MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
BUKAN CINTA SEBELAH TANGAN


__ADS_3

Dengan penuh getaran, suara Dokter Rengganis terdengar lantang dan penuh perasaan.


“Kapten, Aku mencintaimu,” ucapnya.


Adinda yang mendengar hal itu menutup mulut dengan tangan kanannya sementara mata besar miliknya semakin lebar karena membelalak takjub.


Seorang Rengganis yang memiliki banyak penggemar sejak lahir kini harus mengungkapkan semua isi hatinya terlebih dahulu pada satu laki-laki yang berprofesi sebagai prajurit penjaga negeri.


“Halo, Kapten Biru, apa kamu mendengarku?” Mata Rengganis tampak berkaca-kaca, ia tak tahu lagi apa yang harus diperbuat untuk dapat meyakinkan Kapten Biru tentang perasaan dirinya yang sesungguhnya.


Ia tak ingin melihat laki-laki yang dicintainya itu pergi bertugas dengan beban hati yang tak jelas. Wanita pewaris harta keluarga Brata itu ingin semua kesalahpahaman ini segera berakhir.


“Dokter,” Abimanyu mendekati Rengganis.


Laki-laki berhati lembut itu benar-benar tak sampai hati melihat Rengganis yang hampir menumpahkan air matanya. Lettu Abi sangat mengerti seluruh alur cerita cinta antara dokter manja yang dikenalnya saat mengikuti latihan gabungan waktu itu dengan kaptennya.


Adinda dengan cepat meraih tangan wanita yang disayanginya itu. Menggenggamnya erat-erat dan berusaha menghibur Rengganis untuk tetap tegar.


“Sepertinya dia tak akan mau menerima kebenaran yang akan kusampaikan, Letnan.” Rengganis tertunduk sedih.


“Siapa bilang?”


Rengganis tercekat, suara itu sangat dikenalnya. Suara yang sangat dirindukannya.


“Kapten Biru?” Rengganis segera mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk lemah.


Laki-laki tampan berbalut seragam kebanggaan pasukan konga muncul dari balik rombongan ibu-ibu berseragam persit.


Rengganis dapat melihat jelas wajah tampan yang dihiasi senyum rupawan saat seorang ibu persit berjilbab senada dengan bajunya itu sedikit menggeser posisi berdirinya.


Rengganis berdiri mematung untuk beberapa saat. Tanpa satu pergerakan apa pun, matanya tertuju pada satu pusat perhatian.


Ya, laki-laki gagah yang bergerak semakin mendekat kepadanya. Hanya padanya kini pandangan dokter cantik itu tertuju.


Ekspresi Kapten Biru tak dapat ditebak oleh Rengganis. Wajah datar itu tak mampu dibaca dengan mudah olehnya.


"Mungkin, rasa jengkel dan marah masih merajai hati Kapten Biru," pikir Rengganis.


Dokter muda itu tak lagi peduli dengan sekeliling. Air matanya jatuh satu demi satu, seakan tak percaya orang yang dinanti selama ini akhirnya benar-benar muncul di hadapan.


Logika Rengganis tiba-tiba koma, rencana yang telah diaturnya hancur berantakkan. Kata-kata yang telah disusun serapi mungkin untuk dapat menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi tiba-tiba hilang terbang meninggalkan isi kepalanya yang kini terlihat kosong.


Kapten Biru semakin mendekat ke arah Rengganis berdiri, dentuman dalam dadanya semakin membuncah. Tinggal lima langkah lagi, empat, tiga, dua, satu.


Semua mata memandang mereka seakan ingin menjadi saksi peristiwa seru yang benar-benar menegangkan itu.


Kapten Biru yang terkenal di jajaran komando daerah militer sebagai perwira muda yang cerdas dan berwajah tampan sedang beradu peran dengan seorang gadis cantik berpenampilan luar biasa menarik hari ini.


Orang-orang yang melihat mereka seakan bertanya-tanya siapa wanita cantik yang yang sedari tadi menjadi pusat perhatian itu?


Kenapa sekarang Kapten Biru yang menjadi idola ibu-ibu persit tiba-tiba mengarahkan pandangannya yang dingin namun penuh kehangatan pada wanita cantik itu?


Semua orang ingin tahu, semua orang ingin memastikan. Setidaknya kejadian ini dapat dipastikan akan menjadi buah bibir di lingkungan persit dan prajurit beberapa pekan kedepan.


Adinda dan Abi pun tak mau kalah, mereka tak melepaskan pandangan dari Kapten Biru dan Rengganis sedetik pun, bahkan sepertinya mereka berdua tak sempat berkedip karena tak ingin melepaskan momen-momen berharga yang akan terjadi.


Tap, Langkah terakhir Kapten Biru mendarat tepat di hadapan Dokter Rengganis, nyaris hanya berjarak lima puluh senti saja. Tak ada kata-kata yang mampu keluar dari bibir mereka, semua yang ingin dikatakan seketika buyar.


Hanya bahasa yang terjalin lewat mata yang tak bisa ditahan. Begitu banyak menit berlalu hanya dengan saling memandang. Para penonton yang menyaksikannya pun hanya mampu terdiam, ikut merasa tegang, seakan tahu apa yang terjadi pada kisah cinta mereka kemarin.


