MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
DUA KUTUB BERBEDA


__ADS_3

“Waaahh, pasti ini gadis cantik yang bernama Re-Re?” Nyonya A-Young terdengar kesulitan menyebut nama Rengganis.


“Reng-ga-nis.” Gadis cantik berambut lurus berwarna hitam pekat itu membantu mengeja namanya sendiri.


“Aera,” Yu Jin tersenyum pada ibunya, seolah ingin mengenalkan nama ciptaannya pada Ny. A-Young yang terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.


Mata sipit dan tulang pipi yang menonjol membuat wajah istri Tuan Choi yang sudah tak muda lagi ini terlihat tirus dan cantik.


Penampilannya yang tak kalah modis dari gadis-gadis muda menyatakan bahwa wanita ini bukan sekadar seorang ibu rumah tangga biasa.


Ya, Nyonya A-Young adalah seorang konsultan bisnis yang ternama di kotanya tak heran kecerdasannya melihat peluang bisnis membuat laki-laki muda ini tercatat sebagai chaebol muda yang kaya raya.


Ada satu hal yang membuat Nyonya A-Young berbeda dari konsultan bisnis lainnya. Ibu cantik ini tak memiliki kantor resmi di luar. Ia menggunakan rumah sebagai tempatnya bekerja, tak heran ibu dari Choi Yu Jin ini selalu memiliki banyak waktu di rumah.


“Ya-ya Aera, masuk!” Nyonya A-Young menarik tangan Rengganis untuk masuk ke rumah super mewah keluarganya. Tak canggung-canggung wanita paruh baya itu merangkul punggung Rengganis sampai ke sofa berwarna cream yang empuk. Sementara Yu Jin mengikuti mereka dari belakang dan ikut duduk tepat di hadapan Rengganis.


Nyonya A-Young menutup wajah Rengganis dengan tangannya dalam jarak satu jengkal.


“Omma,” teriak Yu Jin protes.


Nyonya A-Young dan Rengganis tertawa bersamaan. Sejak tadi mereka sadar mata Yu Jin tak pernah lepas dari wajah Rengganis.


“Kau jatuh cinta, ha!” ucap Nyonya A-Young dalam bahasa Korea aksen Seoul yang kental.


Yu Jin tak menjawab pertanyaan ibunya, laki-laki bertubuh tinggi itu hanya mengacak-acak rambutnya sendiri sambil memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya yang teratur.


“Tunjukkan kamar Aera dan ingat bawa semua barang-barang ini hati-hati!” perintah Nyonya A-Young sambil membelalakan matanya jenaka.


“Uoke.” Tanpa menunggu perintah dua kali, Yu Jin berdiri dan menyeret koper besar milik Rengganis. Sementara gadis cantik dibelakangnya sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menghormati nyonya rumah dan kemudian bergegas mengikuti langkah kaki Yu Jin yang telah berada beberapa langkah di depannya.


Sebuah ruang besar terbentang setelah tubuh indah Rengganis meliuk diantara lorong pendek berdinding kaca dengan penerangan remang-remang bagai malam bulan purnama.


Redup dan romantis. Lilin-lilin berukuran besar berbaris memberi kesan cantik dilorong setengah lingkaran. Lilin berwarna putih itu bertahta di atas wadah cantik terbuat dari besi bercat emas tertempel di dinding-dinding kaca.


Mata Rengganis tak bisa berpaling dari sebuah lukisan besar yang terpasang di dinding lebar ruang tengah rumah keluarga Choi. Nyonya A-Young sangat cantik dengan balutan hanbook sutra berwarna hijau muda berpadu kuning terang. Sementara Tuan Choi senior dan Tuan Choi junior bertaksedo hitam rapi.

__ADS_1


“Gaja,” Yu Jin memberi kode pada Rengganis untuk segera mengikuti langkahnya melewati ruang tengah dengan dua stel sofa mewah berukuran jumbo warna merah dan kuning emas.


Sebuah lemari kaca transparan besar bersandar di salah satu dinding ruang. Penuh dengan piala dan medali-medali penghargaan. Dua guci besar menghias di dua sisi buffet kaca yang terlihat elegant itu.


Kaki Rengganis terus mengikuti langkah Yu Jin termasuk saat berbelok ke kiri dan menemui dua buah pintu berdaun kembar.


Sebuah pintu menuju ruang kerja Nyonya A-Young yang di design seperti sebuah ruang kantor seorang CEO dan pintu satu lagi mengarah ke bagian belakang rumah dengan daun pintu terbuat dari kaca transparan yang tertutup hordeng mewah berbahan tebal berwarna coklat muda.


Sedikit saja berbelok dari pintu kaca itu sebuah kolam renang berwarna biru seakan membuat mata Rengganis kembali mengingat halaman belakang rumahnya yang selama ini sesalu menjadi tempatnya bersantai sekadar menenangkan pikiran di saat penat.


"Itu kamarmu!" Yu Jin menunjuk sebuah kamar yang berseberangan langsung dengan kolam renang tersebut. Kamar cantik yang berdinding kaca di ketiga sisinya dan satu sisi bertembok beton.


