
***Rindu mahatinggi adalah rindu yang tak pernah tahu dimana sumbunya
Rindu yang mengerat hati semakin lama semakin menjadi
Diantara dua lentera dalam dua belahan dunia yang tak bisa saling terpaut
Membuat koordinat yang memaksa saling tegak berpadu
Senja yang bergulir pergi di setiap sore
Membawa kesakitan dalam kesendirian
Lagi-lagi ia mengantarkan gelap pada hati tanpa penghuni
Bukan tak bertuan tetapi tak ditinggali
Cepatlah kembali, menjadi matahari di ujung mimpi
Seperti pesan purnama saat terakhir kali kita berjumpa dahulu kala
Rengganis***,
Dokter cantik itu tertunduk menatap bait-bait puisi yang baru saja ditulisnya. Dengan lembar kertas yang dihiasi noktah basah air mata yang sesekali jatuh dari mata indahnya.
Rengganis berdiri, melangkahkan kaki mendekati kaca jendela kamar messnya yang cukup kecil. Napasnya terasa sesak dan tak teratur, namun, bukan karena keadaan ruang tidur sempit yang jauh berbanding dengan kamar tidur miliknya tapi semua terjadi karena desakan hati yang penuh rindu dan benci secara bersamaan.
Masih tergambar jelas dalam memori, bagaimana Tika merangkul erat laki-laki yang telah meraih hati gadis cantik itu sambil menuliskan keinginannya membawa kakak ipar untuk Adinda. Pedih.
Petir terasa menyambar tubuh Rengganis yang kala itu masih diliputi kebahagiaan atas ucap janji yang mempersatukan dua perasaan mereka. Air mata serasa ingin membanjiri seluruh wajah ayunya, namun, tak sanggup Rengganis menunjukkan kelemahannya pada Adinda, adik kandung Tika yang kali ini pun memiliki selera yang sama dengannya.
Bukan satu dua kali apa yang menjadi pilihan dan kesukaan Rengganis juga menjadi pilihan Tika. Sejak kecil kejadian seperti ini selalu terjadi dan berulang di setiap pertemuan mereka. Tak juga berbeda dengan perjumpaan kali ini.
“Aku tak akan membiarkannya,” Rengganis meremas kertas bertulis puisi yang baru saja selesai dirangkainya.
Gadis itu telah membulatkan tekad kali ini tak akan menyerahkan apa yang menjadi miliknya pada Tika. Cukup rasanya selama ini kelembutan hati membuatnya merelakan apa yang diinginkan Tika.
Sejujurnya Rengganis tahu betul Tika sebenarnya gadis yang baik, yang salah hanya mereka selalu membuat pilihan yang sama, tipe yang sama, dan selera yang sama.
“Assalamualaikum,” suara seseorang memberi salam dari luar.
Rengganis tahu betul itu suara Fattan.
“Mungkin ia akan berpamitan,” pikir Rengganis.
Setelah Rengganis kembali ke puskes, Fattan memang berencana untuk segera angkat kaki dari sini. Ia tahu betul, Rengganis tak akan pernah menerima perhatian dan perasaannya.
“Eh iya,” Rengganis mengusap air mata, merapikan piyama tidur bergambar bulan sabit di tubuhnya dan bergegas keluar.
Krek. Pintu terbuka sebagian.
“Selamat malam, apa saya mengganggu?” wajah Fattan kaku.
“Tentu saja tidak.” Rengganis keluar dari rumah dinasnya.
“Kita duduk di sana saja ya?” usul Rengganis, menunjuk kursi teras taman yang berada antara halaman rumah dinas Rengganis dan Bidan Maya.
“Ayo,” Fattan menyetujui.
“Aku mau pamit pulang,” Fattan berkata tanpa basa-basi.
Rengganis mengangguk.
“Sebenarnya ada satu keinginanku,” Fattan menatap Rengganis penuh harap.
“Apa itu?” Rengganis berusaha tak menatap sahabat lamanya itu.
__ADS_1
“Aku ingin buat sesuatu untuk puskes kita ini. Yah, setidaknya untuk kenang-kenangan, jadi kalian akan mengingat aku pernah menjadi bagian kalian.”
Suasana tiba-tiba berubah lebih dramatis. Rengganis merasa hatinya bertambah sakit. Seolah semua orang hendak pergi meninggalkannya. Ia kembali sendirian di tempat asing yang jauh dari orang-orang terkasihnya.
“Kenapa?” tanya Fattan.
“Aku sedih, aku merasa semua orang meninggalkanku saat ini.”
