MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
SEANDAINYA KAU DI SINI


__ADS_3

“Cewek, mau dong digodain!” Empat orang pria yang sedang asik menegak minuman keras di sebuah persimpangan jalan tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada gadis manis yang melintas di depan mereka dengan menggunakan sepedanya.


Gendis diam saja seolah tak mendengar suitan-suitan nakal mereka. Kedua kakinya mengayuh sepeda lebih cepat secara bergantian. Gadis itu terlihat tak berniat menoleh ke arah mereka.


“Hey, Gendis, budek ya?” Seorang laki-laki bertubuh cungkring dengan jaket Levis berwarna belel dan terlihat sudah sangat kucel berdiri dan tiba-tiba menghentikan laju sepeda Gendis dengan memegang stang sepeda.


Gendis tampak syok terlebih saat tiga laki-laki lain ikut bangkit mendekat ke arahnya.


“Ikutan kami yok, dijamin bakal seneng.” Trimo nama laki-laki bertubuh gempal dan pendek dengan muka penuh lubang bekas jerawat. Bau alkohol tercium sangat kuat dari mulutnya. Gigi-giginya yang besar masih sibuk mengunyah kacang dua kelinci yang kulitnya terlihat bertabur di jalanan.


“Hey cantik-cantik bisu ya!" umpat Trimo kesal karena tak ada jawaban dari mulut Gendis.


“Ayo sayang turun, hari ini akan jadi hari yang indah buat kita berdua, aku sudah lama lo naksir kamu.” Pria kurus ceking berjaket Levis kembali menimpali.


Gendis meronta, berusaha menggoncang-goncang sepedanya kuat-kuat agar terlepas dari cengkaraman tangan Dion, si pemuda berjaket Levis.


“Eh berani ngelawan ya!” Bentak Dion.


Laki-laki itu merampas sebotol miras dari tangan Trimo dan berusaha menjejalkannya ke mulut Gendis.


“Toloooong—tolooong!” Gendis berteriak sekuat-kuatnya.


Der. Trimo mnendang sepeda Gendis kuat-kuat hingga gadis itu ikut terjatuh dan tertimpa sepeda. Tangan Gendis penuh dengan luka lecet. Gadis itu mengerang memegangi kakinya yang terkilir.


“Rasakan kau perempuan sok jual mahal.” Dion terbahak.


Kejadian seperti ini memang sudah mulai terjadi lagi sebulan belakangan. Preman-preman baru yang datang dari luar kampung mulai kembali meresahkan warga desa.


Kerinduan terhadap kehadiran pahlawan seperti Kapten Biru dan rekan-rekannya ternyata bukan hanya milik Rengganis tetapi warga Pringjaya pun memiliki kerinduan pada mereka.


“Ayo minum!" Dino memasukkan ujung botol alkohol di tangannya pada mulut Gendis. Tubuh gadis itu terlihat gemetaran. Ia benar-benar berharap seseorang akan lewat dan menolongnya kali ini.


Jalanan ini memang jarang dilintasi warga di waktu-waktu seperti ini terlebih setelah Dino dan kawan-kawannya menjadikan gubuk di pinggir sawah tepat di tikungan jalan kampung sebagai markas baru mereka, warga menjadi semakin enggan untuk lewat.


Tapi Gendis terpaksa melakukannya karena tak ada akses jalan lain untuk bisa sampai ke rumah pak Rahmat kalau tak lewat sini.


Keluarga Pak Rahmat sempat memesan beberapa kebutuhan di warung Pak Yayan pagi tadi. Berhubung Pak Yayan belum pulang berbelanja di kota terpaksa Gendis yang mengambil alih tugas itu. Ia tak pernah menduga nasibnya hari ini akan seapes ini.


Dep. Tiba-tiba tinjuan penuh isi telak mengenai pipi kanan Dino yang masih sibuk tertawa kencang. Tubuh kurusnya otomatis tersungkur, botol minuman yang dipegangnya terlepas.


“Sudah mulai berani kalian mengacau desa ini lagi ya?” ucap Kapten Biru geram.

__ADS_1


Tiga pemuda lain yang melihat kejadian itu mundur teratur. Mereka tahu siapa yang sedang mereka hadapi. Kehebatan dan ciri-ciri Kapten Biru sudah sampai ke telinga mereka.


Dino berusaha berdiri meski terlihat terhuyung ke kiri dan ke kanan. Jari tangannya menunjuk-nunjuk Kapten Biru seolah menantangnya untuk berkelahi.


“Dia milikku, mau apa kamu?” teriak Dino. Tangan kanannya menggenggam dan berusaha meninju Kapten Biru. Tapi nihil, tak ada yang berhasil ditinjunya. Dino hanya menghantam angin, fokusnya benar-benar kosong.


Kapten Biru menangkap tangan Dino dan memelintirnya ke belakang. Tiga teman Dino lainnya hanya mampu terdiam mematung menyaksikan kejadian itu.


Bruk. Kapten Biru mendorong tubuh Dino ke arah tiga orang temannya.


“Jaga perilaku kalian baik-baik. Ini terakhir kali saya melihat tindak buruk kalian di kampung ini. Jika saya masih mendengarnya, saya jamin akan menyulitkan sisa hidup kalian! Paham?” Suara berat Kapten Biru seolah menghujam tepat ke jantung mereka. Memukul mundur nyali keempat lawan-lawannya.


“Masih ada yang kurang puas?”


“Tidak, Pak, tidak. Ampun—ampun!” Mereka lari kocar-kacir meninggalkan Gendis dan Kapten Biru.


