
Angin bertiup sepoi-sepoi, rambut indah Rengganis bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan lincahnya. Dokter muda itu duduk termenung di kursi taman yang bercat putih, bertudung rimbunnya dedaunan mangga harum manis, tepat di sisi kanan bangunan puskes desa Pringjaya, tempat tugas yang telah dtinggalkannya beberapa waktu lalu.
Jemari indah Rengganis tanpa sadar memutar-mutar handphone yang selalu tak bersinyal jika telah berada di desa ini. Selain akses jalan yang buruk, sinyal pemancar telepon pun belum berfungsi.
Jadi untuk menghubungi ke luar desa, masyarakat biasanya menggunakan telepon satelit yang hanya di miliki beberapa keluarga saja.
Mata bening Rengganis menatap jauh ke depan, bunga sepatu berwarna merah bata tampak rimbun. Beberapa kumbang hilir mudik di dekatnya. Gadis cantik itu tersenyum, tempat ini adalah spot terbaik di puskesmas saat ia ingin sedikit menghilangkan penat setelah bekerja selama ini.
Biasanya Astuti akan menyusulnya saat tahu Rengganis berada di tempat favoritnya ini. Ikut termenung atau sesekali bersenandung lagu-lagu era-90an. Rengganis benar-benar merindukan gadis lugu itu.
“Dicari-cari ternyata di sini.” Fattan tersenyum setelah berhasil menemukan orang yang dicarinya sejak tadi.
“Hey, apa kabarmu?” Rengganis tampak semringah dapat bersua dengan teman lama yang tak pernah diduganya dapat berjumpa di tempat ini.
“Aku baik-baik saja setelah jatuh bangun menata hati.” Fattan tertawa canggung.
“Menata hati pada apa?” Rengganis penasaran.
“Padamu.”
“Padaku?” Rengganis menunjuk dirinya sendiri. Dokter muda itu tertawa.
Rengganis yang berdiri di depan Fattan saat ini bukan lagi Rengganis lugu yang dulu tak pernah bisa membaca perasaan Fattan yang sebenarnya pada dirinya.
“Sering ketemu dengan teman-teman yang lain?” tanya Rengganis mengalihkan pembicaraan.
“Beberapa kali sempat bertemu dengan Annur,” wajah Fattan seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Annur? Temanmu yang pandai meniru suara artis-artis itu?” Mata Rengganis membulat.
Tatapan mata indah itu yang selalu membuat Fattan rindu tanah air. Meski telah mengarungi beberapa samudera dan menyinggahi banyak kota, Fattan tak pernah bisa lari dari kepakkan sayap cinta milik gadis berambut hitam tergurai di hadapannya ini.
Bukan tak pernah Fattan mencoba membuka hati pada kaum hawa lainnya. Namun, semua berakhir sama. Hubungan bias tanpa isi yang tak dapat kekal. Hanya sebatas kekaguman sesaat yang mudah sirna oleh hembusan angin.
Dulu semasa SMA Fattan pernah menjalin hubungan asmara dengan Faycha atas usul Farel.
Awalnya hanya ingin membuat Rengganis cemburu. Namun sayang, Rengganis tak pernah menunjukkan kekesalannya atas hubungan mereka.
Bahkan dengan lantang dan penuh suka cita Rengganis memberikan ucapan selamat pada Faycha yang kala itu baru saja resmi menjadi pacar Fattan.
Fattan ingat betul kejadian saat itu, Rengganis mengulurkan tangannya tanpa beban menjabat tangan Faycha di muka kelas dengan segala kepolosannya. Fattan hanya mampu mengumpat sebal dari bangku belakang melihat semua itu.
Rengganis yang mereka duga akan marah besar mengetahui hubungan Fattan dan Faycha malah terlihat cuek dan tak terpengaruh apa-apa.
Sejak saat itu, Fattan sadar Rengganis memang tak memiliki perasaan khusus pada dirinya. Fattan mundur teratur, tak lagi berniat mengungkapkan perasaannya.
