
Jari-jari lentik Rengganis menekan tuts nomor pada pesawat telepon yang modelnya sudah terlihat ketinggaan zaman. Di wilayah ini hanya pesawat itulah yang bisa menghubungkan mereka dengan dunia luar paling cepat.
“Ayo, Om Danu, angkat.” Rengganis menggigit jari telunjuknya. Gadis itu berharap segera ada tanggapan dari seberang.
“Selamat siang, dengan siapa ini?” Suara penuh wibawa terdengar dari seberang.
“Siang, Om. Ini Rengganis.”
“Oh Rengganis, apa kabar, Nak?” Om Danu yang berstatus sebagai anggota TNI-AD itu terlihat begitu antusias mendengar siapa yang tiba-tiba meneleponnya.
“Baik, Om,” jawab Rengganis.
“Papa, Mama bagaimana kabarnya?” Om Danu yang merupakan sahabat kental Papa sejak SMP sepertinya sudah cukup lama tak melakukan kontak dengan Papanya, karena itu ia terlihat begitu bersemangat menanyakan keadaan sahabatnya itu.
“Semua baik, Om. Alhamdulillah. Om dan keluarga juga baik kan?”
“Iya, Nak, semua sehat, Alhamdulillah. Gimana—gimana Rengganis? Apa ada yang bisa Om bantu?”
“Om, Rengganis mau tanya.”
“Oh boleh, apa itu?” Kolonel. Danu yang sudah akrab dengan keluarganya sejak Rengganis kecil dulu siap menjawab semua pertanyaan dokter muda yang telah lama tak dijumpainya.
“Om, adakah pasukan yang akan diberangkatkan ke Libanon dalam waktu dekat, Om?” tanya Rengganis to the point.
Sebenarnya ada rasa canggung dan malu bagi Rengganis untuk bertanya masalah pribadi seperti ini pada Om Danu. Namun, Rengganis tak punya pilihan. Hanya pada Om Danulah Rengganis bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkannya.
“Ada. Sabtu ini mereka akan diberangkatkan ke Libanon melalui Bandara Soekarno Hatta. Ada apa, Rengganis?” tanya Om Danu penasaran.
“Em … tidak om, ada teman Rengganis di sana. Mau ketemu sebentar boleh tidak ya, Om?” jantung Rengganis berdebar lagi. Ia akan menggunakan semua kemampuannya untuk bisa menjelaskan semua pada Kapten Biru.
“Sepertinya bisa. Nanti di sana juga banyak keluarga prajurit yang akan ditinggal Satgas. Rengganis bisa bergabung bersama mereka.” jawab Om Danu mantap.
“Betul, Om? Terima kasih ya, Om.” Rengganis sedikit merasa lega dan kembali bersemangat.
“Sama-sama. Memang siapa orang beruntung yang akan ditemui keponakan cantik Om ini? Jadi penasaran.” Om Danu meledek Rengganis.
“Ah, Om bisa saja. Ada satu kenalan Rengganis, Om. Penting!” Rengganis memasang alibinya.
“Wah kalau tidak masalah hati pasti masalah bisnis,” tebak Om Danu.
“Hahaha. R-A-H-A-S-I-A. Tika bagaimana kabarnya, Om?” Rengganis mengalihkan pembicaraan.
“Tika juga berangkat ke Libanon lo, Rengganis. Mungkin lusa kita akan jumpa di sana kalau Rengganis jadi datang.” Om Danu teringat akan putrinya yang juga seorang komando wanita yang besok akan ikut bergabung dalam kontingen garuda yang disingkat KONGA atau pasukan Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di Negara lain.
“Wah si macho itu ternyata ikut berangkat juga ya, Om.” Rengganis merasa Tika sahabat kecilnya mampu menjadi mata-mata untuknya saat kapten Biru berada di sana nanti.
“Ya, Tika sudah letnan satu sekarang.” Om Danu tertawa mengingat ulah Rengganis dan Tika saat masih kecil dahulu.
“Baiklah, Om, sampai bertemu lusa. Rengganis mau siap-siap pulang ke kota dulu biar dekat lusa ke Bandara Soettanya.”
