
“Loh, kok masih belum siap, Le? Kan mau pilih-pilih cincin tunangan ke toko perhiasan sama Nak Tika?” tanya ibu kaget melihat putranya masih mengenakan jins pendek belel dan kaus lengan pendek favoritnya.
“Males, Bu. Biar Tika sajalah yang pilih, sesuka hatinya.” Kapten Biru masih duduk santai di kursi goyang depan TV.
“Eh jangan gitu, gak lama lagi kalian itu resmi tunangan terus tinggal atur rencana pernikahan. Suami istri gak baik bersikap masa bodo gitu, Nang.” Ibu ikut duduk di kursi rotan tak jauh dari putra bungsunya yang sedang asik bermalas-malasan sambil mengutak-atik telepon genggamnya.
“Biru hanya bisa sampai sini, Bu, please jangan paksa Biru melakukan yang lebih.” Biru menghentikan gerakan tangannya.
Bu Suryo menyadari ada luka yang teramat dalam dari pancaran mata putranya, ada kepedihan yang terdengar jelas dari kata-kata yang diucapkan Kapten Biru. Ia paham betul situasi yang sedang berkecamuk dalam hati anak bungsunya itu hingga tak ingin mendebat semua kata-katanya.
“Kamu betul-betul gak akan bisa mencintai Tika, Le?” Ibu merasa bersalah.
“Sepertinya ibu lebih kenal Biru daripada diri ibu sendiri kan?”
“Apa kita perlu membatalkan acara besok, Biru? Ibu tak ingin membuatmu menderita seumur hidup.”
“Bukankah sudah terlambat untuk mengatakannya sekarang, Bu?”
“Maafkan ibu ya, Le.” Ibu berdiri dan memeluk putranya dengan penuh kasih.
Bapak yang mengamati adegan itu dari jauh hanya mampu menghela napas panjang.
“Apa ada yang bisa kita lakukan, Mas?” tanya Arga pada Banyu. Kedua kangmas Kapten Biru pun merasakan sakit yang sama seperti yang sedang diderita adik bungsu mereka.
“Biru masuk ke kamar dulu ya, Bu. Mau istirahat!” Biru melepaskan pelukannya dan dengan langkah terburu laki-laki tampan itu menuju kamar. Kapten Biru memang berubah menjadi sosok yang tertutup dan pemurung sejak pertunangan ini direncanakan terlebih setelah pulang dari rumah Rengganis, laki-laki itu lebih memilih untuk menyendiri dan menjauhi perbincangan dengan orang lain.
Setelah mengambil posisi berbaring di tempat tidur, Kapten Biru kembali membuka HP-nya memandangi foto-foto kemesraan antara dirinya dan Rengganis saat berada di bandara pada momen keberangkatannya ke Libanon waktu itu. Semua terasa semakin menyesakkan, rindu dan benci membaur jadi satu warna yang tak bisa disebut namanya.
Tling, sebuah pesan masuk. Terbaca melalui notifikasi chat masuk dari Tika.
“Baju yang dikirim tadi pagi sudah dicoba, Mas?” Tika menunggu balasan. Lama tak ada tanda-tanda akan dibalas. Sekali lagi gadis itu mencoba mengirim pesan.
“Fitting dulu ya, Mas, takutnya nanti kurang pas di badan.” Lagi-lagi tak ada respon.
“Mas, aku sudah pilih cincin pertunangan kita, Dinda bilang ini yang paling cantik.” Tika menyertakan sebuah foto cincin pertunangan yang baru saja dibelinya bersama Adinda, adik satu-satunya Lettu Tika.
Tak juga ada jawaban bahkan dibuka pun tidak. Tika mengusap-usap layar pada gawainya. Wajahnya mendadak murung, semangat yang sedari tadi terpancar di wajahnya tiba-tiba berubah menjadi raut kecewa.
“Ada apa, Mbak?” tanya Dinda tiba-tiba nongol dari balik pintu.
Tika hanya diam, sibuk membuka tutup kotak cincin tunangannya yang berbentuk hati.
__ADS_1
“Udah gak usah sedih, dinikmati aja! Yang penting kan Mbak Tika menang dari Mbak Rengganis, sudah berhasil mendapatkan Mas Biru meski hatinya milik orang lain.” Dinda nyelonong masuk ke dalam kamar tanpa permisi.
“Kamu ini ngomong apa sih?” tanya Tika gusar.
“Mbak, aku tahu, Mbak Tika tuh terobsesi sama Kapten Biru bukan cinta.”
“Heh bocah kecil, aku itu suka sama Kapten Biru dari dulu, bahkan sebelum Rengganis berhasil mengambil alih perhatian Mas Biru. Paham?”
“Aku sebagai adik mbak cuma mau bilang, aku gak sampai hati lihat mbakku akan menderita seumur hidup.”
