki saudara Rengganis. Sama sepertimu.” Bono memegang dagu Rengganis.
Dada wanita itu seperti terbakar api, ingin rasanya kakinya menendang wajah Bono yang tak tahu malu itu. Tapi ia tak ingin membuat kegaduhan sebelum bisa keluar dari tempat ini.
“Tapi vila ini terlalu kecil buatku.”
“Siapa bilang, vila ini berdiri di atas lahan 1000 hektar. Aku akan memperlihatkannya padamu jika kamu tidak percaya.”
“Sungguh.” Rengganis pura-pura takjub.
“Ya, nanti jika kita menikah, semua akan aku tunjukkan.”
“Ah terlalu lama. Kamu pasti berbohong.” Rengganis memasang wajah kecewa.
“Baiklah, akan aku tunjukkan. Ayo.”
Rengganis bangun dengan penuh semangat.
“Mereka akan terus membuntuti kita?” tanya Rengganis lagi.
“Ya,” Kata Bono tegas.
“Apa kamu sebagai laki-laki tak sanggup menjagaku? Makanya masih membutuhkan mereka?”
Laki-laki bodoh itu tampak berpikir. Ia melemparkan pandangannya pada Brandox. Laki-laki berambut gondrong itu menggelengkan kepalanya.
“Oke, kalian tunggu di sini.” Rasa cintanya pada Rengganis rupanya telah membuatnya benar-benar kehilangan akal sehat.
Peringatan Brandox dengan isyarat gelengan kepala rupanya tak mempan untuk menangkal rayuan Rengganis yang ingin berkeliling vila dan perkebunan keluarga Plenggo hanya berdua dengan Bono.
“Ayo,” Bono menggandeng mesra tangan Rengganis. Gadis itu tak punya pilihan untuk dapat menolaknya.
“Kamu sungguh-sungguh akan menerima pinanganku?” Bono meyakinkan sekali lagi.
“Ya, aku pikir tak ada masalah. Seperti yang kamu tahu. Aku belum punya pacar. Jadi tidak masalah kan kalau harus menikah denganmu.”
“Kamu juga tidak terlalu jelek, kamu kaya. Itu sudah cukup bagiku.” Rengganis meyakinkan Bono.
Laki-laki itu tersenyum senang mendengar kata-kata yang diucapkan Rengganis.
Simpan penasarannya ya! Kita tunggu di episode berikutnya!
__ADS_1