MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
NGAMBEK


__ADS_3

“Assalamualaikum.” Rengganis masuk ke dalam rumah mewah milik keluarganya yang berdominan kaca transparan dengan ketebalan 15 mili. Kaca yang dipesan langsung dari sebuah kota di Provinsi Jawa Timur yang terkenal sebagai pembuat kaca terbaik.


“Rengganis!” Nenek yang sedang duduk di ruang tengah segera meletakkan majalah di tangan dan berdiri menyambut cucu cantik kesayangannya.


“Duduk-duduk.” Nenek membimbing Rengganis untuk duduk di sebelahnya.


“Bik … Bik Unah!” Nenek berteriak penuh semangat.


Bik Unah yang sedang sibuk mengelap perabot di ruang kerja Pak Brata bergegas berlari menuju ruang tengah memenuhi panggilan Nenek.


“Ada, apa, Ndoro Putri?” Bik Unah menjawab kencang, meski jarak dirinya dan Nenek masih terpisah dua ruang besar lagi.


“Sudah saya bilang panggil Nenek saja masih diulang-ulang.” Nenek menyipitkan matanya saat Bik Unah masuk ke ruang tengah.


“Eh Non Rengganis pulang,” Bik Unah terlihat semringah melihat Rengganis yang duduk bersandar pada sofa empuk berwarna cream di depan TV berukuran sangat besar tanpa mendengar kata-kata Nenek barusan.


“Jus Mangga!” Bik Unah menebak terlebih dahulu sebelum Nenek membuka mulutnya untuk memberi perintah.


“Betul,” Nenek mengacungkan jari jempolnya pada Bik Unah.


Bik Unah bergegas kembali ke belakang, membuka pintu lemari es dan memeriksa satu per satu persediaan buah yang ada.


“Untung masih ada satu,” gumamnya sambil memamerkan deretan giginya di balik senyum.


Sementara di ruang tengah, Nenek membelai rambut panjang cucunya yang bergelombang dibagian ujung.


“Ada apa? Kok sepertinya gelisah? Sakit?” Nenek menempelkan punggung lengannya di kening Rengganis.


“Gak kok, Nek. Rengganis baik-baik saja.” Gadis cantik itu mengambil tangan Neneknya yang penuh dengan keriput tua lalu menggenggamnya erat-erat.


“Ambil libur lagi?” tanya Nenek penuh tanda tanya.


Sekali lagi Rengganis menggeleng.


“Besok kalau urusan Rengganis sudah beres, Rengganis langsung pulang ke desa.” Rengganis menatap wajah Nenek yang tampak kecewa.


“Apa masih karena laki-laki itu. Lelaki Libanonmu?” goda Nenek.


“Ih apaan sih, Nek. Bukan!” Rengganis memeluk neneknya.


Dalam pelukan yang nyaman itu Rengganis seakan menemukan ketenangan jiwa yang tak pernah di dapatkannya saat berada di desa Pringjaya. Di rumah ini, ia bisa manja, ia bisa berbuat seperti apa yang diinginkannya. Namun, saat di Desa, Rengganis paham betul bahwa dirinya adalah salah satu figure yang akan selalu diperhatikan dan ditiru oleh masyarakat sekitar. Untuk itu, Gadis cantik bermata bundar itu tak pernah lagi menunjukkan sikap kekanak-kanaknnya.


Dokter muda yang terbiasa hidup dalam kemewahan itu belajar untuk lebih mengontrol emosi dan membawa diri. Hingga kehadirannya sangat dianggap penting oleh masyarakat desa Pringjaya.


“Nek, aku ingin melanjutkan cita-citaku.”


Nenek melepas pelukan cucu kesayangannya itu. Kedua tangannya memegang pundak Rengganis dengan penuh kasih. Matanya yang berkantung menatap wajah cantik cucu semata wayangnya dengan lembut.


“Cita-cita yang mana?” tanya Nenek bingung.

__ADS_1


“Ih, Nenek.” Rengganis kembali memeluk Nenek dengan manja.


“Aku mau lanjutkan pendidikan dokterku, Nek.”


“Bagus itu, Nenek dukung.”


“Betul?” Kali ini Rengganis yang melepaskan pelukan mereka.


Nenek mengangguk berulang-ulang seakan mempertegas bahwa apa yang dikatakannya benar.


“Rengganis mau lanjutkan kuliah ke luar negeri.” Bola mata Rengganis berusaha membaca ekspresi yang akan diberikan Nenek.


“Beneran?” Nenek yang kini seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Hem,” Rengganis mengganguk sambil tangannya mencomot roti tawar berlapis selai nanas kesukaan Nenek.


“Mau kuliah ke negara mana? Jauh? Gak takut kangen sama Mami sama Papi sama Nenek?” Nenek terlihat sedih.


“Kangenlah, tapi kan gak lama. Rengganis akan belajar yang giat biar bisa cepat selesai studynya dan bisa pulang ke tanah air.”


“Mau kuliah di Oxford? Cambridge? Atau?” Mata Nenek menyelidik.


“Seoul National University!” jawab Rengganis mantap.


“Korsel?” Nenek kembali tak percaya.


“Sejak kapan beralih keinginan? Dulu katanya mau ke Paris sekalian belajar mode. Terus mau ke Inggris, sekarang ke Korea Selatan.”


