
“Terima kasih untuk malam ini.” Rengganis menatap malu-malu pemuda tampan yang berada di hadapannya.
Kapten Biru tersenyum. Wajahnya pun tak kalah merona dengan gadis yang sedari tadi diam-diam memerhatikannya.
“Apa kamu baik-baik saja sekarang?” tanya Kapten Biru.
“Ya, Rasanya sudah lebih baik.” Gadis cantik itu tersenyum manis.
“Kalau begitu kamu harus mengucapkan terima kasih yang lebih banyak padaku.”
“Maksudmu?” Rengganis tampak bingung.
“Hahaha…memangnya apa yang kamu pikirkan sampai pipimu merona merah begitu?” ledek laki-laki berdada bidang itu.
“Ternyata kamu jago membuat wanita salah tingkah!” Rengganis ikut tertawa.
“Bisakah esok kamu membantuku di medan latihan? Tugasmu mengecek kesehatan personil kami. Sepertinya mereka sudah mulai lelah, banyak dari mereka yang mengalami cidera ringan bahkan beberapa dari mereka mengalami luka yang cukup parah dan butuh perawatan. Kamu harus mau! Anggap saja itu ucapan terima kasih yang tulus untukku,” Kapten Biru memaksa.
“Jadi karena itu malam ini kamu datang kemari?”
“Setengahnya karena itu,” jawab pria tampan itu dengan begitu cool.
“Lalu sebagiannya lagi?” Rengganis mengerutkan dahi.
Kapten biru tergugu, ia tak cukup berani untuk mengatakan bahwa ia merindukan Rengganis, gadis cantik yang selalu mengganggu hatinya.
“Oh ya, bagaimana mango juice buatanku? Enak?” Rengganis ingat minuman yang dititipkan Pak Hari pada salah satu rekan Kapten Biru.
“Ehm." Laki-laki muda itu terlihat bingung, bagaimana mungkin ia bisa menjawab pertanyaan Rengganis jika mango juice yang ditanyakannya saja tinggal seperempat gelas saat sampai di tangannya dan ia tak tega untuk menyentuhnya apalagi menegaknya hingga habis.
“E—enak.” Kapten Biru berbohong.
“Tu kan, apa aku bilang? Aku punya bakat memasak. Oke, besok aku akan coba memasakkan sesuatu untukmu. Kamu pasti menyukainya.”
”Oke,” Kapten Biru tampak senang.
“Tentunya aku juga akan membuatkanmu mango juice atau kamu punya request gitu mau juice apa? Em Apa buah favoritmu ?”
“ Semua buah aku suka. Kalau begitu apa mangga adalah buah favoritmu?” Kapten Biru balik bertanya.
“Betul. Aku sukaaaaa sekali mangga.”
“Kamu memang seperti buah mangga.”
“Hah.” Rengganis melotot.
“Manis-manis asam,” jawabnya asal.
“What? Asam?” Rengganis meletakkan kedua tangannya di pinggang dengan mata yang terus melotot.
“Hahaha.” Kapten Biru mencubit pipi gadis cantik itu dan menarik gas dengan kencang.
Mulut kecil rengganis terus mengomel, mengeluarkan ribuan kata-kata yang tak lagi bisa didengar Kapten Biru. Setelah melihat tubuh Kapten Biru menghilang di kegelapan malam, wanita itu tersenyum memegangi pipinya yang telah dicubit lembut laki-laki yang selalu bisa membuat hatinya berbunga-bunga.
__ADS_1
“Kuk kuk,” terdengar suara burung hantu dari pohon akasia tua yang berada di halaman puskesmas.
Rengganis merinding. Secepatnya gadis itu berlari mengambil langkah seribu.
“Mbaaaak Astutiiiiiiiii.” Renganis berteriak sekuat-kuatnya.
…
Suasana sebelum apel untuk memulai latihan tiba-tiba menjadi riuh. Semua mata dalam barisan menoleh ke arah kanan. Kapten biru yang sedang bersiap memberikan pengarahan menangkap keganjilan dalam barisannya. Matanya mengikuti arah pandangan pasukan.
Laki-laki itu mendadak terdiam. Netranya menangkap sosok Rengganis berdiri di pinggir tanah datar yang mereka gunakan sebagai tempat berkumpul. Gadis itu tampak tersenyum manis melambaikan tangan padanya.
“Ehem.”
Serentak pasukan dalam barisan kembali berkonsentrasi.
“Saya melarang kalian melihat ke arah kanan.”
“Siap.” Seluruh pasukan menjawab dengan serempak.
Kapten Biru berjalan cepat meninggalkan pasukan. Ia mendekati dokter muda yang berdiri dengan anggunnya di sisi kanan lapangan darurat.
“Sudah lama?” sapanya.
“Lumayan.”
“Kenapa gak bilang?”
“Pantas pasukanku kamu buat berdengung seperti tawon.”