__ADS_1
“Memang Rengganis sekarang dimana, Nak?”
“Rengganis dapat tugas di daerah terpencil nih, Om lagi cari pengalaman.”
“Bagus, si anak manja kini sudah berubah.” Om Danu ingat Rengganis kecil yang selalu menangis saat Tika mengambil boneka beruang kesayangannya.
Tika pun bersikukuh untuk memiliki beruang yang sama seperti yang dimiliki Rengganis. Beruang coklat yang akhirnya robek berantakkan karena diperebutkan dua bocah kecil yang tak mau saling mengalah itu.
“Gustika Amalia Danu!” Rengganis tersenyum membayangkan teman kecilnya yang kini telah berhasil menjadi komando wanita angkatan darat seperti apa yang dicita-citakannya sejak dulu.
“Aku harus bergegas.” Rengganis keluar dari bilik telepon dan mendekati Pak Yayan.
“Berapa, Pak?” tanya Rengganis.
“Tidak usah, Bu Dokter.”
“Loh kok tidak usah?” tanya Rengganis bingung, padahal ia tahu biaya percakapannya di telepon pastilah memakan nominal uang yang cukup banyak.
“Saya berhutang budi pada Bu Dokter, kemarin waktu saya sakit, Bu Dokter rela malam-malam mengobati saya hingga sekarang saya masih bisa berdiri sehat di sini. Jasa itu tak akan sebanding dengan uang ini, Bu.”
“Waduh, jangan, Pak Yayan. Saya akan merasa bersalah.”
“Eh ada Bu Dokter, masuk dulu ke dalam yok, Bu.” Bu Westi, istri Pak Yayan tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
“Oh terima kasih, Bu. Lain kali saya pasti mampir tapi kali ini saya benar-benar sedang buru-buru.”
“Ini, Pak. Saya mohon diterima ya,” Dokter Rengganis menjejalkan lima lembar uang seratus ribuan ke tangan Pak Yayan.
“Ambillah, Pak. Saya tahu Bapak sedang butuh uang. Bukankah Gendis akan masuk kuliah di kota sebentar lagi.”
“Terima kasih, Bu.” Pak Yayan terlihat begitu terharu atas perhatian Dokter Rengganis.
“Gendis sempat cerita ingin masuk fakultas keguruan, ia ingin mengabdi di desa ini setelah tamat kuliah. Itu cita-cita yang mulia lo Pak Yayan. Harus kita dukung,” ucap Rengganis.
“Iya, Bu Dokter.” Pak Yayan manggut-manggut.
“Sebentar, Bu.” Bu Westi masuk ke dalam rumah.
Tak lama Bu Westi keluar lagi membawa setandan besar pisang tanduk yang baru saja ditebang dari halaman belakang rumahnya.
“Bu Dokter kalau ini tidak keberatan kan terimanya? Ini sebagai tanda terima kasih kami.”
Rengganis tersenyum, kepalanya menggangguk mengiyakan permintaan tulus Bu Westi dan Pak Yayan.
“Biar saya bawa ke mobil, Bu.” Pak Yayan siap mengangkat tandan pisang yang terlihat lumayan berat.
“Itu apa?” Rengganis menunjuk sebuah sweater berwarna biru tua tergantung di kursi rotan ruang tamu Pak Yayan, sweater cantik bertulis Kapten Biru dengan benang berwarna abu-abu.
“Itu sweater untuk Kapten Biru, saya rajut sendiri. Tapi sayang tidak keburu. Kapten Biru dan rombongan ternyata sudah pulang sebelum sweater itu selesai.
__ADS_1
“Wah bagusnya.” Rengganis memegang sweater buatan tangan Bu Westi.
“Ini juga sebagai ucapan terima kasih kami, Kapten Biru sudah berhasil menumpas gerombolan nakal yang selalu meminta uang preman di warung kami tiap hari, Bu. Dulu hidup kami sangat tertekan, siang malam dihantui rasa was-was. Mereka suka ngambil dagangan semau mereka. Belum lagi kalau tengah malam dalam keadaan mabuk ketok pintu kami tidak mau buka, paginya pasti warung kami diacak-acak,” cerita Bu Westi.
