MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
MENARA NAMSAN


__ADS_3

“Mau kah kali ini kamu menerima cintaku, Aera?” Yu Jin mengulurkan tangan kanannya berharap disambut Rengganis.


Ini bukan kali pertama Yu Jin mengutarakan perasaannya pada gadis cantik bermantel bulu dengan warna cream lembut di hadapannya. Ekspresi Rengganis tetap sama, menunduk tak berniat menjawab uluran tangan laki-laki yang telah menemaninya dengan setia selama hampir satu tahun ini.


Sebenarnya Rengganis tak pernah meminta Yu Jin melakukan semua hal untuknya. Namun, tanpa permintaan resmi dari Rengganis, sejak awal keberadaan Rengganis di negerinya, Yu Jin telah melakukan semua hal terbaik yang ia bisa lakukan untuk dokter muda itu. Tak pernah Yu Jin berkata tak ada waktu untuk Rengganis meski gadis itu bisa melakukan sendiri. Ke perpustakaan, ke mall, toko buku, bahkan ke konser musik pun tanpa diminta Yu Jin selalu menemaninya.


Hingga bagi semua rekannya mereka adalah sepasang kekasih yang selalu ada untuk satu sama lain. Tentu saja hal itu tidak pernah mengganggu Yu Jin, ia malah menikmati setiap ledekan yang datang dari teman-temannya.


Malam ini, laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit seputih salju itu berniat menggungkapkan kembali seluruh isi hatinya pada Rengganis. Besar harapan perjuangannya selama ini akan membuahkan hasil dan menggerakan kebekuan hati gadis cantik yang kini masih berdiam diri tak ada gelagat akan menjawab perasaannya.


“Aera, dengar! Aku tak ingin melihatmu terlarut dalam perasaan kosong yang tercipta untuk laki-laki yang tak ingin memperjuangkanmu selama ini,” serang Yu Jin.


Rengganis menangkat wajahnya, pipi mulusnya ternyata telah basah oleh butiran air mata yang turun tak tertahan dari sepasang netra cantiknya.


“Aku tahu sejak awal hatimu ada yang memiliki,” tebak Yu Jin pasti.


Rengganis menatap lekat-lekat wajah tampan laki-laki yang kini tak lagi bersimpuh di hadapannya. Yu Jin bergerak lebih dekat ke tempat Rengganis duduk. Laki-laki berbibir tipis dengan warna merah bata itu kembali berjongkok di hadapan wanita yang masih diam hanya sibuk memainkan jari-jemari lentiknya.


Pepohonon dan bunga-bunga indah di sekitar mereka terlihat berwarna kuning keemasan tertimpa cahaya mentari sore. Pemandangan sore menjelang malam di Namsan Park memang terlihat sangat memukau, suhu yang mencapai minus delapan derajat celcius sebenarnya cukup menambah dingin hati gadis cantik dengan syal warna hitam mengantung lekat menutupi leher jenjangnya. Sepatu boots, sarung tangan dan penutup telinga pun menjadi fashion item yang melengkapi penampilan gadis anggun berdarah ningrat itu.


“Lihat!” Yu Jin menunjuk matahari senja yang mulai terbenam.


Mata sayu Rengganis mengekor telunjuk Yu Jin. Warna lembayung dari terbenamnya matahari berpadu dengan siluet pepohonan dengan ranting-ranting coklat tak berdaun membentuk sebuah mahakarya yang terlukis dengan sangat elok.


“Aku ingin kesepian dan kesendirianmu akan berakhir indah seperti terbenamnya mentari senja itu.” Mata sipit Yu Jin ikut menatap pemandangan yan sedang diresapi Rengganis.


“Beralihlah pada cintaku, Aera. Aku tak ingin membiarkanmu larut dalam kesedihan yang panjang. Aku tak sanggup melihatmu memikul perasaan yang tak berbalas pada laki-laki egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri itu,” lanjut Yu Jin.


Wajah Rengganis bergerak menatap dua netra Yu Jin yang mengisyaratkan ketulusannya. Hati Rengganis bergetar, selama ini laki-laki yang berada di hadapannya itu tak pernah dianggapnya lebih dari seorang kakak. Namun, Yu Jin tak pernah mau menerima keputusan Rengganis, ia ingin memiliki cinta gadis cantik itu seutuhnya. Meski untuk mendapatkannya ia harus rela menunggu dalam kurun waktu yang lama dan melakukan semua hal besar. Termasuk mengikuti kepercayaan yang Rengganis anut.

__ADS_1


“Aku belum siap,” Akhirnya Rengganis memberanikan diri menentang gejolak yang mengalir di dalam dirinya.


Hmm. Napas panjang Rengganis terdengar lepas. Gadis itu berhasil sekali lagi melepaskan himpitan keadaan yang memaksanya untuk meninggalkan kesetiaannya pada Kapten Biru. Meski ia tahu kata-kata Yu Jin tak sepenuhnya salah.


