
Dokteeeeeer!” Bidan Maya berlari menyongsong gadis muda yang masih terlihat lemah dalam gendongan pemuda gagah berbaju loreng.
“Tolong bantu saya buka pintu kamar Rengganis, Bu,” pinta Kapten Biru.
Bidan tua itu bergegas menuju rumah dinas Dokter Rengganis, langkahnya cepat mendahului Kapten Biru. Reumatik yang mulai menyerang kakinya mendadak luput dari ingatannya.
Bidan Maya sempat melirik laki-laki bermata sayu yang memandanginya penuh arti dari jauh. Laki-laki itu tetap berdiri di depan mobilnya tanpa berani mendekat. Ia tak bisa membohongi hatinya yang tetap bergetar saat melihat wanita berkulit sawo matang yang dulu sempat menjadi bagian hidupnya.
Bidan maya menutup mata, wanita itu mencoba mengabaikan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya, masih terasa cinta dan sakit hati yang hadir bersamaan, menguap ke permukaan saat memandang laki-laki tua yang masih terlihat penuh wibawa itu.
“Silakan, Kapten,” Bidan Maya mempersilakan Kapten Biru membawa Dokter Rengganis masuk ke dalam rumah dinasnya.
“Tolong ambilkan air hangat, Pak!” pinta Bidan Maya pada Pak Hari.
Pak hari yang sejak tadi mengikuti langkah Kapten Biru segera berlari ke belakang mengambil air hangat yang diminta Bidan Maya.
“Aku gak papa,” Rengganis memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
“Saya senang Dokter kembali dalam keadaan selamat seperti ini, mereka itu memang manusia tak punya hati.” Mata perempuan tua itu memicing sinis.
“Ini air hangatnya, Bu. ” Pak hari datang membawa sebuah baskom berukuran sedang bermotif batik dengan warna hijau toska berisi air hangat.
“Terima kasih, Pak.” Bidan Maya segera mengompres lebam yang ada di sekujur tubuh Rengganis.
“Aku benar-benar gak papa, Bu.” Rengganis memegang tangan Bidan maya yang siap memeras kain handuk yang telah dicelupkannya ke dalam baskom berisi air hangat itu.
“Kamu harus mendapatkan perawatan yang baik, Rengganis. Jika tidak mau kulit mulusmu berubah menjadi penuh bekas luka yang mengerikan.” Kapten Biru mencoba merayu Rengganis.
Gadis cantik itu hanya membalasnya dengan melotot tajam sambil menggigit bibir, seolah menunjukkan ketidaksukaannya pada kata-kata yang baru saja diucapkan laki-laki yang sejak tadi berada di sisinya.
Kapten Biru tersenyum melihat ekspresi yang diperlihatkan Rengganis.
“Baiklah sekarang kamu sudah aman, aku pergi dulu, akan membantu yang lain mencari Mbak Astuti,” pamit Kapten Biru.
Rengganis menarik tangan kanan lelaki muda itu. Kapten biru menoleh, memperhatikan wajah sendu dokter cantik itu beberapa saat.
“Ada apa?” tanya Kapten Biru lembut, tubuhnya sedikit ditundukkan hingga telinganya berjarak tak begitu jauh dari bibir Rengganis.
“Tolong selamatkan Mbak Astuti,” pinta gadis manja itu.
“Ya, sebagai gantinya kamu juga harus segera membaik saat aku kembali membawa Mbak Astuti," perintah Kapten Biru, tangannya membelai rambut Rengganis yang lembut. Sementara gadis itu membalasnya dengan anggukkan kecil.
“Terima kasih,” bibir merah muda Rengganis kembali menyunggingkan senyum simpul.
Kapten Biru melambaikan tangannya dan menghilang di balik pintu kamar Rengganis.
“Mari Dokter saya bantu bersihkan lagi luka-lukanya dan mengoleskan salepnya agar cepat kering.” Tangan Bidan Maya bergerak dengan sangat lincah meski usianya tak lagi bisa dibilang muda.
