MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
CINTA SEGITIGA


__ADS_3

Matahari sore terlihat merah kekuningan di angkasa raya. Dua orang anak manusia berjalan melewati perkampungan yang asri dan damai.


Mata gadis itu tampak berbinar, sementara tangannya mendekap erat sebuah Al-quran bersampul kuning. Kerudung merah jambu menutupi kepala dengan rambut panjangnya yang berwarna hitam pekat diekor kuda.


“Terima kasih sudah mau ikut kajian sore ini,” ucap Hasbi.


“Saya yang terima kasih sudah dapat banyak ilmu hari ini.” Maya tersenyum.


“Saya jadi tahu kewajiban-kewajiban yang harus saya lakukan sebagai seorang anak yang kedua orang tuanya telah tiada,” lanjut gadis berkulit sawo matang itu.


Hasbi menghentikan langkahnya, mata sayunya menatap tajam wajah Maya yang tiba-tiba berubah sendu.


“Aku kangen Bapak, Ibu.” Maya ikut menghentikan langkahnya.


“Aku tahu.” Hasbi berusaha membuat wanita di sebelahnya merasa sedikit terhibur.


“Dunia ini memang tidak adil buatku, semua orang yang kusayang harus berpulang secepat ini.” Maya tak mampu menahan air matanya untuk menetes di pipi.


“Tidak baik bicara begitu. Allah punya rencana yang mahasempurna bagi semua hamba-hambanya, percayalah ada niatan baik Allah di setiap takdir yang harus kamu lewati.” Hasbi tersenyum menguatkan.


Gadis manis itu menggangguk mengerti. Memang sejak dulu ia telah berdamai dengan rasa sakit. Maya selalu menjalani hidupnya yang keras seorang diri. Sedikitpun tak ada niat baginya untuk menyusahkan orang lain, begitu juga dengan paman dan bibinya.


Maya selalu menempatkan diri sebagai orang yang harus membantu meringankan beban bibi bukan memberatkannya. Untuk itu, sejak ia memutuskan untuk tinggal bersama bibi, tak pernah sekali pun Maya menyulitkan mereka.


Pantang bagi Maya meminta belas kasihan paman dan bibi untuk mau memberinya uang walau hanya sekadar untuk makan dan pakaian apalagi untuk jajan.


Gadis itu tak pernah mengenal rasa malu, semua pekerjaan ia lakukan demi menyambung hidup dan membantu biaya rumah tangga bibi yang memang teramat sulit.


Ia tak punya pilihan, bibilah satu-satunya keluarga yang masih tersisa baginya.


Sejak mengenyam pendidikan di sekolah dasar, Maya selalu menjajakan kue buatan bibi keliling kampung sepulang sekolah.


Berapa pun uang yang diperoleh, semua akan diserahkan pada bibi, tak pernah Maya berniat untuk mengambil sedikit bagian untuknya.


Walau penuh penat, setelah dagangannya habis terjual, Maya tetap harus membantu paman mencari makanan untuk kambing-kambing peliharaannya. Meski pun Maya seorang perempuan, ia tak pernah mengeluh jika harus melakukan pekerjaan kaum adam sekali pun.


Tiga kali dalam seminggu, Maya akan datang ke rumah Mandor Sofyan untuk mengambil pakaian yang harus ia cuci dan setrika. Dari hasil uang itulah ia bisa membayar semua kebutuhan sekolahnya.


Hari-hari sulit itu akhirnya berlalu. Maya telah berhasil menggapai cita-cita, ia meraih nilai yang bagus di akademi kebidanan tempatnya menuntut ilmu. Gadis itu mencoba memasukkan lamaran sebagai pegawai pemerintahan, berkat doa dan usaha kerasnya, Maya berhasil mendapatkan posisi sebagai bidan desa, sesuai dengan keinginanya.


Dengan berbekal seadanya, Maya berangkat menuju desa tempatnya ditugaskan. Meski ia sendiri tak pernah tahu dimana tempat itu berada. Namun, tekad Maya yang bulat akhirnya mengantarkannya ke depan puskesmas yang kelak menjadi tempatnya mengabdi.


“Kapan hari liburmu?” tanya Hasbi menyadarkan Maya dari lamunan.


“Besok aku bisa libur, ada apa?” Maya balik bertanya.


“Besok mau ikut aku?”


“Kemana?”


“Pokoknya ikut sajalah, setidaknya kamu akan melupakan sedikit kerinduanmu pada Bapak dan Ibumu.”


Maya menggangguk, sementara senyumnya mengembang membiaskan perasaan hatinya yang tak sabar menunggu apa yang akan terjadi esok hari.


