
Sebuah saung yang diliputi kebahagiaan yang teramat sangat seolah memancarkan cahaya lebih terang dari saung-saung lainnya. Suasana sejuk dengan hembusan angin malam yang semilir masuk lewat celah-celah bilah bambu yang teranyam rapi. Dalam samar keindahan taman-taman buatan yang terbentang di sepanjang aliran sungai kecil berbatu dan beriak itu masih dapat dilihat.
Rengganis duduk berdampingan dengan Kapen Biru sementara papi, Pak Suryo dan kedua kangmasnya asik terlarut dalam perbincangan bisnis. Mami dan Bu Suryo tak perlu lagi dipertanyakan sedang sibuk apa! Pastinya mereka sibuk mengenang semua kisah perjalanan hidup mereka di masa putih biru. Mami dan Bu Suryo memang teman semasa SMP setelah lulus masing-masing melanjutkan pendidikan di kota yang berbeda.
Bu Suryo memilih meneruskan sekolah menengah atas di sebuah sekolah swasta terbaik di kota ini sementara mami melanjutkan sekolah ke ibu kota negara mengikuti keinginan kedua orang tuanya.
“Jadi kalian masih sering ngumpul ya?” tanya mami penuh semangat.
“Iya, Jeng, kami sebulan sekali ngumpul arisan. Ayolah kapan-kapan hadir, mereka pasti seneng ketemu kamu.”
“Iya deh kapan-kapan aku jadwalkan ketemu temen-temen semua, udah kangen banget.”
“Mi, ibuku ini dan teman-temannya suka ngumpul di Gegar Resto loh,” Kapten Biru ikut nimbrung obrolan mami dan ibunya yang semakin lama semakin seru.
“Oh ya?” Mata mami melebar.
“Iya, kita paling sering ngumpul di sana.” Bu Suryo mengangguk-angguk.
“Kata ibu yang punya resto itu temen sekolah ibu juga. Iya kan, Bu?”
“Iya, ini orangnya.” Bu Suryo menunjuk mami Rengganis.
"Anak kecil ngeledek aja!" Bu Suryo sadar Kapten Biru sedang meledeknya dengan perkataannya sewaktu di depan tadi.
“Eh tunggu tadi kamu manggil Jeng Gita siapa, Le?” sambungnya.
“Mami!” Kapen Biru menjawab dengan cuek ambil memasukkan beberapa iris kentang goreng ke mulutnya.
“Lah kok sudah mami-mamian segala? Memang kamu sudah direstui to?” tanya Bu Suryo balas meledek Kapten Biru.
“Sudah dong! Ini kan tinggal tunggu penentuan tanggal baik pernikahan.” Kapten Biru memicingkan matanya pada Rengganis yang refleks mencubit pinggangnya.
Papi, Pak Suryo dan kedua kangmasnya tiba-tiba menghentikan obrolan mereka dan ikut serius mendengarkan perbincangan ibu, Biru dan mami.
“Kalau bisa secepatnya saja, Bu, minggu depan juga oke.” Kapen Biru berbicara dengan entengnya. Rengganis yang mendengar hal itu langsung melotot.
“Ih anak muda zaman sekarang ini bawaannya gak sabaran, apa-apa pengen buru-buru,” jawab Bu Suryo sambil melenggos.
“Tapi saya setuju kok, Jeng Mega, saya juga sudah gak sabar pingin nimang cucu. Kayaknya enak nikah muda kayak Jeng Mega, masih muda anaknya sudah gede-gede.” Mami menatap Kapten Biru, Mas Arga dan Mas Banyu bergantian.
“Kamu sih kelamaan nikahnya, sibuk ngurusin karir melulu.” Bu Suryo menyikut lengan mami pelan.
“Coba kalau lulus SMA terus menikah kayak aku, pasti sekarang sudah punya banyak cucu seperti kami ini,” sambungnya.
__ADS_1
Mereka tertawa serempak.
“Pokoknya aku seneng banget, Jeng Mega, kita bisa jadi besan kayak gini,” ungkap mami jujur.
“Kami juga bahagia gak ketulungan bisa jadi besanmu, perempuan multitalenta dan sukses, pasti Rengganis mewarisi semua kehebatanmu itu nantinya,” puji Bu Suryo.
“Jujur awalnya saya sempat bingung, bagaimana kelanjutan usaha kami kelak mengingat Rengganis dan Nak Biru punya banyak beban kerja, mana mungkin mereka bisa mengelola semua usaha kami.” Mami berhenti sebentar lalu tersenyum manis sekali.
“Tapi kini saya lega, saya percaya mereka pasti mampu melakukannya karena tahu latar belakang keluarga Biru yang juga pengusaha sukses.” Mami memeluk Bu Suryo.
“Kita bukan hanya mendapat satu anak, Mi, tapi tiga anak laki-laki sekaligus,” saut papi.
“Benar, Pi. Nak Arga dan Nak Banyu mau ya kelak membimbing dan membantu mereka menjalankan semua bisnis kami?” tanya mami penuh harap.
“Ngajarin Biru maksudnya, Bu Brata?” tanya Banyu.
“Iya, Biru dan Rengganis, jangan panggil Bu Brata panggil aja mami seperti Rengganis memanggil kami. Kalian juga sudah kami anggap putra kami sendiri seperti Nak Biru,” jawab mami.
“Oh iya, Mi. Terima kasih. Kalau masalah usaha, Biru itu otak bisnisnya lebih hebat dari kami. Biar bandel begitu, sejak dulu dia sudah berani main saham bahkan waktu masih duduk di bangku sekolah.”