“Kenapa tidak lapor, Bu?” Rengganis terlihat ikut sedih.
“Ndak berani, Bu. Bisa-bisa temannya besok datang ke sini bunuh kami. Kami bisa apa?” Pak Yayan ikut menjawab.
“Syukurlah semua sekarang lebih membaik ya Bu, Pak.” Rengganis mengelus pundak Bu Westi.
“Sangat membaik, Bu. Sekarang tidak ada lagi jatah preman dan lain-lain. Jadi kami bisa menabung untuk biaya kuliah si Gendis.” Pak Yayan tersenyum bahagia.
“Maka dari itu, Bu. Ini saya sudah buatkan Sweater untuk Kapten Biru biar gak kedinginan tidur di hutan. Tapi malah sudah pulang duluan.” Bu Westi memandangi bagian kerah yang belum terajut sempurna.
“Bu Dokter mau sweater begini, nanti saya buatkan. Warna bisa Bu Dokter pilih sesuai kesukaannya nya Ibu. Mau putih, cream, pink atau biru seperti miliknya Kapten.” Bu Westi merasa senang memiliki cara untuk membalas kebaikan Rengganis.
“Eh … kalau sweater ini saja bagaimana? Boleh?”
“Tapi ini punya Kapten Biru, Dok. Ada namanya, nanti saya buatkan yang baru untuk Bu Dokter.” Bu Westi bertatap-tatapan dengan suaminya.
“Tidak apa-apa. Tulis nama saya di bagian ini saja.” Rengganis menunjuk bagian depan baju yang juga belum terajut sempurna.
“Nama ini?” Bu Westi menunjuk tulisan yang membentuk nama Kapten Biru.
“Biarkan di sana, Bu. Setidaknya kalau melihat ini saya akan ingat betapa baiknya dia, saya juga berhutang budi padanya.”
Pak Yayan dan Bu Westi mengangguk-angguk, mereka mulai paham arah pikiran Rengganis. Pasangan suami istri itu juga tahu bagaimana cerita Kapten Biru yang mati-matian menyelamatkan nyawa Dokter Rengganis saat ditahan Bono, anak Juragan Plenggo yang sangat ditakuti mereka.
“Tunggu sebentar, Dok.” Bu Westi bergegas menyulam bagian yang diminta Rengganis.
“Bagaimana jika saya tunggu di puskes saja, Bu? Ada banyak hal yang harus saya urus saat ini.” Dokter Rengganis memandang jam tangan mungil berwarna hitam di pergelangan tangannya. Tiffany & Co sebuah merk jam tangan berkelas hadiah dari Mami di ulang tahunnya yang lalu.
“Baik, Bu Dokter. Nanti kalau sudah selesai biar bapaknya yang antar ke sana.” Bu Westi menunjuk suaminya yang langsung mengganguk setuju.
“Baiklah kalau begitu saya pulang dulu ya, Bu, Pak,” pamit Rengganis pada Pak Yayan dan istri.
Rengganis keluar, matanya melihat sebuah mobil yang selama ini berada di garasi puskes terparkir tak jauh dari mobilnya berhenti.
“Fattan,” Rengganis memicingkan matanya.
Kejengkelan hati yang tak tahu harus ditumpahkannya pada siapa membuat Rengganis masuk ke dalam mobilnya tanpa peduli dengan keberadaan Fattan. Setelah membantu Pak Yayan memasukkan satu tandan pisang ke atas mobil mewahnya, Rengganis segera naik dan menyalakan mesin mobilnya.
Gadis itu tak peduli dengan kehadiran Fattan. Senyum manisnya kini dapat sedikit mengembang, secerca harapan datang menerobos hatinya yang semula tertutup kabut gelap.
“Terima kasih, Pak,” Rengganis melambai pada Pak Yayan. Kendaraan beroda empat itu melaju santai di jalan berbatu kampung Pringjaya tak sama seperti saat ia datang tadi.
Begitu benci kah Rengganis pada Fattan?
Apakah memang Fattan yang bersalah?
__ADS_1
Kita tunggu episode selanjutnya!