**

__ADS_1


“Ada apa, Mas Plenggo?” Maya keluar dari rumah dinasnya yang terletak tepat di belakang puskesmas desa Pringjaya.


“Kangen aja.” Plenggo to the point.


Maya tertawa, “Kan baru tadi pagi, Mas Plenggo kemari anter temen Mas berobat.”


“Iya, ya.” Plenggo Hadi ikut tertawa.


“Ini aku bawakan sesuatu buatmu.” Laki-laki itu memberikan sebuah kotak kecil untuk Maya.


“Apa ini, Mas?”


“Jam tangan.”


“Untukku?” tanya Maya bingung.


“Iya dong, memangnya untuk siapa lagi.”


“Tapi aku sedang gak ulang tahun lo, Mas.” Maya membuka kotak hitam itu.


“Bagus kan? Itu aku pesan langsung dari temanku di kota. Tadi sore baru diantar dan langsung aku berikan padamu. Rasanya gak sabar lihat jam itu nemplok manja di tanganmu yang indah. Meski gak ulang tahun gak pa-pa to kalau aku mau kasih hadiah?” Plenggo anak juragan kaya yang terkenal playboy dan royal terhadap wanita yang disukainya itu mulai merayu.


“Maaf, Mas. Tapi aku gak bisa terima pemberianmu ini.” Maya menyerahkan lagi kotak yang berada di tangannya.


“Kenapa? Apa kamu gak suka sama modelnya? Atau kurang mahal ya?” Plenggo mengamati jam yang masih tertata rapi di dalam kotaknya itu.


“Bagus, Mas. Bagus banget malah. Tapi aku gak pantes terima hadiah semahal itu.”


“Aku gak mau dengar. Ini aku letakkan di sini.” Plenggo meletakkan jam tangan itu di kursi tunggu pasien yang terbuat dari kayu panjang bercat putih.


Maya hanya menatap tubuh bagian belakang Plenggo yang mulai menjauh. Diambilnya kotak jam tangan hadiah dari anak tuan tanah yang keras kepala itu.


Sementara Plenggo mengamati dari jauh, bibirnya menyunggingkan senyum bahagia, pemberiannya ituakhirnya diterima oleh gadis itu.


Malam itu Maya tak dapat tidur dengan nyenyak. Ia bukan tak peka dengan perasaan dua lelaki yang dekat dengannya belakangan ini. Tapi gadis itu benar-benar bingung, keputusan apa yang harus diambilnya agar tak ada yang terluka.


Kedua lelaki itu memang memiliki karakter yang saling bertolak belakang.


Hasbi, lelaki penyabar yang pandai dalam ilmu agama itu selalu membuat hati Maya tenang dan nyaman di sisinya, sikap malu-malu dan teramat hati-hatinya membuat Maya selalu penasaran apa yang ada di dalam benak laki-laki itu sesungguhnya.


Sementara Plenggo, sikapnya yang tidak sabaran dan cenderung egois, namun terbuka dan humoris ini dirasakan Maya mampu memenuhi harinya dengan banyak warna, Maya bisa tertawa lepas bersama Plenggo tanpa harus banyak aturan. Terlebih lagi Plenggo pintar menunjukkan perasaannya pada wanita.


Jika dilihat dari fisik, memang Hasbi lebih unggul. Tubuhnya yang tinggi dan gagah terlihat sangat serasi dengan wajahnya yang tampan lengkap dengan mata sayu yang meneduhkan itu.


Plenggo berbeda lagi, laki-laki bertubuh kurus tinggi ini memiliki wajah lonjong dengan alis mata yang sedikit menonjol. Pakaiannya yang selalu eye catching membuatnya sangat mudah dikenali.


Lama Maya berpikir, menimbang-nimbang perasaan yang ada di hatinya. Berat untuk memutuskan pada siapa hatinya akan berlabuh.


Ia tak ingin gegabah, gadis itu sadar betul kesalahannya melangkah bisa menimbulkan bubarnya persahabatan kedua laki-laki itu. Maya sama sekali tak menginginkan hal itu terjadi.


Gelapnya malam, akhirnya memaksa Maya untuk menyudahi kegundahannya. Gadis yang selalu mandiri itu harus mengalah pada kantuk yang menyergapnya tiba-tiba. Matanya terkatup rapat, wajahnya yang polos menyimpan semua bingungnya buat esok.


“Sudah siap?” Hasbi datang menjemput Maya dengan sepeda ontel antik kesayangannya.