Cukup lama adegan pandang-pandangan itu terjadi, hingga akhirnya Rengganis tersadar, mata indah gadis itu tiba-tiba berkedip, kepalanya menunduk sebentar dan tak lama kembali tegak menatap lurus pada wajah tampan yang menyejukkan itu.


“Kapten, aku—”

__ADS_1


“Ssstttt,” Kapten Biru mendekatkan jari telunjuknya ke bibir. Memberikan isyarat agar Rengganis menghentikan kalimatnya.”


“Tapi—”


“Sudah, tak perlu dibahas lagi, aku tahu semua. Kedatanganmu kemari telah membuktikan bahwa hatimu untukku bukan untuk pria itu.” Kapten Biru tersenyum manis sekali, hingga hati Rengganis seakan tak mampu berdetak lagi.


“Jadi … bisa diulang kata-kata tadi?” Kapten Biru mendekatkan wajahnya ke wajah Rengganis.


“Em—em.” Wajah dokter muda itu menjadi merah padam. Dia ingat betul kata-kata yang diucapkannya di telepon tadi, mengingat hal itu membuatnya malu.


Awalnya Rengganis pikir kata-kata itu tak memiliki arti untuk Kapten Biru karena setelah Rengganis mengatakannya tak ada respon barang sedikit pun darinya di telepon.


Padahal sebetulnya Rengganis yang tak sadar, saat ia mengucapkannya, Kapten Biru telah berada di depan. Sejak mendapat pesan dari Lettu Abi, Kapten Biru segera berlari keluar barisan. Ia tak sadar atas kesalahan yang telah diperbuatnya.


Meski akan mendapat hukuman sekali pun, Kapten Biru ikhlas asal dapat menatap wanita yang dicintainya walau hanya sebentar saja.


Dengan begitu, laki-laki bertubuh atletis itu dapat melihat dengan jelas bagaimana ekspresi tegang yang terlukis di wajah cantik Rengganis. Bagaimana wanita itu begitu kelimpungan mencarinya, bahkan kapten Biru pun sempat melihat butiran bening yang turun dari mata indah gadis cantik yang telah mengambil hatinya sejak pertama kali bertemu itu turun saat melihat dirinya ada di depannya.


Bagi Kapten Biru, semua itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Gadis yang selalu mengisi mimpi-mimpinya itu pun dapat membuktikan cinta yang dimilikinya bukanlah cinta yang biasa.


Perjuangan yang tak mudah memang telah dilakukan oleh Rengganis, gadis manja yang lambat laun mulai berubah menjadi dewasa dan lebih bertanggung jawab.


“Aku … aku gak bilang apa-apa.” Rengganis berkilah, wajahnya semakin tampak merah padam.


“Oke, kalau begitu aku akan kembali ke barisan.” Kapten Biru memutar tubuhnya membelakangi Rengganis seolah-olah akan kembali ke dalam barisan yang sedang bersiap menggelar upacara pelepasan keberangkatan pasukan Konga ke Libanon.


”Eits … iya-iya deh, aku ngaku. Tadi aku bilang, aku—aku—aku,” bibir Rengganis terasa kelu untuk mengulang kata-kata yang tadi mampu diucapkannya dengan sangat lancar dan jelas tanpa hambatan sedikit pun.


“Aku mencintaimu,” ucap Kapten Biru sambil memutar tubuhnya, sepatu PDL-nya yang terlihat kokoh dan keras menimbulkan bunyi berdecit saat tergesek dengan aspal halus bandara Soekarno-Hatta.


Rengganis memandang kedua tangannya yang kini digenggam erat Kapten Biru. Dadanya lagi-lagi berdetak keras, darah yang tiba-tiba berdesir halus merambati sekujur tubuhnya itu membuat sensasi rasa yang tak pernah dialaminya selama ini.


“Kenapa diam? Katanya banyak yang harus dijelaskan?” Mata elang Kapten Biru menusuk tajam ke dalam kedua kornea Rengganis.


“Aku terlihat bodoh ya?” Rengganis nyengir.


Peristiwa menakutkan namun membawa kisah sendiri yang memiliki sisi keindahan jika kini diingat-ingat lagi oleh mereka.


“Baik-baik di sini, saat aku pulang, akan kuhadiahi dasar hijau pupus seperti itu.” Kapten Biru menunjuk sekelompok ibu-ibu yang sejak tadi ikut memandangi mereka.


Rengganis menggangguk, meski ia tak benar-benar tahu maksud perkataan Kapten Biru.


Entah mengapa jauh-jauh dari Libanon hanya dasar hijau pupus yang akan dipilihkan Kapten Biru sebagai oleh-olehnya.


Namun, Rengganis tak ingin protes. Semua hal yang dipilihkan Kapten Biru akan menjadi sesuatu yang indah bagi dirinya. Itu yang ia rasakan selama ini.


“Lettu Abi,”


“Siap!” Abimanyu yang sedari tadi mematung tak bergerak tiba-tiba terkaget dengan panggilan atasannya itu.


