
Bel istirahat baru saja berdering beberapa menit lalu. Rengganis masih sibuk merapikan buku-buku yang berserak di atas mejanya.
“Pulang sekolah nanti bisa kita bicara sebentar? Ada yang harus aku katakan.” Fattan menghembuskan napas lega. Akhirnya kata-kata itu meluncur juga dengan susah payah dari mulutnya yang biasanya terkunci rapat saat berhadapan dengan Rengganis.
Rengganis masih terdiam memandang wajah Fattan saat laki-laki di hadapannya itu segera berlalu, meninggalkannya dengan langkah seribu tanpa sempat menoleh lagi padanya.
“Apa aku pernah melakukan kesalahan ya?” Rengganis tampak berpikir keras.
“Em?” Shylla menghentikan gerakannya berusaha fokus mendengarkan kata-kata teman sebangkunya itu.
“Lihat, Fattan bisa hangat pada siapa pun, tapi padaku dia seperti terlalu benci.” Rengganis menunjuk Fattan yang sedang asik bercanda tawa dengan Faycha.
Shylla menggangguk membenarkan.
“Betul, padaku pun dia biasa saja, tetapi ketika berhadapan denganmu kenapa dia seperti risih dan merasa jijik ya?” Shylla memperkuat tebakan Rengganis.
“Salah apa aku, Shyl?” tanya Rengganis lugu.
“Mungkin dia benci sama kamu, kamu selalu mengalahkannya, Re.”
“Apa iya begitu?” Mata Rengganis menyipit.
“Hem, pikirkanlah, Fattan itu selalu menjadi bintang di sekolahnya dulu. Namun, setelah bertemu denganmu di sini dia menjadi bukan apa-apa.”
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Bagiku Fattan teman diskusi yang baik, dia cerdas dan kritis. Aku suka cara berpikirnya yang penuh logika.” Rengganis merasa menyesal.
“Itu kan menurutmu, menurut Fattan mungkin berbeda. Bisa saja di matanya, kamu adalah saingan berat yang paling dibencinya, Rengganis. Aku dengar Fattan juga akan mencalonkan diri menjadi ketua osis. Berarti kalian akan bersaing lagi.”
“Oh ya? Apa karena itu dia ingin berbicara empat mata denganku?”
“Bisa jadi begitu. Mungkin dia akan mengancammu untuk mundur dari pemilihan itu.”
“Ah tapi sepertinya Fattan bukan orang semacam itu, dia anak yang fair dan bersih. Aku tak yakin dia menggunakan cara-cara licik untuk menyingkirkan lawan-lawannya.”
“Aku harap juga demikian. Ayo ke kantin! Aku lapar, jadi membayangkan bakso Mak Inah yang maknyoss itu. Ayo, Rengganis!” ajak Shylla.
“Ah terima kasih, Shyl. Aku sudah bawa ini.” Rengganis menunjukkan bekal makanan spesial buatan nenek.
“Apa itu?” Shylla kembali duduk.
“Bistick sapi ala nenek plus nasi goreng jagung, ayo makan!” tawarnya.
“Kelihatannya enak, tapi aku lagi pengen bakso pedas nih,” tolak Shylla, gadis cantik berkacamata tebal itu.
“Hidupmu beruntung banget ta, Re. Keluargamu sayang dan perhatian sekali padamu. Meski Mamimu sibuk tapi ia tak pernah lupa membawakanmu bekal.”
“Ini bukan Mami yang masak tapi Nenek. Hehehe. Mami gak bisa masak sama kayak aku,” jujur Rengganis.
“Oh ya?” Shylla tertawa mengingat pikirannya yang ternyata melenceng.
“Hem, Nenek yang selalu masak dan heboh menyuruhku menghabiskan semua makanan yang dibuatnya. Kadang aku takut jika suatu hari perutku akan terus membuncit dan aku akan jadi sangat jelek. Hahaha.” Rengganis ikut tertawa.
"Aku akan menantikan saat-saat itu," Shylla tertawa meledek Rengganis.
"Jahat kamu, Shyl." Rengganis ikut terkekeh.
