MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
RESTU


__ADS_3

“Pi,” Rengganis kaget, laki-laki paruh baya yang sangat diseganinya itu tiba-tiba telah berada tepat di belakangnya, berdiri di tengah pintu gerbang besar istana keluarga Brata.


Sementara dari balik kaca mobil senyum Kapten Biru yang sebelumnya mengembang sempurna tiba-tiba mengatup sepi. Tangannya bergerak menarik handle pintu mobil dengan cepat dan tubuhnya melompat turun dengan segera.


Kapten Biru menghentikan langkahnya tepat di sebelah Rengganis. Dalam diam Kapten Biru memasang kuda-kuda, bersiap menerima apa pun keadaan terburuk yang harus mereka hadapi. Tangannya siap menangkap jika saja papi akan melayangkan tamparan kerasnya pada wajah Rengganis, gadis yang harus dilindunginya.


Papi mulai berjalan mendekati mereka.


“Nak Biru silakan pulang dulu, hari sudah malam. Besok kita akan bicarakan semua dengan lebih santai!” suara papi terdengar sangat bijaksana.


“Iya, Pak. Saya … saya mohon maaf—”


“Sudah tak apa, besok kita akan bicara lebih banyak. Kami menunggu kedatangan Nak Biru, sekarang rasanya sudah terlalu malam.”


Biru memalingkan wajahnya pada Rengganis berharap mendapat petunjuk apa yang harus dilakukan. Tak lama gadis cantik itu menganggukkan kepalanya beberapa kali.


“Baik, Pak. Saya pulang dulu kalau begitu.”


Dengan penuh percaya diri kapten Biru mendekati Pak Brata, menyalami milyarder ternama itu dan bergegas kembali ke mobilnya.


“Ayo masuk!” ajak papi pada putrinya.


Mami dan nenek sudah berdiri di depan pintu rumah menyambut kedatangan Rengganis. Pak Marwan, sopir papi bergegas membawakan tas jinjing hitam milik Rengganis.


“Apa kabar, Sayang?” Nenek memeluk cucu yang amat dirindukannya itu.


Rengganis membalas pelukan nenek dengan perasaan bahagia.


“Rengganis sehat, Nenek?” jawab Rengganis.


“Nenek akan selalu sehat untuk terus bisa membelamu.” Nenek berbisik di telinga Rengganis.


Rengganis tersenyum, “ Terima kasih, Nek,” ucapnya senang.


“Mami!” Rengganis melepas pelukan nenek dan mengambil tangan ibunya untuk di salami. Mami menarik putrinya ke dalam pelukannya pula.

__ADS_1


“Kau sudah jadi anak nakal ya sekarang.” Mami mencubit pinggang Rengganis.


“Ih mami apaan sih?” Rengganis memegangi pinggangnya sambil nyengir.


“Sudah … sudah, biarkan dia mandi dan istiraht dulu dulu, nanti kita sambung lagi kangen-kangenannya.” Nenek kembali menarik tangan cucunya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Rengganis berhutang cerita pada nenek, janji ya, Rengganis harus ceritakan semua pengalaman serumu hari ini.” Nenek mengedipkan satu matanya sebelum melepas Rengganis masuk ke dalam kamar.


Satu jam lebih papi, mami, nenek serta Bik Onah terlihat sibuk mondar-mandir di ruang keluarga. Papi bahkan duduk di sofa lalu berdiri tak lama kembali duduk seperti benar-benar tak sabar menunggu putrinya keluar dari kamar. Sementara mami hanya membolak-balik majalah yang berada di tangannya tanpa tahu apa yang sedang dibaca. Bik Onah pun sedari tadi terlihat sibuk mengelap lemari hias tak berkesudahan, hanya kain lap dan kemocengnya yang bergerak hilir mudik tanpa pasti kapan akan berhenti. Tak ada niat lain, Bik Onah ingin tahu juga apa yabg akan diceritakan nona kesayangannya itu.


“Onah, kamu ngapain? sudah malam masih bersih-bersih di sini terus,” nenek yang sadar kelakuan mereka mencoba memecah kekakuan.


“Eh gak papa, Madam. Semua kerjaan di dapur sudah beres. Sekalian mau nonton TV di sini aja,” kilah Bik Onah.


“Tumben, biasa nonton TV di belakang bareng Pak Marwan, Sutinah, dan Mang Tardi.”


“Rebutan chanel, Madam. Enakan di sini TV-nya gede.”