“Ini,” Kapten Biru memberikan handphonenya pada Abimanyu.


“Siap,” Abimanyu berlari mengambil gawai yang telah disodorkan Kapten Biru, namun ia hanya memegangnya.


“Ayo ambil gambar kami!” perintah Kapten Biru lagi.


“Oh siap, Kapten.” Abimanyu berdiri agak menjauh dari mereka berdua.


Cekrek, Lettu Abimanyyu mengambil beberala gambar dengar tangan yang sedikit bergetar.


“Satu kali lagi.” Tangan kiri Kapten Biru melingkar di pinggang ramping Rengganis, sementara tangan kanannya mengepal seperti sedang meninju langit.


“Oke,” Kapten Biru mengambil kembali HP-nya dari tangan Abimanyu.

__ADS_1


“Bagus.” Laki-laki itu menunjukkan hasil gambarnya pada Rengganis.


“Berikan nomormu akan kukirim, jika nanti kamu merindukanku, lihat saja foto ini, paham!” Hobi menasehati Kapten Biru mulai lagi. Rengganis paham betul dengan sikap laki-laki satu ini.


“Ini untukmu,” Kapten Biru memberikan alat perekam suara ICD-SX712 ke tangan Rengganis bersama sebuah kalung besi berbentuk bulatan-bulatan dengan bandul besi pipih bertulis nama, NRP, serta satuan tempat Kapten Biru bertugas.


“Apa ini?” Rengganis mengamati alat perekam itu.


“Di Pringjaya tidak ada sinyal. Saat aku memiliki kesempatan untuk meneleponmu pun aku tak akan bisa menghubungimu, setidaknya untuk satu tahun ini kemungkinan besar kamu tak akan bisa mendengarkan suaraku.”


Rengganis mendengar penjelasan Kapten Biru dengan cermat.


“Karena itu, kamu bisa mendengarkan ini, setidaknya mampu mengobati rasa kesendirianmu.”


“Satu tahun? Apa kamu tidak bisa untuk bilang kamu tak ingin pergi.” Rengganis berharap Kapten Biru membatalkan kepergiannya.


“Hahaha, itu tidak mungkin. Aku ini tentara, saat pertiwi memanggilku, aku akan siap meski harus bertempur sekali pun.”


“Tapi ini bukan Indonesia?” Rengganis melotot.


“Aku pergi untuk nama pertiwi, sama saja kan?” Kapten Biru menunduk, menangkap butiran bening yang jatuuh keluar dari kelopak mata Rengganis yang tertutup.


“Ini ujian, jika kamu sanggup, maka itu artinya kamu mampu menjadi ibu persit dan jika kamu menyerah, maka kita gagal.”


Rengganis terdiam. Ia mencerna semua kata-kata yang terucap dari mulut Kapten Biru.


“Aku akan menunggumu,”


“Terima kasih.” Kapten Biru memeluk tubuh Rengganis. Menarik paksa kepala gadis itu untuk bersandar di dada bidangnya.


“Kamu pasti pulang kan? Tidak se—” Rengganis menghentikan ucapannya.


Bukan tak tahu, Rengganis pernah mendengar, menjadi pasangan seorang tentara berarti harus siap ditinggal kapan dan dimana pun. Meski dengan konsekuensi mereka akan kembali dengan selamat atau kembali nama saja.


Rengganis menggelengkan kepalanya, ia tak ingin ketakutannya mengacaukan momen perpisahan mereka yang mengharukan ini.


“Rengganis, aku pergi karena tugas dan aku akan pulang demi cinta,” Kapten Biru mengusap kepala gadis kesayangannya itu.


"Aku akan pulang untukmu," ucap Kapten Biru.


“Ini,” Rengganis mengingat sesuatu.


Kapten biru membuka paperbag yang berisi Sweater rajut berwarna biru buatan tangan Bu Westi. Kapten muda itu mengusap benang rajut abu-abu muda yang membentuk pola nama Rengganis.


“Sweater ini pasti mampu mengobati rinduku padamu.” Kapten Biru tersenyum.


“Kapten,” Tika memanggil kapten Biru dari jauh.


Rengganis melepas pelukan Kapten Biru.


“Tika?” sapa Rengganis.


Tika seperti tak menghiraukan kehadiran Rengganis. Ia bahkan seperti orang yang tak mengenali dokter yang terkenal cerdas itu.


“Sudah mau mulai, kita harus kembali ke lapangan, jika tidak berlari saya yakin kita akan terlambat.”


“Aku harus pergi, jaga diri baik-baik.” Kapten Biru menggenggam sekali lagi tangan Rengganis dan sedikit demi sedikit melepasnya.


Kapten Biru berlari menuju lapangan upacara, Tika segera membalik tubuhnya juga, berlari menyusul Kapten Biru. Perasaan cemburu berkobar-kobar dalam matanya.


Bagaimana kelanjutan kisah cinta Rengganis dan kapten Biru?


Apakah hubungan long distance ini dapat mereka lalui dengan mudah?

__ADS_1


Jangan pernah bosan untuk selalu menunggu kisah-kisah selanjutnya.


Terima kasih.


__ADS_2