“Oh ya?” Mami terlihat takjub.
“Betul, Jeng, Usaha meubel jati ‘Kencono Biru’ yang terkenal itu miliknya. Dulu modalnya dari jual tanah warisan yang dikasih eyang sepuh. Dasar anak nakal!” Bu Suryo memukul kaki Biru, wajahnya terlihat jengkel mengingat warisan yang tinggalkan ayahnya untuk cucu kesayangannya itu malah dijual.
Semua orang tertawa termasuk Rengganis.
“Kita coba bicara sama Mbah Berno nanti ya, Pak. Kita tentukan hari baik. Pasti langsung kita kabari.”
Kapten Biru tampak tidak sabaran ingin mendengar hasil perhitungan tanggal Jawa yang baik untuk hari pernikahan mereka.
“Oh baiklah kalau begitu, kami akan menunggu kabar baik selanjutnya. Sekarang ayo kita santap dulu makanan ini keburu dingin.” Papi melebarkan kedua tangannya seakan memberi isyarat bahwa semua hiangan di atas meja harus segera dihabiskan.
Selesai jamuan makan, mami dan Bu Suryo kembali meneruskan cerita kenangan lama mereka bahkan Rengganis melihat kedua wanita paruh baya itu sibuk bervidcall dengan beberapa ibu-ibu seusia mereka.
“Kita jalan-jalan yok, ajak aku mengelilingi tempat ini,” pinta Kapten Biru sambil menarik tangan Rengganis.
Rengganis tersenyum dan menuruti keinginan kekasih hatinya itu.
“Di sana suasananya enak.” Rengganis menunjuk sebuah jembatan bambu yang terbentang menghubungkan dua sisi sungai. Lampu-lampu berbentuk bintang berkelap-kelip di sepanjang jembatan bagai bintang sungguhan yang berbaris turun ke bumi.
Dua insan yang dimabuk cinta itu kini telah berdiri berhadap-hadapan di tengah jembatan bambu. Saling memandang dengan penuh perasaan cinta yang menggebu.
Perlahan Kapten Biru merogoh kantong celananya meraih sebuah kotak kecil berwarna hitam, dibukanya pelan. Rengganis tersenyum malu melihat sebuah cincin berukuran kecil dengan batu cantik di atas tahtanya.
__ADS_1
Kapten Biru mengamit tangan kanan Rengganis, cincin bertahta batu biru itu kini melingkar indah di jari dokter muda yang masih tersipu malu.
“Ini aku bawa jauh dari Libanon,” ucap Kapten Biru.
Rengganis memicingkan sebelah matanya seakan tak percaya cincin itu adalah oleh-oleh spesial dari sang kapten.
“Hari kedua aku berada di sana aku sudah berpikir hadiah apa yang akan kubawa pulang untukmu dan di hari ketiga aku berhasil bertemu seorang pengrajin perhiasan yang terkenal jadilah cincin cantik ini melingkar di jari manismu sekarang.”
“Terima kasih ya, aku terharu.” Rengganis menutup matanya yang berkaca-kaca.
“Tahukah engkau tak pernah sedetik pun aku melupakanmu. Kamu selalu ada di pikiranku, bayangan wajahmu selalu mengisi hatiku.” Kapten Biru menggenggam kedua tangan Rengganis.
“Apa kamu tahu? Aku pun tak pernah bisa jauh dari kenanganmu. Tak ada yang bisa menggantikanmu,” balas Rengganis tak kalah puitis.
“Cincin itu aku anggap sebagai cincin lamaranku ya. Kamu mau kan menikah denganku?” Kapten Biru memandang tulus kedua bola mata indah Rengganis. Laki-laki tampan itu yakin betul gadis cantik itu pasti akan menerima pinangannya.
Rengganis tersenyum dan bergelayut manja di lengan Kapten Biru sambil meneruskan ayunan kaki mereka menyeberangi sungai kecil yang berwarna-warni tersorot lampu tembak warna.
“Aku mau menjadi persitmu dengan satu syarat.”
“Apa itu?” tanya Kapten Biru penasaran.
“Tunggu aku.”
“Tunggu? Memang kamu mau kemana lagi, Yang?” Kapen Biru menghentikan langkahnya dan sekali lagi menatap serius pada wajah Rengganis.
“Aku harus kembali ke Korea, aku harus menyelesaikan studiku yang hampir rampung.”
“Tak bisakah kamu menyerah saja pada ambisimu itu? Demi aku!”
“Bisa! Tapi apa kamu mau punya pendamping yang lemah yang dengan mudah menyerahkan cita-citanya pada keadaan.” Rengganis mulai paham cara meruntuhkan kekakuan tentaranya tampan ini.
“Aku cemburu,” tembaknya.
“Cemburu?” Rengganis sontak terkekeh.
“Pada siapa?” tanya Rengganis lagi.
“Pada laki-laki Korea yang hampir mendapatkan cintamu juga pada semua oppa-oppa ganteng yang kau bilang.” Kapten Biru menekuk wajahnya.
“Hanya kamu yang ada di hatiku, My possessive captain. Percayalah! Aku akan kembali secepatnya.” Rengganis mengangkat dua jarinya sambil mengangguk pasti.
Akankah Kapten Biru mengizinkan Dokter Rengganis kembali ke negeri gingseng?
__ADS_1
Apakah konflik babak baru hubungan jarak jauh akan dimulai?
Silakan temukan jawabannya di episode-episode selanjutnya!