Rengganis tak malu lagi meneteskan air mata kesedihannya. Ia terisak, seolah-olah tak sanggup lagi menahan beban yang menghimpit hatinya. Ia berusaha melepaskan semua bebannya setelah berkali-kali menahan tak menunjukkan sakit pada orang lain.
Tangan Fattan terangkat berniat merangkul bahu gadis cantik yang tampak rapuh di sisinya itu, namun beberapa detik tangan itu mengambang di udara dan kembali turun kembali ke posisinya. Laki-laki itu tak ingin Rengganis salah arti dengan maksudnya.
“Kamu pasti bisa melewatinya,” ucap Fattan berat.
Rengganis mengangguk.
“Terima kasih, ya. Em, jadi apa yang ingin kamu lakukan sebelum pulang?”
“Bagaimana kalau besok kita kerja bhakti dulu, kita ajak Pak RT dan warga desa. Kita perbaiki semua fasilitas puskes.”
“Kita cet, kita beli lampu dan alat penerangan yang baik, beberapa tanaman hias, alat medis dan lainnya.” Mata Rengganis berbinar terang.
“Hem,” Fattan bahagia melihat semangat kembali menyala di mata Rengganis.
“Oke, sekarang aku panggil Pak Hari, kita coba minta bantuan beliau untuk kumpulkan warga.”
“Tidak-tidak, biar aku yang koordinasi dengan Pak Hari, kamu temui Bidan Maya, siapkan kudapan ala kadarnya untuk makan siang dan jajanan pasar untuk pagi hari.”
“Setuju,” Rengganis dan Fattan berdiri, segera menjalankan bagian dari tugas mereka masing-masing dengan tos sebagai tanda pembuka kegiatan kerja bhakti mereka.
Setelah lama berbincang hangat dengan Bidan Maya mulai dari menyusun menu camilan pagi dan makan siang warga yang akan ikut membantu membersihkan dan memugar puskesmas mereka hingga kisah cintanya pada Kapten Biru, Rengganis kembali ke kamar tidur.
Matanya benar-benar tak dapat terpejam, ia begitu bersemangat menunggu fajar menyingsing. Sudah lama sebetulnya Rengganis ingin melakukan hal ini, namun, baru dapat terlaksana esok.
Gadis itu membayangkan apa saja yang harus dilakukannya mulai matahari terbit, mulut gadis itu komat-kamit mengurutkan jadwal tugasnya esok.
“Seandainya kamu ada,” Rengganis terdiam kembali.
Otaknya memutar suara Bidan Maya beberapa menit lalu.
“Serahkan semua pada hatimu. Kapten Biru aku lihat bukan tipe laki-laki yang mudah goyah. Hatinya teguh sekeras batu karang. Tak sembarang wanita bisa mengusiknya. Seandainya memang Kapten Biru memberi tanggapan pada Non Tika, pasti sudah sejak lama mereka bersama.”
Senyum Rengganis mengembang. Rasa percaya dirinya bangkit lagi, keyakinannya pada cinta suci mereka semakin kuat.
“Terima kasih, Bu Bidan.” Rengganis memejamkan matanya, mencoba terlelap. Namun, sekali lagi gagal.
Tangan Dokter Rengganis berusaha meraih HP di lemari tidur tak jauh dari dipannya.
Plip. Layar telepon pintar itu tiba-tiba terang benderang. Fotonya dan Kapten Biru terpampang jelas di sana.
“Tampan.” Diusapnya wajah Kapten Biru. Gadis itu malu-malu sendiri, pipinya memerah. Cinta memang membuat orang setengah gila. Sesaat yang lalu menangis, dan beberapa detik kemudian dapat tertawa bahagia.
“Bu Dokter,” panggil Bidan Maya dari balik pintu.
Rengganis mengerjap-kerjapkan matanya. Bulu matanya yang lentik tampak ikut naik turun seirama dengan kedua kelopak matanya yang baru saja terbuka.
“Ya ampun, aku kesiangan.” Rengganis berlari membuka jendela.
“Untung saja,” Matahari belum terbit, gadis cantik itu segera berlari membuka pintu.
“Saya sholat subuh dulu ya, Bu nanti saya susul ke dapur,” ucap Rengganis.
“Oh iya, Bu.” Bidan Maya tersenyum melihat mata Rengganis yang tampak sembab.
Pagi itu menjadi hari yang sibuk untuk mereka, semua orang terlihat begitu bersemangat. Tua-muda, miskin-kaya, pria-wanita semua ikut membantu. Puskesmas sangat ramai dan ceria hari ini.