“Jadi Mamimu juga super sibuk seperti wanita karier sukses kebanyakan ya, Rengganis?”
“Ya bisa dibilang begitu. Tetapi Mami selalu melakukan tugasnya setelah aku berangkat sekolah kok, Shyl. Di pagi hari ia akan memastikan aku menghabiskan sarapan dan berangkat sekolah dengan membawa semua barang yang aku butuhkan dulu, baru deh Mami capcus ngurusin semua bisnisnya yang aku gak faham itu,” cerita Rengganis.
“Sebelum aku pulang les dan kursus, biasa Mami sudah ada di rumah,” lanjutnya.
“Enak ya punya perusahaan sendiri kayak Mamimu, jadi semua sesuai dengan kemauannya sendiri, tidak ada yang atur-atur dan marah-marah. Tidak seperti Mamaku yang selalu repot. Mana pernah ia peduli dengan sarapan dan tugas rumahku.” Shylla menunduk.
“Kita harus mengerti, mereka melakukan semua itu demi kita, Shyl. Mamamu seorang banker pasti tugas dan tanggung jawabnya berat.”
“Iya, Re. Terima kasih ya sudah mau jadi temanku. Aku ke kantin dulu.” Shylla tersenyum dan meninggalkan Rengganis yang sibuk membuka bekal makanannya.
Remaja cantik itu mengingat box biru yang dibuang Fattan tadi pagi.
__ADS_1
“Kenapa ya dia begitu?” pikir Rengganis.
“Ah entahlah,” Rengganis menyuapkan nasi goreng jagung pertama ke mulutnya. Kepala gadis itu mengangguk-angguk merasakan kenikmatan masakan nenek.
“Boleh aku duduk di sini?” Kikan yang membawa sebuah bekal makanan di tangannya datang mendekat.
“Hey, ayo makan bersama.” Rengganis tampak senang mendapat teman makan.
Kikan dan Rengganis tampak berbincang hangat. Entah apa yang mereka bicarakan, Rengganis memang sosok yang menyenangkan. Semua hal yang dibicarakan dengannya menjadi sesuatu yang sangat menarik. Kecerdasan dan pengetahuannya yang luas membuat Rengganis selalu mampu tampil mengesankan dengan siapa pun ia berbicara.
Dari jauh dua pasang mata memandangi mereka penuh kekaguman. Farel dan Fattan.
“Kamu akan coba pulang nanti kan, Bro?” Farel kembali memastikan keberanian sahabatnya tak kendur kembali.
“Doakan aku ya, Rel.” Fattan memegang jantungnya yang berdetak tak karuan.
“Iya pasti aku doakan.”
“Terima kasih ya, Sahabatku.”
“Udah gak lerlu sungkan. Toh itu juga bukan hanya demi kamu saja kok, Tan. Tapi demi aku juga.”
“Maksudmu?” Fattan melotot, firasatnya menyatakan ada yang tak beres.
“Ya, aku doakan kamu ditolak, jadi selanjutnya aku yang akan memperjuangkan Rengganis sampai titik darah penghabisaaaaan.” Farel berlari meninggalkan Fattan yang sewot.
“Sialan kamu, Rel.” Fattan berlari mengejar Farel yang telah jauh meninggalkannya.
**
Mentari tertutup mendung yang menghalangi rona cahayanya memantul di kulit mulus Rengganis yang berdiri di bawah pohon akasia depan sekolah. Gadis itu memenuhi janjinya untuk bertemu empat mata dengan Fattan.
Rengganis sudah tak sabar ingin menyelesaikan permasalahannya dan laki-laki yang selalu terlihat aneh di depannya itu. Sudah hampir lima menit gadis cantik itu berdiri di sana, tapi wajah Fattan belum juga muncul.
“Hey,” Arju menutup mata Rengganis.
“Aduh gelap, siapa nih?”
“Kak Arju nih,” tebak Rengganis.
Arju terkekeh sambil melepaskan kedua tangannya dari mata Rengganis. Tangan indah Rengganis beberapa kali memukul tubuh Arju, untuk gerakan kesekian kalinya, Arju menangkap tangan gadis cantik yang telah lama menjadi penghuni hatinya itu.
