
Rengganis duduk di sebuah kursi kayu di pinggir ranjang rawat inap yang terlihat sangat sederhana.
Seorang wanita berambut putih tertidur lemah dengan selimut bergaris hitam putih menutupi sebagian tubuhnya. Sebuah perban putih berhias cairan kuning kecoklatan melingkar di lehernya.
Mata cantik dokter muda itu terlihat sembab, air mata masih mengalir deras di kedua pipinya yang mulus. Hati dan perasaannya benar-benar terasa hancur melihat keadaan Bidan Maya yang terbaring dalam napas yang sesekali tersengal.
“Dok—dokter,” Mata tua itu pelan-pelan membuka. Suaranya terdengar parau di telinga Rengganis.
Nenek dan Mami ikut mendekat, melihat keadaan Bidan Maya yang sudah terbangun dari tidurnya yang lumayan lama.
“Iya, Bu, saya di sini.” Rengganis memegang tangan Bidan Maya dengan erat.
Rengganis memang tak meninggalkan Bidan Maya meski sekejap sejak gadis itu sadar dari pingsannya. Nama pertama yang disebutnya saat sadar adalah Bidan Maya. Wanita baik hati yang telah dianggap Rengganis pengganti Mami saat ia berada di desa asing tempatnya berdinas.
“Saya tidak apa-apa, Dok.” Tangan Bidan Maya yang terpasang infus bergerak menyeka air mata di pipi Rengganis.
“Syukurlah—syukurlah.” Rengganis beberapa kali mencium tangan Bidan Maya yang masih saja berusaha menghapus butiran-butiran bening yang tak bisa berhenti keluar dari mata sayu Rengganis.
“Bu Maya harus kembali sehat, saya membutuhkan Ibu,” ucap Rengganis tulus.
“Saya akan segera sembuh, Dok. Percayalah.” Bidan Maya tersenyum menatap wajah cantik Rengganis yang penuh lebam dan luka memar berwarna merah, perempuan tua itu sadar betul Rengganis sangat mengkhawatirkan keadaannya.
Meski kepalanya masih terasa sakit, Bidan Maya tak ingin Dokter Rengganis mengetahui dan lebih mencemaskannya.
“Dokter juga harus istirahat, saya tahu dokter juga sedang dalam keadaan yang kurang baik.” Bidan Maya ingat betul bagaimana keadaan dokter muda kesayangannya itu saat terakhir kali ia meninggalkannya di puskes bersama perawat Katmia dan beberapa paramedis lain ketika dirinya pergi terburu-buru menuju rumah Juragan Plenggo, orang yang menjadi sumber semua malapetaka ini.
Rengganis menggangguk. Mami yang melihat kejadian itu ikut merasa sedih, sesekali tangannya mengusap hangat kepala putrinya seakan berusaha mengurangi beban yang ada di dalam kepala yang tertutup rambut panjang hitam menggurai indah itu.
“Ini pasti Maminya Bu Dokter, sama cantiknya,” puji Bidan Maya.
Mami mengangguk, senyumnya mengembang.
“Terima kasih telah merawat putri manja kami selama ini. Pasti sangat merepotkan.” Mami mencoba membuat suasana sedikit mencair.
“Tidak, Bu. Sama sekali tidak. Dokter Rengganis tak pernah menyusahkan kami. Kami yang malah sering merepotkan beliau. Kami sangat bersyukur dengan kehadiran Dokter Rengganis di sini. Dokter Rengganis adalah sosok yang tak kenal lelah membantu warga desa, semua warga sangat menghormatinya,” Bidan Maya berkata dengan sungguh-sungguh.
Mami dan Papi tersenyum bangga atas apa yang telah dilakukan putri semata wayang mereka. Rengganis memang tak pernah tanggung-tanggung saat melakukan sesuatu, ia selalu melakukan semua hal dengan sangat baik.
“Semua sudah berakhir sekarang, Dokter.” Air mata Bidan Maya mengalir kembali, ia tak sanggup menahannya lebih lama. Kenangan bersama Astuti membuatnya sangat terpukul atas kehilangan yang menyakitkan ini.
