
“Klonteng,” Baskom bermotif batik yang terbuat dari seng itu terjatuh dari pangkuan bidan tua yang masih larut dalam lamunan, tangannya yang mulai dihiasi keriput terlihat gemetar.
Adegan demi adegan yang terjadi di masa lalu seolah berputar kembali seperti sebuah film yang ditayangkan ulang di dalam kepala Bidan Maya.
Hati wanita itu mendadak ngilu, tangannya mencengkam baju di bagian dada dari pakaian yang dikenakannya sendiri. Dengan begitu, Bidan Maya ingin mengurangi rasa sakit hati yang masih tersimpan rapi di dalam lembar-lembar jantungnya yang tak berhenti berdetak keras mengingat wajah Plenggo yang telah berhasil memporak-porandakan kehidupannya.
Bidan senior yang hampir mendekati masa pensiun itu memandangi wajah Dokter Rengganis yang sedang tertidur pulas. Wajah cantiknya dipenuhi luka memar dan baretan merah.
“Aku harus pergi,” Bidan Maya berdiri, menggapai sweternya di kursi dan melangkahkan kaki dengan mantap.
“Mau kemana, Bu Bidan?” tanya Pak Hari saat bertemu dengan Bidan Maya di halaman pelataran Puskesmas Pringjaya.
“Saya mau pergi sebentar, menyelesaikan urusan lama yang belum kelar.” Kaki kanan Bidan Maya mengengkol motor bebek tua berwarna merah kesayangannya.
Pak Hari terlihat bingung dengan sikap Bidan Maya yang tak biasa. Sejenak ia berpikir apa yang akan dilakukan wanita yang sudah dikenalnya selama sepuluh tahun belakangan ini hingga pergi dengan tergesa-gesa seperti itu.
“Apa yang harus aku lakukan?” Pak Hari tampak panik membayangkan kenekatan yang bisa saja dilakukan Bidan Maya.
Laki-laki paruh baya itu membanting sapu yang masih berada di tangannya dan berlari secepat yang dia bisa menuju rumah Pak Wisno, ia ingin meminta bantuan Pak Wisno mengantarkannya ke camp Kapten Biru.
Sepertinya saat ini hanya laki-laki muda itu yang bisa ia andalkan untuk menyelamatkan Bidan Maya.
Sebenarnya Pak Hari tahu Kapten Biru pasti sedang tidak berada di camp pasukan karena sedang disibukkan dengan pencarian Astuti.
Namun, setidaknya teman-temannya di camp mungkin mengetahui dimana ia bisa bertemu dengan Kapten Biru saat ini.
“Selamat siang, bisa saya bertemu dengan Kapten Biru?” Pak Hari mengatur napasnya yang terdengar ngos-ngosan.
“Selamat siang, Maaf, Kapten Biru tidak di tempat, sedang ada misi khusus. Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang tentara berpangkat kopral dua bernama Syahril.
“Ada informasi yang harus saya sampaikan kepada beliau.” Pak Hari masih terlihat tak tenang.
“Baik, silakan ceritakan pelan-pelan kepada kami apa yang harus disampaikan pada Kapten Biru, nanti akan kami kirim berita ke komandan secepatnya.”
Mulailah Pak Hari menceritakan semua yang ia khawatirkan terhadap Bidan Maya secara rinci dan detil, semua yang ia ketahui, ia ceritakan.
Tentara bernama Syahril Gunawan itu segera masuk ke pos utama, laki-laki itu terlihat sedang berbicara dengan prajurit lain yang ditaksir berusia sekitar tiga puluh tahunan.
Tak lama suara gemeresek radio berbunyi dalam tenda utama.
“Cobra memanggil Elang,” terdengar prajurit operator radio yang dikenal dengan Tayanrad mengudarakan suaranya mencari keberadaan Kapten Biru.
“Masuk dengan Elang,” jawaban lantang Kapten Biru terdengar menggema di pesawat radio SSB.
“ Izin, Komandan. Ada berita dari sarang macan ....”
Suara mereka terdengar samar-samar di telinga Pak Hari yang berdiri lumayan jauh dari tenda utama tempat pesawat radio itu berada.
“Silakan Bapak kembali, pesan Bapak sudah diterima Kapten Biru, Beliau akan segera meluncur ke tempat. Terima kasih telah menghubungi kami.” Kopda Syahril mempersilakan Pak Hari untuk pulang.
“Terima kasih, Pak.” Dengan lesu Pak Hari membalik tubuhnya, berjalan keluar dari hutan kecil untuk kembali ke Puskes.
“Loh kok gak jadi?” sapa Pak Wisno dengan napas yang masih terputus-putus.
Laki-laki itu mengejar Pak Hari yang berlari dengan sangat cepat sejak turun dari motornya tadi seperti sedang dikejar setan alas.
“Sudah,” jawab Pak Hari pendek tanpa menoleh, laki-laki itu tetap meneruskan perjalanannya.
__ADS_1
Terpaksa Pak Wisno ikut memutar arah, kembali ke jalan kampung yang menjadi muka hutan kecil tempatnya menitipkan motor, di sebuah warung dadakan milik warga.
