MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
MENUNGGU SUARAMU


__ADS_3

Puskesmas Desa Pringjaya hari ini penuh dengan keceriaan. Semua warga terlihat antusias membantu pelaksanaan kerja bakti membersihkan dan memugar bagunan PKM ini. Mereka saling bahu-membahu satu sama lain. Senyum keramahan khas warga desa menghias bibir-bibir mereka.


Pekerjaan berat pun terasa menjadi ringan saat dikerjakan dengan hati riang gembira seperti ini. Rengganis dan Fattan yang berasal dari keluarga berada pun tak segan-segan ikut turun langsung memungut sampah dan membersihkan sanitasi sekitar lingkungan puskes. Tak ada rasa jijik dan canggung lagi.


Tin-tin. Klakson mobil pack-up berwarna putih tiba-tiba memecahkan suara canda tawa para warga yang sedang bekerja.


“Apa itu, Bu?” tanya Pak Hari yang berdiri tak jauh dari Dokter Rengganis.


“Saya juga tidak tahu tuh, Pak.”


“Biar aku.” Fattan bergerak cepat menuju mobil yang terparkir tepat di depan jalan masuk Puskes Pringjaya.


“Buat Dokter Rengganis katanya,” teriak Fattan dari jauh.


“Saya tidak pesan apa-apa.” Rengganis menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya tampak bingung.


Sopir mobil pick-up turun bersamaan dengan kernetnya yang terlihat lebih muda yang sedang sibuk membuka handle pintu mobil.


“Ini pesanan Bapak Brata Warman untuk Dokter Rengganis.” Pak Sopir menjelaskan dengan nada yang sedikit keras agar terdengar Rengganis yang masih berdiri di sisi kanan ruang tunggu yang jauh dari tempatnya berdiri.


“Papi,” Rengganis kaget, dia terdiam sesaat seperti sedang berpikir.


Gadis itu perlahan melangkahkan kakinya mendekat ke arah mobil putih itu.


“Apa itu, Pak?” tanya Rengganis penasaran.


“Peralatan medis, Bu.” Pak Sopir membuka sedikit penutup bak mobilnya.


Fattan dan Rengganis bersamaan melongo ke dalam bagian bak yang penutupnya sedikit diangkat oleh Pak Sopir.


Rengganis melotot kotak bertulis Edan USG Dus 3, Body Checker alat analisa, dan beberapa alat medis lain dengan jumlah harga yang boombastis terlihat memenuhi bak mobil itu.


“Papiii,” Mata Rengganis berkaca-kaca.


Kemarin saat pulang Rengganis memang sempat bercerita tentang keinginannya untuk menyumbangkan sebagian uang tabungannya untuk membantu membeli peralatan medis yang tak lengkap di puskes tempatnya bekerja. Mengingat PKM ini merupakan satu-satunya pusat pengobatan yang bisa diandalkan warga desa Pringjaya dan sekitarnya.


Untuk mendapatkan pelayanan medis yang lebih baik sepertinya warga desa sini tak akan sanggup menuju kota. Apalagi jika dalam keadaan kritis dan darurat. Belum sampai ke kota resiko yang harus mereka ambil adalah kehilangan nyawa di perjalanan.


Rupanya curahan hati Rengganis didengarkan Papi baik-baik. Laki-laki dermawan itu iba dan tak tega melihat kelu-kesah yang disampaikan oleh putrid semata wayangnya. Untuk itu hari ini Pak Brata Warman rela menggelontorkan dana yang tidak sedikit jumlahnya untuk membantu masyarakat desa Pringjaya.


“Terima kasih, Pi.” Rengganis merasa bangga memiliki orang tua berhati mulia seperti Mami dan Papinya.


“Minta tolong bawa ke dalam ya, Pak.” Rengganis sedikit menyingkir mempersilakan Pak Sopir dan kernetnya mengangkat barang-barang yang dibawannya dari kota ke dalam puskes.


