
Mentari masih malu-malu menunjukkan kehangatannya, gerbang besar milik sebuah sekolah unggulan di kota itu telah ramai oleh siswa-siswi berseragam putih abu-abu. Mulai dari murid yang berasal dari kalangan bawah hingga kalangan selebriti ada di sana. Biasanya kalangan bawah dapat masuk ke sekolah itu melalui program beasiswa yang berarti mereka memiliki kemampuan yang dapat diperhitungkan.
Begitu juga dengan Rengganis, gadis cantik ini masuk melalui jalur prestasi meski ia bisa mengajukan beasiswa, namun, kesempatan itu tak diambilnya, ia lebih suka memberikan keberuntungan itu pada orang lain yang mungkin lebih memerlukannya. Rengganis menyadari kemampuan finansial yang dimiliki orang tuanya lebih dari cukup untuk membayar iuran SPP-nya.
Rengganis, gadis manja yang supel dan humble terkenal memiliki banyak teman dan penggemar. Semua penghuni sekolah suka padanya. Mulai dari tukang kebun hingga kepala sekolah dan dewan komite mengenal dan mengaguminya.
Kemampuan akademis dan nonakademis yang dimiliki Rengganis juga tak bisa dianggap enteng. Berkali-kali gadis itu berhasil menyumbangkan medali dan piala untuk nama besar sekolahnya.
Selain sebagai juara umum sekolah, Rengganis juga terkenal sebagai atlit renang tingkat provinsi. Keluar sebagai pemenang olimpiade fisika tingkat nasional pun tak membuat Rengganis besar kepala.
Sifat low profil high quality inilah yang membuat Rengganis disukai semua orang. Tak sedikit laki-laki yang mati-matian berjuang jungkir-balik demi mendapatkan cinta dan perhatiannya. Seperti yang dilakukan Fattan pagi ini.
“Kuletakkan di sini saja,” gumam Fattan sambil meletakkan box nasi lengkap dengan lauk-pauknya di atas meja Rengganis.
Fattan memandangnya dari segala sisi.
“Ah tidak-tidak, nanti terlihat yang lain.” Remaja itu mengambil lagi box makan berwarna biru muda bergambar hati merah jambu dan dengan cekatan ia meletakkan kembali di bawah laci meja Rengganis. Dia tersenyum, menepuk tangannya beberapa kali seperti berusaha membersihkan kedua telapaknya dari debu dan kotoran.
Fattan melangkah ke mejanya yang hanya berjarak satu kursi saja dari tempat duduk Rengganis. Ia memilih posisi ini karena dari sini gerak-gerik tubuh Rengganis terlihat sangat jelas.
Sejak pertama bertemu Rengganis, Fattan telah jatuh cinta pada gadis itu. Namun, ia tak mampu menunjukkan rasa sukanya pada gadis itu. Anehnya saat bersama dengan Rengganis, Fattan terkesan cuek dan dingin padanya. Entah mengapa hal seperti itu bisa selalu terjadi di luar kendali Fattan sendiri.
Rengganis tak pernah mengambil pusing hal itu, gadis cantik ini cukup banyak menerima perhatian dan kasih sayang dari teman-teman sekolahnya yang lain. Tak pernah sedetik pun ia merasa kesepian, karena itu sikap cuek dan dingin Fattan tak pernah mengusik perasaan Rengganis yang selalu bersifat riang dan manja.
Telinga Fattan mendengar suara beberapa murid laki-laki mendekat ke kelas sambil bercanda tawa.
“Hey, Bro. Sudah di sini ternyata.” Farel memberikan tangannya untuk ditepuk oleh Fattan. Remaja berkulit putih bersih itu membalasnya, meski matanya terus mengawasi box makan di bawah meja Rengganis.
“Ada apa, Bro? Ada yang gak beres?” tanya Farel sambil ikut mengawasi ke arah pandangan mata Fattan.
“Oh gak ada. Ayo kita ke luar!” Fattan mengajak teman-temannya ke luar kelas karena waktu masuk sekolah masih cukup lama, sekitar setengah jam lagi, ia tak ingin mereka mengetahui apa yang baru saja diletakkannya di bawah meja Rengganis.
Biasanya Fattan dan teman-temannya akan menghabiskan waktu sebelum bel berbunyi dengan nongkrong panjang ala remaja SMA di sisi-sisi koridor sekolah sambil menatap cewek-cewek cantik yang lewat di hadapan mereka.
“Oke. Ayo,” sambut Farel tanpa curiga.
