MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
AIR MATA HARU


__ADS_3


Dada Rengganis bergemuruh, semangatnya seakan ikut berkobar saat lautan baret biru muda itu bergolak bersama, bergerak seirama bagai gelembung ombak yang meliuk-liuk indah saat memecah bibir pantai. Suara yel-yel dari para prajurit seolah mampu membuat dada siapa pun yang mendengarnya bergejolak, darah meletup-letup bagai kobaran api yang siap membakar jiwa juang siapa pun.


Patriot-patriot garuda kini telah mengibarkan sayapnya siap terbang tinggi meninggalkan pertiwi bergabung dengan pasukan perdamaian. Rengganis memasang matanya tajam-tajam berusaha mengenali laki-laki yang baru saja resmi menjadi kekasihnya.


Dari penjuru kiri satu per satu diamatinya hingga ujung, namun dalam jarak yang lumayan jauh Kapten Biru tak akan dapat dikenali. Tak ada lagi pembeda saat pasukan berseragam loreng ini telah berkumpul menjadi satu barisan.


Tap-tap-tap. Langkah tegap prajurit-prajurit bersepatu PDL itu terdengar begitu serempak. Hanya satu kata yang dapat digambarkan dalam pemandangan ini, G-A-G-A-H.


Gadis cantik yang baru sekali melihat pemandangan mengagumkan seperti ini hanya mampu berdecak kagum ratusan kali. Ia merasa mulai masuk ke sebuah dunia baru yang selama ini belum pernah dijamahnya.


Rasa cintanya pada Kapten Biru seakan bertambah berpuluh-puluh kali lipatnya.


“Kenapa, Kak?” tanya Adinda.


“Hem,” jawab Rengganis tanpa melepaskan pandangannya pada barisan tentara berseragam unifil.


“Kenapa mata Kak Rengganis berkaca-kaca? Sedih banget ya?” Adinda mendekatkan wajahnya ke mata Rengganis.


“Eh, bukan.” Rengganis mengusap kedua belah matanya.


“Aku terharu, ini betul-betul mengagumkan.” Dokter muda itu kembali menatap barisan.


“Eh, Din, gimana rasanya jadi anak tentara?” Rengganis tiba-tiba memiringkan tubuhnya ke arah Adinda.


“Gimana ya?” Adinda yang mendapat pertanyaan seperti itu malah lebih bingung untuk mendeskripsikannya dengan tepat.


Rengganis mengangkat alisnya, masih menunggu jawaban Adinda.


“Jadi anak tentara itu harus strong, Dokter, gak boleh cengeng.” Abimanyu yang sedari tadi ikut menguping perbincangan Rengganis dan Adinda ikut menimpali.


“Lettu Abi juga anak tentara ya?” Dokter Rengganis memutar tubuhnya, berganti memandang Abimanyu.


Lettu Abi mengganguk.


“Kalau jadi istri tentara bagaimana?”


Adinda dan Lettu Abi saling pandang, mengangkat baru dan akhirnya pura-pura sibuk melihat objek lain.


“Iiih,” Rengganis menarik lengan Adinda dan Abimanyu. Mereka berdua tertawa serempak, tinggallah Rengganis yang hanya mampu memonyongkan bibirnya.


“Kak, mana bisa kami jawab pertanyaan Kakak, kami berdua kan tak pernah jadi istri tentara.” Adinda menjawab dengan wajah lucu. Rengganis menyadari kebodohannya. Ia ikut tertawa bersama Abi dan Adinda.


“Yang pasti kata Ibuku, jadi istri prajurit itu harus siap ditinggal tugas kemana saja. Harus bisa jadi ibu sekaligus merangkap jadi ayah.” Lettu Abi berusaha menjelaskan apa yang dia ketahui.


“Hem betul kata Mas Abi, terus yang aku sering dengar kalau Mama lagi kasih pengarahan ke anggotanya, Persit itu harus suci, setia, sepi ing pamrih, rame ing gawe, bijaksana, pemberani apa lagi ya?” Adinda berusa mengingat-ingat.


“Wah-wah-wah. Memang butuh wanita kuat dan smart untuk mendampingi para lelaki gagah seperti i—” Rengganis memutus pembicaraannya.


Mata gadis itu tiba-tiba berair, prajurit pemberani tanah air satu per satu mulai menaiki tangga pesawat. Ada perasaan kehilangan yang tiba-tiba merasuki hati Rengganis yang semula sempat berbunga-bunga. Kekosongan itu tiba-tiba membuat dadanya begitu sesak.