Hubungan yang dijalin bersama Faycha menjadi semakin hambar. Usia jalinan itu pun hanya seumur jagung, tak cukup sesasi mereka mempertahankan komitmen untuk dapat bersama.
Kejenuhan Fattan atas sikap Faycha yang posesif dan egois membuat Fattan menjadi uring-uringan dan malas sekolah. Nilai dan prestasi Fattan menurun drastis, laki-laki itu terlihat sangat frustrasi.
Namun, syukurlah Fattan segera bangkit. Menjelang ujian nasional semangat belajar Fattan kembali membaik, ia dapat mengejar ketertinggalannya, dan pada akhirnya Fattan mampu menyelesaikan semua tugas dan soal ujian dengan hasil yang memuaskan meski tak kan pernah bisa melampaui nilai milik Rengganis.
“Ayo, ayo sekarang ceritakan padaku dimana kamu menyelesaikan kuliah kedokteranmu, Fattan? Aku benar-benar kehilangan kabarmu setelah acara prom night angkatan kita waktu itu.” Rengganis begitu bersemangat.
“Aku menyelesaikan kuliahku di Swiss, Re.” Fattan gemas melihat ekspresi wajah Rengganis yang menunjukkan rasa keingintahuannya.
“Oh ya? Keren! Karolinska Institute?”
Fattan mengangguk membenarkan.
“Luar biasa. Mulai sekarang aku akan belajar banyak darimu.” Naluri belajar Rengganis tiba-tiba bangkit.
“Aku ini adik tingkatmu, aku masuk fakultas kedokteran satu tahun di bawahmu, Rengganis. Satu tahun aku mempersiapkan diri untuk dapat diterima di sana. Harusnya aku yang banyak belajar darimu” Fattan terlihat sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Oh no-no, gak masalah siapa yang senior, pokoknya aku akan banyak bertanya padamu mulai sekarang, jangan malas mengangkat teleponku ya! Awas kalau tidak mau!” ancam Rengganis.
“Aku akan sangat senang menerima teleponmu.” Hati Fattan berbunga-bunga, inilah kesempatan yang telah ditunggu-tunggunya sejak lama.
"Aku senang kamu ada di sini.” Wajah Rengganis tiba-tiba terlihat mellow.
“Jangan bersedih, jika berat tak perlu diingat dan diceritakan kembali. Aku tahu semua ceritamu di sini.” Fattan memandang Rengganis penuh iba.
“Kamu pasti mengorek semua ceritaku kan? Ah ternyata jiwa pesaingmu masih ada.” Rengganis memaksakan diri untuk tertawa.
“Pesaing? Aku?” Fattan tampak kaget dinyatakan pesaing oleh Rengganis.
“Hem, kamu benci banget sama aku karena selalu mengalahkanmu kan?”
“Hahaha, Rengganis kamu salah. Aku selalu ikut bahagia dan bangga atas kemenanganmu."
"Seandainya kamu meminta, aku bahkan rela menyerahkan semua yang aku punya dan aku bisa untukmu.” Fattan berkata jujur.
Wajah Rengganis berubah menjadi merah padam.
“Hahaha lucu!” Rengganis pura-pura marah.
Fattan tertawa. Mendengar tawa renyah Fattan Gadis cantik itu pun ikut tertawa.
“Kamu pasti dengar semua dari Shylla, orang yang kamu anggap teman baik kan?”
Rengganis tersenyum getir.
“Ya, aku menganggapnya lebih dari saudara tapi dia menusukku dari belakang. Tapi itu dulu, aku tak pernah menaruh dendam padanya. Bagiku dia tetap sahabat terbaik.” Rengganis mengingat kejadian terakhir yang dilakukan Shylla padanya.
Hari itu, hari terspesial untuk para pelajar SMA Nusabangsa. Prom night digelar dengan sangat meriah. Semua siswa-siswi hadir menggunakan pakaian terbaik mereka.
Rengganis datang dengan gaun teranggun keluaran butik Mami. Dibuat khusus oleh designer ternama yang merupakan kolega Mami.
Saat asik bersenda gurau bersama teman-teman lain. Bik Wudah, penjaga kantin sekolah masuk ke dalam gedung mengenakan gaun yang sama persis dengan yang dikenakan Rengganis.
