MY POSSESSIVE KAPTEN

MY POSSESSIVE KAPTEN
NDORO BEI


__ADS_3

Sebuah pesawat terbang terlihat dari jauh meliuk dengan gagahnya di landasan pacu mulus Bandar Udara Soekarno Hatta. Pendaratan selesai dengan sedikit saja goncangan kecil yang tak pernah berarti apa-apa bagi ratusan personil tangguh yang berada di dalamnya.


Langit tanah air sore itu terlihat penuh dengan kelebat cahaya orange berpendar menyinari mayapada dengan rata seolah membantu garis tengah warna merah dan hitam yang saling berdampingan di ujung hari yang hampir gelap. Satu per satu anggota pasukan perdamaian mulai terlihat melintasi pintu kecil pesawat dengan senyum kemenangan.


Suara sepatu pantofel hitam berjuluk sepatu PDL itu berderap beraturan menjejakkan langkah-langkah pertama mereka di bumi burung garuda. Kebanggaan membulat haru di dada mereka. Rasa setengah tak percaya berhasil kembali menghirup atmosfer nusantara masih menghantui dengan pilu di sanubari hampir setiap anggota yang berhasil pulang dengan selamat.


Kapten Biru bersiap merapatkan kedua telapak tangannya di tanah lapangan upacara penjemputan bersama pasukan lainnya. Sujud syukur yang dilakukan secara massal membuat bulu kuduk siapa pun yang menyaksikannya merinding. Seperti terkomandoi dengan tegas pasukan berseragam unfil dengan baret biru muda yang penuh pesona kekuatan dalam ketenangan itu bergerak dengan begitu teratur seakan sesuai aba-aba.


Sementara ratusan pasang mata yang mengamati mereka dari jauh adalah keluarga, sanak saudara, kekasih bahkan kerabat yang sengaja datang bahkan dari tempat yang jauh untuk dapat bertemu dan menyaksikan kedatangan kusuma bangsa kebanggaan mereka yang telah meninggalkan tanah air selama lebih dari 12 bulan. Suara dengungan ibu-ibu berbusana hijau pupus yang tadinya riuh-rendah bagai tak pernah kehabisan bahan pembicaraan tiba-tiba berhenti tanpa syarat.


Mata mereka yang semula berbinar bahagia menyiratkan debaran ketidaksabaraan bertemu sang suami, tiba-tiba berubah menjadi mata sayu dengan genangan air mata yang membanjiri pipi mereka. Mulut-mulut penuh kerinduan itu tiba-tiba terkunci rapat tak dapat berkata-kata lagi. Rangkaian bunga di tangan yang telah dipersiapkan digenggam lebih erat.


Tatapan mereka tak berpaling sedikit pun dari rombongan pasukan garuda yang meliuk-liuk sesuai gerakan yang terjadi di dalam pasukan berseragam loreng yang sedang mengikuti upacara penjemputan itu. Semua khusuk mengikuti prosesi demi prosesi. Hanya suara anak-anak yang sesekali terdengar berbisik bertanya dimana ayah mereka.


Drep-drep-drep. Langkah-langkah kaki bersepatu berat itu terdengar setengah berlari menghambur ke arah keluarga yang telah lama menunggu. Tak sedikit yang saling bercelingukkan mencari keberadaan orang-orang terkasih yang menjemputnya.


Kapten Biru berjalan pelan. Batinnya yakin tak akan ada yang menyambut kepulangannya saat ini meski di dalam hati sebenarnya harapan Rengganis tiba-tiba berada di depannya masih terlintas begitu besar.


Langkah kedua kaki Kapten Biru berhenti di sebuah tiang koridor bandara, mata elangnya memandangi satu titik ke titik lain berharap ada bayangan wanita yang masih sangat dicintainya itu.


“Sadar Biru, dia tak akan di sini.” Bisiknya halus pada dirinya sendiri seolah memastikan bahwa Rengganis tak akan pernah muncul di hadapannya. Bagaimana mungkin gadis cantik itu tahu dia pulang jika Kapten Biru memang tak pernah mengabarkan padanya kapan ia akan kembali ke tanah air.


Bukan tak pernah Kapten Biru mencoba menghubungi Rengganis. Berkali-kali ia mencoba menelepon pesawat satelit milik Pak Yayan tapi hanya terdengar nada tunggu tanpa pernah diangkat. Kapten Biru sendiri tak pernah tahu apa yang terjadi di desa Pringjaya. Ia berharap tak ada berita buruk yang akan didengarnya seperti kejadian kali terakhir yang menimpa kekasihnya itu.


Bibir Kapten Biru tiba-tiba menyunggingkan senyuman. Hanya ia sendiri yang tahu maksud senyuman itu.


“Aku memang harus selalu siap bertarung jika ingin bersanding dengan wanita secantik Rengganis,” pikirnya. Tanpa sadar kepala Kapten Biru menggeleng-geleng kecil dengan bibir yang masih tersenyum dengan sangat manis.

__ADS_1


“Di sini to, Le.” Seorang ibu-ibu tua bersanggul Kartini dengan dengan pakaian bermode kutu baru dan jarik lukis khas wanita bangsawan Jawa.


“Ibu?” Kapten Biru melotot tak percaya dengan apa yang dilihat matanya.


