MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
IBU MERTUA


__ADS_3

“Susah sekali mencarimu, Ndoro Bei!” Tiba-tiba suara perempuan yang selama beberapa bulan ini begitu dekat di telinga Kapten Biru terdengar dari balik tubuh Pak Suryo.


“Iya, betul. Untung ada nak Tika, kalau gak bapak sama ibu apa gak tambah bingung.” Ibu merentangkan tangan kanannya seolah menyongsong kedatangan Tika.


Tika tersenyum ramah pada kedua orang tua Kapten Biru sambil menerima uluran tangan Bu Suryo. Dengan penuh kasih wanita bersanggul besar itu merapatkan tangannya ke pinggang kecil Tika yang berbalut loreng unfil, merangkulnya dengan hangat.


Kapten Biru yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa mendengus sebal. Matanya kembali menatap matahari yang sebentar lagi beranjak tenggelam.


“Kok gak bilang terima kasih, Le?” Bu Suryo melotot.


“Nak Tika ini sudah lari ke sana kemari lo nyariin kamu. Belum lagi dia rela ninggalin calon besan kita demi nemeni ibu mertuanya ini.” Kapten Biru terlihat kaget dengan perkataan ibunya, namun, mulutnya tak nerniat menjawab ucapan wanita tua yang manis terlihat kecantikannya. Laki-laki tampan itu tak ingin merusak suasana penuh kerinduan hari ini dengan penjelasannya yang mungkin akan membuat kebahagiaan hati ibunya rusak.


“Lah masih diem aja!” cecar Bu suryo.


“Iya, terima kasih!” ucap Kapten Biru dengan nada dingin. Matanya tak bergeming dari geliat mentari sore yang hari itu terlihat begitu banyak menyimpan rahasia dan tekanan untuk hatinya.


Ya, mentari sore yang dipandangi Kapten Biru adalah matahari sore yang sama dengan mentari yang sedang ditatap sendu oleh Rengganis dari atas bukit Namsan saat berusaha melawan gejolak hatinya yang hampir saja kalah dengan suasana romantis yang diciptakan laki-laki sipit bernama Yu Jin.


Beruntung gadis itu akhirnya tetap bertahan pada kesetiaan cintanya pada Kapten Biru dan sekali lagi berhasil menolak pesona cinta lelaki yang mampu berbuat banyak hal untuknya.


Hmm. Kapten Biru menarik napas panjang mencoba melepaskan perasaan tak menentu yang tiba-tiba menyesakkan dada.


“Ada apa, Le?” Pak Suryo seperti mengerti kegundahan dalam hati putranya.


“Ayo kita pulang!” Pak Suryo merangkul pundak Kapten Biru.


“Maaf, Pak. Kami belum bisa kembali. Masih banyak yang harus kami lakukan di sini, belum lagi kami masih harus mengikuti beberapa rangkaian acara sebelum dikembalikan ke kesatuan masing-masing.


“Oh begitu? Bapak kira sudah bisa langsung pulang.”


“Belum, Pak. Nanti Mas Biru dan saya akan pulang ke rumah bareng.”


“Maksudmu apa, Tika?” Kapten Biru semakin merasa tak nyaman.


“Hey, Bro. Memangnya kamu lupa dengan apa yang aku katakan waktu itu. Pulang dari sana aku mau hubungan yang lebih serius denganmu.” Tika merangkulkan tangan kanannya ke leher Kapten Biru.


“Hentikan tindakanmu! lihat banyak orang yang memperhatikan kita!” sergah Kapten Biru sambil melepaskan tangan Tika dengan kasar.

__ADS_1


“Jadi ini istirahatnya sampai kapan, Le?” Bu suryo berusaha memecah suasana yang kurang nyaman itu dengan berjalan mendekati ke putranya.


“Sampai pukul tujuh, Bu.”


“Kalau begitu kita cari musholla saja dulu. Setelah itu makan malam.” Pak Suryo mengambil inisiatif.


“Kamu ikut kan, Nduk?” tanya Bu Suryo ramah.


“Maaf ibu mertua saya belum bisa bergabung, kasian keluarga saya nanti menunggu terlalu lama.”


“Oh ya benar juga, sampaikan salamku untuk calon besan ya.”


“Apa-apaan sih, Bu!” Kapten Biru terlihat uring-uringan. Tanpa menunggu lagi kakinya melangkah dengan cepat menuju mushola Bandara Soetta.


Ibu, bapak dan Tika saling melempar senyum tak enak. Dalam benak mereka telah berkecamuk pikiran masing-masing tentang kelakuan Kapten Biru yang mendadak menjadi pemarah.


“Ada apa to, Cah Bagus? Apa lagi marahan sama Nak Tika?” tanya Ibu seusai melaksanakan ibadah sholat Magrib.


“Maafkan Biru ya, Bu, buat Bu’e cemas. Tapi Biru dan Tika itu tidak pernah punya hubungan spesial. Kami hanya berteman biasa. Tidak lebih.”


