
Rengganis masuk ke halaman PKM Pringjaya dengan langkah lunglai. Matanya yang bening tampak kosong tak bersemangat. Pikirannya yang ruwet seakan tergambar jelas dari ekspresi wajah yang murung.
Mbak Katmia berhenti di depan pintu pagar, ia memutuskan membiarkan Dokter Rengganis meneruskan langkahnya sendiri melewati koridor pendek di sisi kanan ruang tunggu sendirian. Sudah dapat dipastikan dengan jelas wanita itu berniat masuk ke dalam rumah dinasnya.
Semua yang menyaksikan hal itu seolah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dokter cantik yang beberapa jam lalu masih terlihat sangat ceria tiba-tiba pulang dalam keadaan yang murung seperti ini.
Mbak Katmia mengangguk, dengan isyarat mata pada semua untuk mengabaikan apa yang terjadi tanpa membahasnya apalagi bertanya langsung pada Rengganis.
“Biarkan saja Dokter Rengganis sendiri dulu,” ucap Mbak Katmia.
“Betul, ayo-ayo kita lanjutkan lagi pekerjaan kita, hari sudah semakin siang.” Pak Hari mencoba menutup semua tanda tanya para warga yang masih ramai berkumpul di puskesmas untuk bergotong-royong.
“Iya benar Bapak-bapak, Ibu-ibu, sebentar lagi kita santap siang sama-sama ya, Mbak Retno dan yang lain sudah masak menu sederhana di dapur umun mohon dimakan dulu. Seadanya saja, maaf jika kurang berkenan,” tambah Bidan Maya.
“Iyaaaa, Buuu,” jawab warga serempak.
Meski dalam hati mereka ingin tahu apa yang terjadi pada dokter kesayangan mereka, namun, warga desa Pringjaya tak ingin mengganggu privasi dan perasaan Rengganis. Mereka berpura-pura tak terjadi apa-apa demi menjaga emosi Sang Dokter.
Bidan Maya berbalik berniat menemui Rengganis. Ia paham betul dokter muda yang telah dianggap bagai putrinya sendiri itu pasti membutuhkan seseorang untuk bisa menumpahkan isi hatinya.
Bidan Maya melangkah dengan cepat menuju rumah dinas Dokter Rengganis.
“Mau kemana, Bu?” tanya Retno yang masih sibuk menata sepiring besar lalapan untuk makan siang.
“Saya mau ke tempat Dokter Rengganis dulu, mau kasih tahu warga sudah siap untuk makan bersama. Ayo, diteruskan saja Mbak Retno.” Bidan Maya mengangkat tangan kanannya memberi kode untuk mengabaikan apa yang akan dilakukannya.
“Dokter, Assalamualaikum.” Bidan Maya mengetuk pintu rumah Rengganis untuk ketiga kalinya. Masih tak ada jawaban.
Bidan Maya mulai gelisah, ia khawatir apa yang sedang dilakukan dokter muda yang sedang kasmaran itu. Ia takut Rengganis melakukan hal-hal di luar nalar.
Bidan Maya paham betul ini adalah cinta pertama bagi Rengganis. Cinta pertama yang berat.
Jeglek. Tiba-tiba handle pintu ditarik ke bawah. Pintu terbuka lebar. Rengganis berdiri di ambang pintu memeluk Bidan Maya dengan sangat erat. Wanita paruh baya itu tahu apa yang harus dilakukannya.
“Menangislah, Nak. Menangislah. Jika itu mampu melegakan hatimu.” Bidan Maya mengusap-usap pinggang Rengganis penuh rasa sayang.
Lama Rengganis bersandar pada pelukan Bidan Maya, Kepalanya tertidur di bahu Bidan Maya yang bertubuh lebih kecil darinya. Hingga akhirnya, gadis cantik itu dapat kembali menguasai dirinya.
Bidan Maya menarik tangan Rengganis, mengajaknya masuk kembali ke dalam rumah dan dibimbingnya Rengganis duduk pada sofa usang yang masih terawat rapi.
__ADS_1
“Ceritakanlah sesuatu padaku, Dok, agar hatimu lebih lapang.” Bidan Maya masih merangkul Rengganis.
“Saya tak tahu apa yang terjadi pada Kapten Biru. Laki-laki itu benar-benar aneh.” Rengganis mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya.
Bidan Maya tetap diam, ia ingin memberikan ruang bagi Rengganis untuk menumpahkan semua kelu-kesahnya.
“Suatu waktu aku merasa ia sedang diliputi cemburu yang membabi-buta, di waktu lain aku merasakan ia sedang melindungiku.”
“Ia bilang sangat mencintaiku dan takut kehilanganku tapi kenapa ia membebaskanku untuk melakukan semua hal yang bisa membuatku bahagia. Bukankah itu sama artinya ia memutuskan cintaku, Bu?” Air mata Rengganis menetes lagi.
“Yang sabar ya Bu Dokter,” Bidan Maya membenahi anak rambut Rengganis yang menempel di pipi melekat dengan air matanya yang membasahi pipi.
“Kapten Biru itu memiliki pemikiran yang matang, saya melihat dia adalah ahli strategi yang baik. Perhitungan yang dilakukannya selalu tepat, dia juga pemburu yang tak pernah melepaskan sasarannya.” Bidan Maya mencoba menganalisis.
