
Cahaya redup dari sebuah bola lampu terpendar remang-remang di koridor pendek sebuah puskesmas yang jauh dari pusat keramaian. Seorang dokter cantik keluar dari kamar bersalin. Wajahnya lelah dan penuh kesedihan.
“Dok,” Bidan Maya membelai punggung Rengganis.
“Kita gagal, Bu.” Rengganis memeluk Bidan Maya, tangisnya tumpah tak tertahan.
“Iya, mungkin ini sudah jalannya. Pak Risno dan Bu Prapti juga sudah merelakan bayi mereka. Dokter yang sabar ya,” Bidan tua itu pun ikut menitikkan air mata.
“Dokter istirahat saja dulu. Dokter pasti lelah.”
Rengganis melepaskan pelukannya dan berjalan lunglai ke luar bangunan puskes dengan cet tembok yang hampir memudar itu.
Air mata yang mengalir tak juga diusapnya. Hati Rengganis benar-benar hancur. Perasaan bersalah menghantui dirinya. Seandainya ia bisa memberikan pelayanan yang lebih baik, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi.
Rengganis duduk di bangku panjang antrean pasien yang terbuat dari kayu bercat putih. Matanya memandang bulan purnama yang bersinar cukup terang dari angkasa raya. Tangan mulusnya memukul senderan kursi.
Gadis cantik itu ingin menjerit sekuat yang ia bisa. Melepaskan kecewa yang membebani hatinya. Namun banyak hal yang membuatnya tersadar bahwa ia tak mungkin melakukannya. Gadis itu hanya mampu tertunduk lesu memikirkan semua yang baru saja terjadi.
“Menangislah!” terdengar sebuah suara berat yang sangat dikenalnya.
Rengganis mulai mengusap air mata yang masih berlinang di pipinya yang merah muda.
“Teruskanlah. Jangan malu-malu. Tumpahkan semua sedihmu malam ini, agar esok kamu dapat kembali menjadi dokter muda hebat seperti yang aku kenal.” Kapten Biru berjongkok di hadapan Rengganis.
“Sejak kapan kamu di sini?”
“Sejak tadi.”
“Tadi kapan?”
“Harus tahu ya?”
“Ih tetep nyebelin.” Rengganis berdiri berniat untuk masuk ke dalam rumah dinasnya. Ia benar-benar tak berselera untuk berdebat. Meski dengan Kapten Biru yang telah bersemayam di dalam otaknya seharian ini.
Kapten biru tertawa melihat Rengganis melangkah pergi meninggalkannya. Laki-laki itu mengejar Rengganis dan menarik tangan kanannya.
“Ikut aku!"
“Kemana?”
“Ikut saja!"
Rengganis diam tak membantah perintah laki-laki tampan itu. Mereka naik ke atas motor besar berwarna hitam milik Kapten Biru.
“Kita jalan-jalan.”
“Malam-malam begini?” protes Rengganis.
“Hem. Kita tak punya banyak waktu bersama bukan?”
“Maksudmu?”
Kapten Biru tak menjawab pertanyaan gadis manja yang sekarang duduk bersandar di tubuhnya. Laki-laki gagah itu menarik lengan kiri Dokter Rengganis kemudian melingkarkannya ke pinggang.
“Pegangan yang erat, nanti jatuh. Kita mau ngebut.”
“Dasar buaya.” Rengganis memukul punggung Kapten Biru dengan manja.
“Kita mau kemana?” Sekali lagi gadis muda itu ingin tahu ke mana laki-laki itu akan membawanya.
“Kamu belum pernah lihat indahnya desa ini secara keseluruhan kan?” tanya Kapten Biru. Rengganis menggeleng.
“Malam ini akan kita lihat,” ucapnya mantap.
Dari satu sudut desa ke sudut yang lain Kapten Biru menjelaskan semuanya pada Rengganis. Gadis kota itu tampak takjub dengan kehidupan sederhana yang masyarakat desa lakukan setiap harinya.
Rumah-rumah yang masih harus bertahan menggunakan lampu teplok yang berbahan bakar minya bahkan untuk penerangan jalan masih ada yang menggunakan obor.
__ADS_1
Pemandangan yang tak pernah dilihat oleh Rengganis seumur hidup. Desa tertinggal namun sangat damai.
“Masih ada kampung seperti ini ya? Aku pikir ini hanya ada di dalam cerita.” Rengganis tampak takjub melihat kehidupan desa yang sangat sederhana namun terlihat bahagia.
“Kita turun.” Kapten Biru mengajak Rengganis turun dari motornya setelah berhenti di sebuah warung pojok yang cukup ramai.
