MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
SILUET SENJA


__ADS_3

Perlahan senja mulai datang. Matahari keemasan turun menepi di jalan bebatuan desa Pringjaya. Bulatnya mentari sore membuat rona merah terbakar di ujung langit yang tampak orange kekuningan hari itu.


Satu per satu warga desa kembali pulang ke rumah mereka masing-masing membawa kelelahan juga kebahagiaan tersendiri. Bangunan yang diperuntukkan sebagai pusat kesehatan desa, kini tampak sangat berbeda dari sebelumnya.


Nuansa kusam dan sedikit horor kini berganti dengan sebuah pusat kesehatan yang cerah dan tampak seperti bangunan baru. Mulai dari atap yang telah diperbaiki sampai genting yang telah selesai di warnai dengan warna coklat terang yang terlihat sangat hidup bersanding dinding putih mengkilap yang separuhnya masih tampak basah.


Aliran arus listrik dan beberapa bola lampu ditukar dengan bohlam yang lebih besar dan terang. Bunga-bunga yang sebelumnya tak ada pun kini tertata dan berbaris rapi di setiap sudut.


Kursi tunggu serta beberapa bangku taman yang terbuat dari bambu di cat warna-warni cerah kini siap digunakan para warga yang akan menunggu giliran penanganan.


Rengganis, Dokter Fattan, Bidan Maya, Pak Hasbi dan beberapa penduduk desa yang lain dengan tingkat ekonomi yang cukup mampu tak segan-segan mengeluarkan isi tabungannya untuk perbaikan sarana kesehatan bersama itu.


Lauk-pauk, sayur-sayuran serta beberapa camilan sehat siang tadi pun semua tak ada yang di beli, warga dengan segala inisiatif dan keikhlasan menyediakannya sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.


“Hah … akhirnya,” ucap Rengganis sambil bertepuk tangan kecil beberapa kali.


Fattan yang berada di sisinya juga ikut mengamati perubahan tampilan wajah baru puskes itu.


“Kamu pasti betah di sini ya?” tanya Fattan.


“Kamu juga betah kan?” Rengganis bertanya balik.


“He’eh. Tapi aku tetap harus pulang besok. Senin aku wajib ikut apel pagi di dinkes.” Fattan menghembuskan napasnya dengan berat.


“Eh tapi aku masih punya janji loh sama kamu, ngajak keliling dan lihat-lihat kampung.”


Rengganis mengingat sesuatu. Gadis itu tampak terdiam beberapa saat. Hatinya terasa sakit dan rapuh membayangkan semua hal yang pernah dilakukannya berdua dengan Kapten Biru waktu itu.


“Itu bukan janji, Re. Itu rencana. Jika kamu akan merasa sakit saat melakukannya maka tak perlu kita kerjakan.” Fattan tersenyum penuh pengertian.


“Tidak—tidak, kita akan berkeliling. Tapi aku punya ide yang lebih baik, bagaimana kalau kita tak berkeliling melalui jalur yang sama dengan yang aku lalui waktu itu. Kita akan cari sudut-sudut lain yang aku pun belum pernah datangi. Bagaimana? Sekalian tambahan penggalaman juga untukku.”


Fattan mengangkat kedua bahunya tanda menyerah.


“Aku sih seneng banget. Tapi kalau ada yang marah bukan salahku ya?” Fattan meledek Rengganis.


“Hahaha, tenang saja, dia tak akan berani marahin aku lagi.”


“Loh kok bisa begitu? Jangan bilang kalian berdua putus? Wah ini berita besar, berarti ada harapan buatku ya?”


“Ye, aku juga gak bilang begitu.” Rengganis nyelonong pergi meninggalkan Fattan yang masih meringis sendirian. Hatinya berbunga meski ukurannya sangat kecil.


“Ayo, kita lewat sini.” Rengganis berhenti, menoleh ke belakang dan memberi perintah pada Fattan yang masih saja berdiri untuk segera mengikutinya.


“Kita jalan kaki?” tanya Fattan.


“Iya.” Rengganis mengganguk untuk mempertegas jawabannya.


