
Gadis cantik bercelana jeans putih tulang dilengkapi blus rajut berwarna dusty dengan model blus ponco dengan rumbai benang di ujung pinggirnya yang lebar. Sendal wadges yang menampakkan ujung jari Rengganis yang panjang dan berkuku indah itu seperti melengkapi pesona kecantikan dokter muda yang sebentar lagi akan terbang ke negeri gingseng untuk memperdalam ilmu yang dimilikinya.
Beberapa surat izin kedinasan, surat keputusan penerimaan beasiswa, paspor, serta beberapa berkas-berkas penting lainnya telah lengkap di dekapannya kini. Mata indah yang memancarkan kebahagiaan itu tetap tak bisa menyembunyikan kesepian dan kekosongan yang terasa amat menyakitkan dalam hatinya.
“Maaf ya, Sayang, mami sama papi tidak bisa antar Rengganis. Kamu gak papa kan, Nak?” tanya mami penuh penyesalan.
“Rengganis gak papa, Mi.” Senyum Rengganis mengembang berusaha menenangkan hati maminya yang ia tahu sedang teramat sangat sedih karena akan jauh darinya.
“Ini kan bukan perjalanan pertama Rengganis ke luar negeri, Mi. Rengganis sudah sering travelling sendirian kemana-mana,” sambung gadis cantik dengan kacamata besar bertabur batu permata.
Mami mengangguk sambil membelai rambut hitam putri semata wayangnya itu.
“Hati-hati di jalan ya, Nak. Setelah agenda mami selesai, mami sama papi akan segera mengunjungi Rengganis di sana.
“Iya, Mi. Sukses ya buat anak perusahan mami yang akan mulai beroperasi besok.”
“Terima kasih ya, Sayang.” Rengganis merapatkan tubuhnya pada mami yang terlihat telah membentangkan tangannya lebar-lebar.
“Papi juga minta maaf ya, Nak. Papi menyesal kenapa jadwal mami dan papi sepadat ini di saat Rengganis mau berangkat. Harusnya sebulan yang lalu papi sudah mengatur jadwal dengan lebih baik.”
“Ah papi, Rengganis sudah biasa menghadapi jadwal mami dan papi yang bejibun sejak kecil. Udah gak kaget lagi, Pi!” Rengganis memonyongkan bibirnya namun tak lama.
Gadis cantik itu hanya menggoda papi dengan pura-pura merajuk.Tak butuh waktu lama, senyum manis Rengganis kembali menghiasi pipinya dengan dua buah lesung pipi yang dalam saat gadis itu menarik bibirnya untuk tersenyum lebar.
“Nenek mau ikut!” rajuk nenek.
Kali ini Rengganis mendekap nenek yang sangat disayanginya itu lebih lama. Air mata nenek terlihat mengalir di pipinya yang tampak mulai berkerut-kerut.
“Iya, jangan lupa ya, Nek. Segera terbang ke Korsel, jumpai Rengganis. Rengganis mau kita jalan-jalan keliling Seoul bareng-bareng. Dah terbayang betapa serunya perjalanan kita nanti.” Tangan mulus Rengganis mengusap kedua belah pipi nenek.
__ADS_1
“Delay berapa jam pesawatnya tadi, Sayang?” tanya Papi.
“Katanya sih satu jam. Ini sudah berjalan dua puluh menit dari pemberitahuan tadi.”
“Tinggal 40 menit lagi berarti.” Mami memandangi jam mewah yang menempel di lengan kirinya. Hati wanita itu semakin berat saat waktu memakin memaksa mereka untuk mendekati perpisahan. Beberapa kali wanita paruh baya itu menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat.
“Mi, sepertinya Rengganis harus segera check in. sampai jumpa lagi ya, Mi.” Rengganis memeluk mami dan mencium pipi kanan dan kiri wanita yang telah melahirkannya itu. Meski berat akhirnya mami mengakhiri drama peluk-memeluk yang sebenarnya tak ingin diakhirnya. Pelan wanita bersanggul modis itu menyapu pipi kanannya dengan punggung tanggan, mengusap air mata yang turun dengan sendirinya meski tanpa komando darinya.
“Pi, Rengganis berangkat. Jaga mami dan nenek baik-baik ya, Pi!” Rengganis pun memeluk papi tak lupa sebelumnya menyalami dengan penuh takzim.
“Hati-hati ya, Nak. Belajar yang giat. Nenek selalu berdoa untuk Rengganis. Cepat selesaikan studinya dan kembali ke tanah air.” Air mata wanita tua itu kini tak lagi dapat dibendung. Berkali-kali ia mengusap tisu ke wajah tuanya.
Rengganis sebenarnya tak tega melihat nenek larut dalam kesedihan mendalam di usia senjanya, pedih yang dirasakan gadis itu seakan membuat langkahnya maju meninggalkan mereka semua semakin berat.
