
“His, kemana sih telepon gak diangkat, chatku juga gak dibaca.” Rengganis membanting telepon genggamnya ke tempat tidur.
“Apa belum bangun ya?” Matanya melirik jam weker di atas buffet kecil yang terdapat di sisi tempat tidurnya yang empuk.
“Ah tidak-tidak! Ini sudah pukul delapan mana mungkin seorang tentara masih hanyut dalam mimpinya saat matahari sudah terang benderang begini.” Rengganis menggelengkan kepalanya berulang-ulang, tanpa sadar giginya menggigit-gigit kuku.
“Non-non-non,” suara Bik Unah menggedor-gedor pintu kamar.
Jeglek, Rengganis berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.
“Ada apa lagi?” tanya Rengganis sadis.
“Mau bangunin aku ya? Aku udah bangun dari tadi! Malah gak bisa tidur semaleman.”
“Hehehe. Bibik kira Non Rengganis belum bangun.”
“Ye, enak aja!” Rengganis memonyongkan bibirnya.
“ Non, itu ada tamu.”
“Siapa?” Rengganis masih acuh tak acuh.
“Mas Kapten ganteng,” jawab Bik Unah malu-malu.
“Bibik kenapa gak bilang dari tadi.” Rengganis menutup kembali pintu kamarnya. Bergegas mencuci muka dan memoleskan lipstik tipis berwarna natural serta menyisir rambutnya secara kilat.
“Kapten Biru!” teriak Rengganis setengah histeris melihat pria yang dicintainya sudah duduk manis di ruang tengah bersama mami dan papi.
“Ups! Mas Biru maksudnya.” Rengganis menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Ih masih pake baju tidur!” teriak mami menyadarkan Rengganis bahwa ia lupa mengganti piyama tidur yang dikenakannya sebelum turun ke bawah.
Memang benar begitu mendengar nama Kapten Biru disebut oleh Bik Unah, gadis cantik itu terburu-buru ingin segera keluar dari kamar tanpa peduli keadaan dirinya yang masih berbaju tidur.
Kapten Biru hanya nyengir tipis melihat kepanikan yang terpancar dari wajah Rengganis. Meski berbalut piyama tidur dengan wajah tanpa riasan Rengganis masih tetap terlihat cantik memesona.
“Sudah lama?” tanyanya.
“Baru.” Kapten Biru menjawab sambil tersenyum.
“Pantesan gak jawab teleponku rupanya sudah di jalan ya? Tapi ini kan masih pukul delapan pagi.” Rengganis kembali melirik jam bandul di ruang tengah yang terbuat dari kayu jati asli berplitur coklat dove.
“Namanya tentara, sudah terkenal disiplin, jadi kalau janji besok ya besok,” papi menimpali.
“Iya, Pak. Saya juga tak bisa tidur semalaman. Terlebih setelah dapat chat dari Rengganis.”
Mami dan papi melirik anak gadisnya serempak. Rengganis tertunduk pura-pura merapikan rambutnya yang tergerai panjang.
“Rengganis bilang apa?” tanya mami penasaran.
Ia tahu perihal keinginannya untuk membuat Kapten Biru sebagai pewaris bisnis keluarga mereka pastilah sudah sampai ke telinga pemuda itu. Putrinya pasti sudah melaporkan semuanya pada Kapten Biru tadi malam.
__ADS_1
Ya betul, Semalam, setelah apa yang terjadi di ruang tengah ini, Rengganis langsung menceritakan semua yang terjadi pada Kapten Biru dan semua itu ternyata berhasil membuat Kapten Biru tak dapat tidur barang sedetik pun dan bergegas berangkat dari rumah meski mentari belum muncul di langit.
“Em—” Biru menarik napas panjang, seakan berat memulai percakapan ini.
“ Jadi bagaimana menurut, Nak Biru?” tanya mami lagi.
“Maaf, Bu. Saya—”
“Udah deh, Nak Biru cinta kan sama anak mami yang cantik ini?” Mami menatap Kapten Biru lekat-lekat.
“Iya, Bu. Saya sangat mencintai Rengganis dan saya tak mau kehilangannya.” Biru berkata dengan sangat pasti.
“Kalau begitu mulai sekarang Nak Biru harus belajar bisnis, secepatnya harus mengundurkan diri dari kemiliteran ya!” desak mami.
“Toh, enak jadi pengusaha loh Nak Biru. Hidupnya lebih terjamin, penghasilannya lebih banyak dan yang pasti gak harus susah-susah tidur di hutan, ikut perang dan lain sebagainya yang dapat menghilangkan nyawa Nak Biru.”
“Mami juga legaaa banget kalo Nak Biru bisa ikut keinginan mami dan papi. Kami bisa tenang melepas Rengganis di masa tua kami karena anak kami tidak mungkin ditinggal-tinggal tugas jauh-jauh lagi.” Mami tersenyum manis berusaha menggoyahkan pendirian Kapten Biru.
“Mi, berilah Nak Biru kesempatan berbicara.” Papi akhirnya buka suara.
“Eh, maaf, Bu—”
“Mami. Panggil saja seperti itu, sebentar lagi kan Nak Biru jadi anak kami juga.”
Biru terdiam, kata-kata mami barusan seperti menjatuhkan bom di hatinya, semua porak-poranda. Ia merasa semakin serba salah.
“Mi, seperti yang mami tahu bagaimana saya menyayangi Rengganis. Saya rela mengorbankan nyawa sekali pun demi Rengganis tapi saya telah mengambil sumpah prajurit, Mi.” Kapten Biru menghela napas sebentar.
