
“Bu Bidan?” Fattan mendekati Bidan Maya yang masih berdiri mematung memandangi setangkai mawar putih di tangannya.
Bidan Maya menoleh, tampak sekali kehadiran Dokter Fattah membuatnya kaget.
“Ada apa, Bu?” tanya Dokter Fattan lagi.
“Eh tidak ada apa-apa, Dok.” Wanita berambut putih itu seperti berusaha menyembunyikan apa yang ia ketahui.
“Saya permisi dulu, Dokter.” Bidan Maya sedikit membungkuk setelah berusaha melewati Dokter Fattan yang berdiri dengan sorot mata penuh tanda tanya.
Dengan langkah seribu Bidan Maya berjalan melewati koridor yang diterangi bohlam berkelap-kelip yang tadi belum sempat ditukar Pak Hari dengan bola lampu baru.
Bidan Maya mengangkat tangannya berniat mengetuk pintu rumah dinas Dokter Rengganis. Dari balik kaca jendela nako, Bidan Maya memandang Rengganis yang masih asik membaca sebuah buku tebal bersampul hijau.
Wajah gadis itu terlihat sangat tenang, Bidan Maya tak berani mengganggu mood baik dokter muda itu.
“Mungkin bukan malam ini!” Bidan Maya melangkah pergi meninggalkan rumah dinas sederhana yang ditempati Dokter Rengganis.
**
“Dok,” Bidan Maya memasukkin kepalanya melalui celah pintu yang dibukanya sedikit.
Tak ada tanggapan dari Dokter Rengganis yang masih bertopang dagu di atas meja kerjanya. Mata gadis itu lurus ke depan tanpa satu kedipan sakali pun, Bidan Maya dapat memastikan dokter muda itu sedang asik bercengkrama bersama lamunannya.
Perlahan Bidan Maya masuk ke dalam ruang periksa dokter yang minim fasilitas itu, ia berusaha tak membuat Rengganis kaget.
“Dok,” sapanya lembut.
Tak juga ada respon, mungkin lamunan wanita cantik ini terlalu dalam.
“Dokter?” panggil Bidan Maya sekali lagi.
“Eh iya,” Renggansi gelagapan, tersadar aktivitas melamunnya tertangkap basah oleh Bidan Maya.
“Ada apa, Bu?” tanyanya sambil sibuk mengelus-elus pipinya yang tampak merah.
Bidan Maya duduk tepat di depan Dokter Rengganis.
“Ini,” Bidan Maya menyerahkan sebuah buku saku bersampul loreng army.
“Apa ini milik Kapten Biru? tebak Rengganis.
Bidan Maya menggangguk membenarkan.
“Maaf, saya baru memberikannya,” Bidan Maya merasa bersalah.
“Saya tidak tahu harus bagaimana memberikan note kecil ini pada Dokter?” Bidan Maya menunjukkan wajah tulusnya.
“Saya paham.” Dokter Rengganis memegang tangan Bidan Maya yang diletakkannya di atas meja.
“Saat saya siuman, buku ini saya temukan di samping saya terbaring, Dok. Mas Hasbi bilang, Kapten Biru baru saja kembali ke camp, beliau pamit besok pagi-pagi akan pulang ke batalyon bersama pasukan yag lain. Tapi maaf saya tidak tahu apa isinya, saya takut itu berisi hal yang sangat pribadi jadi saya memutuskan untuk tidak membacanya.”
Rengganis segera membuka lembar buku itu satu per satu dengan tergesa-gesa sangat tidak sabaran.
“Ya ampun, ini ada nomor teleponnya. Selama ini saya bingung mau hubungi kemana?” Wajah Rengganis terlihat ceria. Senyumnya penuh kelegaan.
“Dok,” Tiba-tiba Bidan Maya menyodorkan setangkai mawar putih yang telah layu.
“Waw, so sweet juga ternyata laki-laki dingin itu.” Rengganis mengambil mawar dengan kelopaknya yang mulai berguguran.
“Dia memberikan mawar ini bersama note itu ya, Bu?” tanya Rengganis dengan wajah berbinar-binar.
Bidan Maya menggeleng lemah.
“Itu—itu saya temukan di halaman puskes tadi malam, Dok. Bersama kertas ini.” Bidan Maya menunjuk sebuah kertas berwarna merah muda tak jauh dari tangkai bunga mawar itu tergeletak.”