“Lah kata Nak Tika kalian mau melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Bukankah itu artinya kalian pacaran?” Bu Suryo menatap wajah Kapten Biru yang masih tampak basah terkena air wudu.


“Lah memangnya kenapa gak diterima saja to, Biru. Nak Tika itu cantik, baik, keluarganya juga jelas, kurang apa lagi? Kalian satu profesi bisa saling mengerti satu sama lain. Wes to, Le, gak usah banyak nolak lagi. Ibu sama bapak sudah gak sabar mau nimang cucu,” cerocos Bu suryo panjang lebar.


“Aku akan menikah tapi bukan dengan Tika, Bu, dan satu lagi, Ibu kan bisa nimang Sandi, Laksmi, Ayu, dan Cassandra.”


“Lah anak kangmas-kangmasmu udah pada gede, udah sibuk main sendiri-sendiri. Ibu pingin minang cucu yang masih bayi.”


“Nanti Biru yang bilang sama Mas Arga biar buat dede bayi lagi buat Ibu.” Biru nyelonong pergi meninggalkan ibunya yang masih duduk di teras musholla.


“Eh, Biru, ibu pinginnya anak darimu lo, Le,” teriak ibu gak mau kalah.


“Kita makan di sana saja, Pak, ada cafeteria. Nanti Biru susul Pakde Karto dan Bulek Nar buat makan bersama.”


“Lah itu ibumu kok ditinggal?” tanya Pak Suryo, langkahnya berhenti berniat menunggu istrinya yang terlihat kesulitan berjalan dengan kain jarik yang terlihat sempit dengan wiron halus di bagian depan.


Berbagai menu andalan sebuah cafeteria Bandara Soekarno Hatta terbentang di meja makan. Ayam bakar, pecel lele, gurame asam manis, cah kangkung sea food kesukaan Kapten Biru, sayur asem, serta tempe dan tahu goreng tak berhasil menggoda selera makan Kapten Biru.

__ADS_1


“Kok makannya dikit, Le? Ayo tambah lagi.” Bu Suryo menambahkan secentong penuh nasi ke piring Kapten Biru.


“Jangan, Bu, Biru sudah kenyang.” Tangan Kapten Biru gesit menangkap tangan Bu Suryo yang belum sempat menurunkan nasi dalam centong ke piring.


“Kenapa, Nak?” Pak Suryo ikut buka suara seolah tahu keresahan yang dirasakan bungsunya.


“Entahlah, Pak. Sepertinya perasaan Biru tidak terlalu baik hari ini.”


“Apa ada seseorang yang sedang kamu rindukan?” tebak Bapak.


Kapten Biru hanya menunduk tak menjawab pertanyaan ayahnya. Tenggorokkannya terlihat menelan ludah.


“Apa kamu jatuh cinta sama gadis Libanon?” tanya Bapak lagi.


“Eh ndak-ndak-ndak, pokoknya jangan! Ibu gak setuju!” Bu Suryo menggoyang-goyangkan kedua tangannya penuh semangat.


“Ibu ini lo kenapa?” Bapak memberi isyarat mata pada istrinya untuk diam.


“Ada gadis lain yang Biru cintai, Bu, bukan Tika.” Aku Biru terus terang.


“Oalah, Biru. Nak Tika iku kurang opo to yo? Ibu sudah seneng lo sama Tika.”


“Ibu harus lihat dulu pilihan Biru. Baru ibu bisa putuskan mana yang lebih baik.” Kapten Biru berkata penuh kesungguhan.


“Kamu benar, Le. Berumah tangga itu bukan urusan sepele, bukan urusan main-main, bukan bapak dan ibu yang jalani. Bapak akan ikuti pilihanmu, siapa pun dia yang penting bisa membuatmu nyaman dan bahagia seumur hidup.”


Kata-kata bapak berhasil membuat Kapten biru sedikit lega, senyumnya mengembang sempurna.


“Terima kasih, Pak.” Kapten biru mengambil tangan ayahnya dan segera menciumnya dengan takzim.


“Baiklah kalau begitu, ibu akan lihat dulu pilihanmu. Mana yang lebih cantik dan lebih baik. Nanti ibu putuskan mana yang paling cocok untukmu,” ucap Bu Suryo sambil mengusap kepala putranya.


“Kapan mau pertemukan kami dengan gadis pilihanmu, Cah Bagus?” tanya Bu Suryo tak sabar.


“Jika sudah waktunya,” jawab Kapten Biru pendek. Senyumnya menyiratkan banyak harapan untuk sang gadis pujaan.


Dimana kamu, Rengganis? Aku akan datang dimana pun kamu berada. Kan kubawakan cincin pengikat padamu kali ini agar tak ada lagi yang berniat merebutmu dari pelukku. Batin Kapten Biru sambil memandang sebuah cincin cantik bertahta berlian kecil berwarna biru tua. Oleh-oleh spesial untuk sang kekasih dari Negara Libanon.

__ADS_1


Bagaimana Kapten Biru dapat menemukan Rengganis? Kita tunggu episode berikutnya!


__ADS_2