MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
YANG PERNAH SINGGAH


__ADS_3

“Ciiit,” Sebuah mobil Mitsubishi Pajero Sport Dakar White Pearl keluaran terbaru berhenti di depan puskes desa Pringjaya.


Kaki jenjang sebelah kanan seorang wanita turun dari pintu mobil yang terbuka lebar. Sepasang kaki indah berbalut jins belel dengan ujung terselip di dalam sepatu leather boots on wooden stairs merk Milica Drulovic mengijak kukuh di atas tanah perkarangan puskes terpencil itu.


Rambut panjang hitam dengan sentuhan gulungan ombak di tepi-tepinya berpadu cantik dengan wajah oval yang tersapu make up bernuansa natural girly. Semua mata memandang takjub. Langkahnya mengundang decak yang tak berkesudahan dari pasien-pasien yang sedang duduk mengantri giliran.


“Dokter Rengganis?” ucap Bu Riri dan Mbak Katmia bersamaan.


Rengganis tersenyum. Wanita cantik itu menunduk menyapa seorang pasien yang membawa bocah kecil berusia empat tahunan. Tangannya dengan cekatan mengambil beberapa potong roti yang berada dalam paperbag berukuran kecil dijinjingan tangannya.


“Ini ambil!”Dokter Rengganis menawarkan beberapa roti pada anak-anak lain yang sedari tadi ikut memperhatikan mereka. Bocah-bocah lugu itu dengan cepat melompat dari kursi ruang tunggu berlari mendekati Dokter Rengganis. Wajah ceria tergambar di wajah mereka.


“Terima kasih Bu Dokter Rengganis.” Serempak mereka berucap. Rengganis tampak kaget, anak-anak itu memanggil namanya dengan sangat fasih.


“Kalian masih mengingatku?” Dokter Rengganis takjub. Hampir sebulan ia meninggalkan kampung ini. Beristirahat total di rumah mengembalikan keadaannya yang memburuk belakangan ini.


Enam bocah kecil itu mengangguk, tangannya sibuk membuka plastik kemasan pembungkus roti sebuah toko bakery ternama.


“Enak, Bu Dokter.” Salah seorang anak berbaju sedikit kebesaran berkata dengan jujur.


Dokter Rengganis ikut tertawa melihat anak-anak itu begitu menikmati makanan pemberiannya.


“Bagaimana keadaan Bu Dokter?” Seorang pasien bertanya pada Rengganis.


Dokter muda itu berdiri.


“Bu Retno adiknya Pak Hari ya?” tanya Rengganis. Suara Retno yang serak-serak basah begitu mudah untuk diingatnya.


Retno menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum ramah.


“Saya baik, bagaimana dengan Bu Retno dan keluarga?”


“Alhamdulillah kami semua baik-baik juga, Bu. Cuma ini si Asty Cenung pileknya gak sembuh-sembuh.” Retno memukul pelan jidat seorang bocah berkulit hitam manis dengan jidat yang sedikit lebar, mulutnya asik mengunyah roti meski beberapa kali harus terhenti karena menghisap cairan di hidungnya yang kecil.


Gadis itu nyengir mengetahui namanya beberapa kali disebut sebagai bahan obrolan Dokter rengganis dan Ibunya.


Roti di tangannya telah habis, Asty Cenung menarik-narik rok panjang motif bunga-bunga kecil yang dikenakan Retno. Retno menunduk memasang telinganya lebih mendekat ke mulut Asty yang masih sibuk mengunyah.


“Hus,” Retno mengedipkan matanya, memberi isyarat agar Asty tak merengek meminta roti tambahan dari Dokter Rengganis.


Gadis cantik itu seperti mengetahui apa yang terjadi. Rengganis mengambil beberapa roti yang tersisa dalam paperbagnya dan membagikannya lagi pada anak-anak yang wajahnya terlihat masih berharap mendapat jatah bagian.


Beberapa orang tua bergerak mendekati putra-putri mereka. Dengan tubuh menunduk dengan penuh hormat dan kesantunan, mereka memohon maaf dan merayu anak-anak untuk mengembalikan roti yang telah diberikan Dokter Rengganis untuk kedua kalinya itu.


