
Gadis cantik dengan sepatu high hill tulang berwarna nude melenggang turun dari tangga pesawat. Matanya yang indah masih tertutup kacamata besarnya. Tas tangan kecil digenggam erat-erat.
“Akhirnya aku bisa menghirup udara Jakarta lagi.” Bibir tipisnya yang berwarna pink bubble gum menyunggingkan senyum manis. Senada dengan kemeja yang dikenakannya, pink permen karet, coat kotak-kotak yang sebelumnya membalut rapat tubuhnya kini hanya disampirkan di tangan kanan. Suhu Kota Jakarta tak memungkinkan gadis cantik itu tetap mengenakannya seperti saat masih berada di Seoul beberapa jam lalu.
Rengganis sengaja memilih nuansa pink pada dresscode yang digunakannya hari ini. Selain warna pink merupakan salah satu warna favoritnya setelah putih dan biru tentunya ternyata ada maksud lain dibalik warna ini. Warna merah muda memang sejalan dengan pribadi Rengganis yang memiliki wawasan luas dan intuitif serta dapat menunjukkan kelembutan dan kebaikan yang muncul dari sifat empati dan sensitif.
Dalam dunia psikologi pun warna merah muda biasa diartikan sebagai simbol harapan. Ya, harapan yang amat besar untuk dapat mengubah semua hubungan yang selama ini mengantung hubungannya dalam kesakitan menjadi hubungan manis yang selalu akan dikecapnya seumur hidup. Rengganis akan berjuang memenuhi harapannya untuk dapat menemui Kapten Biru, entah bagaimana pun caranya.
“A-uu-**,” Suaranya Rengganis terdengar seperti orang yang sedang mengigau.
Sebuah tangan kekar membekap mulutnya paksa saat akan masuk ke pintu kedatangan. Dengan gesit dan kuat laki-laki itu menyeret tubuh Rengganis menjauh dari keramaian. Dada Rengganis mencelos ketakutan.
“Sekarang apa lagi?” rintihnya putus asa. Akankah semua ini akan menjadi hambatan lagi buatnya untuk bertemu Kapten Biru seperti keinginannya?
Air mata ketakutannya tumpah-ruah, tubuh indahnya gemetar hebat. Mulutnya terus berusaha menjerit kuat-kuat tapi tetap hanya bunyi desus yang tak jelas yang mampu dikeluarkannya. Hati Rengganis merasa jengkel setengah mata tak dapat meronta kuat agar bisa bebas dari bekapan laki-laki gagah ini.
Tiba-tiba kaki laki-laki misterius itu berhenti disebuah lorong kecil tak jauh dari tempat pengambilan bagasi. Seakan bersembunyi pada sebuah pilar besar yang ternyata memang mampu menutupi tubuh mereka berdua dari pandangan orang-orang.
“Ampp-ppuuun,” teriak Rengganis terbata.
Trauma yang dideritanya paska penculikan waktu itu masih menjadi lubang besar yang sulit untuk disembuhkan. Kejadian kali ini seakan membuka laki luka lama yang belum sembuh itu menjadi luka yang semakin menyakitkan.
“Re, sayang!” panggil laki-laki itu berulang-ulang.
Rengganis masih menangis ketakutan, matanya menutup rapat tak ingin melihat semua hal buruk yang ada di depannya.
“Rengganis, ini aku,” Kapten Biru membelai lembut rambut gadis cantik di depannya.
Tiba-tiba tubuh gadis itu diam tak lagi meronta. Matanya pelan-pelan terbuka, jantungnya berdebar lebih keras dari sebelumnya saat ia mengira akan menjadi korban penculikan sekali lagi.
Suara berat Kapten Biru membuat Rengganis tak mampu berkata-kata, mulutnya menganga, tangannya menepuk-nepuk pipi putihnya berulang-ulang seakan berusaha membuktikan laki-laki tampan di depannya itu bukanlah khayalannya semata.
“Ini aku, Re.” Kapten Biru memegang kedua tangan Rengganis. Matanya yang tajam menatap lurus ke mata Rengganis. Entah perasaan macam apa yang kini berkecamuk di hati mereka masing-masing. Emosi yang tak pernah bisa direncanakan sebelumnya.
__ADS_1
Rengganis melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Kapten Biru. Kepalanya bersandar nyaman di dada bidang itu. Lama sekali, tampaknya dokter muda itu tak ingin melepaskan apa yang sekarang sedang didekapnya meski ini mimpi Rengganis tak ingin menyudahinya. Ia memilih untuk tinggal di dalam mimpi indah ini selamanya.
“Kamu baik-baik saja kan?” Lagi-lagi Kapten Biru membelai lembut rambut hitam panjang Rengganis.
“Kamu belum berubah, tetap secantik gadis manja milikku dulu,” ucapnya lembut nyaris terdengar seperti bisikan syahdu di telinga Rengganis.
Gadis itu melepas pelukkannya, memukul berulang-ulang pada dada pemuda tampan yang sangat dirindukannya itu.
“Kamu yang berubah,” jawabnya sewot.
“Berubah gimana?” Kapten Biru serba salah.
