MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
DAHLIA 1


__ADS_3

“Izin, Kapten, sudah ditunggu wadan di ruangan.” Suara Pratu Bikar, ajudan wadan memecahkan lamunan Kapten Biru.


Dalam hitungan detik Kapten Biru segera menukar celana jins dan kaus berkerah abu-abu yang dikenakannya dengan seragam dinas kebanggaan.


“Oke, untuk sementara kamu aku lupakan.” Kapten Biru menunjuk tas ransel yang ada di atas lemari pakaian inventarisnya sambil tersenyum simpul.


“Kapten, semangat!” Lettu Abi mengepalkan tangannya memberikan semangat pada atasanya dari balik jendela barak bujangan saat Kapten Biru telah berada di pintu pagar yang terbuat dari bambu bercat hijau merah.


Kapten Biru tersenyum dan membalas Lettu Abimanyu dengan kepalan tangan pula. Langkah kaki laki-laki muda itu begitu berwibawa dan penuh pesona seperti biasanya meski hatinya terasa berat, dengan langkah pasti ia bergerak melewati jalanan aspal batalyon menuju ruang kerja wadanyon.


Satu jam sudah berlalu, Kapten Biru masih berada dalam ruangan. Wajahnya tampak tegang.


“Kapten harus menerima sanksi atas tindakan yang kapten lakukan semalam. Saya memutuskan untuk menugaskan Kapten Biru dan beberapa anggota lain untuk ikut pam kerusuhan satu minggu ini. Cuti istimewa bisa diambil setelah tugas ini selesai.”


“Siap!” Kapten Biru tak mampu menolak tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan padanya.


Pupus sudah harapannya dapat menggunakan waktu cuti istimewanya untuk mencari gadis cantik idamannya di negeri gingseng. Otaknya benar-benar ruwet, bagaimana ia harus menghadapi ancaman ibu yang tak memberinya toleransi barang sedikit pun. Sepertinya ibu memang telah mengatur semuanya dengan baik hingga tak ada cela baginya mempertahankan keinginan untuk menghindari acara pertunangan ini.


“Oh ya, selamat ya, saya dengar dalam waktu dekat acara pertunangan Kapten Biru dan Letnan Satu Tika akan digelar.” Wadanyon mengulurkan tangannya.


“Oh iya, Dan, terima kasih. Tapi izin, itu hanya gosip, Ndan.” Kapten Biru menyangkal informasi yang diterima komandannya.


“Oh ya? Tapi saya dengar langsung dari Lettu Tika.” Wadanyon yang bernama Pak Andreas itu tampak bingung.


“Itu perjodohan, Dan. Sementara ada gadis lain di—” Kapten Biru menghentikan kalimatnya.


Pak Andreas tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


“Saya mulai paham, ada cinta sebelah tangan rupanya di sini,” ucapnya sambil tersenyum. Kapten Biru hanya mampu menundukkan kepalanya.


“Kejar cintamu jangan sampai kamu menyesalinya,” Pak Andreas menatap Kapten Biru.


“Siap!” jawab Kapten Biru.


Dalam benaknya berkecamuk pertanyaan bagaimana cara ia dapat mengejar cintanya jika waktu yang dimilikinya tidak lebih dari satu minggu sementara tugas pam kerusuhan pun tepat satu minggu.


“Aaahh,” desah Kapten Biru kesal pada dirinya sendiri. Laki-laki itu pulang ke barak dengan langkah gontai.


“Izinkan aku yang mengantikan tugas kapten,” pinta Lettu Abi.

__ADS_1


“Tidak Letnan. Ini tanggung jawabku,” tolak kapten Biru tegas.


“Tapi Dokter Rengganis—”


“Aku yakin masih akan ada jalan lainnya. Bagaimana pun caranya aku harus keluar dari keadaan ini.”


Letnan Abimanyu menatap kagum pada atasannya yang telah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri.


**


Panas matahari membakar kulit. Keringat mengalir deras disekujur tubuh Kapten Biru. Ia mempercepat langkahnya menuju barak, akhirnya tugas dadakan yang diterimanya berakhir hari ini. Bertepatan dengan jatuh tempo perjanjiannya dan ibu.


Sejak pagi ibu telah meneleponnya puluhan kali, Kapten Biru enggan mengangkatnya. Tak ada keinginannya untuk membahas masalah pertunangan yang sudah pasti harus digelar meski ia tak menyukainya itu.


Pelan Kapten Biru mencopot baret hijau di kepalanya menyusul dilepaskan pula kopel besar di pinggang, dikaitkannya asal di paku yang menancap di atas kepala dipan tempat tidur. Direbahkan tubuhnya yang masih bercucuran keringat di atas tempat tidur itu tanpa melepas sepatu di kaki. Kedua tangannya ke belakang, digunakan sebagai penopang kepala.


Dreeet. Lagi-lagi handphonenya bergetar. Kali ini Mas Arga yang memanggil. Setelah sebelumnya ibu, bapak, dan Mas Banyu yang bolak-balik menelepon. Tangan Kapten Biru tampak malas menekan tuts terima, tapi ia sadar, tak bisa terus begini, ia harus menghadapi semuanya dengan berani.


“Halo,” ucap Kapten Biru malas.