Kapten Biru memang egois, tak pernahkah ia berpikir tentang bagaimana perasaanku? Batin Rengganis kecewa.


“Baiklah, aku akan tetap menunggu sampai kamu mengatakan ya untukku.” Yu Jin berdiri. Senyumnya mengembang, tetap semanis biasanya. Laki-laki yang terpaut tujuh tahun di atas usia Rengganis ini memang bisa dibilang cukup dewasa.


Ia tak pernah menunjukkan kemarahan dan kekecewaannya pada keputusan yang dibuat Rengganis meski berkali-kali hatinya harus mengenyam luka parah karena penolakan cinta gadis yang diimpi-impikannya.


“Ini,” Yu Jin memberikan dua buah gembok warna kuning berbentuk matahari.


“Apa ini?” tanya Rengganis, tangannya bergerak cepat mengambil dua buah gembok yang ditawarkan Yu Jin.


“Satu saja!” Yu Jin dengan konyolnya menarik satu buah gembok yang kini berada di genggaman Rengganis.


“His,” Rengganis tertawa.


“Gembok milikmu silakan kamu tulis atas namamu dan laki-laki itu. Sementara milikku biar kutulis namamu dan namaku.”


Alis mata Rengganis berkerut mendengar penjelasan Yu Jin. Namun, belum sempat ia menyela tangan laki-laki itu sekali lagi telah menyeretnya dengan lembut mengikuti langkahnya menuju spot gembok cinta.


Dari ujung Rengganis telah melihat ribuan bahkan jutaan gembok terpasang di sana. Satu persatu Rengganis menyentuhnya.


“Banyak orang percaya, jika menuliskan nama kita sendiri dan nama pasangan atau orang yang kita cintai di atas gembok lalu memasangkannya di area ini maka hubungan yang kita inginkan akan selalu langgeng.”


“Oh ya?” Rengganis pura-pura kaget mendengarnya. Padahal gadis itu sudah sejak lama mengetahui folklor tentang hal itu. Sejak SMA Rengganis sudah tergila-gila dengan drama Korea yang selalu membuatnya penasaran jadi sesuatu yang mustahil bagi penggila drama Korea tak mengetahui hal macam begini.


“Ya, tentu saja.” Yu Jin seolah sedang berusaha menyakinkan Rengganis.

__ADS_1


Kepala Rengganis manggut-manggut berpura-pura paham mencerna informasi baru yang diberikan Yu Jin padahal dalam hati gadis itu tertawa melihat ekspresi Yu Jin yang seolah paling tahu.


“Apa kamu pernah datang kemari bersama seorang gadis?” tanya Rengganis sambil menahan geli.


“Em … em.” Yu Jin seolah terjebak dalam penjelasan yang dia buat sendiri.


“Hahaha,” Rengganis tertawa terbahak tak kuat lagi menahannya, ekspresi bingung Yu Jin sangat menggelitik hatinya untuk tetap dapat menahan tawa.


“Ah, sudah ayo kita tulis. Aku akan menempelkannya di sana. Jangan ikuti aku ya, sekarang kita adalah pesaing,” ucap Yu Jin sambil melangkah mundur meninggalkan Rengganis yang masih menutup mulutnya menahan tawa.


“Oke siapa takut?” ucap Rengganis setengah berteriak.


Yu Jin tertawa. Matanya bersinar bahagia melihat wajah ceria Rengganis dari jauh.


“Kapten, entah apa yang sedang terjadi pada kita? Masa yang akan datang aku tak pernah tahu akankah kita dapat bersama lagi atau akan saling melupakan dan tak kan pernah dtakdirkan bertemu. Tapi aku akan tetap menulis namamu jelas-jelas di sini, karena hanya namamu yang dapat aku ingat seumur hidup.” Tangan Rengganis bergerak menulis huruf demi huruf di atas gembok cinta. Dilekatkannya kuat-kuat setelah sebelumnya mengecup pelan gembok berbentuk matahari itu.


Bes. Rengganis melempar kunci itu sejauh yang dia bisa, sesuai beberapa drama yang ia tonton anak kunci harus dilempas sejauh mungkin agar tak dapat ditemukan hingga tak dapat dibuka lagi.


“Loh kok dibuang?” Tiba-tiba Yu Jin sudah kembali berada si belakang Rengganis.


Gadis manja itu hanya mengangkat kedua tangannya sebagai jawaban.


"Kau pun harus membuangnya!” perintah Rengganis.


Di luar dugaan Yu Jin malah memasukkan anak kunci itu ke dalam dompet dan kembali memasukan ke dalam saku mantel hitamnya.


“Aku akan tetap menyimpannya di sini,” jawab Yu Jin enteng.


“Mengapa?” tanya Rengganis penasaran.

__ADS_1


Yu Jin hanya tersenyum penuh arti.


Bersambung di episode berikutnya. Jangan bosan untuk menunggu ya, Kak! Sampai ketemu di episode 44 ya.


__ADS_2