“Iya, tadi Pak Hari bilang Jurangan Plenggo dan Bono telah meninggal. Akhirnya mereka mendapatkan hukuman yang paling pantas untuk manusia jahat seperti mereka,” ucap Rengganis.
“Iya, sayangnya kematian mereka menyeret Astuti untuk ikut serta.” Ada sakit hati yang masih tersisa dalam diri Bidan Maya, sakit yang mungkin takkan pernah ditemukan obatnya.
__ADS_1
“Mbak Astuti, maafkan aku.” Rengganis menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya yang gemetar. Tangisnya pecah tak terbendung, stres dan trauma kembali menguasai dirinya.
“Rengganis—Rengganis.” Mami dan Nenek memeluk tubuh Rengganis dengan erat.
Rasa penyesalahan dan rasa bersalah selalu muncul bersamaan saat nama Astuti terdengar.
Begitu banyak kenangan yang dibuatnya bersama Astuti dan semasa bersama. Astuti adalah teman sekaligus saudara yang selalu ada untuk membantunya, mulai dari beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru buat seorang dokter manja seperti Rengganis bahkan kebiasaan Astuti membantu tugas-tugas medis meski tanpa diminta, hubungannya dengan Kapten Biru pun tak luput dengan bayangan kehadiran Astuti di dalamnya.
Banyak yang telah mereka berdua rencanakan, Rengganis berjanji akan mengajak Astuti berkeliling kota dan membelikannya beberapa pakaian termahal suatu hari jika libur tiba.
Betapa bersemangatnya Astuti saat itu. Gadis yang tak pernah datang ke ibu kota itu berkhayal suatu hari akan menikmati seluruh kuliner enak yang ada di sana. Berjalan-jalan ke seluruh objek wisata yang selama ini hanya dilihatnya pada layar televisi ruang tunggu puskes.
Namun, semua kini sia-sia, Rengganis merasakan sakit yang tak terperi saat teringat tawa riang Astuti saat menyusun rencana liburan mereka.
“Kita pulang dulu ya, Nak. Rengganis masih harus banyak istirahat, Rengganis juga perlu perawatan terbaik untuk mental dan fisik Rengganis sendiri.” Papi mendekati putrinya, mencoba merayu Rengganis seperti saat gadis itu masih kecil dulu.
“Tidak, Pi. Mereka membutuhkan Rengganis.” Rengganis menggeleng. Air matanya masih terus jatuh bercucuran.
“Papi sudah telepon Om Sarfyadi Husen, teman Papi di dinas kesehatan. Rengganis ingat? Dia akan kirim dokter pengganti secepatnya untuk membantu masyarakat di sini. Hari ini juga dokter baru itu akan segera menuju kemari. Rengganis tak perlu khawatir.”
Papi memang selalu mampu mengatasi kesulitan yang dialami Rengganis. Memiliki orang tua kaya dan berkoneksi luas sangat membuat hidup Rengganis terasa nyaman dan mudah sejak kecil.
“Tapi, Pi." Mata sembab penuh air itu menatap wajah Bidan Maya. Rengganis tak tega meninggalkan Bidan Maya seorang diri mengatasi kesulitannya di sini. Namun, Perempuan paruh baya itu membalasnya dengan anggukan setuju.
“Pergilah dokter, tenangkan diri Dokter Rengganis terlebih dahulu sebelum kembali membantu masyarakat di sini. Saya tahu betapa terpukulnya kita semua terlebih Dokter dengan semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Istirahatlah di kota, tenangkan pikiran, hati dan perasaan hingga dapat kembali ceria secepatnya seperti dokter cantik kesayangan kami,” ucap Bidan Maya memberi semangat.
“Kami pasti merindukanmu.” Bidan Maya tersenyum.
“Ibu pun harus banyak istirahat ya, aku gak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu juga padamu.”
Bidan Maya tersenyum, kepalanya mengangguk lemah.
“Aku akan segera sembuh, aku janji.” Bidan Maya menunjukkan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya. Seperti yang sering dilakukan Bidan Astuti untuk menyakinkan jika ada seseorang yang tak mempercayainya. Ia selalu melakukannya berbarengan dengan suara tawanya yang riang.
Memori yang akan selalu hidup diingatan Rengganis, Bidan Maya juga seluruh pegawai Puskesmas Pringjaya.