Fattan baru saja melewati pintu kelas beberapa langkah saat matanya menangkap bayangan Rengganis berjalan dengan Arju begitu dekat. Sebuah buku yang dipegang Rengganis tampak sedang dibaca serius oleh keduanya. Tiba-tiba Rengganis dan Arju tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke halaman buku yang sama.
Hati Fattan begitu terbakar api cemburu, kedua bibirnya tertarik ke sebelah kanan. Matanya menatap tajam bagai elang yang sedang mengincar buruannya. Beberapa kali napas panjang dihembuskannya dengan berat.
“Ada apa?” tanya Farel lagi.
Fattan tak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, kakinya refleks memutar, bergegas masuk kembali ke dalam kelas. Jalannya sangat cepat menuju meja Rengganis tanpa peduli ujung kakinya menendang beberapa meja yang di lewati hingga menimbulkan bunyi gaduh dan berakhir dengan meja-meja yang bertabur berantakkan.
Tangan Fattan meraih box makan yang disiapkannya untuk Rengganis dan kembali berjalan keluar.
“Bruk,” Dibuangnya kotak makan itu ke sebuah tempat sampah di dekat pintu masuk dan berjalan kembali menyusul Farel dan teman-teman lain yang telah jauh meninggalkannya.
“Hey, Fattan,” sapa Rengganis dengan ramah.
Fattan tak menggubris sapaan Rengganis. Matanya menatap kosong ke depan seolah tak ada orang yang sedang berpapasan dengannya.
“Ada apa dengan dia?” Rengganis menoleh mengamati bagian belakang tubuh Fattan yang semakin bergerak menjauh.
“Mungkin lagi ngambek sama Ibunya.” Arju terkikih kecil.
“Ih Kak Arju kok gitu? Ngeledek Fattan, kasihan tau.” Rengganis mengambil kotak makan yang tadi di buang Fattan.
__ADS_1
Perlahan tangan lembut itu membuka isinya. Nasi bento lengkap dengan lauk yang ditata cantik. Mawar merah jambu terselip di ujung nasi.
“Buat aku saja.” Rampas Arju dan berlari ke kelasnya menyisakan lambaian pada Rengganis.
“Hey Kak Arju gak boleh.” Rengganis berteriak.
Arju hanya membalasnya dengan kiss bye yang dikomposisikan dengan jalan mundur.
Bukan tanpa alasan Arju melakukan hal itu. Arjuna sadar, nasi yang ditelantarkan Fattan ini adalah bekal spesial yang dibawakannya untuk Rengganis. Namun, melihat gadis itu berjalan akrab dengannya tadi, Fattan yang polos menjadi marah dan membuangnya.
“Aku menang,” ucap Arju sambil tersenyum memandang kotak makan biru di genggaman tangannya.
Setiap pagi, Arju memang selalu menunggu di dalam mobil hingga Rengganis sampai di depan gerbang, baru laki-laki itu turun seolah-olah baru sampai.
Berjalan dari ujung gerbang sampai ke depan kelas Rengganis saja sudah menjadi hal yang luar biasa. Arju sadar banyak orang yang menginginkan bisa berbincang atau sekadar bertegur sapa dengan Rengganis, Sang primadona sekolah.
“Enak juga,” Arju mengunyah telur dadar chiken spicy dalam kotak yang tadi dibuang Fattan.
“Untung kuselamatkan sebelum Rengganis tahu maksud anak ingusan itu memberinya makanan ini sebagai tanda cinta dan perhatiannya. Hahaha.” Arju merasa sukses menghancurkan rencana Fattan.
Sementara di sisi lain Fattan duduk termenung di sebelah Farel dan teman-teman lainnya yang sedang asik membicarakan pertandingan motor GP semalam.
“Kamu suka banget kan sama Rengganis?” tebak Farel.
“Maksudmu apa?” Fattan yang sedang diliputi emosi terdengan sensitif saat nama Rengganis di sebut.
“Kalau kamu suka, tunjukkan. Jangan seperti kucing yang mengincar buruannya hanya dari jauh. Jadilah singa yang siap menghadapi semua lawannya dengan jantan.”
“Sialan kamu,” Fattan meninju perut Farel pelan.
Mereka tertawa, Fattan sadar sudah setahun ini rasa cintanya hanya mampu di pendam seorang diri, tak ada keberanian yang cukup untuk sekedar mengatakan isi hatinya pada Rengganis.
“Kamu gila ya, semua juga tahu kalau murid cewek itu ratunya Rengganis, nah kalau untuk cowok idolanya para gadis-gadis itu ya, kamu.”
“Ah yang bener aku sekeren itu?” Fattan melotot tak percaya.