“Mie rebus dua, Mbak, pakai telur dan teh hangatnya juga dua,” pesan Kapten Biru kepada pemilik warung.
“Duduk sana saja!" Laki-laki itu menunjuk ke sebuah pohon kelapa tumbang tak jauh dari halaman warung pojok itu berada.
“Mari, Bapak-bapak,” sapa Kapten Biru ramah pada Bapak-bapak yang sedang berkumpul menonton siaran bola di TV 14 inch yang disediakan pemilik warung.
“Ayoooo,” tangan Rengganis kembali digandeng mesra oleh Kapten Biru.
“Duduk sini.” Laki-laki berwajah manis itu menepuk batang pohon kelapa tumbang tepat disamping ia duduk.
Rengganis menuruti keinginannya. Gadis itu duduk sesuai arahan Kapten Biru.
“Kenapa kita ke sini?”
“Makan. Aku lapar,” jawabnya singkat.
“Kamu juga pasti belum makan?” sambungnya.
Rengganis terdiam. Matanya memandang tangan kanannya yang sedang memainkan kuku jari telunjuk kirinya. Ia kembali teringat akan bayi Bu Prapti yang gagal ia selamatkan.
“Ini, Dokter Rengganis dan Pak Tentara pesanannya.” Mbak Winah pemilik warung datang mengantarkan pesanan mereka bersama Mas Udai suaminya yang membawakan meja kayu berukuran kecil untuk meletakkan makanan dan minuman yang mereka pesan.
“Ayo makan.” Kapten Biru terlihat mengaduk mie rebus dengan bumbu yang sengaja ditaburkan di atas mie.
“Aku gak makan mie.” Rengganis mengambil teh hangat dan meniupnya pelan-pelan.”
“Kenapa?”
“Gak sehat.”
Dokter Rengganis mengerutkan dahi.
“Racun kamu bilang enak?” Matanya menyipit tak percaya.
Kapten biru mendekatkan sesendok mie yang sudah ditiupnya. Rengganis menggeleng, menolak suapan laki-laki tampan itu.
Gadis cantik itu membayang berapa banyak racun yang sudah bertebaran pada mie instan yang sedang dimakan Kapten Biru. Belum lagi ditambah tiupan yang tadi dilakukannya. Lengkaplah sudah.
“Nih,” Kapten Biru tak patah semangat. Mie dalam sendoknya terus diarahkan ke mulut Dokter Rengganis.
Akhirnya wanita muda itu berkenan membuka mulut dan menerima suapan mie instan dari Kapten Biru. Ia tak sanggup menolak niat tulus Sang Kapten.
Rengganis menguyah mie tersebut perlahan. Semakin lama nikmat dari kehangatan mie rebus yang lengkap dengan telur dan cabe rawit itu berhasil melunturkan rasa takutnya.
“Enak," katanya, sambil mengunyah sisa mie di dalam mulut. Tangannya dengan cepat meraih satu mangkok mie yang dipesankan Kapten Biru untuknya.
Rengganis mengikuti langkah yang telah dilakukan laki-laki gagah di sampingnya itu. Diaduknya mie dan bumbu yang telah tersedia, ditiup dan haps dimasukkan ke mulutnya yang mungil.
Rengganis tertawa menatap Kapten Biru yang memandanginya saat melahap mie dengan buru-buru dan menyeruput teh tubruk hangat yang mereka pesan.
Hati dokter muda itu merasa terhibur. Tawanya kembali mengembang. Kapten Biru adalah orang yang paling berbahagia melihat wanita yang mulai dicintainya itu kembali ceria.
“Kenapa mereka semua berkumpul di warung ini, Kapten?”
“Panggil aku, Mas,” perintah Kapten Biru. Rengganis tersenyum malu.
“Oke, Mas. Puas?”
“Hahaha. Seperti yang kamu lihat, di desa ini sangat minim hiburan menonton TV saja mereka sulit. Masih banyak warga yang belum bisa memasang listrik. Makanya mereka sengaja kemari untuk menonton pertandingan bola.” Rengganis mengangguk.
"Lagi pula menonton secara beramai-ramai seperti itu lebih seru."
__ADS_1
Rengganis membayangkan kehidupan keluarganya. Ada banyak televisi di rumah. Rengganis tak pernah menonton TV beramai-ramai, ia terbiasa menonton seorang diri di kamar tanpa ada yang berani mengganggu. Bagaimana rasanya menonton TV dengan banyak orang di sekeliling.
"Ah tidak-tidak." Rengganis menggelengkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Kapten Biru yang melihat Rengganis tiba-tiba menggeleng-geleng.