“Kami pamit pulang dulu ya Bu Bidan. Hubungi kami jika ada apa-apa.” Mami meninggalkan sebuah kartu nama pada Bidan Maya.
“Baik, Bu” Bidan Maya melambai kecil kepada Rengganis.
Gadis cantik itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
“Maaf.” Seorang laki-laki paruh baya yang tampak tak asing bagi Rengganis berdiri di depan pintu sesaat menghalangi jalan mereka untuk keluar.
__ADS_1
“Pak—pak—” Rengganis mencoba mengingat-ingat.
“Saya Pak Hasbi. Kepala Desa sidoraharjo.” Pak Hasbi mengenalkan diri.
“Oh iya benar, saya ingat. Pi, ini Pak Kades yang waktu itu selamatkan Rengganis.” Rengganis mengenalkan Pak Hasbi pada Papinya.
Papi dan Pak Hasbi berjabat tangan.
“Terima kasih telah menyelamatkan putri kami,” ucap Papi.
“Sebenarnya bukan saya yang menyelamatkan Dokter Rengganis, Pak. Tapi dua warga saya yang kebetulan lewat dan bertemu dengan Nak Dokter di hutan.” Pak Hasbi menceritakan apa yang terjadi.
“Seperti apa pun itu kami percaya semua berkat campur tangan Pak Hasbi juga, sekali lagi terima kasih.” Papi mengulurkan tangannya sekali lagi berniat menjabat tangan Pak hasbi untuk kedua kalinya.
Pak Hasbi mengangguk pelan sambil menerima uluran tangan Papi.
“Dokter, tadi pagi-pagi sekali sebelum upacara penutupan latihan gabungan, Kapten Biru sempat kemari.”
Rengganis memandang Pak Hasbi penuh harap. Sejenak gadis itu lupa tujuan awal mengapa dirinya begitu berniat segera datang ke kampung ini. Tak lain adalah untuk menemui laki-laki yang selalu berada di dalam mimpinya sebelum Kapten Biru dan rombongan pulang ke tempat asal.
Namun, semua begitu terlambat, saat Rengganis sampai di desa Pringjaya Rombongan Kapten Biru baru saja meninggalkan desa.
“Apa yang ia katakan, Pak? Adakah pesan untuk saya?” Rengganis berharap Kapten Biru meninggalkan sesuatu untuknya minimal sebagai petunjuk kemana ia harus mencari keberadaan laki-laki itu.
Sesaat Rengganis begitu menyesali kenapa ia tak pernah sempat menanyakan alamat rumah Kapten Biru atau setidaknya ia berasal dari satuan mana. Gadis itu hanya menunjukkan semua kebodohannya saja saat berjumpa dengan Kapten Biru selama ini.
“Dia hanya mengatakan tunggu ia kembali.”
“Apa? Hanya itu?” Rengganis tampak kecewa. Gadis cantik itu menggigit bibirnya berusaha sedikit mengurangi rasa nyeri di hatinya.
“Dasar laki-laki tak berhati.” Rengganis menunduk lemah.
“Sampai kapan aku harus menunggunya datang?” sambungnya.
“Maaf, Non.” Pak Hasbi mengira Rengganis sedang berbicara padanya.
“Oh maaf, Pak, tidak apa-apa.” Rengganis melangkahkan kakinya kembali dengan perasaan hampa. Semua terasa pahit untuknya.
“Aku harus benar-benar menepi dari semua perasaan ini.” Rengganis menyerah. Ia tak ingin berharap terlalu banyak pada laki-laki yang tak tahu membawa perasaannya ke arah mana.
Perasaan kehilangan orang-orang yang selalu mampu diandalkannya membuat Rengganis merasa kesepian. Papi, Mami, Nenek dan Bik Unah mengikuti langkah Rengganis yang makin kehilangan arah. Mereka sadar semua yang terjadi pada Rengganis bukanlah sesuatu yang mudah baginya.
Mereka yakin ini akan menjadi awal tugas berat yang harus mereka jalani demi mengembalikan putri cantik mereka yang ceria dan penuh energi.
__ADS_1
Masih penasaran kan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dokter cantik kebanggan kita semua?
Tunggu kisah selanjutnya ya!