“Se—semalam?” Mata Rengganis membulat.
“A—apa—” Rengganis memikirkan sesuatu.
“Ah tidak—tidak, tidak mungkin.” Perempuan cantik itu menggeleng seperti sedang mengingkari sebuah kenyataan yang terasa begitu pahit di hatinya.
Bidan Maya menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan sangat kasar.
“Dia melihatnya, Dok.”
__ADS_1
Wajah Rengganis menegang, apa yang dipikirkannya sepertinya memang benar-benar terjadi. Sementara Bidan Maya hanya mampu menjawab semua keraguan Rengganis dengan anggukan kepala.
“Tapi—tapi saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Dokter Fattan, Bu.” Nada Rengganis penuh kesedihan. Suaranya terdengar sumbang seperti ingin menangis mengeluarkan semua rasa penyesalan dan kejengkelan yang entah harus pada siapa dilampiaskannya.
“Saya paham, Dok.” Bidan Maya berusaha memberi kekuatan.
“Aku harus apa, Bu?” Mendung di sudut mata Rengganis nyaris menurunkan hujan badai.
“Mungkin ada baiknya kita membiarkan waktu menyembuhkan luka Kapten Biru dahulu, Bu Dokter, jika perasaannya sudah lebih baik baru kita jelaskan semuanya, saya berjanji akan membantu Dokter Rengganis sebisa saya.” Bidan Maya mencoba menenangkan Rengganis.
“Namun, sebelumnya bolehkah saya tahu perasaan Dokter yang sesungguhnya? Maaf jika saya lancang. Tapi—” Bidan Maya menyudahi kalimatnya.
“Dulu aku memang memiliki perasaan untuk Dokter Fattan, tapi itu hanya perasaan cinta ala gadis remaja, Bu. Namun, perasaan yang kumiliki untuk Kapten Biru berbeda. Debaran itu tak pernah kurasakan seumur hidupku salama ini.” Rengganis mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
“Saya mengerti sekarang, Bu Dokter. Saya pikir Dokter Fattan mempunyai perasaan yang lebih besar dari yang Dokter Rengganis pikirkan, dari tatapan Dokter Fattan menyiratkan ketulusannya untuk Dokter. Sebelum Dokter tiba kemari, senyum dan tawa Dokter Fattan tak sebahagia ini. Saya melihat senyum penuh cinta di bibirnya tadi malam saat sedang bersama Dokter Rengganis, karena itu saya tak ingin merusak perasaannya yang sedang berbunga-bunga. Saya memilih untuk tak memberitahukan semuanya pada Bu Dokter semalam sebab saya pun belum tahu hati Dokter Rengganis yang sebenarnya ,” jelas Bidan Maya.
“Seandainya semalam aku tahu Kapten Biru datang, aku pasti bisa menjelaskan semua kesalah pahaman ini, Bu.” Rengganis menatap wajah Bidan Maya lekat-lekat.
“Maafkan saya, Dok. Tapi saya tahu bagaimana hancurnya Kapten Biru semalam, saya tak ingin niat Dokter hanya menjadi penyulut kemarahannya.
“Jadi aku harus bagaimana sekarang?” Rengganis terlihat sangat putus asa.
“Baiknya Dokter istirahat saja dulu, saya akan kembali bekerja. Tenangkan hati dan perasaan Dokter, coba baca dan cerna semua yang ditulis Kapten Biru di sana. ” Bidan Maya menunjuk buku kecil dalam dekapan Rengganis.
Wanita berambut putih itu berdiri mendekati Rengganis yang telah dianggapnya sebagai putri manjanya sendiri, tangan Bidan Maya menepuk sayang pundak Rengganis dan melangkah pergi.
Tak ada yang bisa terbaca jelas dari hati gadis cantik itu, semua abu-abu. Dia kesal tapi tak tahu pada siapa? Dia kecewa tapi tak tahu siapa yang telah mengecewakannya? Dia sedih tanpa paham siapa yang telah melukainya. Mungkin semua salah waktu, waktu yang membuatnya terjebak dalam situasi yang seharusnya tak terjadi.
“Seandainya aku berada di kamar saja semalam, semua tak akan seperti ini.” Rengganis menggigit bibirnya.