“Ayo,” Maya bersemangat.

__ADS_1


“Mau kemana kita?” tanya Maya.


“Hust, rahasia.” Hasbi tak ingin menjawab pertanyaan gadis yang sudah duduk diboncengannya.


Dua muda-mudi itu terlihat menikmati perjalanan menuju kampung sebelah, pemandangan yang asri membuat Maya beberapa kali harus meluaskan pandangannya dengan mata yang berseri-seri.


“Sudah sampai.” Hasbi menghentikan laju sepeda yang sejak tadi tak kenal lelah dikayuhnya sekuat tenaga dan sepenuh hati.


“Rumah siapa ini?” Maya terlihat takjub melihat rumah eksotik berdinding kayu alam, dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah, kurang lebih sekitar setengah meter. Tangga kayu di muka teras membuatnya terkesan sangat cantik. Halaman yang luas di depan rumah dipenuhi berbagai macam bunga. Sebuah kolam yang berisi ikan warna-warni juga melengkapi pesona rumah yang membuatnya merasa nyaman ini.


“Ayo, masuk.” Hasbi mempersilakan Maya masuk.”


“Assalamu'alaikum,” Maya memberi salam sembari melepaskan alas kakinya.


“Alaikumsalam,” terdengar suara jawaban dari dalam.


“Wah ini pasti Nak Maya, yang selalu diceritakan Hasbi ya?” sapa perempuan tua yang baru keluar dari ruang tengah.


Maya mengamit tangan perempuan itu lalu menciumnya, hal yang sama juga Maya lakukan pada laki-laki berambut putih di sebelahnya.


“Ini rumahmu?” bisik Maya pada Hasbi.


Laki-laki itu menggangguk.


“Kamu bilang merindukan Bapak dan Ibu. Anggaplah mereka sebagai orang tuamu juga.” Hasbi tersenyum.


Ibu Hasbi memeluk Maya dengan kasih, perempuan tua itu juga terlihat sangat bahagia dengan kedatangan Maya.


“Ini kenalkan, Melsya, adikku yang paling manja.” Hasbi memeluk gadis remaja yang sejak tadi mengintip dari balik pintu.


“Ayo, Mbak, ikut aku.” Melsya menarik tangan Maya masuk ke dalam kamar. Di sana ia menunjukkan semua koleksi-koleksi prangko miliknya. Gadis remaja itu seperti sangat menyukai Maya. Tak bosan-bosan ia menceritakan banyak hal tentang dirinya juga keluarga dan teman-temannya pada bidan muda itu.


Seharian ini, Maya lupa akan kesepiannya. Canda dan tawa membuatnya merasa arti keluarga yang sebenarnya. Kasih sayang Ibu dan Ayah Hasbi membuat Maya seolah memiliki orang tua baru.


Ditambah dengan tingkah manja Melsya, gadis remaja itu seperti menjadikan dirinya seorang kakak yang sangat dicintai adik perempuannya.


Lengkap sudah hidup Maya hari ini, tak segan-segan pula gadis itu ikut turun ke dapur membantu ibu mempersiapkan makan siang yang akan dibawa ke sawah untuk ayah dan Hasbi di sana.


Tak perlu menunggu waktu lama, setelah semua makanan siap, Maya dan Melsya berjalan menyusuri jalan kecil yang membawa mereka pada view sawah yang hijau membentang. Siang itu mereka yang bertugas mengantarkan rantang berisi makanan penuh sebagai bekal makan siang mereka.


Maya benar-benar bahagia mendapatkan pengalaman makan bersama di sebuah pondok kecil di tengah sawah. Makanan sederhana yang dibawanya dari rumah Hasbi terasa begitu nikmat.


Saat sore menjelang, sebelum pulang ke rumah tak lupa Hasbi menyempurnakan kebahagian Maya hari ini dengan membawanya ke sebuah sungai kecil yang mengaliri sawah mereka.


Tanpa ragu Maya berkecipak bermain air yang sangat jernih itu bersama Hasbi dan Melsya.


Mungkin mereka tak pernah menyadari, sepasang mata mengamati kebahagiaan mereka dari jauh. Mata Plenggo terlihat memerah, panas membara mengisi hatinya yang diliputi api cemburu.


“Aku harus mendapatkan dia, apa pun caranya!” gumam Plenggo.


Ia melemparkan sesuatu ke dalam aliran sungai tak jauh dari tempatnya berdiri.


Apa yang akan terjadi pada kisah cinta segitiga mereka?


Sabar ya, jawabannya ada di kisah selanjutnya!

__ADS_1


__ADS_2