“Kamu kenapa sekarang jadi romantis gini. Aku jadi curiga. Siapa yang sudah mengajarimu cara merayu perempuan?” oceh Rengganis yang dibalas tawa lantang Kapten Biru.
“Ups.” Kapten Biru menutup mulutnya sendiri. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Ada apa? Takut ketahuan Tika? Makanya jemput aku pakai cara yang gak lazim gitu!” Nada Rengganis terdengar bertambah jutek setelah ditaburi bumbu cemburu yang pedasnya membakar telinga.
“Hey, siapa bilang Tika bisa merubahku? Aku cuma mau diubah sama dokter cintaku seorang.” Kapten Biru mengangkat tubuh Rengganis. Menggendongnya berputar-putar beberapa kali.
“Aku melakukan semua hal untukmu termasuk memilih mengkhianati permintaan ibuku.”
Rengganis terdiam menundukkan wajahnya.
“Maaf,” ucapnya.
“Tak apa, karena kini giliranmu melakukan hal yang sama.” Kapten Biru menarik tangan Rengganis untuk mengikutinya berlari.
“Hey, tasku.” Teriak Rengganis.
“Biar saja, nanti temanku yang urus. Sekarang yang harus kita selesaikan adalah rindu yang tak bisa kuobati sendirian,” teriak Kapten Biru.
“Kenapa kita lewat sini?” Rengganis tampak bingung dengan jalur yang mereka gunakan untuk keluar.
__ADS_1
“Ada Papi, mami dan nenekmu di sana. Mereka pasti tak mengizinkan aku membawa putri cantik mereka. Tapi perasaan ini harus bagaimana? Aku tak bisa membuat cintaku mengalah,” teriak Kapten Biru bersemangat.
Rengganis tersenyum malu-malu. Ada kebahagiaan yang unik yang nyatanya belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
“Jadi ini yang namanya jadi kabur karena tak direstui?” Rengganis tertawa.
“Dengar! Aku tak akan pernah lagi melepaskan tangan ini.” Kapten Biru mengangkat tangan mereka berdua yang masih bertautan satu sama lain.
“Hem, jangan pernah! Kalau tak mau menyesal! Akan kupatahkan tangan itu jika mencoba melepasnya sekali lagi,” ancam Rengganis menggemaskan.
“Hahaha” raut wajah Kapten Biru begitu bercahaya. Kebahagiaan yang tak bisa diukur tampak bergejolak di hati sepasang insan yang sedang dilanda rindu itu.
“Ayo,” Kapten Biru yang sudah berada di depan pintu mobil yang terbuka mempersilakan Rengganis masuk.
Tatapan mata Rengganis sedikit risih melihat kemeja batik yang dikenakan pacarnya itu. Bukan tak bagus, sebenarnya itu sangat bagus dan serasi di tubuh Kapten Biru tapi ada perasaan kesal dan cemburu yang tiba-tiba menyelinap ketika Rengganis mengingat nyaris saja laki-laki di depannya itu menjadi tunangan orang lain.
Kapten Biru paham arti tatapan bidadari yang sangat dicintainya itu. Tangannya bergerak gesit menarik kemeja batik yang dikenakannya hingga kancing-kancingnya terlepas dan akhirnya membuka paksa bajunya. Kapten Biru memutari mobil Mas Arga dan membuang kemeja batik sidoasih yang tadi dikenakannya pada sebuah kotak sampah di pinggir area parkir . Kini tubuhnya berbalut kaus putus polos yang membalut tubuhnya dengan sangat press membentuk body Kapten Biru yang six peck.
Rengganis menutup mata dengan telapak tangan kanannya. Kapten Biru yang melihat itu berjalan mendekat dan menariknya lembut untuk segera masuk ke dalam mobil.
“Kamu harus menganti baju yang terpaksa aku buang,” Kapten Biru menggoda Rengganis.
“Tenang saja, aku akan mengantinya dengan pakaian yang lebih nyaman dan menyenangkan untukmu. Aku janji!” Rengganis menunjukkan dua jarinya yang bermakna ‘I’m swear’.
“Tapi dengan satu syarat. Ceritakan padaku bagaimana kamu bisa ada di sana tadi, bukankah itu jalur yang digunakan pihak maskapai dan petugas?” tanya Rengganis penasaran.
“Jangan pernah lupa aku tentara! Tembok setinggi itu bukan halangan untukku,” jawab kapten Biru jumawa.
“Kamu memanjatnya?” tanya Rengganis tak percaya.
“Demi kamu apa pun akan kulakukan. Asal kamu selalu ingat. Aku pecemburu, tak akan kuizinkan laki-laki lain bahkan hanya untuk memandangmu.” Kapten Biru berbisik ke telinga Rengganis sambil memasangkan setangkai mawar putih di telinga kanan Rengganis.
Tak khayal gadis itu tertunduk malu-malu, wajahnya merah merona.
__ADS_1
“Aku milikmu!” ucap Rengganis sambil menatap lekat-lekat mata elang Kapten Biru yang juga hanya mengarah ke padanya.
Yaps, sampai sini dulu ya! Jangan lupa vote dan likenya. Komentarnya juga selalu ditunggu! Sampai jumpa di episode 59. Bye!