Rengganis terdiam, melihat Arju yang tiba-tiba memandangnya penuh cinta. Tangan kanannya mengambil sesuatu di dalam tas dan segera meletakkannya di tangan kanan Rengganis yang masih dipegangnya erat-erat.
“Terima bunga ini ya, Rengganis.”
Rengganis menatap satu bucket bunga berisi mawar merah yang disusun rapi bersama beberapa edelweis di dalamnya.
“Ini lambang cintaku padamu, cinta yang sulit kudapatkan tetapi saat kelak aku berhasil memperolehnya, aku janji, cintaku akan terus bersemi tak akan pernah layu seperti bunga-bunga edelweis ini.” terangnya.
“Dan bunga mawar merah ini adalah lambang keharuman dan kesungguhan cintaku, terima cinta aku ya, Rengganis.” Arju memasang wajah penuh harap.
Fattan yang melihat kejadian itu berbalik arah mengurungkan niatnya. Ia menyadari rencananya untuk menyatakan cinta pada Rengganis adalah sesuatu yang bodoh. Ia tahu, ia hanya akan dipermalukan dengan menyatakan cintanya yang sia-sia.
Fattan sadar, dirinya bukanlah apa-apa dibanding Arju, laki-laki sporty yang digandrungi siswi-siswi di sekolah mereka bahkan di sekolah lain.
“Hey, kenapa?” Farel yang melihat Fattan merubah arah terlihat bingung.
Setelah menyaksikan apa yang terjadi di depannya, Farel menjadi paham alasan Fattan membatalkan rencana yang sejak pagi sudah disusunnya.
“Kasihan kamu, Tan.” Farel berlalu melewati Arju yang masih berusaha meyakinkan Rengganis untuk mau menerima cintanya meski ia tahu ratusan pasang mata menyaksikan mereka.
“Kak, Rengganis malu.” Rengganis menutup wajahnya dengan bucket bunga yang baru diterimanya dari Arjuna.
“Izinkan Rengganis berpikir dulu ya, Kak?” Rengganis berusaha mengulur waktu.
“Aku akan menunggumu sampai kapan pun.” Arju tersenyum penuh pengertian.
“Ayo kita pulang,” ajak Arju yang sudah tahu besok berita tentangnya dan Rengganis akan menjadi bahan pembicaraan semua orang di sekolah.
__ADS_1
Arju membuka kerumunan penonton untuk memberi jalan buat Rengganis. Laki-laki itu menarik tangan gadis manja yang harus dilindunginya dari tatapan banyak mata yang penuh keingintahuan itu.
Shylla tersenyum puas, rencananya untuk menjauhkan Fattan dan Rengganis berhasil. Setidaknya untuk hari ini, meski gadis itu akan terus berdoa Fattan tak lagi memiliki perasaan untuk Rengganis setelah melihat semua yang terjadi di hadapannya siang ini.
Sudah lama Shylla mengetahui Fattan menaruh hati pada Rengganis, namun, ia pura-pura tak tahu dan selalu membuat Fattan seolah-olah membenci Rengganis. Shylla berusaha membuat permusuhan diantara mereka.
Setidaknya meski Shylla tak mampu memiliki Fattan, ia pun tak ingin Rengganis menjadi kekasih Fattan. Terlalu sakit melihat Rengganis merebut apa yang diinginkannya.
“Kamu terlalu sempurna, Re. Aku cemburu.” Shylla berbisik lirih.
Shyla yang berasal dari keluarga broken home sangat menginginkan kehidupan yang dimiliki Rengganis. Semua yang dimiliki sahabatnya itu adalah yang terbaik. Nasib selalu memihak padanya. Itu yang selalu dibenci Shylla.
Shylla hanya bisa pura-pura menjadi sahabat baik Rengganis sambil menunggu saat ia memiliki kesempatan untuk bisa mempersulit kehidupan Rengganis.
Bukan tak pernah Shylla mencoba melakukan sesuatu yang buruk pada Rengganis, namun, gadis itu selalu bisa selamat dari jebakan yang dibuatnya.
