MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
TAK PERCAYA


__ADS_3

Ruangan serba putih itu seperti mengundang Kapten Biru untuk terus mengutuk dalam hati tentang kejengkelannya. Bau obat-obatan dan pewangi ruangan berpadu jadi satu di sebuah ruang rawat inap vvip tempat wanita yang telah melahirkannya tengah terbaring lemah.


Rambut panjangnya yang kini mayoritas telah berwarna putih tergurai bebas di atas bantal bersarung putih pula. Sebuah buket bunga berwarna-warni tergeletak di sisi kiri tubuhnya. Bunga pemberian Tika. Ya, gadis manis berkulit sawo matang dengan rambut pendeknya itu sedang mengupas apel dengan cekatan di sisi Bu Suryo.


Mata Kapten Biru menangkap mereka sedang berbincang manis, ibu terlihat tak terlalu banyak berkata, ia lebih sering tersenyum menanggapi celoteh manja Tika padanya.


Pemandangan yang sangat indah seandainya Tika adalah wanita yang dicintai Kapten Biru. Tapi kenyataannya tak seperti itu, kejengahan terus mengganjal di hati laki-laki tampan yang kini hanya mampu mematung di depan pintu tanpa memiliki keinginan untuk segera masuk bergabung dengan mereka.


“Loh kok diem aja, sini!” Tangan Bu Suryo menggapai-gapai memerintahkan putra kesayangaannya untuk segera masuk.


Kapten Biru seakan tak bisa mendengar permintaan ibu lewat suara lemah yang keluar dari mulutnya. Sekujur tubuhnya tiba-tiba mati rasa.


“Ayo!” Kangmas Banyu tiba-tiba merangkul pundaknya dari belakang dan membimbingnya untuk mendekat ke ranjang perawatan ibu.


“Nih, putra kesayangannya sudah datang, lekas sembuh yo, Ndoro Ratu,” ucap Mas Banyu meledek ibu.


“Males, orang yang dikangeni malah diem aja gitu.” Ibu memalingkan wajahnya berpura-pura marah.


“Oh maaf, silakan duduk.” Tika berdiri, meminta Kapten Biru duduk di kursi tunggu yang tadi didudukinya.


Tanpa bicara satu patah pun, Kapten Biru mengambil alih kursi itu.


“Nyuwon sewu, Bu, Biru datang terlambat. Bagaimana keadaan ibu?” Kapten Biru memegang tangan ibu dan menciumnya penuh sayang.


Ibu lekas-lekas memandang anak bungsunya itu, marah yang tadi ditunjukkannya tiba-tiba menguap, pergi entah kemana. Dengan segala kasih dibelainya kepala Kapten Biru yang sedang menunduk mencium tangannya.


“Ibu mau pulang, bosen di sini,” ujar ibu.


“Iya, ibu harus cepat sembuh biar bisa cepat pulang jadi bisa sama-sama Biru selama Biru cuti.”


“Iya, ibu mau pulang, ibu mau masak makanan kesukaanmu, ibu juga harus segera menyiapkan acara pertunangan kalian.”


Refleks Biru melepaskan tangan ibu. Wajahnya berubah kaku dan dingin. Matanya kosong. Tika yang sedari tadi hanya diam cukup paham situasi yang sedang terjadi saat itu.


“Ehm, ibu, Tika mendadak ingat ada janji, sepertinya Tika harus pergi. Nanti Tika pasti ke sini lagi,” pamit Tika sopan.


“Kok pulang? Biru baru datang loh!”


“Tak apa, Bu. Ini saatnya ibu kangen-kangen sama Mas Biru. Kalau Tika dan Mas Biru memang sudah selalu bersama, tiap detik ketemu.” Tika tersenyum penuh arti.

__ADS_1


“Oh begitu,” Ibu ikut tersenyum bahagia.


“Ya sudah, hati-hati ya, Nak. Salam sama kedua orang tuamu,” sambungnya.


“Iya, Bu, pasti.” Tika mencium tangan ibu.


“Biru antar dulu Nak Tika ke bawah ya!" perintah ibu.


“Oh gak usah ibu, Tika baik-baik saja. Biar Mas Biru di sini saja temani ibu. Mari mas, Tika pulang,” izin Tika pada Mas Banyu.


Belum hilang tubuh Tika dari balik pintu, ibu langsung menyerang Kapten Biru dengan pertanyaan sengitnya.


“Kamu kenapa sih, Le? Kok kayaknya gak suka banget sama Tika? Kasian loh!”


“Aku bukannya gak suka sama Tika, Bu. Tapi hatiku menolak, ada orang lain yang menguasai hatiku, bukan Tika. Aku gak mau hidup dengan wanita yang gak pernah aku cintai, Bu. Mengertilah!” Biru menatap ibu penuh harap.


“Le, cinta itu bisa datang setelah kita bersama. Lihat ibu dan bapak, kami berdua menikah karena hasil perjodohan. Mas Banyu dan Mbak Karishamu itu juga perjodohan, nyatanya mereka rukun, langgeng sampe sekarang.”


“Mas Argamu juga kami yang menjodohkan, semua baik-baik saja,” sambung ibu.


“Bu kasusnya Mas Arga dan Mas Banyu itu beda, Bu.”