Beberapa warga desa segera mendekat untuk membantu membawakan barang-barang dalam bak mobil, begitu pula dengan Pak Hari, laki-laki paruh baya itu dengan cekatan memimpin Bapak-bapak lain membawa barang-barang medis itu dengan penuh kehati-hatian.


“Aku masih tidak percaya ada alat-alat itu di sini sekarang.” Rengganis menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Kamu hebat, Rengganis.” Fattan terlihat takjub.

__ADS_1


“Bukan aku yang hebat, tetapi Papi.” Rengganis melebarkan senyumnya.


Bidan Maya mendekati Rengganis dan memeluknya.


“Beruntung benar kami mendapatkan dokter hebat seperti Dokter Rengganis ini,” pujinya tulus.


Beberapa teman seperjuangan Rengganis di puskes seperti Mbak Katmia pun tak segan-segan menjabat tangan Dokter Rengganis erat-erat serta mengucapkan jutaan terima kasih dengan mata berkaca-kaca.


“Semua sudah diletakkan di dalam, Bu Dokter, kami langsung kembali ke kota,” ucap Pak Sopir.


“Terima kasih ya, Pak. Tolong sampaikan terima kasih pada Papi,” pesan Rengganis.


“Pasti, Bu,” jawab Pak Sopir bersemangat.


Mobil Pick-up putih itu mundur perlahan-lahan hingga mendapati jalan berbatu dan segera memutar, menghilang di terjalnya jalan itu. Seiring dengan perginya mobil pembawa barang-barang yang sangat berharga bagi PKM itu, Gendis, anak Pak Yayan datang dengan sepedanya.


Pak Yayan yang melihat itu langsung berdiri, melepaskan gagang cangkul dari tangannya.


“Ada apa, Nduk?’ tanyanya tak sabar.


“Tadi ada telepon buat Bu Dokter dari Kapten Biru. Beliau menunggu di sana, 15 menit lagi akan menelpon kembali,” lapor Gendis.


Kepala Pak Yahya tampak mencari-cari keberadaan Dokter Rengganis. Sementara Rengganis yang ternyata berdiri tak jauh dari sana mendengar apa yang dibicarakan Gendis segera mendekat.


“Ulangi, Dis,” pintanya.


“Tadi Kapten Biru telepon katanya mau ngomong sama Bu Dokter, teleponnya ditutup dulu setelah 15 menit Kapten Biru akan telepon lagi.” Gendis mencoba menjelaskan dengan napas tersengal-sengal.


“Benar, Bu,” jawab Gendis ikut bingung.


“Ayo, kalau begitu kita harus bergegas.” Rengganis segera berlari ke dalam mengambil kunci mobilnya.


“Biar saya antar saja pakai motor, Bu Dokter biar lebih cepat,” tawar Mbak Katmia.


“Oh begitu, lalu Gendis?”


“Saya naik sepeda saja, Bu. Kalau sampai di sana telepon berbunyi silakan diangkat, ada Guntur di sana, Adik saya,” jelas Gendis.


“Baiklah kalau begitu.” Rengganis berpamitan pada para warga yang ditemuinya untuk pergi sebentar terutama pada Pak Yayan.


Sementara dari jauh Fattan hanya memandang dengan mata sendu. Ia dapat melihat betapa besarnya rasa cinta Rengganis pada Kapten Biru hingga begitu bahagianya ia mendapat telepon laki-laki itu. Baru kali ini Fattan melihat rona merah di pipi Rengganis. Dari prilakunya terlihat jelas wanita terpandang itu melupakan segalanya demi rindu yang jauh di seberang samudera sana.


Rengganis turun dari boncengan Mbak Katmia dengan hati berdebar-debar, ini kali kedua dalam hidupnya duduk di belakang pengendara sepeda motor. Masih dalam nama yang sama, Kapten Biru.


Jika pengalaman pertamanya naik sepeda motor dengan diboncengi Kapten Biru untuk menghindari para berandal desa kali ini alasan Rengganis bersedia duduk di saddle motor beat biru putih milik Mbak Katmia agar segera sampai ke rumah Pak Yayan demi menunggu telepon Kapten Biru.