“Tidak apa-apa. Oh ya, mengapa kamu mengajakku berkeliling? Bukannya tugasmu hari ini juga berat. Aku dengar dari Pak Hari seharian ini kamu sibuk berlatih.” Rengganis melihat banyak luka memar dan lecet pada tangan Kapten Biru.
“Aku ingin menunjukkan padamu. Betapa bagusnya nasib yang kamu miliki. Lihatlah orang-orang di sekitar kita ini. Mereka bekerja lebih berat daripada yang kita lakukan. Kehidupan mereka juga sangat sulit. Tapi mereka tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menyerah.” Kapten Biru menatap wajah ayu Rengganis.
“Iya, aku paham, aku merasa bersalah. Selama ini aku hidup dengan egois. Aku merasa hidupku yang paling sulit. Tapi hari ini mataku terbuka, aku harus bersyukur atas semua yang aku miliki dalam hidup ini.” Rengganis tersenyum getir.
“Aku sering menyesali langkah yang telah kuambil untuk menjadi seorang dokter. Tapi hari ini aku sadar. Aku ditakdirkan untuk membantu mereka semua.” Rengganis tersenyum penuh semangat.
“Betul. Apakah kamu tidak menyadarinya. Penduduk desa ini begitu menghormatimu. Lihat pemilik warung tadi, ia memanggil namamu. Itu artinya kamu sangat terkenal di sini?”
Rengganis tersipu. Hatinya pun mengatakan apa yang diucapkan Kapten Biru itu benar.
"Apa yang baru kamu alami adalah pelajaran berharga. Aku yakin kamu akan jadi dokter hebat yang bisa diandalkan oleh penduduk kampung ini. Aku percaya itu." Kapten Biru berkata dengan sungguh-sungguh.
“Kamu juga sepertinya sangat mengenal tempat ini?” Rengganis penasaran.
“Ya, aku sudah tiga kali ikut latihan di sini. Aku mulai akrab dengan desa ini.”
“Oh ya aku mau tanya, sejak kemarin pertanyaan ini ada dikepalaku.”
“Boleh, apa itu?”
“Malam itu, Mas, dari mana? Kenapa bisa datang tepat pada waktunya?”
“Anggap saja itu keberuntunganmu.” Kapten Biru tertawa melihat mata Dokter Rengganis melotot seperti mau keluar dari tempatnya.
“Sejujurnya aku harus kembali ke batalyon hari itu. Ada britel bahwa aku harus merapat ke kesatuanku secepatnya, ada hal penting yang harus aku kerjakan. Malam itu aku baru kembali dari batalyon untuk bisa bergabung lagi dengan pasukan yang sedang berlatih.”
“Apa kamu tidak takut dengan para berandalan hingga malam-malam melewati tempat itu sendirian?”
“Kamu tidak perlu khawatir. Kami prajurit yang terlahir sebagai petarung. Aku bisa menghadapi mereka. Ingat itu!”
“Iya…iya. Lalu tadi, Mas bilang waktu kita tidak banyak. Maksudnya?”
Kapten Biru terdiam.
“Bukankah kami harus segera kembali ke kesatuan kami masing-masing.”
“Kapan?” Rengganis kaget. Hatinya tiba-tiba terasa kosong.
“Tiga hari lagi.” Mata indah Rengganis menatap wajah tampan Kapten Biru lekat-lekat.
“Aku baru saja merasa memiliki teman.” Rengganis tertunduk.
Kapten Biru mengusap rambut panjang Rengganis. Ia hanya mampu tersenyum. Hatinya paham benar perasaan apa yang sedang berkecamuk di batin gadis itu karena sejatinya perasaan itu juga sedang bergolak di batinnya. Perasaan yang sama.
Lama mereka menghabiskan waktu dalam kebisuan. Terhanyut dalam perasaan masing-masing sampai akhirnya Kapten Biru memegang tangan Dokter Rengganis.
“Kita pulang, hari sudah malam. Kamu perlu istirahat.”
Rengganis menggangguk setuju meski hatinya berkata ia masih ingin tetap bersama laki-laki yang mampu membuat dadanya selalu bergetar itu.
“Aku takut.” Rengganis berbisik.
“Percayalah aku akan selalu menjadi bintang timur yang akan selalu menunggumu di setiap fajar.” Kapten Biru menatap erat mata Rengganis lekat-lekat sebelum menjalankan sepeda motornya untuk kembali ke puskesmas.
Apa yang dirahasiakan Kapten Biru pada Rengganis?
Bagaimanakah nasib Rengganis setelah Kapten Biru kembali ke kesatuan asalnya?
Kita tunggu di kisah selanjutnya!
__ADS_1