__ADS_1
Sambil mengoleskan obat ke seluruh luka-luka Dokter Rengganis, otaknya kembali berpikir. Hayalannya kembali ke masa lalu.
Masa-masa muda, masa-masa indah bersama laki-laki yang tadi sempat dilihatnya berdiri di depan.
“Mau numpang tanya, Pak. Kalau mau ke desa Pringjaya saya harus lewat mana ya?” tanya pada Bidan Maya muda yang baru ditugaskan di puskes desa Pringjaya pada dua orang laki-laki yang dijumpainya di depan halte bus tak jauh dari pasar kabupaten.
“Anda bidan baru di puskes ya?” tanya Hasbi, pemuda hitam manis yang baru pulang dari pondok pesantren Nurul Qur’an. Hasbi juga sedang menunggu angkutan kota menuju ke kampungnya, Sidoraharjo, yang letaknya berdampingan dengan desa Pringjaya, tempat bidan manis itu akan berdinas.
"Kok tahu? " tanya Bidan Maya penasaran.
"Sudah lama puskes desa kami tidak memiliki tenaga bidan dan beberapa hari lalu saya dengar dari salah satu teman saya, desa Pringjaya akan kedatangan bidan muda," jelas Hasbi.
Hari ini memang mereka bertiga kebetulan bertemu. Tiga orang yang dipertemukan oleh takdir.
Awalnya Hasbi berdiri sendirian menunggu angkutan yang sepertinya sudah tak ada di sebuah halte bus. Tak lama Hasbi menunggu, berhentilah sebuah mobil taft berwarna hitam milik keluarga Kiamun Hadi yang dikendarai Plenggo muda. Pemuda penggangguran yang hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya.
Hasbi dan Plenggo memang teman kecil. Selain mereka bersekolah di sebuah sekolah dasar negeri di kampung mereka, sehari-hari pun mereka biasa menghabiskan waktu berpetualang di kebun-kebun bahkan hutan kecil desa bersama anak-anak yang lain.
Setelah beranjak remaja, Hasbi yang terkenal ulet dan tekun serta sholeh memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di sebuah pondok pesantren di luar kota, sementara Plenggo meneruskan pendidikan di sekolah menengah atas di ibukota kabupaten mereka.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren, Hasbi diminta untuk bergabung menjadi staf pengajar di almamater tempatnya menimba ilmu. Hanya sesekali laki-laki itu pulang ke kampung halaman saat libur semester atau libur menjelang hari raya seperti saat ini.
Plenggo yang melihat Hasbi berdiri sendirian dengan tas jinjing besar ditangan kanan dan kotak kardus berisi oleh-oleh ditangan kirinya berhenti menawarkan tumpangan. Plenggo baru saja menjumpai teman-teman semasa sekolah di ibu kota kabupaten ini, dia datang untuk reuni sekolah.
“Ikut kami saja, mau? tanya Plenggo.
“Tenang saja, kami orang baik-baik kok,” ucap Plenggo seolah-olah bisa membaca pikiran Maya.
“Iya, Mbak. Saya sejak tadi menunggu angkutan tapi sepertinya tidak ada. Kita telat.”
“Maksudnya bagaimana ya, Mas?” tanya Maya yang betul-betul tak tahu seluk beluk desa yang akan menjadi tempatnya tinggal barunya kelak.
“Wah, Mbak belum tahu ya. Kalau Pringjaya itu termasuk desa tertinggal, Mbak. Hanya ada dua angkutan yang masuk ke sana dalam sehari. Satu di pagi hari sekitar pukul tujuh atau delapan, yang satunya pukul dua belas atau pukul satu," jelas Plenggo dengan gayanya yang meyakinkan.
“Betul, Mbak. Semakin cepat muatan penuh maka semakin cepat pula mobil berangkat. Tadi saya tiba di sini pukul 13.15 WIB. Mobil sudah tidak ada, pasti sudah berangkat ," tambah Hasbi.
Maya melirik jam tangan miliknya, jarum pendek telah berada di angka empat. Ia menunduk mempertimbangkan apakah harus menerima tawaran dua laki-laki yang tak dikenalnya ini.