“Tidak apa-apa, Bu. Beneran gak papa. Biar buat mereka. Saya senang lihat mereka bahagia. Saya masih punya beberapa di mobil. Gak papa.” Rengganis melarang anak-anak yang berniat mengembalikan roti namun dengan wajah memelas masih menginginkan roti digenggaman tangannya.


“Terima kasih, Bu. Maaf jadi ngerepotin Bu Dokter.” Bu Haji ikut bersuara. Salah seorang cucunya ada dibarisan anak-anak itu.


“Tidak apa-apa Bu Haji? Bagaimana kabarnya? Baik?” tanya Rengganis ramah.

__ADS_1


“Asam urat saya ini kayaknya kumat lagi, Bu,” cerita Bu Haji Desmi. Salah satu penduduk desa Pringjaya yang memiliki kehidupan lumayan mampu. Wanita ini aktif di kegiatan masjid dan kegiatan sosial desa lainnya.


Rengganis pernah memeriksa keluhan asam uratnya sebelum peristiwa menakutkan itu terjadi.


“Nanti biar kita cek lagi ya, Bu Haji.” Rengganis tersenyum manis.


“Bu Retno terima kasih atas bantuan waktu itu hingga Kapten Biru dan teman-temannya bisa menemukan kami atas laporan Bu Retno.” Retno yang diucapkan terima kasih malah manyun.


Ia mengingat jelas peristiwa sebulan lalu. Peristiwa yang sempat mengegerkan warga desa. Namun, sejak peristiwa menakutkan itu terjadi tak ada lagi berandal kampung yang berani menunjukkan dirinya. Semua biang rusuh desa yang sering mengganggu, merampok dan maling sudah tak ada lagi.


“Jangan bilang gitu Bu Dokter, saya ndak ngelakukan apa-apa kok, Bu. Beneran.” Retno menjawab dengan malu-malu.


“Wah rupanya ada wanita cantik yang datang, pantas mentari agak redup hari ini. Rupanya ia sedang cemburu padamu, Rengganis.” Seorang laki-laki tampan keluar dari ruang pemeriksaan umum.


“Fattaaan?” Rengganis terbelalak. Ia tak pernah menyangka laki-laki yang pernah menjadi cinta monyetnya tiba-tiba hadir di hadapannya.


“Kamu dokter juga?” Rengganis berjalan mendekati laki-laki berkulit putih dan bertubuh tinggi dengan jas dokter melekat indah di tubuhnya.


Fattan mengangguk, mengangkat kedua tangannya setinggi dada. Seolah-olah sedang menunjukkan jawaban atas pertanyaan Rengganis dengan gerakan sederhananya itu.


“Demi kamu,” jawab Fattan dengan wajah semringahnya.


“Ah,” Rengganis meninju lengan Fattan.


Mereka berdua asik merasakan atmosfer kehangatan yang membawa memori remaja mereka kembali ke ujung mata. Tanpa mereka sadari puluhan mata memperhatikan mereka.


“Ah maaf, Bapak/Ibu.” Rengganis menundukkan kepalanya saat menyadari obrolannya dengan Fattan membuat beberapa pasien menunggu.


Fattan melambaikan tangannya, dari wajahnya yang tampan tersimpan rasa tak sabar untuk segera berbincang kembali dengan wanita yang telah dirindukannya bertahun-tahun itu.


Dokter cantik itu berjalan melewati koridor kecil di sebelah ruang tunggu. Lorong berukuran satu setengah meter itu kini terasa lebih luas. Rengganis merasakan ada sosok yang telah dikenalnya sejak lama di sini. Setidaknya rasa kesepiannya akan sediki terobati.


Bibir Rengganis senyum kecil mengingat betapa konyolnya pertemuan pertamanya dengan Fattan.


Sebagai siswa baru yang sedang mengikuti masa orientasi, Rengganis mendapat hukuman untuk menyanyikan sebuah lagu cinta, sangking gugupnya mulut cantik Rengganis tak mampu mengeluarkan suara barang sedikit pun.


Seorang senior perempuan marah besar, Kak Rilly namanya, Rengganis masih ingat betul kejadian itu.


Kak Rilly membentaknya habis-habisan hingga gadis manja itu menangis sesenggukkan. Fattan yang tak tahan melihat kejadian itu maju, mengambil alih hukuman yang seharusnya dikerjakan Rengganis.


“Duduklah, berhentilah menangis, aku yang akan menyanyi,” ucap Fattan seperti seorang pahlawan.