Betapa kagetnya semua orang yang hadir, baju Rengganis yang sangat indah dan terlihat mahal tiba-tiba menjadi gaun paling memalukan malam ini.
Shylla tertawa puas. Kejadian ini bukanlah suatu kebetulan. Jauh-jauh hari Shylla telah mempersiapkannya matang-matang.
Menjadi teman dekat Rengganis membawa keberuntungan tersendiri buatnya, dengan mudah ia datang ke butik Mami dan bertanya langsung gaun apa yang akan dikenakan Rengganis untuk pesta prom night mereka.
Setelah mengetahuinya, Shylla sengaja membeli bahan yang harganya jauh dari milik Rengganis dan menduplikatnya. Bik Wudah, diberi imbalan agar mau mengenakan gaun itu ke pesta malam ini.
Shylla tak sabar ingin melihat reaksi yang diberikan Renggania. Tapi lagi-lagi rencana Shylla harus buyar. Ia tak berhasil membuat gadis cantik itu berlari meninggalkan acara dengan rasa malu dan air mata yang jatuh berderai-derai.
Sangat santai Rengganis menyikapi semua yang terjadi dengan kepala dingin. Digandengnya Bik Wudah dan diajaknya menari di lantai dansa.
Semua kagum atas kekonyolan itu. Rengganis dengan wajah tanpa beban menikmati semua. Suasana yang semula kaku kini berubah menjadi sesuatu yang luar biasa meriah.
Beberapa kali Rengganis meminta rekannya mengabadikan penampilan mereka berdua di dalam bidikan kamera mahalnya.
“Kamu gak malu, Rengganis?” Tiba-tiba Shylla maju ke tengah lantai dansa, berkata dengan sangat ketus dan tajam.
“Gak kok Shyl, Ini keren.” Rengganis masih asik bergoyang.
“Perempuan gak tahu malu, berhentilah berpura-pura, Re. Kamu malu kan sebenarnya?” Shylla menarik lengan Rengganis, mencoba menghentikannya berjoget.
Semua mata memandang mereka, semua ingin tahu apa yang terjadi.
“Katanya anak jutawan, pakai baju lima puluh ribuan. Hahahaha … kamu memalukan, Re? Kalau kamu gak malu maka aku yang malu berteman denganmu,” hardik Shylla lagi.
“Aku gak tahu apa yang kamu katakan, Shyl. Tapi bagiku gak masalah berapa pun harga pakaian yang kita kenakan, toh yang membuat indah itu bukan merk atau harga tapi hati si pemakainya.”
__ADS_1
Semua bertepuk tangan mendengar penjelasan Rengganis. Shylla semakin jengkel melihat semua orang seperti membela Rengganis.
Niatnya yang ingin membuat sahabatnya itu malu malah berubah arah, Shylla telah menjadikan Rengganis sosok selebriti berhati mulia di acara yang diadakan sekolah untuk perpisahan mereka ini.
Shylla keluar ruangan dengan wajah penuh kebencian.
**
Telepon genggam Shylla berdering puluhan kali, tak ada niat Shylla untuk menggangkat telepon yang berasal dari Rengganis, wanita yang selalu ingin dijatuhkannya.
“Ada apa?” akhirnya Shylla mengangkat gawainya.
Sejak pulang dari prom night, Rengganis telah berkali-kali mencoba menghubungi Shylla.
“Shyl, apa salahku? Kok kamu gak mau angkat telepon dariku?” tanya Rengganis polos.
“Pake tanya lagi,” jawab Shylla jengkel.
“Aku benar-benar gak tahu.”
“Aku benci melihatmu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kamu selalu menjadi kesayangan semua orang, sementara aku, harus selalu cukup puas menjadi bayang-bayangmu saja.” Shylla menghempaskan tubuhnya di kasur empuk tempat tidurnya.
“Aku mohon lihat keluar jendela sebentar, Shyl!” pinta Rengganis.