“Kamu dari mana saja, Dek. Di telepon kok susah sekali,” serang kangmas yang memiliki jarak lima tahun dengannya. Pada Argalah biasanya Kapten Biru berkelu-kesah sejak kecil. Arga selalu bersedia menjadi alibi Biru saat melakukan kesalahan dan berusaha menghindari kemarahan bapak.


“Oh gitu, pantas dari tadi pagi di telepon gak diangkat. Ibu masuk rumah sakit, dadanya sesak lagi tadi pagi. Apa kamu bisa pulang?” tanya Mas Arga penuh harap.


“Ibu sakit, Mas?” Ada rasa sesal di hati Biru. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan ibunya.


“Iya di rumah sakit 'Cahaya Bunda' sekarang. Pukul sebelas tadi baru mau dirawat tadinya bersikekeh nunggu kamu pulang.”


“Besok aku mulai cuti, Mas. Selesai mendapat surat cuti aku akan langsung pulang. Tolong jaga ibu ya, Mas.”


“Wah ibu pasti seneng banget dengernya, anak kesayangannya akan pulang.” Mas Arga bersemangat.


“Oke kalau begitu akan aku sampaikan ke ibu,” sambungnya.


“Baik, Mas. Salam sama Mbak Amira dan anak-anak ya.”


“Siap, Pak Komandan, hati-hati juga di jalan, kami menantimu.”


Klik, sambungan telepon dimatikan. Kapten Biru menarik napas panjang, bayangannya kembali ke masa itu. Masa di mana ia berada di tengah-tengah saudara laki-laki dan kedua orang tua yang selalu mengasihi mereka.

__ADS_1


Terlahir di dalam keluarga ningrat yang masih memegang teguh adat budaya membuat Biru tahu betul tata krama dan kepatuhan yang harus diperbuatnya pada orang tua terlebih ibu. Sejauh ini ia tak pernah mencoba melawan kehendak ibu, tapi permintaan ibu kali ini terasa begitu berat untuk dijalani.


Mendengar keadaan ibu yang tak sehat begini, jiwa Kapten Biru menjadi luluh-lantah. Ia tak mau penolakkannya membuat alasan untuk penyakit ibu menjadi lebih parah.


“Biarlah waktu yang akan menjawab,” Kapten Biru memejamkan kedua matanya yang lelah. Saat ini ia ingin bertemu dengan Rengganis, meski hanya lewat mimpi.


Udara pagi masih terasa membias di indra penciuman. Bau-bau rumput basah di lapangan apel cuti istimewa tak menghalangi langkah-langkah penuh semangat para prajurit yang akan mengambil surat jalan. Senyum kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka. Segala rencana indah telah tersusun rapi di memori. Keluarga, sanak, saudara, bahkan kekasih telah menanti mereka di suatu tempat.


Suara kelakar, tawa bahagia bergemuruh di sepanjang perjalanan pulang dari lapangan menuju barak bujangan. Perbincangan-perbincangan hangat mengalir dari mulut-mulut mereka dengan penuh semangat. Namun, tidak bagi Kapten Biru. Laki-laki itu hanya tersenyum beberapa kali menanggapi celoteh jenaka para anggotanya, sementara laki-laki tampan dengan tubuh atletis itu masih berkutat dengan pikiran kalutnya sendiri.


Bayangan bagaimana ibu yang sedang sakit menyambutnya dengan permintaan untuk segera menikahi Tika bagai beberapa sinetron yang sempat ditontonnya membuat kepalanya menggeleng beberapa kali.


“Mau langsung pulang, Kapten? tanya Lettu Abi yang sedang sibuk mengepak barang-barang bawaannya ke dalam sebuah tas punggung besar berwarna hitam.


“Iya, ibuku sakit.”


“Oh, saya berdoa semoga ibu kapten segera sembuh.”


“Aamiin, terima kasih, ya.” Kapten Biru menepuk pundak Abimanyu.


“Titip salam untuk kedua orang tuamu dan jangan lupa hati-hati di jalan.”


“Siap, Kapten!" Abimanyu berdiri dan memberi hormat pada atasannya.


Tiga jam Kapten Biru mengendarai motor besarnya. Bagai Ali Topan anak jalanan, laki-laki tampan itu dengan lihai menyalip beberapa kendaraan besar di depannya. Pikirannya kosong kini ia hanya ingin cepat sampai di rumah sakit dan memastikan keadaan ibunya baik-baik saja.


Bau obat menyengat sampai ke ubun-ubun kepala. Tanpa perlu bertanya, Kapten Biru dengan penuh percaya diri melangkah masuk menyusuri lorong demi lorong rumah sakit.


“Dahlia 1,” gumamnya membaca papan keterangan yang terdapat di depan pintu sebuah kamar rawat inap vvip.


Klek, knop pintu terbuka. Dua orang wanita serempak menoleh padanya. Ibu yang sedang terbaring lemah dengan rambut putihnya yang terurai panjang sedang asik berbincang dengan seorang wanita dengan seragam loreng lengkap plus baret hijau yang masih menempel di kepala.


“Biru, masuk!” perintah ibu.


Kaki Kapten Biru seakan menyatu dengan bumi tak dapat bergerak. Ia menghembuskan napasnya dan berniat lari meninggalkan tempat itu secepatnya.


Taraaaa ….


Sekian dulu episode kali ini, semangat menanti ya, jangan lupa bagi like, vote, dan komen cantiknya biar author semangat!

__ADS_1


__ADS_2