“Maksudmu?” tanya Tika pura-pura tak tahu.
“Dengan sikap keras kepalanya mbak. Kapten Biru itu gak akan pernah jatuh cinta pada mbak. Yang ada setiap memandang mbak dia bisa tambah benci berkali-kali lipat karena berpikir yang membuatnya terpisah dari cinta sejatinya itu ya Mbak Tika.”
Tika terdiam tak mampu berbicara lagi.
“Mbak, semua belum terlambat. Kembalikanlah Kapten Biru pada cintanya. Demi mbak, demi Kapten Biru, dan demi mbak Rengganis bahkan demi orang tua kita.”
“Ah kamu ini ngomong apa? Dari tadi ngelantur terus. Kamu ngomong gitu karena belain Rengganis kan? Dasar dari dulu gak pernah bisa berubah, gak capek apa jadi antek-anteknya Rengganis mulu!” Mata Tika melotot lebar.
“Bukan gitu, Mbak?”
“Udah-udah, keluar gih, aku mau istirahat.” Tika mendorong pelan punggung adiknya seperti sedang bermain kereta-keretaan hingga ke luar kamar dan bergegas menguncinya rapat-rapat.
“Pa, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan perasaan mereka?”
“Papa ikut semua yang kalian putuskan.” Papa tersenyum sambil mengusap lembut kepala putrinya yang beberapa bulan lagi akan mendapatkan gelar dokter seperti idolanya, Rengganis.
Sementara Tika yang masih berdiri bersandar pada pintu kamar tertunduk lemah, semua kata-kata adiknya terngiang jelas di gendang telinga. Tanyannya mengusap dua butir air mata yang tiba-tiba jatuh.
“Hais, kenapa jadi cengeng begini?” Gadis hitam manis itu menegakkan kepalanya menatap langit-langit kamar.
“Aku harus kuat! toh ini adalah impianku sejak awal. Sabar Tika! Sebentar lagi semua akan menjadi kenyataan,” ucapnya menguatkan hatinya yang mulai tergoyah.
Langkahnya kembali mendekati meja rias kamarnya. Sebuah note kecil berisi semua kebutuhan acara pertunangan kembali diraihnya.
“Undangan, cathering, dekorasi, cincin, baju sudah.” Tika mencontreng beberapa daftar yang sudah clear dikerjakannya. Ia memang sengaja mengatur semuanya sendiri, ia ingin acara yang akan berlangsung besok memang sesuai dengan impian dan keinginannya.
“Kurang dari 24 jam lagi,” senyumnya riang.
**
__ADS_1
“Hey Aera! Mau kemana?” Yu Jin yang kanget melihat pintu apartemen mewah Rengganis terbuka sendiri saat dirinya baru saja berniat menekan bel melihat gadis itu keluar dengan sebuah tas jinjing berwarna hitam dengan ukuran yang cukup besar.
“Maaf, aku harus pulang.”
“Ke Indonesia?”tanyanya tak percaya.
“Ya,” jawab Rengganis pendek sambil menutup pintu.
“Kenapa mendadak begini? Apa ada yang urgent?”
“Hem, urgent sekali, very-very-very urgent.”
“Kalau begitu biar aku ikut. Kita bisa terbang besok,” Yu Jin menarik tangan Rengganis.
“No, ada yang harus aku kerjakan sekarang juga kalau tidak aku akan menyesalinya seumur hidup.” Rengganis melepaskan tangan Yu Jin.
“Kalau begitu baik, tunggu sebentar, aku akan pulang ambil paspor dan kita akan berangkat sekarang juga.”
“Maaf, aku gak bisa ajak kamu.”
“Tapi kamu sudah berjanji akan memperlihatkan cantiknya Indonesia padaku, Aera!”
“Tidak untuk sekarang, maaf aku buru-buru!” Rengganis melangkah meninggalkan Yu Jin.
“Biar aku antar ke bandara,” Yu Jin berlari mengejar Rengganis yang telah menjauh darinya.
“Apa kamu akan kembali ke sini?”
“Mungkin!” jawab Rengganis ragu.
“Kuliahmu?” tanya Yu Jin mengernyitkan alis.
“Biar nanti saja kupikirkan lagi. Ada yang lebih penting dari itu.”
“Apa masalah orang tuamu? Atau bisnis mereka? Aku bisa bantu!” ucap Yu Jin penuh percaya diri.
Stttt, Rengganis melekatkan jari telunjuk ke bibirnya memberi isyarat bahwa ia sedang tak ingin banyak bicara.
“Oke!” Yu Jin membuka pintu mobil dan mempersilakan Rengganis naik tanpa banyak bertanya lagi.
Akankah Rengganis melihat kekasih yang dirindukannya melingkarkan cincin pertunangan pada wanita lain?
__ADS_1
Demikian episode kali ini, jumpa lagi di episode mendatang!
Tetap semangat ya!