“Madam-madam!” Nenek membenarkan kacamatanya.


“Belum pada ngantuk ya?” Rengganis pun tampak canggung. Diliriknya sebuah jam bandul besar di dinding ruang yang telah menunjukkan pukul sebelas malam.


“Kami pasti tidak bisa tidur sebelum mendapat penjelasan darimu.” Mami membuka suara.


Rengganis duduk di samping nenek. Wajahnya penuh perasaan bersalah.


“Maafkan Rengganis, Mi, Pi, Nek. Sudah membuat kalian cemas seharian ini.” Rengganis menundukkan kepalanya.


Nenek menggenggam erat kedua tangan cucunya seakan memberi kekuatan tambahan baginya.


“Kami memang sedikit kecewa, tapi melihatmu pulang dalam keadaan sehat dan bahagia seperti tadi. Kami tak bisa berbuat apa-apa.” Papi tersenyum.


“Ya, kami tak ingin merusak hari indahmu,” tambah nenek.


Kini Rengganis mengarahkan pandangannya pada mami. Dokter muda itu paham benar, mami adalah orang yang paling menentang hubungan mereka.

__ADS_1


“Mami mau tanya, Rengganis benar-benar mencintainya? Bukan hanya perasaan simpati sesaat saja kan?” tanya mami dengan ekspresi serius.


Rengganis tak langsung menjawab pertanyaan mami tapi lewat anggukan kepalanya semua dapat memastikan apa yang menjadi jawaban Rengganis.


“Rengganis tak akan menyesalinya?” cecar mami lagi.


“Mi, apa mami pernah lihat Rengganis berjuang sampai seperti ini untuk mendapatkan sesuatu?”


Mami terdiam merenungi jawaban putrinya.


“Mi, restui kami, Mi.” Rengganis mengamit kedua lengan maminya.


Mami tak mampu menjawab hanya belaian lembut yang mendarat di kepala Rengganis.


“Rengganis, kau anak satu-satunya kami, Nak. Tak inginkah kau mencari pendamping yang bisa meneruskan semua usaha yang telah kami perjuangkan selama ini.” Mami mengangkat dagu Rengganis agar dapat menatap langsung wajah putrinya.


“Pada siapa kami berharap jika bukan padamu, Re.” Suara mami terdengar lirih.


“Mami bukannya tak suka pada Nak Biru, sejujurnya mami mengagumi laki-laki pilihanmu. Mami tahu sifat dan pribadinya amat baik, dia cocok mendapatkan cinta gadis baik seperti kamu, Re. Tapi mami juga harus pikirkan nasib ribuan orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan kita. Sementara mami dan papi semakin hari semakin tua,” sambung mami.


Rengganis hanya terdiam, gadis itu kini mulai menyadari alasan mami selama ini menentang hubungan mereka. Bukan karena harta ataupun ketidaksukaan mami pada Biru tapi terlebih karena jiwa sosial mami yang tak ingin menyulitkan banyak orang di masa yang akan datang.


“Dulu, mami berharap Rengganis dapat mengambil alih semuanya tapi mau tidak mau kami harus mengalah dengan pilihanmu untuk menjadi dokter. Mami sedih tapi masih ada harapan tersisa bagi mami, mungkin suami yang akan mendampingimu bisa menyelesaikan permasalahan ini. Tapi—” mami merasakan tenggorokannya tercekat.


“Mi, haruskah Rengganis berhenti dari pekerjaan Rengganis untuk bisa mendapatkan restu mami?” Suara Rengganis terbata-bata seakan ingin menangis.


“Re—mami—”


“Atau mami mau Kapten Biru yang harus mundur dari pekerjaannya?”


“Apa mungkin bisa begitu, Re?” Mata mami membundar. Terlihat aura bahagia tiba-tiba berpendar dari wajahnya.


“Kapan Nak Biru datang ke rumah? Mami tak sabar ingin bicara langsung padanya.” Mami berdiri meninggalkan Rengganis dengan mulut ternganga lebar, bingung dengan apa yang sedang dipikirkan wanita yang telah melahirkannya itu.


Apakah benar mami ingin Kapten Biru berhenti menjadi tentara dan mengambil alih singgasana kerajaan bisnis keluarga Brata Warman? Dan bersediakah kapten Biru mengorbankan cita-citanya sedari kecil demi cintanya kepada Rengganis?

__ADS_1


Kita tunggu kelanjutan ceritanya! Jangan lelah menunggu ya!


__ADS_2