MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
INTERNASIONAL


__ADS_3

“Oke, kamu harus berhasil. Bravo!” suara Mas Banyu menyemangati adik bungsunya dari seberang saluran telepon.


Kapten Biru tersenyum mendengar betapa semangat Mas Banyu mendukung usahanya meraih kembali cinta si gadis impian.


“Tentu, Mas, aku akan berusaha semampuku,” jawab Kapten Biru.


“Semoga sukses, Adikku.”


Tuuut, nada sambungan terputus terdengar sedikit memekakkan telinga laki-laki tampan itu. Setelah memastikan telepon benar-benar telah terputus Kapten Biru segera memasukkan gawainya ke dalam saku jaket bomber berwarna hijau army dengan dua buah bordiran bergambar garuda dan bendera merah putih yang membuatnya terlihat bertambah gagah malam ini.


Di bawah langit gelap malam, laki-laki berambut cepak itu memantapkan hati untuk berkunjung sekali lagi ke rumah Rengganis, berharap ada seutas jalan yang akan membuatnya sampai pada apa yang dicari. Meski jalan itu teramat sempit dan terjal tak mengapa baginya, Kapten Biru akan tetap menaklukan jalan kecil dan terjal itu demi bisa bersama kembali dengan Rengganis, wanita kesayangannya.


Kedua kakinya melangkah meninggalkan motor gede yang di parkirnya tepat di depan pintu gerbang rumah Rengganis.


“Selamat malam,” Priyanto menyapa tamu yang datang ke rumah bos besarnya itu.


“Malam, Pak,” jawab Kapten Biru tegas.


“Oh, ini Bapak yang datang waktu itu kan?” Priyanto mengingat-ingat.


“Alhamdulillah, Rupanya Pak—Priyanto masih mengingat saya.” Kapten Biru membaca bet nama pada pakaian seragam security muda itu.


“Mau bertemu Pak Brata atau ibu, Pak?” tanyanya lagi.


“Keduanya boleh?” tanya Kapten Biru lagi. Niatnya malam ini adalah untuk mencari tahu semua mengenai Rengganis pada siapa pun yang berhasil di temuinya di rumah ini, pada Bik Onah dan pak satpam pun boleh terlebih pada mami atau papi Rengganis langsung.


“Kalau bapak kebetulan baru saja sampai sekitar lima menit yang lalu dari luar kota, sepertinya akan sulit menemui beliau. Ibu? Nanti saya coba hubungi dulu ya, Pak. Dengan Pak siapa?”


“Saya Biru. Kapten Biru Angkasa Permana.”


“Oh, siap komandan!” Priyanto tiba-tiba berdiri dengan sikap sempurna dan memberi penghormatan pada Kapten Biru.


Laki-laki tampan itu tersenyum dan membalas penghormatan yang diberikan Priyanto padanya.


Security muda itu segera berlari menuju pos jaga. Terlihat oleh Kapten Biru dari balik kaca transparan yang membatasi dinding pos Priyanto menekan beberapa angka pada pesawat telepon yang ada di pos itu. Laki-laki berusia sekitar 18 tahunan itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.


“Ayo, Kapten!” ajak Priyanto.


Kapten Biru mengikuti security itu dari belakang.


“Kapten, dulu saya bercita-cita jadi seorang tentara,” kisahnya sambil menjajari langkah Kapten Biru.


“Oh ya?” Kapten Biru siap mendengarkan semua cerita Priyanto.


“Tapi ibu bilang kami gak punya biaya buat daftar.”


“Loh kan daftar tentara gak bayar. Kenapa gak dicoba dulu?”


“Saya gak pede, Kapten. Orang kecil seperti kami apa bisa jadi tentara yang hebat dan keren seperti kapten.”


“Harus percaya diri, yakinkan dirimu bahwa kamu mampu. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan memberi semangat pada diri sendiri?”


“Priyanto mengangguk paham.”

__ADS_1


“Silakan masuk.” Pak Brata telah berdiri menanti Kapten Biru di depan pintu.


“Silakan, Kapten.” Priyanto bersiap memutar tubuhnya kembali ke pos.


“Terima kasih ya," ucap Kapten Biru.


Priyanto mengangguk lalu membungkuk memberi salam pada bos pemilik rumah.


“Silakan-silakan masuk, Nak Biru,” tawar Pak Brata ramah. Laki-laki baik hati itu terlihat masih mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana dasar coklat tua bermotif kotak-kotak halus. Sepertinya ia belum sempat berganti pakaian karena baru saja tiba di rumah.


“Terima kasih, Pak.”


“Wah, akhirnya saya bisa bertemu dengan Nak Biru. Sudah lama saya menanti pertemuan ini.”


Mendadak pipi Kapten Biru terasa panas. Ia tak pernah menyangka sambutan keluarga Rengganis padanya sebaik ini tak seperti saat pertama kali ia datang kemarin. Sesekali perasaan takut itu muncul.


Kebaikan yang teramat manis ini jangan-jangan adalah awal penolakkan mereka akan kehadiranku sebagai kekasih putri tunggal mereka. Batin Kapten Biru menerka-nerka situasi yang bisa saja akan ia hadapi.


“Oh ini dia, silakan diminum dulu, Nak.” Pak Brata mempersilakan Kapten Biru menerima minuman yang baru saja diletakkan Bik Onah di depan meja.


“Terima kasih, Pak.” Lagi-lagi hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Biru.


“Ada yang bisa saya bantu, Nak Biru? Sampai sengaja jauh-jauh berkunjung di kediaman kami ini.” Pak Brata mengubah posisi duduk lebih santai.