Dinding-dinding kaca lebar yang ditutupi gordeng putih berbelah kupu-kupu. Sebuah springbad mewah bertutup badcover lembut berwarna coklat berpadu putih terlihat dari tempat Rengganis dan Yu Jin berdiri saat ini.


“Lewat sini!” Tangan kanan Yu Jin menarik tangan Rengganis, berusaha membantunya menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu-batu berwarna-warni yang disaign cantik.


Dibentuk selayak jembatan kecil yang menghubungkan rumah utama dan kamar spesial tamu yang sengaja dibuat private dan istimewa.


Rengganis hanya mampu terdiam memandangi tangannya yang kini digenggam erat Yu Jin. Saat menemukan kesempatan secepat kilat Rengganis melepaskan tangannya dari tangan gagah Yu Jin. Yu Jin tersenyum, pemuda itu bahagia melihat kedua pipi Rengganis yang merona merah.


“Sepertimu.” Yu Jin menatap halus ke wajah Rengganis.


Dokter muda itu tersenyum dan segera membuka handel pintu berusaha menghindari tatapan mata sayu milik laki-laki yang dengan sangat mudah terbaca isi hati dan perasaan pada dirinya.


“Tinggalah di sini selama yang kamu mau,” ucap Yu Jin tulus.


“Hmm,” Rengganis tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Maaf aku mau istirahat dulu, boleh?” pinta Rengganis halus.


“Oh ya, tentu, perjalanan jauhmu pasti membuat lelah. Aku tinggal, nanti ajumma akan datang ke sini membawakan makanan ringan dan jus mangga kesukaanmu.”


“Jus mangga?” Mata Rengganis terbelalak.


“YA, Jus mangga, aku tahu semua, omma sudah telepon mami Aera, tanyakan semua yang menjadi santapan favoritmu.”

__ADS_1


“Kamsahamnida,” Rengganis tampak takjub dengan perlakuan hangat dan sambutan terbaik keluarga Tuan Choi pada dirinya.


“Jika ingin kemana saja, beri tahu aku ya, aku akan antar. Jangan pergi sendiri, aku khawatir.”


Kata-kata yang keluar dari bibir merah Yu Jin seakan membawa kenangan rengganis pada pemuda sixpack yang telah mencuri semua perhatiannya selama ini.


Pemuda yang selalu mengkhawatirkan keadaannya, pemuda yang selalu berani mengambil resiko berbahaya demi menyelamatkannya, pemuda tangguh yang selalu bisa Rengganis andalkan.


“Hey,” Yu Jin menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Rengganis persis apa yang dilakukan ibunya tadi saat di ruang tamu.


“Oh ya,” Rengganis gelagapan.


“Aku pergi!” Yu Jin menutup pintu setelah sebelumnya memberikan lambaian tangan dan kiss bye kocak ala bocah kecil.


Rengganis tertawa sendirian membayangkan tingkah lucu dan kekanak-kanakan Yu Jin.


Kapten Biru dan Yu Jin adalah dua laki-laki dengan tipe yang bertolak belakang bagai dua kutub yang berlawanan. Dua laki-laki yang sama-sama memiliki kharisma yang kuat.


Kapten Biru yang telah berhasil menarik perhatian Rengganis dengan sikap dingin dan misteriusnya. Sikap tertutup dan tak bisa ditebak yang selalu berhasil membuat dada Rengganis berdebar setiap saat. Laki-laki tampan yang membuat Rengganis merasa terlindungi dan beremosi naik turun.


Sementara Yu Jin laki-laki hangat yang menunjukkan ketertarikannnya begitu terang-terangan. Laki-laki humoris yang mampu membuat hati Rengganis yang kacau balau menjadi riang. Kehidupan dan latar belakang keluarga yang jelas sementara Kapten Biru bagaimana keluarganya pun Rengganis tak pernah tahu. Kapten tampan itu tak pernah sekali pun berniat mengenalkan dirinya pada keluarga besarnya. Tak pernah atau belum? Rengganis tak pernah tahu.


Dreet. Sebuah panggilan masuk di telepon genggam milik Rengganis. Tangannya segera meraup semua isi tas yang tadi dijinjingnya. Sebuah handphone keluaran merk ternama kini berada di genggaman tangan gadis cantik itu.


“Nomor baru,” ucapnya membaca panggilan tak terjawab yang baru saja mati tanpa sempat diangkatnya.


Ting, sebuah pesan masuk terbaca dari notifikasi.


“Selamat istirahat, Nona Cantik. Aku siap menjagamu meski sampai ke dalam mimpi.”


Rengganis tersenyum tanpa berniat membalas pesan yang baru masuk itu. Dipandangnya sebuah stiker lucu bergambar seorang bocah laki-laki berkewarganegaraan sama dengan Yu Jin dengan seikat bunga-bunga mawar mekar berwarna putih.


Gadis itu masih tersenyum diletakkannya telepon genggam miliknya itu di atas perut. Pelan-pelan matanya terpejam. Bulu-bulu mata lentik itu tertutup rapat menyembunyikan garis matanya.


Kelopak mata yang berhias eye shadow berwarna cream bergradasi bersama warna baby pink itu mengatup sempurna. Membiarkan Rengganis hanyut ke dalam mimpi indahnya.

__ADS_1


Bagaimana kisah selanjutnya? Tunggu dengan sabar ya! Bye.


__ADS_2