MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
TITIK TERENDAH


__ADS_3

“Halo,” suara Bik Onah kembali mengudara di saluran telepon internasional bersama nona mudanya, Rengganis.


“Mana, Bik?”


“Apanya, Non?” tanya Bik Onah tanpa rasa bersalah.


“Ya, Mas Biru loh.” Rengganis gereget sendiri.


“Telat, Non. Sudah pulang!” Lagi-lagi Bik Onah menjawab tanpa beban.


“Ih bibik, kok sudah pulang?” Rengganis bertambah jengkel, rasanya tangan kanannya teramat gatal ingin membanting gawai yang digenggamnya sekuat tenaga.


“Pas bibik sampai depan, Mas Kapten udah main nyelonong pergi aja motornya. Bibik panggil-panggil malah dimarah nyonya, malem-malem teriak-teriak bangunin tetangga.”


“Aaaiiiiiihhhh!” teriak Rengganis sambil garuk-garuk kepala.


“Ya udah, tadi waktu bibik nguping, bibik dengar apa?” tanya Rengganis penasaran.


“Apa ya? Eeemmm.” Bik Onah berusaha mengingat-ingat.


“Jangan bilang lupa ya! Aku lapor papi kalau bilang lupa!" ancam Rengganis.


“Hehehe, ampun, Non! Iya tadi Mas Kapten tanyain non sama papi.”


“Terus?” tanya Rengganis tak sabar.


“Ya, papi bilang Non Rengganis lagi lanjutin kuliah di Korea. Itu aja yang bibik dengar.”


“Kalau itu sih aku juga tahu, pasti isi obrolannya gak jauh-jauh dari situ.”


“Abis Non Rengganis mau berita yang gimana?” Bik Onah tertawa.


“Ah tak tahu aku, Bik!" Rengganis sudah kehabisan akal.


“Oh, yang non maksud waktu mami bilang non sudah dilamar Tuan Korea ya, Non?”


“Apa? Dilamar?” Rengganis tampak kaget. Wajahnya tiba-tiba pucat pasi.


“Iya, Non, waktu acara rame-rame perayaan anniversary mami sama papi tempo hari Mas Kapten juga datang terus mami bilang itu acara lamaran Non Rengganis dan Tuan Korea,” Bik Onah tanpa sadar membocorkan rahasia yang seharusnya disimpannya rapat-rapat.


“Mamiiii!” teriak Rengganis frustasi.


Klik, sambungan telepon diputus Rengganis secara sepihak.


“Halo! Halo! Non?” Bik Onah memanggil-manggil nonanya dengan santai.


“Siapa, Bik?”


“Eh copot!” Bik Onah kaget bukan kepalang, tiba-tiba mami sudah berada di belakang punggungnya. Hampir saja gagang telepon yang dipegangnya terlepas dari tangan.


“Non Rengganis, Nyah.”


“Kok gak kasih tau saya?”

__ADS_1


“Orang Non Rengganis cuma bilang mau ngomong sama Mas Kapten gak bilang mau bicara sama nyonya,” jawabnya polos.


“Ya ampun, Bik Onah! Jadi Bik Onah bilang Biru ke sini?”


“Iya, terus bibik juga cerita, Nyah, kalau ini bukan kali pertama Mas kapten ke rumah, waktu acara ulang tahun perkawinan nyonya sama tuan juga Mas Kapten datang.”


“Haaaah,” Mami berjalan meninggalkan Bik Onah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


“Loh, kenapa, Nyah?”


“Bibik saya pecat!” Mami berteriak histeris dari anak tangga paling atas.


“Salah saya apa, Nyah?” Bibir Bik Onah tiba-tiba melebar matanya tertutup rapat-rapat menahan air mata yang akan tumbah membasahi wajahnya yang oval.


“Ada apa sih, Mi?” tanya Pak Brata yang telah bersiap masuk ke kamar mandi mewahnya.


“Bik Onah nyebelin banget! Biar mami pecat aja.”


“Loh kenapa?” Papi membatalkan niatnya melangkahkan kaki ke kamar mandi dan berbalik duduk di sisi tempat tidur tak jauh dari istrinya yang sedang memasang wajah cemberut.


“Bik Onah pake lapor ke Rengganis kalau Biru datang kemari. Pasti ngambek lagi itu anak!” Mami menggigit bibir, jidatnya berkerut berusaha berpikir apa yang harus dilakukan.


“Papi juga sebel sama mami!”


Mami refleks memalingkan wajahnya ke wajah suaminya yang terlihat kaku dan dingin.


“Kok papi malah sebel sama mami bukan sama Bik Onah!"


“Papi ngomong apa sih? Semua yang mami lakukan dalam hidup mami ini untuk dia, Pi. Semua untuk Rengganis.”


“Apa mami pernah pikirkan perasaannya di sana? Bagaimana terlukanya dia? Terlebih dia gadis, Mi, sendirian, jauh di negeri orang.”


“Pi, Papi jangan takut-takuti mami!”


“Bayangkan jika yang jadi Rengganis itu mami! Apa mami tak sakit hati jika dulu orang tua mami tak menyetujui hubungan kita dan mami dinikahkan secara paksa dengan laki-laki yang mungkin lebih kaya dari papi.”


“Pi! Cukup!” Mami menutup kedua telinganya dengan tangan. Tangisnya tumpah.


"Kalau ada apa-apa dengan anak kita satu-satunya itu, papi gak akan pernah bisa memaafkan kesalahan mami," kata-kata Pak Brata cukup membuat wajah mami menegang. Sejak pertama mengenal suaminya ini adalah pertama kalinya Pak Brata marah padanya.