“Mas Arga dan Mbak Amira itu dijodohkan dari SMP dan saat itu mereka berdua juga memang sudah berpacaran. Sementara Mas Banyu saat dijodohkan memang belum punya pacar.”


“Kamu sudah punya pacar, Dik?” tanya Mas Banyu meledek.


Kapten Biru mengangguk pasti.


“Lah buktinya mana, orang perempuannya aja gak mau dikenalkan ke ibu gitu,” bantah ibu.


“Rengganis itu sedang belajar di luar negeri ibu. Mana bisa Biru mengajaknya menemui ibu hanya dalam waktu satu malam. Memangnya ini negeri dongeng? Ibu tahu sendiri bagaimana kegiatan Biru yang padat belakangan ini. Gimana bisa nyusul dia di sana.”


“Nanti dulu, Dik? Maksudmu Rengganis Bianca Warman? Putri Brata Warman?” tanya Mas Banyu dengan tatapan mata tak percaya. Sekali lagi Kapten biru mengangguk yakin.


“Mas kenal?” Kapten Biru balik penasaran pada kangmas sulungnya.


“Hahaha, kamu ngimpi, Dik! Hahaha.” Mas Banyu tertawa terbahak-bahak menyisakan rasa ingin tahu Kapten Biru dan ibu.


“Kamu kenapa to, Banyu? Jangan nakut-nakuti!” Ibu melotot ke arah Banyu.

__ADS_1


“Ini lo, Bu, Biru ini kayaknya pulang dari Libanon harus kita cek kesehatannya atau perlu kita minta jasa psikolog.”


Banyu terus tertawa sementara emosi Kapten Biru mulai membumbung sampai ke kepala.


“Mas, ini bukan waktunya bergurau. Katakan padaku apa maksudmu!” Kapten Biru menggeretakkan giginya yang putih.


“Iya-iya, kamu masih emosian aja, Dik.” Banyu mengalah dan mencoba menahan tawanya.


“Rengganis itu idolanya para pengusaha dan CEO-CEO muda. Siapa yang gak kenal dia? Semua kalangan pembisnis selalu menjadikannya buah bibir serta target. Kamu tahu mengapa?” tanya Mas Banyu serius.


“Karena dia adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis milik keluarga Brata ditambah dengan kekayaan ibunya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kamu yakin, kamu memang berpacaran dengan wanita sempurna seperti itu? Kamu gak sedang berkhayal kan, Dik?”


“Mas, kangmas sangat mengenalku. Apa aku pernah bermain-main untuk urusan seperti ini?”


“Buktikan padaku kamu memang mengenalnya, maka aku akan mendukung semua usahamu mendapatkannya. Termasuk merayu ibu kita yang cantik dan baik hati ini.” Banyu melirik ibu.


Kapten Biru segera mengeluarkan handphone dan menunjukkan wallpaper HP miliknya.”


Mas Banyu ternganga tak percaya. Matanya terus mengamati gambar yang dilihatnya. Tangannya tanpa sadar merampas gawai yang dipegang adik bungsunya itu.


“Beneran loh, Bu, ini Rengganis Bianca Warman. Bagaimana kamu bisa mengenalnya, Biru? Ini luar biasa! Wah jadi kakak ipar seorang Rengganis setidaknya akan membuat bisnis propertiku menembus pasaran internasional ini.”


“Kalian ini ngomongin apa sih?” Ibu menyudahi rasa takjub Mas Banyu.


“Biru dengar, janji adalah janji. Janji seorang bangsawan seperti kita adalah hutang yang tak pernah bisa dihindari. Ibu juga tahu janji bagi seorang prajurit itu berarti apa. Kita tetap akan menggelar acara tunangan ini minggu depan, mumpung kamu dan Tika masih libur.”


“Ibu dan mamanya Nak Tika sudah sering telepon-teleponan, kami sudah menyiapkan semuanya matang-matang. Bahkan semua keluarga besar kita juga sudah tahu dan akan ikut dalam acara lamaran minggu depan,” desak ibu. Kapten Biru terjepit tak ada kata-kata yang bisa digunakannya lagi untuk menyangga kemauan ibunya yang sedang terbaring lemah saat ini.


Mas Banyu mendekatkan bibirnya ke telinga Kapten Biru.


“Aku pikir kamu pemuda gila yang menolak perjodohan dengan anak pejabat tinggi militer tapi nyatanya aku yang jadi gila karena mendengar alasanmu menolak anak pejabat itu karena seorang milyarder kaya raya serupa Rengganis. Kamu luar biasa, Biru! Kamu harus mendapatkannya." Mas Banyu berbisik pelan di telinga adiknya tak ingin mengundang amarah ibu lebih besar.


“Banyu, ibu dengar kata-katamu!” ibu memasang muka paling ganas yang belum pernah mereka lihat selama ini.


Kapten Biru dan Kangmas Banyu hanya bersitatap tak ada yang bisa mengeluarkan kata-kata lagi.


Dapatkah Kapten Biru memperoleh keinginannya dengan bantuan Mas Banyu?


Setelah mengetahui siapa kekasih putranya dapatkan ibu sedikit membuka hatinya untuk menyetujui keinginan putra bungsunya itu?

__ADS_1


Dapatkan kisah selanjutnya di episode mendatang!


__ADS_2