“Saya ingin bertemu Rengganis, Pak,” getaran dada Kapten Biru tiba-tiba berdetak tak beraturan. Berat sekali rasanya melawan keinginan untuk mengangkat kedua tanggannya untuk memegang dadanya yang terus berdegup kencang.


“Rengganis kami tidak ada di rumah, Nak. Sudah cukup lama gadis kecil kami itu menuntut ilmu di Korea Selatan. Apa Nak Biru tidak tahu?” tanya Pak Brata penuh selidik.


“Saya tahu, Pak, tapi baru beberapa hari ini. Selama ini saya dan Rengganis lost contact.”


“Ini semua salah saya, Pak. Saya terlalu takut kehilangan dia, saya terlalu cemburu, saya tak ingin Rengganis tertekan atas sikap posesif saya. Untuk itu saya mengizinkannya berbuat yang ia mau. Saya memutuskan untuk memberi jarak hubungan kami.”


Pak Brata terdiam, laki-laki itubtahu benar seberapa uring-uringannya Rengganis sebelum memutuskan berangkat melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.


"Mungkin ini alasan Rengganis meninggalkan tanah air," pikir Pak Brata.


“Tapi saya menyesalinya. Saya tak bisa hidup bahagia tanpa putri, Bapak. Izinkan saya bersamanya,” aku Kapten Biru gentle.


“Nak Biru, saya kan sudah pernah jelaskan. Rengganis sudah resmi dilamar Choi Yu Jin. Berbeda kewarganegaraan memang, tapi mereka sudah mengurus semuanya, termasuk izin pernikahan internasional.” Mami tiba-tiba masuk ke ruang tamu, duduk bergabung dengan papi dan Kapten Biru yang sedang berbincang serius.


“Kami berharap Nak Biru tidak mengganggunya lagi. Demi kebahagiaan Rengganis. Mungkin kalian belum berjodoh, Nak. Saya sangat menyesal,” sambungnya.


“Saya sangat mencintainya, Bu. Mungkin saya terlalu lambat menyadari semua kesalahan ini, tapi saya akan melakukan semuanya untuk bisa mendapatkan maaf dari Rengganis," sesal laki-laki tampan itu.


“Ta—”


“Mi!” Pak Brata memotong pembicaraan istrinya.


“Nak Biru, kami—”


Kriiing, suara telepon dari ruang tengah berbunyi nyaring.


**

__ADS_1


Sebuah ruang kamar berukuran cukup luas untuk ditempati satu orang terlihat penuh dengan buku-buku yang berserakan. Sejak ujian semester di mulai Rengganis tak sempat membersihkan kamarnya. Sementara bantuan asisten rumah tangga ditolaknya untuk membantu merapikan kamar sementara waktu.


Rengganis takut semua kertas-kertas catatan yang berserak akan berpindah tempat dan ia akan sulit untuk menemukannya saat butuh.


"Besok jadwal beres-beres!" Rengganis mengamati sekali lagi sudut-sudut ruang kamarnya yang seperti kapal pecah.


Rekaman suara Kapten Biru masih saja berputar-putar menggaung memenuhi segenap ruang dari alat perekam suara yang dihadiahkan Kapten Biru padanya tempo hari.


Saat merasa penat, lelah dan sepi seperti saat ini hanya rekaman suara Kapten Birulah yang selalu mampu menjadi teman setia bagi Rengganis. Suara yang tak pernah berubah nilai rasanya meski telah didengar ratusan kali.


Jari-jari tangan putih Renggania memutar-mutar sebuah kalung besi putih dengan bandul pipihan besi yang tertulis nama, nrp, serta kesatuan Kapten Biru. Dikecupnya berkali-kali bandul kalung itu dengan penuh perasaan. Matanya terpejam, seolah sedang menghadirkan sosok pemiliknya dalam angan gadis cantik berbulu mata indah itu.


Sesaat Rengganis mengingat sesuatu, cepat-cepat ia duduk dan meraih phonecell yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada.


“Kok gak diangkat!” Rengganis bergumam kecil saat teleponnya ke papi tak juga kunjung diterima.


“Tumben!” ucapnya gusar.


“Aku telepon mami saja,” jari-jari lentik Rengganis menekan papan tuts pada layar telepon genggamnya.


“Diabaikan juga! Pada sibuk apa sih?” Rengganis mulai jengkel.


“Telepon rumah! Bik Onah pasti ada.”


Tut—tut—tut , Nada tunggu kesekian masih berbunyi tanpa tahu kapan akan diangkat.


“Ada apa ya?” Rengganis menerka-nerka.


“Halo, rumah Bapak Brata, ada yang bisa saja bantu?” suara Bik Onah mengudara.


“Ya ampun akhirnya ada yang angkat, kok tumben lama banget sih, Bik,”cerocos Rengganis.


“Em anu non, itu—”


“Anu itu apa, Bik?” tanya Rengganis tak sabar.


“Itu non bibik lagi di depan, nguping. Eh nguping!” Bik Onah lagi-lagi keceplosan. Wanita paruh baya itu segera menutup mulutnya dengan tangan kiri.


“Ih Si Bibik ada-ada aja, ngupingin siapa sih? Seru banget kayaknya.”


“Pacar Non Rengganis sama papi.”


“Pacar saya? Siapa?” tanya Rengganis dengan jantung berdebar.


“Kapten ganteng!” Bik Onah senyum-senyum sendiri.


“Bik, tolong bilang saya mau bicara, sekarang!”


“Ba-baik, Non.” Bik Onah dengan gesit meletakkan gagang telepon dan berlari ke ruang tamu.


Taraaa….


Masih penasaran?

__ADS_1


Bye dulu ya!


Sampai ketemu di episode selanjutnya!


__ADS_2