“Ah seandainya bukan Dokter Fattan?” Wajah cantik Rengganis tenggelam di balik dua telapak tangan halusnya.
Perlahan gadis itu membaca kertas kecil yang ditemukan Bidan Maya semalam.
Maaf Cintaku tak bisa menunggu terlalu lama
-Biru Angkasa Permana-
Tangan Rengganis bergegas membuka satu per satu halaman pada buku saku yang ditinggalkan kapten Biru.
Tangis Rengganis meledak seketika, sakit terasa menghujam dadanya begitu rupa.
“Kapten,” Rengganis berlari meraih dompet pouch di atas meja kerjanya. Sambil berlari gadis itu mencari kunci mobil yang tersimpan dalam dompet besar berbahan kulit ular phyton itu.
“Mau kemana, Re?” Dokter Fattan melihat Rengganis berlari keluar dari puskes.
Seluruh mata mengikuti arah langkah Dokter Rengganis. Fattan mengejar Rengganis, hati laki-laki itu was-was apa yang terjadi pada gadis pujaannya itu. Dengan segera ia mengeluarkan mobil dari dalam garasi berniat mengejar Rengganis.
“Dokter,” Bidan Maya menghentikan Dokter Fattan.
“Ada apa, Bu?” tanya Fattan bingung.
“Saya ikut.” Bidan Maya membuka pintu mobil Dokter Fattan dan bergegas naik.
“Apa yang terjadi, Bu?” Dokter Fattan ingin tahu.
“Saya tidak bisa ceritakan di sini, yang penting kita ikuti dulu Dokter Rengganis.” Mata Bidan Maya fokus ke depan memandang mobil Rengganis yang melaju dengan sangat cepat.
Wanita paruh baya itu berpikir Rengganis akan kembali ke kota seperti yang pernah dilakukannya waktu itu. Namun, perkiraannya meleset. Rengganis membelokkan mobilnya ke kiri, menuju perkampungan.
Mobil Fattan tetap mengekori laju mobil Rengganis. Mereka tak ingin kehilangan arah kemana dokter cantik itu akan pergi.
“Ciiiit,” Mobil Rengganis berhenti di sebuah ruko milik Pak Yayan.
Fattan bergegas membuka pintu mobil.
“Maaf, Dokter, jangan.” Bidan Maya melarang Fattan untuk ikut turun.
“Tapi—”
“Nanti Dokter Rengganis marah, Dok.” Bidan Maya mengingatkan.
Fattan berpikir sejenak. Laki-laki itu tahu benar seperti apa Rengganis. Ditutupnya kembali pintu mobil yang telah terbuka sebelumnya. Kini mereka berdua hanya mengamati apa yang dilakukan Rengganis dari jauh.
“Saya mau telepon ke kota bisa, Pak?” tanya Rengganis pada Pak Yayan.
__ADS_1
“Oh iya Bu Dokter, silakan.” Pak Yayan mengantarkan Rengganis ke ruang kecil yang terdapat pesawat telepon di dalamnya.
“Maaf saya tinggal dulu,” Pak Yayan berlalu, kembali ke warungnya. Dokter Rengganis mengangguk.
Beberapa kali nada sambung berbunyi tanpa jawaban, Rengganis menghela napas panjang, jantungnya berdetak sangat keras. Pelan-pelan diletakkannya kembali gagang telepon ke tempatnya.
Rengganis kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan. Wanita itu berusaha sedikit mengurangi kebimbangan hatinya.
“Bismillah,” ucapnya sambil mengangkat kembali gagang telepon yang telah diletakkannya beberapa menit lalu.
“Tuuuut … tuuut….” Nada sambung berbunyi berulang-ulang.
“Hallo, selamat siang.” Suara yang teramat dirindukan Rengganis akhirnya mengudara.
Detak jantung Rengganis tak terhenti, gadis cantik itu tak bisa lagi mengeluarkan satu kata pun. Badannya terasa panas dingin, kepalanya mendadak pusing, dilengkapi dengan mata yang berkunang-kunang.
“Hallo, maaf dengan siapa ini?” Kapten Biru bertanya lagi.
Rengganis tak juga bisa memberikan respon. Mulutnya masih terkunci rapat. Ada sebuah kebahagiaan besar yang tiba-tiba meledak-ledak di hatinya. Kerinduan yang kian membuncah tiba-tiba terpecahkan.