Suara pekik tangis anak-anak tiba-tiba bergaung sendu seakan mampu membuat langit ikut merasa haru, cuaca yang terang benderang tiba-tiba terasa redup dan mendung.


Air mata para istri yang melepas kepergian suaminya itu pecah, hanya doa yang kini mampu menyertai langkah prajurit-prajurit pilihan negeri itu.


Ratusan keluarga, baik itu istri, anak atau pun orang tua ikut yang mengantarkan para pasukan berharap mereka dapat kembali dengan selamat.


Terlihat jelas, mereka berusaha menahan perasaan yang ada, agar tak membebani langkah para suami yang akan berangkat ke medan tugas. Dengan sisa-sisa semangat yang masih ada, para wanita tangguh berbaju hijau pupus itu menggendong anak-anak mereka, bahkan ada yang masih berusia beberapa hari.


Dalam rasa sakit dan pilu, senyum mereka dipaksa untuk tetap berkembang. Sebagai istri seorang kesatria mereka tetap harus mampu menjaga mentalitas dan semangat putra-putri yang kini menjadi tanggung jawab penuhnya.

__ADS_1


“Kita pulang, ya. Tu mobil NPS-nya udah nunggu.” Seorang ibu merayu putranya yang menangis sejadi-jadinya berusaha meronta turun dari gendongan ingin mengejar ayahnya untuk bisa ikut naik ke dalam pesawat.


Sesekali wanita itu mengusap air matanya sendiri sambil membenarkan letak gendongan putranya yang berusia sekitar empat tahun.


“Ayaaaah, ayaaah,” teriak putranya tak mau berhenti.


Hati Rengganis terasa perih, gadis itu meremas ujung bajunya, air mata berderai menyaksikan momen haru itu. Adinda pun terlihat sangat sedih, matanya telah basah dan merah.


“Apa aku kuat?” Rengganis menoleh, mengamati lagi seorang anggota persit yang sedang dalam posisi hamil tua berjalan dengan mata keikhlasan, lesu memegangi perutnya yang terlihat besar. Air matanya tertahan, namun senggukan di leher terlihat semakin bergelombang.


Tak lama wanita itu terduduk, menutup wajahnya. Rengganis bangkit, jiwa sosialnya meronta.


Belum sempat sampai di depan sang ibu hamil, Rengganis melihat beberapa wanita berpakaian sama telah mendekat. Solidaritas dan jiwa korsa yang tertaut indah diantara perempuan bergelar persit itu.


Rengganis tak mengurungkan niatnya, langkahnya tetap terarah pada sekumpulan wanita yang terlihat saling menguatkan itu.


“Ibu gak papa?” tanya Rengganis.


“Perut saya agak mulas,” jawabnya.


“Dari tadi sepertiya sudah berkali-kali kontraksi buatan,” sambungnya.


“Mau saya bantu periksa?” tawar Rengganis dengan tulus.


“Mbaknya dokter ya?” tanya salah satu Ibu berbaju persit.


Rengganis mengangguk beberapa kali.


“Tadi yang sama Kapten Biru kan?”


Rengganis memandang heran. Begitu viralkah mereka sampai semua orang di bandara mengenalinya dan Kapten Biru.


Rengganis hanya mampu nyengir menutupi keterkejutannya.


“Coba saya lihat dulu ya,” Rengganis meraih tangan ibu hamil yang tadi dipanggil dengan nama Tante Ghafari oleh rekan-rekannya.


“Ayo, Bu, saya antar ke rumah sakit,” Rengganis memandang wajah sedih wanita yang sepertinya sebentar lagi akan melahirkan tanpa sempat ditungui oleh ayah anak dalam rahimnya itu.


“Tidak usah, Bu Dokter, saya kuat. Nanti saya pulang dulu ke asrama ada yang harus saya persiapkan,” tolaknya halus.


“Ih Kakak dicariin kemana-mana tahunya di sini.” Adinda berlari mendekati Rengganis, Abimanyu mengikutinya dari belakang.


“Bener, Bu Dokter saya gak papa.” Wanita tangguh itu mencoba berdiri.


“Iya, Bu Dokter nanti biar kami yang antar ke rumah sakit.” Salah seorang rekannya ikut menjawab.


“Baiklah kalau begitu saya pamit duluan ya, Bu.”