“Jadi? Nak Biru lebih memilih pekerjaan Nak Biru daripada Rengganis?” Mata mami memanas.
“Mi, cobalah mengerti, Mi. Rengganis pun tak akan mau meninggalkan pekerjaan Rengganis demi kemauan mami,” teriak Rengganis uring-uringan.
“Rengganis diam dulu, biar mami selesaikan semua.”
“Kami telah disumpah menjadikan negara dan sejata sebagai nomor satu, Mi, maaf,” suara Kapten Biru bergetar.
“Jadi Nak Biru akan meninggalkan Rengganis?” tanya papi.
“Tidak, Pi. Saya pun akan tetap memenuhi janji saya pada Rengganis.”
“Maksud Nak Biru?” tanya mami bingung.
“Saya tahu ini berat. Tapi saya akan mempertahankan cinta dan tugas saya bersamaan. Saya mohon restui kami.”
Kapten Biru menatap Rengganis. Sementara mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Tangannya menggenggam erat tangan Kapten Biru.
“Dengan atau tanpa restu mami dan papi. Aku akan ikut Mas Biru.” Rengganis menarik tangan Biru untuk pergi meninggalkan rumahnya.
“Tunggu!” ucap mami.
“Duduklah!” tambahnya.
__ADS_1
“Tidak, Mi. Aku tidak akan membiarkan Mas Biru berada di posisi sulit ini terus menerus. Aku akan pergi meninggalkan semua,” ancam Rengganis.
“Rengganis, duduk mami bilang!” bentak mami.
Kapten Biru merangkul pundak Rengganis membawanya kembali duduk.
“Dengarkan kata mami, Re,” bisiknya.
Mami menjulurkan tangannya pada Kapten Biru. Laki-laki tampan itu sempat terdiam memikirkan maksud mami untuk menjabat tangannya di masa seperti ini. Namun, ia tak ingin mengecewakan calon mertuanya itu lebih banyak maka disambutnya uluran tangan itu.
“Selamat! Kamu berhak menjadi menantu di keluarga Brata.” Mami tersenyum bahagia.
Nenek dan Bik Unah yang sedari tadi bersembunyi di dalam kamar ikut keluar. Nenek segera menghambur, memberikan pelukan hangat untuk kedua cucunya itu.
“Mami?” tatapan mata Rengganis menyiratkan kebingungan.
“Mami sengaja melakukan ini untuk memastikan laki-laki yang kau pilih memang mencintaimu bukan mencintai hartamu,” jelas mami.
“Ih mami jahat!” Rengganis memeluk erat maminya.
Kapten Biru mengusap-usap kepalanya sambil tersenyum. Matanya memendarkan kebahagiaan yang tak hingga.
“Terima kasih, Mi, terima kasih, Pi.” Kapten Biru mencium tangan kedua calon orang tua barunya itu.
“Nek, terima kasih,” Nenek membalas ucapan terima kasih Kapten Biru dengan memeluknya.
“Aku tak mungkin membiarkan kamu gagal menjadi cucu mantuku, Biru.” Nenek mengusap-usap rambut Kapten Biru.
“Sejak awal aku juga sudah jatuh hati padamu.” Nenek tertawa menggoda kapten tampan itu. Sontak wajah Kapten Biru menjadi merah merona.
Suasana yang semula panas kini berangsur-angsur berubah menjadi hangat. Hangat akan kasih sayang dan kerinduan.
Bik Unah mengeluarkan banyak sekali menu sarapan pagi spesial keluarga Brata. Nasi goreng keju, dadar telur sosis, ketan ungkep bumbu rendang, ayam goreng serbuk, kwetiau sea food favorit mami, pangsit udang andalan Bik Unah dan masih banyak lagi. Yang terpenting mango juice tidak lupa ikut hadir ditengah-tengah mereka.
Kapten Biru tersenyum saat Rengganis menyodorkan segelas besar mango juice buatnya, kenangan indah itu masih terpatri jelas diingatan. Bahkan gelas tupperware yang menjadi wadah minuman pertama yang dibuatkan Rengganis untuknya masih ada di dalam tas punggungnya yang kini ada di rumah ibu.
“Makanlah, kamu pasti belum sarapan kan, Yang?” Rengganis berbisik.
Mami dan papi yang mendengar itu saling pandang dan akhirnya saling melempar senyum penuh arti. Mereka semakin menyadari bahwa putri kecil mereka kini sudah semakin dewasa.
Hari ini menjadi hari yang sangat istimewa, seluruh pekerja di rumah Pak Brata pun ikut menikmati jamuan makan pagi ini bersama-sama mulai asisten rumah tangga, security, sopir, tukang kebun, dll.
Pak Brata sengaja memanggil mereka semua ke ruang tengah seolah ingin memamerkan calon menantu yang tampan dan gagah itu pada semua orang.
“Tapi mami gak bercanda loh, Rengganis, Biru. Kalian tetap harus pikirkan bagaimana kelangsungan usaha keluarga kita!” Mami berkata sambil lewat melintasi mereka.
Kapten Biru tersedak hingga harus menahan batuknya mendengar perkataan mami sementara Rengganis hanya mampu menanggapinya dengan nyengir kuda.
Satu tantangan restu telah usai, akankah jalan Kapten Biru dan Dokter Rengganis menuju pelaminan menjadi lebih mudah?
Kita tunggu cerita selanjutnya!
__ADS_1