“Iya, tapi setelah Kak Arju, kak Fardan, Kak Mahesa, Kak Iko, Kak Wesha, Aku, Farel Putra Wijaya, terus siapa lagi ya?” Farel pura-pura mikir.
“Ah enak aja, dari mana cerita kamu lebih keren daripada aku.” Farel terbahak melihat sahabatnya memonyongkan bibirnya.
“Itu sih namanya bukan idola utama.” Fattan mencibir lagi.
“Hahaha jangan patah semangat gitu dong, kamu itu terbaik di angkatan kita. Paham?”
Alis Fattan tampak berkerut.
“Kalau memang Rengganis menyukai salah satu dari mereka sudah pasti sejak dulu mereka pacaran. Tapi nyatanya tidak kan? Mungkin saja Rengganis menunggumu. Kamu saja yang tidak peka.”
“Apa iya begitu?” Kepercayaan diri Fattan mulai tumbuh.
“Ya dicoba saja biar tahu. Kalau ditolak ya artinya kamu harus cari cewek lain karena semua menjadi jelas, bahwa Rengganis tak akan memilihmu, jangan sia-sia kan waktumu yang indah hanya untuk seorang wanita. Kamu buka matamu banyak wanita cantik di sekolah ini yang berharap bisa jadi kekasihmu.”
“Masak iya begitu, Rel. Kok aku gak tahu?”
“Gimana mau tahu kalau pandanganmu hanya pada Rengganis.”
“Apa begitu tampak mencolok perasaanku padanya?”
__ADS_1
“Semua orang tahu dari caramu memandangnya setiap hari. Tapi entah mengapa setiap berhadapan langsung dengannya perlakuanmu malah buruk. Mungkin itu salah satu caramu menutupi grogi kawan,” jelas Farel.
Fattan tampak menggangguk-angguk.
“Aku akan coba,” jawab Fattan penuh keyakinan.
“Gitu dong baru temanku. Kalau gagal masih ada Amira, Larasati, Faycha mereka semua sepertinya jatuh cinta padamu.”
Fattan memicingkan matanya.
“Kamu lupa siapa orang yang paling sering mengingatkanmu tentang semua tugas sekolah yang harus kamu kerjakan?”
“Faycha,” jawab Fattan mantap.
“Yaps betul,” Farel menjentikkan jarinya hingga berbunyi 'tik'.
“Aku pikir dia melakukan itu karena aku sering meminjam bukunya dan mengajarinya beberapa materi yang ia tak paham.”
“Kamu terlalu polos, ia sengaja pura-pura gak ngerti biar bisa diajari kamu, dia juga sengaja membeli buku-buku baru agar bisa kamu pinjam. Dia ingin dekat denganmu.”
Fattan mengangguk-angguk paham.
“Apa aku juga harus seperti itu pada Rengganis agar dia paham perasaanku?”
“Itu terserah kamu.” Farel melenggang pergi meninggalkan Fattan yang masih mencerna kata-kata sahabatnya itu.
Sampai di depan kelas, Fatan melihat Rengganis tengah asik berbincang dengan Shylla teman sebangkunya.
“Fattan,” panggil Rengganis, saat temannya itu melewati mejanya.
Fattan menoleh, berhenti dan menatap tajam pada Rengganis. Jantungnya berdegap lebih kencang.
Belum sempat Rengganis mengatakan sesuatu, seseorang telah memanggil namanya dari depan pintu kelas. Rengganis berlari mendekati Kak Fardan.
“Ini form pendaftaran ketua osis. Kamu harus maju. Aku akan mendukungmu.” Laki-laki itu tersenyum.
Rengganis mengangguk dan kembali ke tempat duduknya.
Fattan kembali berjalan menuju mejanya dengan langkah lunglai. Bahkan kesempatannya berbicara sebentar saja sudah direbut oleh ketua osis yang sebentar lagi akan pensiun itu.
“Masih banyak kesempatan,” Farel memberi semangat.
“Coba lagi, jika dia menolakmu maka izinkan aku yang maju berikutnya.” Farel nyengir kuda.
“Mau kutinju lagi.” Fattan mengepalkan tangannya.
“Hahaha….” Farel tertawa kecil.
“Aku serius.” Farel meyakinkan.
“Ternyata kamu musuh dalam selimut,” ucap Fattan geram.
Apa yang akan terjadi berikutnya?
Dapatkah Fattan mengungkapkan isi hatinya pada Rengganis?
Bersediakah Rengganis menerima cinta Fattan?
__ADS_1
Kita tunggu episode ke 24 ya!