“Maksud Bu Bidan?” Mata Rengganis penuh tanya.
“Ia melakukan ini pasti karena memiliki satu alasan. Saya yakin, ia tak akan bisa memutuskan cinta Dokter Rengganis. Ada ketulusan yang begitu besar terpancar dari hatinya saat menatap Bu Dokter. Saya melihatnya sendiri, betapa kacaunya Kapten Biru melihat Dokter hilang saat itu. Laki-laki seperti itu tak akan melepaskan wanita yang dicintainya dengan teramat mudah.”
Rengganis memiringkan kepalanya, mencoba memahami semua kata-kata yang keluar dari mulut Bidan Maya.
“Kapten Biru ingin Dokter melakukan semua yang terbaik yang bisa Dokter lakukan di sini, ia tak ingin Dokter bersedih memikirkan keberadaannya yang jauh.”
“Ia pasti akan kembali. Bila memang Dokter dan Kapten ditakdirkan bersama, sebesar apa pun tantangan dan rintangan yang datang pasti akan tetap bersatu. Namun, jika tak ada jodoh mau dipaksa seperti apa pun tak akan bertemu.”
Rengganis mengangguk.
“Aku paham, maafkan aku yang selalu terbawa emosi dan kurang professional dalam bekerja ya, Bu.” Senyum Rengganis kembali mengembang.
“Dokter adalah yang terbaik, dokter adalah yang terhebat buat kami.” Bidan Maya memeluk Rengganis sekali lagi.
“Ayo kita keluar, Bu. Mereka pasti sedang menungguku,” Rengganis berdiri mematut dirinya di depan cermin. Menyapu pipi dan kelopak matanya dengan goresan bedak padat menutupi sembab karena tangisnya tadi.
Bidan Maya tersenyum.
“Dokter beneran sudah ndak pa-pa?” Bidan Maya memandangi Dokter Rengganis yang sedang mengulas tipis bibirnya dengan lipstik berwarna merah bata.
“Aku gak apa-apa. Mereka butuh aku, mereka pasti sedang berpikir apa yang terjadi padaku.” Dokter Rengganis merapikan kaus lengan panjang yang dikenakannya.
“Ayo, Bu.” Dokter Rengganis telah berdiri di depan pintu menunggu Bidan Maya yang masih duduk di sofa.
__ADS_1
“Siap, Dokter.” Bidan Maya berdiri mengikuti perinta Rengganis.
“Aku kuat, aku akan jalani hidupku dengan bahagia seperti yang dia minta.” Rengganis tersenyum sambil berbisik ke telinga Bidan Maya.
Bidan Maya kembali tersenyum, namun, kali ini sambil menunjukkan kedua jari jempolnya.
“Seandainya pun kelak kami tak ditakdirkan bersatu, aku akan berusaha untuk tetap kuat, dunia tak selebar daun kelor, aku pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari dia, akan kutunjukkan itu.” Rengganis menyentuh hidung dengan ibu jarinya.
Bidan Maya terkekeh melihat kelakuan Dokter Rengganis.
“Akan kubuat kamu menyesali kata-katamu, Kisanak.” Rengganis ikut tertawa.
Dua wanita hebat itu berjalan menuju halaman depan yang Rengganis yakini telah ramai warga yang mengantri mengambil makan siang.
“Tunggu, Bu.” Rengganis berhenti berjalan.
“Ada apa lagi, Bu Dokter?” tanya Bidan Maya.
“Ini,” Rengganis mengeluarkan kacamata yang disimpan di sakunya.
“Aku harus pakai ini, biar mereka tak pernah tahu tadi aku menangis karena cinta laki-laki jelek itu.” Rengganis mencibir meski hatinya menolak, ia paham betul jika Kapten Biru terlalu tampan tak sesuai dengan ucapannya barusan.
Bidan Maya hanya mengangguk, untuk saat ini baginya melihat Rengganis sudah mampu tersenyum dan bersemangat lagi saja sudah lebih cukup.
“Hayo, Pak, kita makan yang banyak biar sehat.” Rengganis menyapa Bapak-bapak yang masih sibuk membersihkan rumput-rumput di sekitar puskes.
“Iya, Bu,” jawab mereka.
Rengganis melihat ibu-ibu dengan tangkasnya telah menggelar banyak daun pisang yang telah disusun sedemikian rupa, nasi, lauk, sayur, sambel dan lalapan sudah berjejer rapi di atasnya.
“Kita liwetan ya, Bu Dokter,” teriak Mbok Karsih.
“Wah pasti seru nih,” Rengganis merasa tertantang.
Baginya ini adalah pengalaman baru bisa makan beramai-ramai dengan warga desa di atas alas daun pisang. Meski lauk dan sayurnya cukup sederhana namun dengan kebersamaan seperti ini makanan biasa menjadi sangat bernilai.
Fattan hanya mampu memandangi gerak-gerik Rengganis dari jauh, ia mencoba untuk menarik diri dari keingintahuannya akan apa yang terjadi pada gadis itu.
“Rengganis!" ucapnya dalam hati. Ada nada pedih yang menggores saat bibirnya menyebut nama dokter cantik yang terlihat sedag asik melebur bersama ibu-ibu desa Pringjaya.
__ADS_1
Sekian dulu episode ini, kita tunggu episode selanjutnya ya!