“Iya, Bu Dokter, senang bisa berkenalan dengan dokter cantik yang baik hati ini.” Seorang Ibu persit menjulurkan tangannya untuk dijabat Rengganis.


“Oh iya, Ini.” Rengganis mengeluarkan kartu nama berwarna putih dari dalam clutchnya.


“Terima kasih,” mereka menerimanya dengan wajah riang.


“Hubungi saya jika butuh bantuan. Saya berdinas di sebuah desa kecil jadi tidak ada sinyal masuk ke sana. Tapi saya menuliskan nomor telepon yang bisa dihubungi jika ada informasi penting yang harus dikabarkan ke saya.” Rengganis tersenyum.


“Ibu-ibu bisa tinggalkan pesan pada pemilik telepon satelit, nanti beliau akan sampaikan ke saya secepatnya. Biar saya yang telepon balik. Saya butuh banyak informasi tentang pasukan garuda. Sementara saya tidak punya banyak kenalan militer. Saya berharap Ibu-ibu mau menjadi teman saya.” Rengganis berkata dengan sangat manis.


Tentu saja lima orang dihadapannya manggut-manggut dengan semangat. Sejak tadi mereka memang sudah sangat terpukau dengan penampilan Rengganis. Senang sekali rasanya bisa menjadi teman seseorang hebat sepertinya.


“Nama saya, Citra, istri Serka Rakai, Bamin di kompi markas, Bu Dokter. Satu Batalyon dengan Kapten Biru.” Ibu hamil itu memberikan tangannya.

__ADS_1


Mata Rengganis berbinar terang. Dia merasa memiliki teman sekarang.


“Panggil saya, Bu Ira Exsel Cosano, Saya ketua ranting satu." Wanita lain memperkenalkan diri.


“Siap, Ibu.” Rengganis menjabat tangan Bu Exsel.


Hingga akhirnya semua berkenalan singkat dengan Rengganis. Adinda dan Abimanyu hanya berdiri memandangi betapa humblenya wanita yang mereka kagumi itu.


“Kalau begitu, saya pamit, Bu.” Rengganis menundukkan kepalanya menberi ucapan selamat tinggal dan berlalu menuju ke parkiran.


“Aku ikut Kakak saja pulangnya.” Adinda merengek.


“Nanti Tante cariin loh,”


“Gak papa, nanti Adinda telepon.”


Rengganis hanya mampu mengangkat bahunya, menyerah dengan kemanjaan adik kecilnya ini.


Letnan Abi bagaimana?” tanya Rengganis.


“Saya bawa kendaraan sendiri tadi, Dok. Saya juga harus segera kembali ke kesatuan.”


“Baiklah, sampai ketemu lagi. Tolong berikan nomor telepon, Letnan, siapa tahu suatu hari saya akan menghubungi karena butuh bantuan.”


“Baik,” Abimanyu menuliskan angka-angka nomor teleponnya pada HP Rengganis.


Mereka semua berlalu, meninggalkan bandara yang mulai sepi.



K*u selalu mencobauntuk menguatkan hati


dari kamu yang belum juga kembali


Ada satu keyakinan


yang membuatku bertahan


penantian ini kan terbayar pasti*


Lirik lagu anji berputar-putar di kepala Rengganis. Bayangan kesedihan yang terasa begitu menyiksa membuatnya terdiam seribu kata, hanya airmata yang sesekali menetes di pipinya. Adinda tak mampu berbuat banyak. Gadis manis itu hanya mampu mendengus panjang sesekali, mencoba membuang kekakuan yang ada.


Rengganis hanya menatap ke luar jendela kaca mobilnya, rintik hujan mulai turun perlahan.


Dreeet. Telepon genggam Adinda bergetar. Gadis itu buru-biru membukanya, namun, setelahnya gadis itu tampak terdiam dengan tangan masih menggenggam HP-nya.


“Siapa?” Rengganis menoleh pada gadis yang duduk disampingnya.


Tak ada jawaban, Rengganis mengambil inisiatif untuk menemukan sendiri jawaban di telepon genggam Adinda.


Tenggorokkan Rengganis tiba-tiba tercekat,


Tika mengirimkan sebuah foto disertai caption : “ Kami pamit dulu ya, tunggu kami pulang. Akan kubawakan kakak ipar untukmu.”


Foto apa yang dikirimkan Tika?


Apa yang akan dilakukan Rengganis?


Bagaimana Adinda akan bersikap?


Tunggu kelanjutanya ya!

__ADS_1


__ADS_2