“Pergilah, Nak.” Papi mengantar Rengganis sampai ke pintu. Ia tak ingin semangat putrinya menjadi rapuh setelah melihat kedua wanita yang dicintainya itu menitikkan air mata tulus yang menandakan betapa mereka mencintai Rengganis.
“Ye Jun telah menunggumu di bandara, jangan terlalu khawatir, kamu tak akan sendirian di sana ada keluarga Tuan Choi yang akan mengambil peran kami untuk sementara. Jangan sungkan, mereka semua baik, mereka pun pasti sangat menyayangimu.” Papi memegang pundak Rengganis.
Tak tanggung-tanggung, Pak Brata telah membeli sebuah rumah mewah di kawasan elit untuk ditempati putrinya lengkap dengan kendaraan tipe terbaru yang telah siap nongkrong di garasi.
Beberapa pendidikan informal seperti sekolah mode dan beberapa khursus lain pun telah dilirik Rengganis untuk mengisi waktu luangnya kelak. Les musik pun telah beres didaftarinya. Gadis cantik itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan sekecil apa pun yang datang padanya.
Untuk awal-awal keberadaan putrinya di negeri gingseng, papi tak mau Rengganis langsung tinggal sendiri di rumah mewahnya. Ia tak ingin anak kesayangannya itu merasa sendirian dan bersedih. Karenanya, sementara waktu, Rengganis akan tinggal di rumah keluarga Choi seperti permintaan Nyonya A-Young, istri Tuan Choi.
Tuk-tuk, hak sepatu rengganis terdengar menjauhi mereka. Ada sakit yang tiba-tiba menyeruak di jantung hati mami. Ingin rasanya ia mengejar putrinya dan mengandeng tangan Rengganis seperti saat dulu gadis itu masih kecil. Namun, wanita yang di masa tuanya masih menyisakan garis-garis kecantikan itu menghentikan niatnya. Ia harus puas hanya dengan memandangi punggung belakang putrinya hingga benar-benar tak terlihat lagi.
“Kita pulang, Mi.” Papi mengamit lengan mami dan menggandenganya keluar dari pintu utama bandara.
Dari balik kaca pesawat, kedua mata Rengganis memandang jauh. Sebuah butiran halus luruh dari matanya.
__ADS_1
“Rengganis pergi, Mi, Pi, Nek, Mas.”
“Mas Biru,” bisik Rengganis pelan.
Kedua kelopak mata dokter cantik itu terpejam dibalik kacamata hitam yang membingkainya dengan sangat indah.
**
Pesawat landing dengan mulus, satu per satu penumpang mulai turun. Begitu pun Rengganis. Gadis itu tampak sabar menanti semua penumpang lain keluar baru ia mengikuti barisan dari belakang. Tak ada yang membuatnya terburu-buru, ia ingin menikmati semua momen kedatangannya di negeri orang ini dengan nyaman dan berkesan.
Pelan kaki Rengganis menginjak negerinya Oppa Lee Min Ho, mata bulatnya terpana menatap fasilitas-fasilitas modern di terminal 2 bandara Incheon. Tas koper berwarna merah ditariknya pelan-pelan dengan tangan kanan, sementara tangan kiri memegang beberapa lembar kertas dan paspor.
Dinikmati atmosfer baru yang terasa asing baginya, udara dingin yang menunjukkan sedang musim salju seakan berusaha menusuk tulang sum-sum gadis cantik yang terbiasa ada di bagian dunia beriklim tropis itu. Jaket tebal yang telah dipersiapkannya dari Jakarta memang telah dikenakannya sejak tadi. Syal berwarna dusty pun telah melilit leher jenjangnya dengan sangat padan dengan penampilan modis dan girlynya, sarung tangan kulit yang berwarna putih tak mau ketinggalan untuk membantu menghangatkan tangan Rengganis.
Rengganis mengangkat kepalanya menatap atap kaca luas yang terlihat sangat indah dan luar biasa itu. Langit kota Seoul terlihat jelas meski dari dalam ruangan.
Bruk, tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh jangkung menabraknya.
“Aduh,” Rengganis mengusap-usap pundaknya yang terasa sakit.
Laki-laki itu tak bergeming bahkan sekadar meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya tanpa sengaja pada Rengganis. Ia malah asik memandang lekat-lekat pada wajah cantik dokter muda itu.
“His, malah bengong.” Rengganis tampak kesal, ia sengaja berbicara dalam bahasa Indonesia agar laki-laki berjas coklat tua dengan look yang sangat eye catching itu tak paham maksud umpatan-umpatan kecil darinya.
Tiba-tiba laki-laki berwajah tampan itu menunduk dan tersenyum malu-malu, matanya yang sipit terlihat hilang tertarik kulit pipinya yang terdesak oleh senyum manis yang terus mengembang bahagia.
“Aera,” ucapnya sambil terus memandang lurus ke wajah Rengganis.
Siapakah laki-laki itu?
__ADS_1
Sabar dan tunggu kelanjutannya ya!