“Yakin?” Fattan seperti meragukan rencana Rengganis.


“Yakin dong. Kenapa? Kamu gak kuat?” ledek Rengganis.


“Bukan aku yang gak kuat. Takutnya nanti kamu yang gak kuat.” Fattan berjalan mendahului Rengganis.

__ADS_1


“Dengar kalau nanti capek, jangan minta gendong ya,” teriak Dokter Fattan meledek Rengganis lagi.


“Enak aja, hahaha. Kamu gak tahu aku pernah jalan lebih jauh dari rute ini, sambil dikejar-kejar penjahat lagi.” Rengganis mengingat momen-momen pahit yang pernah dialaminya di awal-awal masa dinasnya di sini.


Beruntung saat itu ada Kapten Biru, laki-laki perkasa yang selalu siap membela dan melindunginya.


Kerinduan Rengganis pada laki-laki itu terasa semakin berat. Bayangan wajah Kapten Biru yang tersenyum manis selalu mondar-mandir di pelupuk mata Rengganis. Tiba-tiba semangat Rengganis hilang. Gadis cantik itu berjalan pelan, matanya menatap ke bawah.


Fattan paham betul apa yang sedang dipikirkan wanita cantik yang telah membuat cintanya bertepuk sebelah tangan itu.


“Rengganis, coba lihat!” Fattan berdiri di ujung jalan. Tangannya menunjuk sebuah siluet indah yang terlihat dari pantulan sinar matahari sore pada pepohonan pinus yang berjejejer rapi di sisi jalan kecil bebatuan desa.


Rengganis berjalan cepat mendekati Fattan dengan segala rasa penasarannya.


“Berdiri di sini!” perintah laki-laki itu.


Rengganis menuruti arahan Fattan. Arah mata gadis muda itu mengekor pada jari telunjuk Fattan.


“Subhanaallah, cantik betul,” bibir Rengganis menganga indah melihat bayangan hitam yang memantul diantara warna kuning dan jingga.


“Aku akan seperti itu,” ucap Fattan.


“Maksudmu?” Rengganis menolehkan kepalanya ke tempat Fattan berdiri kaku.


“Aku akan selalu menjadi bayangan hitam yang menyempurnakan cahaya keemasan yang indah itu.”


“Udah deh, pakai bahasa yang jelas aja dong, aku lagi malas mikir tau.” Rengganis bersungut-sungut. Fattan tertawa kecil melihatnya.


Bagi Fattan memandang Rengganis dari sudut mana pun akan terlihat cantik dan menarik. Walau pun saat gadis itu memajukan binirnya seperti itu. Semua yang ada pada rengganis adalah pesona yang telah dikaguminya sejak masih remaja.


“Malah bengong?” Rengganis masih menunggu penjelasan Fattan.


“Besok aku akan pergi, tapi kemana pun aku pergi saat kamu membutuhkanku aku akan segera kembali ke sini. Ingat! kamu tidak sendiri. Aku akan selalu menjadi bayanganmu.”


Rengganis terdiam, bibir merah mudanya terkunci rapat.


“Aku mengalah bukan karena tak ingin memperjuangkanmu, Re. Mungkin kamu tahu seperti apa besarnya cintaku padamu. Semoga kamu bisa merasakan itu. Namun, aku mengalah. Semua demi kebahagiaanmu.”


Fattan berhenti, menghela napas panjang, lalu berusaha melanjutkannya kembali.


“Jika kamu butuh aku, aku siap kapan pun itu, Re. hatiku ini telah menjadi milikmu, aku tak ingin memberi tempat untuk wanita lain. Bila masih ada sedikit saja harapan untukku, saat itu juga aku pasti akan datang. Meski cintamu yang sesungguhnya masih milik dia, aku rela. Aku akan menunggu sampai kamu bisa menerimaku dengan segenap jiwa.”


Rengganis tertunduk, perlahan wanita itu duduk bersila, memandang view rupawan yang tadi ditunjukkan Fattan.


“Sejak kapan kamu tahu tempat yang indah ini?” tanya Rengganis.