Dengan malas Shylla sedikit membuka hordeng jendela kamar. Tangan Shylla menutup mulut, betapa terkejutnya ia. Rengganis berdiri di pintu gerbang bersama teman-teman sekelas membawa kue tart dan balon-balon cantik bertulis selamat ulang tahun Shylla.
Shylla berlari menuruni anak tangga. Dengan tergopoh-gopoh ia membuka pintu rumahnya.
“Ada apa, Shyl? Malam-malam lari-lari, seperti anak kecil saja. Adikmu sudah tidur semua, nanti mereka terbangun. Mama masih banyak kerjaan ini.” Mama mengoceh dari dalam kamar kerjanya.
Shylla hanya menoleh sebentar, tak peduli dengan amarah Mama, gadis itu meneruskan langkahnya membuka pintu rumah.
“Kreeek,” gerbang pagar rumah Shylla terbuka. Kembang api besar meletus penuh warna di langit malam.
Gadis itu berlari tanpa alas kaki menuju Rengganis. Dipeluknya sahabat yang selalu dicuranginya itu. Tangis penyesalannya berpadu dengan rasa malu.
“Selamat ulang tahun, Shyl.” Rengganis membisikkan ucapan itu di telinga Shylla.
“Maafkan aku, Rengganis. Aku selalu jahat tapi kamu tak pernah berusaha membalasnya.” Tangis Shylla menjadi-jadi.
“Aku tahu semua yang kamu lakukan padaku, tapi aku ikhlas asal kamu merasa lebih baik setelah melakukan semua itu padaku. Aku gak mau kehilangan sahabat sepertimu, Shyl.” Rengganis tersenyum, tangannya mengusap-usap punggung Shylla yang masih tergugu dalam tangisnya.
Penuh sesak rasa hati Shylla, perbuatan buruk yang selama ini dilakukannya ternyata telah diketahui Rengganis. Tapi gadis itu tak pernah sekali pun membalas atau sekadar mengadukannya pada guru.
Rengganis sangat baik hati dengan menyimpan semua kebusukkan Shylla, gadis itu berharap suatu hari Shylla paham betapa Rengganis menyayanginya.
“Selamat ulang tahun, Nak. Mama minta maaf tak ingat ulang tahun Shylla.” Mama memeluk tubuh putrinya dengan erat. Penyesalan pun datang dari sudut mata Mama.
Wanita paruh baya yang harus menjadi ibu sekaligus ayah itu menyadari kesalahannya selama ini yang selalu mengabaikan putri sulungnya itu.
Kesibukannya mencari nafkah untuk mencukupi semua kebutuhan hidup dan ditambah lagi harus mengatur jalannya rumah tangga membuatnya lalai tentang kasih sayang yang seharusnya diberikan pada Shylla, putrinya yang kini beranjak dewasa.
Shylla dan Mama saling berpelukkan, menangis melepaskan penyesalan atas waktu yang tak bisa mereka putar kembali.
Rengganis dan teman-teman hanya terdiam dalam haru, mereka ikut menjadi saksi momen-momen mengharukan keluarga Shylla.
“Maaf, maafkan Shylla ya.” Shylla menyalami semua teman-teman setelah puas menangis dalam pelukan Mama. Mereka semua mengangguk dan mendekap Shylla penuh kasih.
Rengganis memandangi semua. Tangannya menyeka air mata yang keluar di sudut mata indahnya. Gadis berjiwa besar itu telah mengatur surprise kecil inu untuk Shylla dari jauh-jauh hari.
Meski awalnya terasa sulit akhirnya ia mampu membuatnya menjadi ulang tahun terindah yang takkan bisa dilupakan Shylla seumur hidup.
Mulanya, banyak dari mereka menolak ide Rengganis untuk datang ke rumah Shylla. Namun, gadis cantik itu tak mudah menyerah, dengan segala cara akhirnya ia bisa membujuk semua untuk ikut bergabung malam ini membuat Shylla menyadari kekeliruannya selama ini.
__ADS_1
Bagaimana cerita kehidupan dokter cantik selanjutnya! Siapa yang kangen dengan keberadaan Kapten Biru tunjuk tangan? Simak terus di Possesive Captain ya!