Di tempat lain, Bidan Maya menekan klakson motornya dengan sangat kuat berharap seseorang membuka pintu gerbang besar rumah Juragan Plenggo.
Dugaannya benar, tak lama seorang laki-laki bertubuh kekar keluar membuka gerbang.
“Ada apa?” tanyanya sangar.
“Mana Plenggo? Aku mau bicara padanya.” Bidan Maya tak kalah ketus.
Laki-laki itu tiba-tiba memegang stang motor tua yang dikendarai Bidan Maya dengan keras. Berusaha merobohkan wanita lemah yang masih berdiri di atas motor itu.
Bidan Maya terlihat berusaha melawan dengan sekuat tenaga, meski tangan lemahnya hampir tak kuasa memberikan perlawanan yang berarti.
“Jangan kurang ajar jika tak ingin aku patahkan tanganmu.” Laki-laki bertubuh besar itu melotot.
“Plenggo—Plenggo keluar kamu!” teriak Bidan Maya.
Tangan perkasa laki-laki bernama Domik itu telah mencengkram kerah baju kurung Bidan Maya.
“Hentikan! Biarkan dia masuk! Aku mau tau, Apa mau wanita ini sebenarnya?" Plenggo tiba-tiba keluar dari gerbang rumah didampingi Radez laki-laki yang memiliki tubuh lebih besar dari domik, persis pegulat sumo.
Tak menunggu lama, Plenggo kembali masuk ke dalam halaman rumahnya tanpa peduli dengan Bidan Maya yang masih terbatuk-batuk setelah tercekik kerah baju yang ditarik kasar oleh Domik.
“Ada apa kau kemari? Apa kau mau mengatakan jika kau menyesal tak memilihku waktu itu?” Juragan Plenggo nyengir kuda.
“ Asal kau tahu tidak ada tempat untuk wanita tua sepertimu di rumah ini!” hardik Plenggo dengan kejam.
Bidan Maya maju mendekati Juragan Plenggo dengan wajah memerah menahan marah. Bibirnya yang pucat siap meluncurkan segala rupa makian pada laki-laki tua berpenampilan mencolok itu.
Namun, tak disangka, wanita itu bukannya marah dan menghardik Plenggo, ia malah tertelungkup bersujud di depan kaki laki-laki yang sudah menghancurkan kehidupan rumah tangganya itu.
“Astuti? Siapa dia?”
“Aku tahu pasti kau yang menyembunyikan wanita malang itu,” air mata Bidan Maya membanjiri pipinya.
“Cukup hidupku dan putriku yang kau hancurkan. Jangan gunakan orang lain untuk terus menyakiti aku. Belum cukupkah semua yang kau lakukan itu untuk mengobati dendammu padaku?”
Plenggo terdiam. Sakit hati yang ia rasakan selama ini membuat hidupnya kehilangan arah. Tak ada kebahagian yang ia rasakan. Keinginannya setiap saat adalah untuk melihat Bidan Maya dan Pak Hasbi terluka, hal itu mampu membuat perasaannya membaik meski hanya sesaat.
Memang sejak peristiwa itu, Plenggo terbiasa berbuat semena-mena terhadap semua orang, termasuk pada istri yang dinikahinya.
Dua tahun setelah Plenggo menikahi Heni, Ibu dari Bono itu meninggal. Tak ada yang mengetahui penyebab pasti kenapa wanita itu sampai meregang nyawa.
Setelah kematian Ibunya, Bono dibesarkan dalam asuhan Wega, janda nakal yang menjadi simpanan Plenggo bertahun-tahun.
Bukan hanya Wega, Juragan kaya itu memiliki banyak perempuan pemuas nafsu, meski tak satu pun dari wanita itu dinikahinya secara syah setelah Heni meninggal.
Besar di lingkungan keluarga yang hancur dan berantakan membuat Bono tumbuh menjadi anak yang kurang kasih sayang dan didikan, pembunuh berdarah dingin dan beberapa kelainan lain posistif di deritanya.
Maka tak heran, jika kelakuan Bono sangat mirip dengan prilaku buruk ayahnya. Apa yang telah diperbuat ayahnya di masa lalu kini diperbuat pula oleh Bono. Juragan Plenggo selalu menutupi perbuatan buruk anaknya, kebiasaan itu membuat Bono semakin hari semakin berbuat sesuka hatinya.
Entah sudah berapa orang gadis yang dipacari Bono dan berakhir mengandung tanpa seorang ayah.
Jika bisa ditangani dengan uang, Plenggo akan memberi mereka uang dan benda-benda berharga sebagai penutup mulut namun jika tak bisa maka ia akan menutup mulut gadis itu untuk selama-lamanya.
“Kamu bodoh.” Plenggo menekan wajah Bidan Maya.
__ADS_1
“Seandainya saat itu kamu menuruti semua keinginanku, bencana dan malapetaka seperti ini tak akan pernah terjadi, tapi kamu malah memilih Hasbi, si pecundang itu, sebagai suamimu.” Gigi Plenggo bergemeretak jengkel.