“Bagaimana, Mbak? Apa mau ikut? Kita harus cepat kalau tidak mau kemalaman di jalan. Jalan sedikit rawan di malam hari.” Plenggo tersenyum. Laki-laki itu telah menaruh hati pada bidan muda yang terlihat sangat baik itu.
Maya menggangguk pertanda menyetujui tawaran Plenggo.
Mereka bertiga segera naik ke atas mobil. Bidan Maya tampak kesulitan mengangkat koper besar berisi pakaian dan peralatan-peralatan lainnya. Hasbi dengan gesit mengambil alih gagang koper untuk membantu Maya.
Tanpa sengaja, tangan Hasbi menyentuh tangan Maya yang sedang memegang kopernya dengan erat.
“Afwan,” ucap Hasbi mengatupkan tangannya. Wajahnya jadi salah tingkah. Bidan Maya menunduk tak mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
Plenggo melirik kejadian itu dari kaca spion mobil. Hatinya berdetak, ada rasa cemburu dengan kejadian kecil yang baru dilihatnya, namun laki-laki itu berusaha tak menunjukkanya.
Sepanjang perjalanan mereka bertiga berbincang sangat akrab, semua topik perbincangan menjadi hangat dan sangat seru.
“Kok berangkat sendiri?” tanya Plenggo ingin tahu.
“Maksudnya, Mas?” Maya balik bertanya.
“Kok gak diantar pacar atau keluarganya gitu?” sambung Plenggo.
“Oooh.” Maya tampak tersenyum, wajahnya tersipu.
“Saya yatim piatu, Mas. Kedua orang tua meninggal waktu saya masih kelas satu SMA. Jadi saya berusaha membiayai hidup dan kuliah saya sendiri.”
Kedua laki-laki itu terdiam, secara bersamaan Hasbi dan Plenggo memandang wajah Maya yang berada di tempat duduk belakang seorang diri dari kaca pantul.
“Maaf,” Plenggo merasa tak enak hati atas pertanyaan yang tadi dilontarkannya.
“Tak apa-apa, Mas. Selama ini saya tinggal dengan Bibi dan paman. Tidak mungkin mereka mengantarkan saya kemari, itu akan merepotkan mereka. Lagi pula kasihan dengan biaya yang harus ditanggung untuk biaya perjalanan bolak-balik. Jadi, biarlah saya berangkat sendiri saja. Toh saya sudah biasa mondar-mandir kemana-mana sendirian.”
Hasbi dan Plenggo saling pandang. Ada tatapan kasihan di mata mereka. Rasa simpati pun tumbuh pada gadis muda yang begitu berani dan mandiri ini.
“Kami akan membantumu merasa nyaman di desa yang baru kamu kenal,” Hasbi mengalihkan pokok perbincangan.
Perempuan berambut panjang yang diikat rapi model ekor kuda itu mengangguk. Ia senang mendapatkan teman baru di hari pertamanya datang ke desa Pringjaya, ia berharap ini akan menjadi awalnya yang bagus untuk pekerjaannya di sana.
“Terima kasih ya sudah mau menjadi temanku,” ucapnya tulus.
Kedua laki-laki itu menggangguk serempak. Mereka tertawa bersama.
**
Vila keluarga Plenggo tampak masih ramai dengan prajurit-prajurit berseragam loreng lemgkap. Beberapa polisi dari polsek pun telah datang, bergabung untuk membantu proses pencarian Astuti.
“Bagaimana, sudah ada informasi baru?” Kapten Biru mendekati Sersan Leo.
“Siap, belum Kapten.”
“Baiklah ayo kita cari lagi,” Kapten Biru yang baru saja tiba segera bergabung dengan pasukan yang masih sibuk mencari keberadaan Astuti di sekitar vila.
Bagaimana cinta segitiga Bidan Maya, Juragan Plenggo Hadi dan Pak Hasbi, Kepala Desa Sidorahajo terjadi?
Dimanakah Astuti bersembunyi?
Dapatkah para prajurit tentara dan kepolisian menemukannya?
Tunggu di kisah selanjutnya!
__ADS_1