“Kamu tidak apa-apa Gendis?” Kapten Biru mengulurkan tangannya mencoba membantu Gandis remaja itu untuk berdiri.


“Kapten, terima kasih.” Gendis menggigit bibir menahan kakinya yang terasa nyeri.


“Ayo saya bantu.” Kapten Biru membantu Gendis untuk berjalan sementara tangan kirinya memegangi sepeda Gendis.


“Kita naik motor saya saja, sepeda kita tinggal di sini. Nanti biar kita minta tolong seseorang untuk mengambilnya.” Kapten Biru menyandarkan sepeda Gendis pada sebuah batang kelapa yang tinggi menjulang.


Sesampainya di depan rumah Pak Yayan, laki-laki yang masih sibuk menyusun barang dagangan yang baru dibelinya di kota itu segera berlari ke luar menyongsong putrinya yang di papah Kapten Biru.


“Ada apa ini, Kapten?” tanya Pak Yayan bingung.


“Kita cerita di dalam ya,” Kapten Biru menyerahkan tanggung jawab memapah Gendis pada Pak Yayan.


“Bu—Ibu, ini Gendis ditolongin dulu, Bu!” teriak Pak Yayan memanggil istrinya yang sedang berada di dapur belakang.


Tak lama Bu Yayan dan adik laki-laki Gendis ke luar ikut membantu Gendis.


“Silakan duduk dulu, Kapten,” tawar Pak Yayan.


“Oh iya baiklah. Coba dikompres air hangat dulu, Bu, kaki Gendis yang bengkak juga memar-memar di tubuhnya,” perintah Kapten Biru.


“Kalau begitu kami masuk dulu, Kapten.” Bu Yayan berdiri dan segera membantu putrinya bangun.


“Sebentar, Bu!” Gendis menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Kapten, bagaimana kabar dokter Rengganis?”


“Apa dokter Rengganis tidak ada di puskes?” Kapten Biru kaget.


“Apa Kapten tidak pernah mengetahui kabar Bu Dokter?”


Kapten Biru mengangguk pelan. Laki-laki tampan itu hanya mampu terdiam. Tak ada kata yang bisa menjawab pertanyaan Gendis. Pikirannya berkecamuk, ketakutan, kerinduan, kegelisaan dan kecemburuan tiba-tiba menyergapnya bersamaan.


“Bu Dokter sudah lama tidak di sini, Kapten,” jelas Gendis.


“Kami sangat merindukannya seperti kami merindukanmu,” sambungnya sedih.


“Kemana Dokter Rengganis pergi?” tanya Kapten Biru putus asa.


“Kami dengar melanjutkan kuliah ke luar negeri, tapi tepatnya dimana kami kurang paham, Kapten.” Bu Yayan ikut bersuara.


“Apa aku datang terlalu terlambat?” bisik Kapten Biru lirih.


“Yang sabar ya Kapten, kami semua berharap kelak kalian akan kembali bertemu dan dapat hidup bahagia bersama.” Bu Yayan berkata dengan tulus.


“Aku akan mencarinya kemana pun ia berada, Bu. Doakan aku bisa membawa dokter Rengganis kembali ke sini.”


“Kami akan selalu berdoa, Kapten.” Bu Yayan melirik sebuah sweeter berwarna biru buatan tangannya yang dititipkan pada dokter Rengganis waktu itu.


Laki-laki gagah itu menggenggam kuat sweeter di tangannya seolah sadar Bu Yayan sedang mengamatinya.


“Terima kasih untuk ini, Bu.” Kapten Biru menunjukkan sweeter yang dipegangnya.


“Saya senang melihat sweeter itu sampai ke tangan Kapten dengan selamat, itu artinya dokter Rengganis telah berhasil bertemu Kapten sebelumnya.”


“Kapten, cinta dokter buat Kapten begitu tulus. Jangan pedulikan semua laki-laki yang ingin dekat dengannya. Dokter tak pernah memikirkan mereka sama sekali. Saya tahu cintanya hanya untuk Kapten,” kata-kata Gendis berhasil menggetarkan hati laki-laki tampan itu.


Kenapa selama ini ia begitu tak percaya akan kekuatan cinta Rengganis. Tidakkah ia juga menyadari bahwa cinta yang dimilikinya tak kalah luas dengan yang dipunyai gadis cantik itu. Seandainya ia tak terlalu cemburu mungkin kejadiannya tak serumit saat ini.


Mata Kapten Biru tertunduk, ia ingat betul ibu hanya memberinya waktu satu bulan untuk membawa gadis idamannya ke rumah jika tidak ibu sendiri yang akan segera mengatur acara pertunangannya dan Tika melalui persetujuan dirinya atau pun tidak.


Laki-laki bermata tajam itu hafal dengan perangai ibu yang tak pernah bisa ditentang. Jika ia gagal membawa Rengganis ke hadapan ibu bagaimana mungkin ia bisa menghindari ikatan pertunangan yang sama sekali tak diharapkannya itu.


“Rengganis, seandainya kau ada di sini pasti aku akan memelukmu seerat mungkin, kan kugandeng tanganmu menuju hadapan kedua orang tuaku. Aku tak ingin berlama-lama lagi meresmikanmu menjadi pendamping di sisa hidupku.” Mulut Kapten Biru menggumam sendiri. Gendis ikut terdiam mendengar gumaman Kapten Biru yang sampai ke telinganya.


Mampukah Kapten Biru bertemu Rengganis dalam waktu satu bulan?

__ADS_1


Jangan lupa nantikan kisah seterusnya di episode mendatang!


__ADS_2