“Kalau tidak mau bicara akan saya tutup,” ancam Kapten Biru.
Laki-laki ini selalu tegas terhadap siapa dan apa pun. Kaku dan dingin, namun sikap inilah yang membuat Rengganis tak bisa berbuat apa-apa saat panah cinta itu melesat tiba-tiba mengena di jantung hatinya.
“I—iya, ini aku.” Rengganis berusaha dengan keras menjawab kata-kata Kapten Biru.
“Siapa?” Kapten Biru pura-pura tidak tahu.
Sebenarnya tak perlu diragukan lagi, Kapten Biru tahu betul itu suara Rengganis, wanita yang teleponnya paling dinanti-nantikannya berminggu-minggu ini.
Siang malam kapten Biru selalu berharap Rengganis segera menghubunginya. Namun, hingga kemarin apa yang diharapkannya tak juga kesampaian. Sampai akhirnya Kapten Biru yang harus menyerah dengan segala kerinduannya. Dengan segala cara laki-laki bermata elang itu sampai di desa Pringjaya demi mewujudkan keinginannya berjumpa dengan Rengganis.
Namun, sayang sungguh sayang. Kapten Biru tiba di saat yang paling tidak tepat. Ia melihat sesuatu yang seharusnya tak ia lihat. Kesalahpahaman memasuki setiap jengkal otaknya. Rasa kecewa yang teramat sangat begitu melukai jiwanya.
Lalu untuk apa saat hatinya telah hancur berkeping-keping melihat kemesraannya dengan laki-laki yang tak dikenal Kapten Biru itu terjadi, Rengganis menghubunginya melalui pesawat telepon umum.
Harga diri Kapten Biru begitu terluka, ia tak ingin lagi mengingat kisah cinta yang dikiranya hanya sepihak itu. Pantas saja Rengganis tak mau menghubunginya selama ini, sudah ada pria lain di sana yang mendapatkan cinta dan perhatian Rengganis. Itulah yang bersemayam dalam benak Kapten Biru.
“Aku Rengganis,” jawab Dokter muda itu masih berusaha menata hatinya.
“Oh kamu, ada apa?”
“Aku tahu kamu marah, aku tahu kamu kecewa. Maafkan aku! Ini hanya kesalah pahaman. Apa yang kamu lihat semalam tidak seperti apa yang kamu pikirkan.” Rengganis mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
“Aku? Semalam? Aku rasa kamu bermimpi. Aku benar-benar tidak paham apa yang kamu bicarakan.” Kapten Biru memegang dadanya yang terasa sakit.
“Mas, aku—” Rengganis tak tahu apa yang harus dikatakannya lagi.
“Aku apa?” tanya Kapten Biru.
“Aku ingin ketemu, aku ingin kamu tahu semua.”
“Aku sudah tahu semua, semuuuuuaaa.” Kapten Biru menegaskan.
“Lagi pula, besok lusa aku akan berangkat ke Libanon bersama pasukan garuda lainnya. Semoga kamu bahagia ya. Wassalamualaikum” Kapten Biru menutup telepon.
Kapten Biru terduduk, tubuhnya bersandar lemah ke dinding bercat hijau muda. Mulutnya memang sanggup mengatakan hal menyakitkan itu namun hatinya tak bisa. Ia ingin mendengar dan mendengarkan lagi suara merdu Rengganis.
Sesekali ia menyesali telah menutup telepon dengan terburu-buru. Seharusnya ia lebih sabar agar bisa lebih lama mendengar suara yang sangat dirindukannya itu.
“Tidak,” Kapten Biru mengingat jelas ekspresi bahagia yang keluar dari raut wajah Rengganis dan laki-laki muda itu. Pedihnya bertambah berlipat-lipat.
Sementara Rengganis pun masih berada dalam kamar telepon, tangisnya tumpah tak tertahan. Sakit yang mengiris-iris hatinya membuatnya membenci Fattan.
“Semua karena kamu,” ucap Rengganis pelan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah Renganis dapat menjumpai Kapten Biru?
Apakah Kapten Biru mau memaafkan Rengganis?
Akankah Fattan hanya diam melihat wanita yang dicintainya sejak lama mulai menjauhinya?
Tunggu kelanjutannya!
__ADS_1