__ADS_1
“Selamat pagi, Bu Dokter,” Sapa Bu Maryam, salah satu warga desa.
“Pagi,” balas Rengganis dengan sangat manis.
“Ini saya bawakan bunga hias, Bu. Di rumah saya ada beberapa.” Bu Maryam menunjukkan satu pot authurium, tanaman hias yang belakangan ini sangat popular, spesies tanaman yang memiliki daun lebar dan banyak, memiliki bunga berbentuk kelopak besar berwarna merah. Terlihat serasi dengan warna hijau segar daunnya.
“Wah cantiknya,” Rengganis dengan senang hati menerima tanaman hias pemberian Bu Maryam.
“Kita letakkan di situ saja ya, Bu.” Rengganis menunjuk pintu masuk ruang periksa.
“Lebih bagus jika ada dua, nanti biar saya minta Andre, anak saya, ambil satu pot lagi di rumah,” tawar Bu Maryam.
“Ya ampun terima kasih banyak Ibu, saya jadi terharu.” Rengganis terlihat sangat senang.
“Pagi, Bu.” Mbak Anis yang baru datang ikut bergabung dengan mereka.
“Pagi, Mbak.” Dokter Rengganis menyalami wanita berusia berkepala tiga itu.
“Maaf agak kesiangan, saya sempetin buat ini dulu.”
Mbak Anis memperlihatkan satu plastik besar makanan.
“Pasti enak!” tebak Rengganis. Ia menerka-nerka makanan apa yang ada di dalamnya.
“Bu Doker sudah pernah coba?” Mbak Anis mengeluarkan beberapa kue berbungkus daun pisang berwarna hujau muda.
“Apa ini namanya, Mbak?” Rengganis menerima kue-kue dari tangan Mbak Anis.
“Kalau kita sebutnya lambang sari, Mbak,” jawab Bu Maryam.
“Ini dari tepung beras, tapioka, dan ada pisang di dalamnya. Coba deh, enak, Bu,” jelas Mbak Anis.
Rengganis mulai menggigit ujung lambang sari miliknya.
“Enak, perpaduan gurih dan manis ya, Mbak. Lezatos deh pokoknya.” Rengganis mengacungkan jempolnya.
“Biar saya susun dulu, Bu, kuenya untuk makanan kita.” Mbak Asih pamit ke dapur belakang.
“Silakan, ada Bu Maya di sana.” Gadis cantik itu mempersilakan.
Fattan menatap kecerian Rengganis dengan hati berdebar, ia bahagia melihat senyum gadis yang dicintainya kini mengembang kembali. Baginya tak mengapa jika harus menepi, manjauh dari Rengganis asal mampu melihat Rengganis selalu bahagia.
“Bu Dokter, ini kita cet warna apa?” Pak Hari berteriak dari jauh.
“Em tunggu, Pak.” Rengganis berlari mendekati Pak Hari. Saking semangatnya ia tak melihat ada pipa kecil yang tergeletak di jalan.
“Eeeeee,” Rengganis tergelincir.
Srep, Fattan dengan cekatan menangkap tangan Rengganis. Hingga gadis itu mendapatkan kembali keseimbangannya.
“Hahaha, maaf-maaf,” Rengganis tersipu malu menyadari semua mata memandang mereka.
“Kiriiiim.” Seseorang yang sejak tadi sibuk mengambil gambar Rengganis tampak tersenyum puas. Akhirnya ia mendapatkan objek yang diinginkannya.
Sreet, Kapten Biru menerima sebuah foto dari nomor yang tak dikenalnya, bukan nomor tanah air, ini nomor lokal dari tempatnya berada. Namun, mengapa ada foto Rengganis sedang bergelayut sambil berpegangan tangan dengan Fattan? Mereka tampak begitu bahagia.
Sebuah pesan mengiringi foto itu, “ Mereka tampak berbahagia hari ini.”
Kapten Biru yang begitu posesif karena cintanya yang teramat besar pada Rengganis menjadi naik pitam. Ia tak pernah suka wanita yang dicintainya berdekatan dengan pria lain terlebih orang itu adalah Fattan, orang yang sudah pasti menaruh rasa pada Rengganis jauh sebelum ia mengenalnya.
Dada Kapten Biru berdegap kencang, kakinya menuju pesawat telepon terdekat yang bisa menghubungkannya ke Indonesia, ia harus memastikan sesuatu.
Apa yang akan dilakukan Kapten Biru?
Nantikan kembali episode berikutnya!
__ADS_1