“Harta tak akan pernah membuat kita puas, Mi, dan bukan harta seperti ini yang Rengganis butuhkan. Dia sudah punya harta lebih dari cukup, saat ini yang dia butuhkan hanya cinta.” Pak Brata memegang tangan istrinya.


“Mami tahu seberapa besar Rengganis mencintai dan menaruh harapan pada Nak Biru. Tugas kita saat ini adalah membuat Rengganis hidup bahagia dan satu-satunya orang yang mampu membahagiakan Rengganis adalah dia. Laki-laki yang sudah mami bohongi,” sambung Pak Brata.


“Pi, tapi mami tak ingin melihat Rengganis susah menjadi istri prajurit, Pi. Lihat! Baru pacaran aja sudah ditinggal-tinggal. Mami gak mau Rengganis kelak harus sering hidup sendiri bahkan yang mami dengar istri tentara itu banyak yang melahirkan tidak ditunggui suami.” Mami mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


“Pendamping prajurit itu bukan wanita sembarangan, Mi. Ibu Pertiwi sendirilah yang memilihnya. Seandainya Rengganis memang berjodoh dengan Nak Biru itu artinya Tuhan tahu bahwa anak kita bukan wanita yang lemah. Dia pasti sanggup melaluinya.”


“Tapi gadis kecil kita itu anak yang manja dan kolokan, Pi, mami gak yakin dia mampu hidup dengan uang pas-pasan dan kesulitan-kesulitan lain-lain yang akan dilaluinya.”


“Rengganis telah membuktikan kepada kita ia mampu bertahan dalam kehidupannya yang sulit saat menjadi dokter hebat di daerah terpencil sekali pun. Papi yakin menjadi istri dari abdi Negara pun ia pasti mampu lakukan, Mi. Rengganis bukan lagi seorang gadis kecil yang manja, keadaan yang sulit dan kehadiran Biru telah menjadikannya wanita hebat dan tangguh.” Papi tersenyum sambil membelai lembut rambut istrinya.


“Masalah penghasilan yang pas-pasan, Rengganis itu anak cerdas, Mi, dia pasti mampu mencukupi semua kebutuhan keluarganya dan yang pasti mereka tidak sendirian. Ada kita yang siap mendukung apapun pilihan putri kita.”

__ADS_1


“Pi, mami malu.” Bu Brata memeluk erat suaminya. Dibenamkannya seluruh wajahnya pada dada suaminya.


“Kita masih punya waktu untuk memperbaikinya,” ucap Pak Brata bijaksana.


“Tadi Rengganis telepon papi.”


“Mami belum cek HP.” Mami bergegas membuka gawainya.


“Iya, Pi, sembilan panggilan tak terjawab.


“Coba mami telepon. Minta maaf, pasti Rengganis ngerti.” Pak Brata berdiri dan meneruskan niatnya untuk mandi.


“Oke!” jawab mami pelan.


“Pi, gak aktif,” teriak mami panik. Bayangan-bayangan menakutkan tiba-tiba hilir-mudik di kepalanya.


**


“Dari mana, Le?” Bu Suryo menyambut putranya yang baru saja datang menjenguknya di rumah sakit.


“Ibu belum tidur?” tanya Kapten Biru lembut.


Bu Suryo menggeleng lemah.


“Belum bisa tidur.”


“Ayo tidur, Biru temani di sini, yang nyenyak ya tidurnya besokkan sudah boleh pulang.”


“Iya, ibu seneng sudah bisa pulang.”


“Le, maafin ibu ya maksa kamu buat tunangan sama Nak Tika.”


“Padahal ibu tahu, kamu sama sekali gak cinta sama dia.” Wajah ibu penuh penyesalan.


Kapten Biru tersenyum. Tangannya menggenggam erat tangan wanita tua yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang selama ini.


“Bu, kalau itu yang bisa membuat ibu bahagia. Biru akan lakukan.” Biru menelan ludahnya yang terasa amat pahit. Terlalu berat sebenarnya ia mengatakannya, tapi ia tak menemukan jalan lagi untuk bisa bersama Rengganis, mungkin semua yang dikatakan ibu adalah benar. Ia harus hidup bersama Tika, tak ada pilihan lain.


Kapten Biru ingat benar apa yang dikatakan mami Rengganis. Selama bersama Kapten Biru Rengganis hanya merasakan sakit dan kecewa. Kini ia terlihat lebih ceria dan bahagia bersama laki-laki yang telah melamarnya. Kapten Biru tak lagi ingin merusak kebahagiaan Rengganis seperti sebelumnya. Mungkin selama ini ia terlalu lambat menyadari kesalahannya.


“Tapi kamu bilang ada wanita lain yang kamu cintai, Le.” Ibu menatap dalam-dalam mata putra bungsunya yang penuh dengan luka.


“Hatinya telah menjadi milik orang lain, Bu. Biru tak ingin merusak kebahagiaanya. Biarlah Biru mundur asal melihatnya hidup bahagia selamanya Biru sudah ikut senang.”


“Biru!” Ibu merangkul putranya. Air matanya meleleh turut merasakan sakit yang dirasakan putranya. Meski anak laki-lakinya itu masih terlihat gagah hanya raut wajahnya saja yang terlihat suram.


“Biru yakin apapun yang ibu putuskan untuk Biru adalah yang terbaik untukku, Bu.” Biru mengepalkan kedua tangannya. Kepalanya dibaringkan di atas ranjang rawat inap ibu.


Hanya ada kesedihan yang terasa di dalam ruang itu. Kehampaan yang dibalut dinginnya malam yang semakin beranjak naik. Kapten Biru tampak semakin terpuruk dalam titik terendahnya.


Sekian dulu buat episode ini, lanjut dijumpa kita mendatang ya!


Tetap semangat kasih like, komen, juga vote. Okee!!

__ADS_1


__ADS_2