Gelisah di hati Rengganis semakin menjadi, telepon yang ditunggunya tak juga terdengar.


“Belum ada yang telepon kan, Dik?” tanya Rengganis pada Guntur untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


“Belum, Bu Dokter,” jawab Guntur sambil menggelengkan kepalanya. Remaja yang masih duduk di bangku SMP ini terus memperhatikan gelagat Rengganis yang terlihat sangat cemas.


“Sudah hampir setengah jam dari telepon pertama, seperti yang diceritakan Gendis tapi tanda-tanda Kapten Biru akan meneleponnya kembali sepertinya tidak ada,” Rengganis melirik jam tangan mewah yang melingkar indah ditangannya.


“Belum telepon juga, Bu.” Mbak Katmia ikut masuk ke ruang telepon.


“Belum,” Rengganis menggelengkan kepalanya dengan rasa kecewa. Mereka keluar duduk di kursi warung sederhana milik Pak Yayan.


Rengganis melihat Gendis mendekat ke arah mereka dengan sepedanya. Gadis itu seperti sedang menduga-duga apa yang terjadi.


“Belum telepon ya, Bu Dokter?” tanyanya.


“Iya,” Rengganis menjawab pendek.


“Apa mati lampu ya?” Gendis segera mengecek aliran listrik lewat stop kontak yang berada di belakang pintu masuk warungnya.


“Hidup,” gumamnya sambil memandang lampu warung yang menyala terang di siang hari.


Gadis itu segera mematikannya kembali.


“Duduk dulu, Bu. Mau saya buatkan teh?” tawarnya.


“Tidak usah, tidak apa-apa.”


“Baiklah,” Gendis mengangguk mengerti. Gadis itu menyeka keringat di keningnya sambil berlalu masuk ke dalam rumah.


Lama Rengganis terdiam melamunkan apa yang sedang terjadi. Ia sadar betul tingkahnya mungkin terlihat sangat konyol saat ini. Tak ada lagi jaim alias jaga image yang selama ini dia kenal. Semenjak mengenal Kapten Biru, Rengganis telah banyak mengalami perubahan sikap.


Dari yang semula merupakan gadis manja yang tak bisa hidup susah kini menjadi gadis mandiri yang lebih bisa menempatkan diri dimana pun ia berada. Yang semula berimage gadis super power dengan semua kesempurnaan kini tak lagi begitu, terkadang dokter cantik itu terlihat lucu dan penuh kekurangan saat berhadapan dengan Kapten Biru.


“Silakan diminum dulu, Bu.” Gendis meletakkan dua buah es teh dalam gelas besar.


“Cuma ada ini.” Gigi putih gendis berbaris ketika ia nyengir kuda di hadapan Rengganis.


“Terima kasih ya.” Mbak Katmia meneguk satu gelas es teh itu hingga habis sepertinya sejak tadi ia telah menahan rasa hausnya.


Melihat betapa segarnya minuman dingin itu mengaliri kerongkongan Mbak Katmia, Rengganis mulai tergoda. Tangannya menjulur berusaha meraih gelas yang terlihat mengembun karena tekanan dingin dalam gelas itu.


Pelan-pelan ujung gelas mendekati bibirnya yang indah. Tinggal beberapa senti lagi saat pesawat telepon itu berbunyi nyaring.


Kriiiiing. Rengganis mengurungkan niatnya untuk menegak air teh dingin yang sangat menggoda itu. Gelas kaca berukuran besar itu kembali diletakkannya kembali. Gadis muda itu segera berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke ruang telepon lagi.


Dengan penuh getaran, tangan Rengganis meraih gagang telepon dan melekatkannya di telinga.


“Halo, Assalamualaikum.” Rengganis memberi salam.


“Alaikumsalam. Rengganis?” Suara berat Kapten Biru menggema dari dalam pesawat telepon.


Hayo apa yang akan dibicarakan Kapten Biru pada Rengganis?

__ADS_1


Sabar ya! Kita tunggu kelanjutan kisahnya di episode mendatang!


__ADS_2