“Bukan hanya hidupmu dan putrimu. Aku akan menghancurkan hidup semua orang yang kamu sayangi. Paham!”
“Cukup,” jerit Bidan Maya ketakutan.
“Tolong lepaskan Astuti, bunuh saja aku jika kamu menginginkannya, Plenggo!” Bidan Maya mencoba berdiri.
“Aku memang mengurung perempuan itu di sini. Meski pun aku melepaskannya ia pasti akan memilih mati. Hahaha,”
“Tidaaak.” Bidan Maya menutup mulutnya.
Bayangan Ayu, putrinya, yang menangis pilu dengan pisau di tangan terbayang di mata Bidan Maya. Gadis cantik itu terpaksa harus mengakhiri hidupnya sendiri karena trauma yang diderita setelah menerima pelecehan seksual dari Plenggo, laki-laki tua yang berusia sama dengan ayahnya.
Bukan hanya Plenggo, Ayu juga mendapatkan perlakuan menjijikkan itu dari putranya, Bono.
Bagaimana Ayu yang masih gadis belia bisa bertahan dalam situasi itu. Rasa putus asa membuat Ayu memilih mengakhiri hidup dengan menusukkan pisau dapur yang biasa digunakan Ibunya memasak tepat pada lambungnya.
Air Mata Bidan Maya tak berhenti berderai. Perempuan itu sangat ketakutan. Setelah Ayu, apakah kini ia akan kehilangan Astuti yang telah menerima perlakuan tidak manusiawi seperti itu?
“Kamu jahaaat!” Bidan Maya menyerang Plenggo dengan membabi buta. Tubuh juragan kaya itu dipukul-pukulnya berkali-kali.
“Terlambat, May. Aku telah memerintahkan anak buahku untuk menghabisi gadis sialan itu beberapa waktu lalu. Aku benci melihat wajah lugunya, wajah itu mengingatkanku pada wajahmu yang dulu. Wajah yang lebih mencintai Hasbi ketimbang aku.” Plenggo menanggap tangan Bidan Maya yang masih saja meronta ingin memukul Plenggo serabutan.
“Terlalu kamu, Plenggooooo! Tunggu saja hukum karma yang akan membuatmu binasa dengan penuh rasa sakit.” Maya menyumpahi laki-laki di depannya dengan segenap hati.
“Plak.” Plenggo menampar wajah Bidan Maya hingga terjungkal.
Perlahan Plenggo mendekati tubuh Maya yang masih dalam posisi terbaring. Tangan kanannya mencekik kuat leher wanita tua itu.
“Wanita tidak tahu diuntung! Tidak bisakah kamu berdiam diri! Aku benci melihatmu menunjukkan kekuatanmu. Ingat, kamu bukan siapa-siapa, jika aku mau membunuhmu seperti aku membunuh anakmu dan Astuti itu dari dulu sudah kulakukan. Tapi bukan itu yang aku inginkan.” Plenggo tertawa terbahak-bahak.
“Aku lebih suka melihatmu merasakan perih yang dulu pernah aku rasakan. Di sepanjang hidupmu, kamu tidak akan pernah merasakan apa itu bahagia. Paham?”
“Aku akan selalu menyakiti semua orang-orang yang kamu sayangi. Siapa kira-kira korban selanjutnya?” Plenggo tampak berpikir. Tangannya menjambak rambut Bidan Maya yang semuanya hampir berwarna putih.
“Rengganis! Gadis sombong yang menolak cinta Bono? Lihat saja! Dia akan merasakan penderitaan seperti apa yang kamu rasakan. Hahahah.”
“Tidak akan kuizinkan seorang pun menyakiti Rengganis.” Tiba-tiba laki-laki gagah berparas tampan berdiri di sekitar mereka dengan puluhan prajurit bersenjata lengkap, beberapa lelaki berseragam coklat bertulis POLRI pun menggenapi barisan itu.
Plenggo dan anak buahnya kaget bukan kepalang.
“Hajar!” perintah Plenggo pada seluruh kaki tangannya yang bertubuh besar.
Tujuh orang laki-laki bertubuh sterek keluar dari dalam rumah dan menyerang tanpa persiapan ke dalam barisan prajurit yang memang telah siap siaga.
Beberapa menit terdengar kegaduhan.
“Plak-bruk-Dep,” terdengar bergantian. Tujuh laki-laki itu bagai kerbau yang berguling ke sana kemari.
Plenggo terdiam, ia menyadari posisinya sudah semakin terjepit. Setelah putranya, Bono digulung para prajurit kemarin malam, hari ini sepertinya giliran dia yang akan diciduk paksa.
Laki-laki itu berdiri, menarik Bidan Maya yang masih terkapar dengan napas yang terlihat sesak.
Ia menjadikan Bidan Maya tameng untuk melarikan diri. Bidan maya hanya pasrah tak bisa melawan saat dirinya digunakan Plenggo sebagai Sandra agar bisa kabur dari tempat itu.
Apakah Juragan Plenggo dapat melarikan diri dari kepungan para prajurit dan polisi?
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya? Jangan pernah bosan untuk terus menunggu kisah selanjutnya ya!