“Hey, kamu siapa? Kenapa jadi kamu yang mengatur semua?” Kak Rilly bertambah marah dan memberikan tugas tambahan yang harus mereka kerjakan bersama.


Sebagai siswa baru yang belum hafal seluk-beluk sekolah,mencari seratus jenis tanaman yang berbeda di lingkungan sekolah mereka menjadi tugas yang teramat sulit.


“Ingat, jika belum genap seratus, Kalian tak diizinkan kembali ke kelas,” teriak Kak Rilly berang.


Berdua mereka berkeliling sekolah mencoba menyelesaikan tugas yang diberikan sebelum bel berbunyi. Mereka tak ingin keterlambatan mereka mengumpulkan tugas akan menjadi alasan baru bagi para senior untuk mengerjai mereka.

__ADS_1


“Kita baru mendapatkan 57 jenis.” Rengganis mengusap peluh di keningnya.


“Sabar, kita akan dapatkan.” Fattan tersenyum menenangkan.


Bagi Fattan ini bukanlah suatu hukuman yang menyulitkan, ia bahagia menerima hukuman ini. Fattan memang telah menyukai Rengganis sejak pandangan pertama. Mendapatkan hukuman berkeliling sekolah berdua seperti ini menjadi berkah tersendiri buatnya.


“Sttt,” Suara seseorang di pojok ruang perpuskaan mengangetkan Rengganis.


“Sa—saya, Kak?” Rengganis menunjuk dirinya, meyakinkan bahwa yang dipanggil benar-benar dia.


Laki-laki bertubuh atletis itu mengangguk. Tangannnya memanggil Rengganis untuk mendekat.


“Ini.” Laki-laki itu membawa satu plastik besar daun dan bunga berbagai jenis.


“Waaah.” Rengganis takjub.


“Ambillah.” Laki-laki manis itu tersenyum.


“Terima kasih, Kak—”


“Arju,” Laki-laki itu memperkenalkan diri.


“Kak Arju,” ulang Rengganis.


“Arjuna Wirata, cari aku di lapangan basket jika butuh sesuatu.” Lagi-lagi ia tersenyum manis untuk adik tingkat yang telah membuatnya rela melakukan sesuatu yang tak dimintanya.


Fattan yang melihat kejadian itu mendekat.


“Apa ini?” Fattan meraih plastik di tangan Rengganis.


“Ini jebakan ya, Kak?” tuding Fattan.


“Silakan pikirkan begitu jika kamu mau,” Senyum manis Arju tiba-tiba berubah menjadi senyum persaingan.


“Sudah, yang penting kita selesaikan dulu tugas kita, terima kasih, Kak.” Rengganis menarik tangan Fattan untuk segera kembali ke lapangan bola tempat sekuruh murid baru berkumpul.


“Seratus-dua-belas,” hitung Rilly.


“Hebat! Kalian tahu tempat-tempat tumbuhan ini bisa ditemukan.” Mata Rilly memicing tak percaya.


Fattan dan Rengganis hanya menunduk.


“Pasti ada yang membantu?” Mulut Rilly siap-siap mengoceh lagi.


“Sudah, bagaimana pun mereka menemukannya itu tak penting, yang paling utama mereka telah berhasil menyelesaikan misi yang kita berikan.” Fardan, Sang Ketua Osis menengahi.


“Silakan kembali ke kelompok kalian Rengganis, Fattan.” Fardan terlihat begitu bijaksana, Cahaya matanya yang dalam menyiratkan rasa penasarannya pada sosok Rengganis. Siswa baru yang diterima melalui jalur prestasi dengan nilai tertinggi di kotanya bahkan tingkat provinsi.


Dengan background keluarga terpandang dan wajah yang cantik serta segudang prestasi membuat nama Rengganis melejit dengan pesat dikalangan peserta dan panitia orientasi.

__ADS_1


Banyak murid laki-laki yang berusaha menarik perhatiannya sejak di hari pertama, seperti yang dilakukan Fattan, Arju juga Fardan. Hal inilah yang membuat Rilly dan teman-temannya merasa tersaingi dengan kehadiran Rengganis yang tampil alami tanpa riasan yang berlebihan.


Pada akhirnya siapakah yang memenangkan cinta monyet di hati Rengganis? Mau Tahu? Penasaran? Tunggu lagi!


__ADS_2