“Bilang aja mau ketemu sama cowok-cowok ganteng di sana buat gantiin siapa itu namanya? Kapten … Kapten…? Kapten Siapa?”


“Kapten Biru.” Bik Unah yang baru muncul dari belakang ikut menjawab.


“Ih Bik Unah inget aja.”


Bik Unah nyengir.


“Ini, Non, jus mangganya.”


“Terima kasih, Bik. Bibik Apa kabar? Sehat?” Rengganis sengaja bertanya kabar untuk mengalihkan cerita Nenek.


“Eh, jangan cari sela deh. Nenek lagi bertanya tentang laki-laki yang tempo hari Rengganis ceritakan.” Nenek berusaha terus menyelidiki.


“Hahaha, iya, Nenekku sayang. Kapten Biru tak akan pernah terganti. Meski dengan oppa-oppa ganteng Korea, yakin deh.” Rengganis bergelayut manja di lengan Nenek.


“Kalau jawabannya begini baru Nenek lega.” Perempuan berambut putih itu tersenyum senang.


“Kok lega? Memang Nenek setuju kalau Rengganis pacaran sama Kapten Biru?”


“Nggak, Mami gak setuju!” Mami yang baru masuk ke ruang tengah kali ini ikut menyambar pertanyaan Rengganis dengan ketus.

__ADS_1


“Ih Mami apa-apaan sih?” Rengganis menoleh pada Mami seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat dan menciumnya.


“Iya, Mami kamu tuh datang-datang langsung sewot.” Seperti biasa, Nenek selalu membela Rengganis.


“Re, denger, Mami. Dia itu prajurit tentara, Re. Lihat sekarang, belum apa-apa aja kamu sudah ditinggal tugas jauh.” Mami ikut duduk di sofa.


“Mami, jodoh itu kan pilihan Rengganis, Mi. Walau Rengganis nikah sama laki-laki yang selalu ada di sisi Rengganis tapi kalau Rengganisnya gak suka kan sama aja, Mi. Tetap tersiksa. Mami mau anaknya tersiksa seumur hidup?” Rengganis membela diri.


“Ih kamu tuh ya paling bisa kalau disuruh jawab nasihat orang tua.” Mami mencubit hidung Rengganis seperti memperlakukan gadis kecil.


Rengganis tersenyum.


“Tapi bener kan, Mi? Coba Mami bayangkan hidup sama laki-laki yang gak Mami cintai. Bagaimana kira-kira perasaan Mami?” Rengganis berhasil memojokkan Mami. Sementara Nenek tersenyum sambil memberi kode pada cucunya.


“Ah pokoknya Mami gak setuju! Kamu kan bisa menikah dengan sesame dokter atau pengusaha saja, Re. Dicoba dulu, siapa tahu cinta itu bisa tumbuh. Sama Fattan contohnya?”


“Mamiiii,” Rengganis memasang wajah jeleknya.


“Loh dulu kan kamu suka sama Fattan, kan gak ada salahnya kalau sekarang suka lagi.”


“Apa-apaan sih, Mami.” Rengganis berdiri meninggalkan Mami, berjalan menuju kamarnya dengan membawa jusnya yang belum sempat diminum.


Mami memandang Nenek yang hanya bisa mengangkat kedua tangannya.


“Aku gak salah kan, Ma? tanya Mami pada Nenek.


“Kasian dia, harusnya kamu lebih bisa mengerti keadaannya,” nasihat Nenek.


“Jika memang berniat memberinya masukkan, katakan pelan-pelan. Lihat dia, istirahat saja belum sudah diserang. Perjalanannya jauh loh, Kan kasihan?” Nenek menunjuk lantai dua tempat kamar Rengganis berada.


Mami terdiam, ada perasaan bersalah dn menyesal di dalam hatinya. Wanita yang masih mengenakan blazer kuning gading itu berdiri berniat menyusul Rengganis. Tapi Nenek menarik tangannya dan membuat Mami mengurungkan niatnya.


“Nanti saja, biarkan dia tenang dulu. Baru kita mulai bicara lagi.”


Mami kembali duduk.


“Aku ketemu Fattan di depan. Sepertinya anak itu benar-benar mencintai Rengganis. Cucu kesayangan Mama pasti bahagia bila menikahi laki-laki yang amat mencintainya seperti Fattan.”


“Mama paham niat baikmu tapi biarkanlah Rengganis memilih jalan hidupnya sendiri.”


Mami mengangguk, menyetujui ucapan Ibunya itu.


“Kok Fattannya tidak disuruh masuk kalau ada di depan?” tanya Nenek.


“Sepertinya mereka hanya berbarengan saat pulang dari desa Pringjaya. Rengganis tak tahu jika Fattan mengawalnya sampai rumah,” ucap Mami.


“Tadi aku tawari masuk, tapi gak mau. Katanya buru-buru.”


Nenek mengangguk, berdiri sambil menyentuh pundak Mami sebelum pergi menuju ke paviliun belakang. Tempatnya biasa bersantai sambil memandangi ratusan ikan koi dalam kolam bening yang cukup besar.

__ADS_1


Sekian dulu ya! Sampai jumpa di episode berikutnya.


__ADS_2