“Memangnya salah?”
“Hey, Mana ada gadis cantik di tengah medan latihan begini? Kehadiranmu membuat konsentrasi mereka buyar.”
“Oh ya? Secantik itu kah aku? Hingga semua orang kagum melihatku.”
“His.” Kapten Biru terlihat keki.
“Ingat pesanku. Jangan coba-coba genit di sini.”
“Hey apa salahnya jika ada yang suka padaku? Aku berhak mendapatkan salah satu yang terbaik dari mereka. Ingat, aku jomlo.”
“Tidak ada yang lebih baik dari aku. Camkan itu!”
“Hah, terserah apa katamu. Itu, kenalkan aku pada laki-laki itu!”
Kapten Biru mengikuti arah telunjuk jari lentik Rengganis.
“Lettu Abimanyu,” bisik Kapten Biru.
“Siapa?” Mata Rengganis membundar.
“Tidak aku tidak bilang apa-apa.” Kapten Biru pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
“Mas Abi. Waaaah romantis sekali kedengaran.”
“Jangan buat aku marah.”
“Kenapa kamu harus marah?” Rengganis tersenyum.
“Kamu hanya akan mengacaukan pasukanku. Ayo, aku antarkan kamu pulang.”
“Hahaha tidak-tidak. Aku hanya bercanda. Apa kamu cemburu?”
“Cemburu? Sama sekali tidak!”
“Bagus kalau begitu.” Rengganis bertepuk tangan pelan.
“Ah sudahlah ayo ikuti aku!” Kapten Biru membawa Rengganis menuju tegah lapangan darurat itu.
Suara tawon kembali berdengung. Semua pasukan seperti sangat antusias melihat seorang wanita cantik bergabung bersama mereka.
“Perkenalkan ini Dokter Rengganis. Ia akan membantu kita pada hari ini. Saya tahu ini adalah hari terberat dalam latihan kita. Jadi sebelum kita mulai silakan yang memiliki keluhan kesehatan untuk datang ke pos kesehatan yang kita tempatkan di tenda pleton utama.” Tangan Biru menunjuk ke salah sebuah tenda pleton berukuran cukup besar yang diperuntukkan untuk pusat kesehatan.
“Waaaah.” Kapten Biru tampak kesal melihat Rengganis seperti begitu menikmati saat dirinya menjadi pusat perhatian dari rekan-rekannya.
“Ah, siapa yang tidak akan tertarik dengan gadis sesempurna dia,” pikir Kapten Biru. Laki-laki itu menyadari kesalahan yang telah dilakukannya dengan membawa Rengganis kemari.
“Tenda utama penuh dengan para personil yang ingin mengecek kesehatan. Semuanya mendadak memiliki keluhan hanya untuk dapat melihat dan berbincang langsung dengan dokter cantik yang sejak tadi menjadi bintang idola.
Kapten Biru mengamati dengan hati yang panas dari kejauhan. Dokter Rengganis dan timnya terlihat kewalahan menghadapi pasien yang begitu banyak. Dokter cantik itu tidak datang sendiri. Dia datang bersama tiga orang perawat termasuk Astuti. Pak Hari dan Pak Warso pun ikut menemani mereka.
Dokter Rengganis memang terlihat sangat cantik hari ini. Mengenakan celana jins berwarna biru tua dan kaos putih lengkap dengan jas dokter kebanggaannya serta sepatu kets putih yang menjadikannya tampil begitu sporty tapi tetap anggun.
Penampilan dokter muda ini membuatnya lebih cantik dari seorang model ternama.
“Kenapa ramai sekali seperti itu? Apa pasukan kita benar-benar banyak yang sakit?” Kapten Biru bertanya pada Sersan Leo yang berada di dekatnya.
“Mereka antusias karena dokter itu.”
“Kejadian seperti ini bukan untuk yang pertama kali kan? Kita biasa meminta pusat kesehatan terdekat untuk bekerja sama jika ada kegiatan luar macam begini.”
“Tapi tidak ada dokter muda yang cantik seperti Dokter Rengganis, Kapten. Ini baru yang pertama.” Sersan Leo nyengir.
“Izin Kapten, boleh saya ikut antre, perut saya sedikit sakit kemarin.”
Kapten Biru melotot pada Sersan Leo yang masih tersenyum-senyum.
“Itu dokter mango juice kan, Kapten?” Sersan Leo berbisik.
Kapten Biru melangkah pergi tanpa menjawab pertanyaan Sersan Leo. Ia berjalan ke arah tenda utama yang masih saja terlihat penuh sesak dengan para lelaki berbaju loreng.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Apakah Kapten Biru akan menunjukkan rasa cemburunya pada Dokter Rengganis? Akankah laki-laki tampan itu segera mengungkapkan perasaannya di depan seluruh pasukan?
Jangan sampai ketinggalan, nantikan selalu episode selanjutnya!!!
__ADS_1