Beberapa kali Shylla sengaja menyembunyikan buku PR yang dibuat Rengganis tapi satu kali pun Rengganis tak pernah mendapatkan kesulitan karenanya. Shylla masih ingat betul suatu pagi ia mengambil buku PR matematika di tas Rengganis.
“Ayo anak-anak kumpulkan PR kalian!” perintah Miss Fadiya.
Rengganis tampak bingung sesaat dan tak lama gadis itu maju membawa buku catatan lain.
“Ada apa, Re?” tanya Shylla pura-pura tak tahu.
“Buku PR-ku hilang,”
“Lalu?”
“Tak apa, untung aku membuat salinannya di buku lain. Jadi kukumpulkan yang itu meski tulisannya tak begitu rapi tapi setidaknya aku bisa selamat dari kemarahan Miss Fadiya.”
Shylla tersenyum getir. Hatinya begitu kesal dengan kejadian itu, lagi-lagi Rengganis bisa selamat dari rencana busuknya. Apa betul Rengganis selalu diikuti oleh dewi keberuntungan? Shylla memandang kesal pada Rengganis yang sedang digandeng erat oleh Arju menjauhi kerumunan teman-teman yang ingin menjadi saksi perjalanan cinta bintang idola sekolah mereka.
Pernah pula suatu hari sebelum bel sekolah berbunyi, Shylla mencoba mengunci Rengganis di WC sekolah. Shylla berdiri di lapangan sambil berharap Rengganis tak bisa ikut pelajaran pertama dan akan mendapatkan hukuman berat dari Pak Randu, guru olahraga yang terkenal sangat kejam.
Namun, sesaat sebelum Pak Randu masuk ke lapangan, Shylla melihat Rengganis berlari kecil masuk ke dalam barisan. Gadis berkacamata dengan rambut ikal bergelombang itu menjadi sangat jengkel, lagi-lagi usahanya gagal.
“Kenapa, Re?”
“Aku terkunci di WC.”
“Kok sekarang bisa ada di sini?” tanya Shylla bingung.
“Ada Kak Kelvin yang kebetulan lewat, dia mendengar teriakanku dan langsung membukakan pintunya jadi alhamdulillah aku gak telat ikut olahraga, padahal tadi aku takut banget kalau sampe Pak Randu sampai marah gara-gara aku telat.” Senyum Rengganis mengembang.
Shylla tahu, Kelvin bukanlah menemukan Rengganis dengan tak sengaja. Laki-laki itu pasti telah mengikuti Rengganis sejak awal.
Sebenarnya tanpa Rengganis sadari banyak orang yang berada di sekitarnya menanti untuk bisa berbincang dan menjadi temannya, gadis itu saja yang tak pernah menyadarinya.
“Heh, melamun.” Arju mengagetkan Shylla yang masih berdiri di trotoar depan sekolah.
“Bagaimana, Kak?” tanya Shylla penasaran.
“Belum ada jawaban. Trims ya sudah memberitahukan aku, Fattan akan mengungkapkan isi hatinya hari ini, jadi aku bisa duluan.”
“Sama-sama, Kak. Aku akan terus bantu kakak agar bisa dekat dengan Rengganis.”
“Ini buatmu.” Arjuna memberikan satu batang coklat putih untuk Shylla.
“Terima kasih, Kak. Semoga sukses.” Shylla menerima coklat itu dengan bahagia.
Arjuna mengangguk mengaminkan doa Shylla dalam hati.
Shylla pasti selalu mendoakan Rengganis akan menerima cinta Arju karena dengan begitu Fattan akan bisa menjadi miliknya.
Mungkinkah kebusukan yang disimpan Shylla selama ini akan ketahuan oleh Rengganis?
Apakah kesungguhan Arjuna akan membuat perasaan Rengganis luluh?
Benarkah Fattan akan mundur setelah apa yang dilihatnya?
__ADS_1
Jangan sampai tidak membaca episode berikutnya ya!
Berikan Vote, like dan komen kalian, biar author tambah semangat nulisnya!