Fattan ikut duduk bersila seperti yang dilakukan Rengganis. Tangannya mencabuti rumput-rumput gajah yang ada di sisinya.


“Beberapa hari setelah kedatanganku ke sini.”


“Jahat, kenapa baru membaginya denganku hari ini.”


“Karena aku ingin kamu mengingatku saat melewati jalan ini. Mengingat semua kata-kata yang aku ucapkan saat ini."

__ADS_1


“Ingat, bahwa ada aku yang selalu menantimu,” lanjut Fattan.


“Jangan bodoh, kamu baik, tampan, mapan, pintar. Akan ada banyak wanita cantik dan baik yang menggilaimu kenapa harus menjadi bayangan hitam yang melengkapi sesuatu yang tak pasti. Jika saja kamu bisa menjadi pemandangan lain yang mungkin akan lebih indah.”


“Karena siluet cantik ini tak akan sempurna tanpa bayangan hitam sepertiku.”


“Fattan, aku mohon.”


“Tidak. Aku tidak bisa Rengganis.” Fattan tak ingin Rengganis mendebatnya.


Akhirnya mereka berdua hanya berkutat pada kebisuan untuk seberapa lama. Merasakan kekacauan hati mereka masing-masing. Isi kepala yang ruwet dan kacau.


“Ayo kita pulang, hari sudah mulai gelap,” ajak Fattan.


Rengganis berdiri mengikuti langkah Fattan.


“Fattan, maafkan aku, kamu akan tetap menjadi teman terbaikku kan?”


Fattan mengangguk tanpa menoleh.


Malam itu Rengganis dan Fattan tak dapat tidur dengan nyenyak. Mereka hanyut dalam perasaan dan khayalannya masing-masing. Banyak yang mereka pikirkan hingga tak sadar purnama sebentar lagi akan jatuh berganti dengan songsongan fajar di langit timur.


Pagi telah memanggil sekawanan ayam jantan untuk berkokok. Rengganis kembali ke dalam balik selimutnya setelah melakukan tugasnya sebagai seorang muslimah.


Tangannya menggenggam sebuah alat perekam suara yang tempo hari diberikan Kapten Biru padanya.


Rekaman yang telah diputarnya berulang-ulang kali. Terutama saat hatinya resah dan merasa kesepian.


Rengganis Sayang, saat kamu mendengarkan suaraku ini, aku pasti sedang merindukanmu dengan teramat sangat. Aku ragu wanita cantik sesempurna dirimu mampu mempertahanku di dalam hatimu. Akankah kamu bisa menjalani hubungan yang sulit ini? Sampai akhirnya aku akan pulang, menjemputmu sebagai ratu yang bertahta seumur hidup dalam hatiku.


Asal kamu tahu, Rengganis. Aku sangat menyukai semua yang ada pada dirimu. Sikap konyol dan ekspresi ketakutanmu. Semua aku ingat dengan jelas dalam benakku. Setidaknya itu adalah pengobat rindu saat kita jauh.


Doakan aku segera kembali, doakan aku selamat sampai berada di depan penghulu bersamamu.


Rengganis tertawa setiap mendengar rekaman itu.


“Aku pasti menunggumu.” Rengganis berdiri, memasukkan beberapa benda ke dalam tasnya.


**


“Saya pamit dulu, maaf jika selama di sini merepotkan Bu Bidan dan yang lain.” Fattan menyalami satu per satu staf medis di Puskesmas Pringjaya.


“Rengganis.” Fattan melihat Rengganis datang dari arah belakang ruang tunggu.


Penampilannya yang keren pasti membuat semua orang berdecak kagum melihatnya. Sebuah tas jinjing cukup besar mengait di lengannya.


“Kamu mau kemana, Re?” tanya Fattan bingung.


“Aku ikut denganmu. Kita akan ke kota bersama.”


Semua yang hadir dibuat terpana. Tatapan bingung keluar dari seluruh sudut mata mereka.


Apa sebenarnya yang akan dilakukan Dokter Rengganis?

__ADS_1


Tunggu lagi ya!


Bye….


__ADS_2