“Oalah, Anakku.” Bu Suryo Hadiningrat, Ibunda Kapten Biru memeluk erat putranya yang kini kulitnya terlihat lebih eksotik ketimbang saat berangkat bertugas.


“Apa kabar, Le? Kamu sehat to? Ibu yo gak pernah putus berdoa buatmu dan temen-temen. Bapakmu ini malah gak pernah pergi dari depan TV nunggui beritamu terus.” Bu Suryo menepuk-nepuk punggung putra kebanggaannya.


“Aku baik-baik saja, Bu. Ibu, Bapak dan Kangmas-kangmas sehat semua kan?” Kapten Biru tak ingin melepaskan pelukan ternyaman dari wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu.


“Semua baik-baik saja, Ndoro Bei. Kangmas-kangmasmu minta maaf gak bisa ikut jemput, mereka cuma bisa titip salam. Tapi mereka berjanji akan segera menyusul ke sini untuk ketemu sama adik bontotnya yang dari dulu terkenal bandel.” Bapak ikut mengelus pundak Kapten Biru yang masih berada dalam pelukan ibunya.


“Bapak. Sehat?” Kapten Biru melepas pelukan ibunya.


Sebuah pemandangan yang sangat indah, seorang laki-laki gagah berpakaian seragam unfill mencium lengan laki-laki tua dengan pakaian laki-laki Jawa priyayi lengkap dengan tongkat kayu berplitur hitam mengkilap di tangan kirinya.


“Bapak ibu kemari sama siapa?” tanya Kapten Biru sambil melihat sekeliling. Mungkin laki-laki itu masih menyisihkan harapan kedua orang tuanya datang bersama Rengganis, wanita yang telah berhasil membuatnya menyimpan segudang rindu.


“Sama Bulek Nar dan Pakde Karto, Ndoro Bei,” jawab Bapak.


“ Pakde Karto?” tanya Kapten Biru tak percaya.


Pakde Karto adalah laki-laki berusia 60 tahunan tapi masih memiliki semangat bagai pemuda usia 20 tahun. Sejak tiga puluh tahun lalu, laki-laki penyabar itu ikut bekerja pada keluarga Kapten Biru. Pakde Karto adalah salah satu orang yang paling dekat dengan Kapten Biru. Dengan sabar dan telaten laki-laki tua yang telah ditinggal istrinya lima belas tahun lalu itu mengikuti semua keinginan Kapten Biru kecil seperti hobinya membuat dn bermain layangan dan mandi di sungai desa bersama teman-teman seusianya di tengah hari meski matahari bersinar dengan sangat terik.


“Memangnya Pakde Karto masih kuat nyetir ya, Bu? Di mana Pakde Karto, Pak? Gak ikut masuk ke sini?” serentetan pertanyaan keluar begitu saja dari kepala Kapten Biru.


“Satu-satu to Ndoro Bei kalau nanya!” Bapak tertawa.

__ADS_1


“Ayolah, Pak, jangan panggil aku seperti itu. Kayak kuda lumping saja aku jadinya, Buk.” Kapten Biru menyenderkan kepalanya pada bahu Bu Suryo berharap mendapat pembelaan.


“Iya nih Si Bapak, kebiasaan!" Seperti tebakan Kapten Biru, ibunya pasti akan membela putra kesayangannya itu.


“Dasar anak Si Mbok!” tawa bapak menggelegar.


“Pakdemu itu meski pun udah tua tapi gak bisa disuruh istirahat, pernah suatu waktu di suruh bapakmu berhenti nyupir, di rumah saja, malah ngambek,” jelas Ibu.


“Sekarang mana Pakdenya, Bu?” tanya Kapten Biru.


“Itu di mobil saja katanya sama Bulek Nar. Takut mau masuk banyak tentara, takut salah ngomong nanti ditembak katanya. Kalau Bulek Nar, masih pusing tadi mabok kendaraan sepanjang perjalanan,” Bu Suryo bercerita dengan semangat.


“Ya ampun, masih jadi dewa mabok ya Bulek Nar?”


“Ya iya, tambah parah. Tapi kekeh mau ikut karena mau ketemu aden kesayangannya kata Bulek Nar. Jadi biar mabok dia bela-belain ikutan," jawab ibu.


"Apa kamu sudah boleh pulang, Le? Kasian mereka nunggu kelamaan di mobil. Matahari juga sebentar lagi terbenam?” Ibu menunjuk ke arah barat.


Cahaya emas kemerahan mengisi cakrawala senja sore itu, mengantung indah di barisan awan yang masih bergumul mesra seperti pagi tadi. Mata Kapten Biru menatap sendu pada pemandangan yang penuh pesona itu mencoba menemukan gambaran wajah cantik dengan hidung dan mata cantik yang mampu membuatnya tak bisa tidur nyenyak setiap malam.


“Susah sekali mencarimu, Ndoro Bei!” Tiba-tiba suara perempuan yang selama beberapa bulan ini begitu dekat di telinga Kapten Biru terdengar jelas dari balik tubuh Pak Suryo.


Siapakah gerangan wanita yang datang bersama Pak Suryo?


Cari tahu kisah selengkapnya di episode mendatang ya!


Bye.

__ADS_1


__ADS_2