
Dari jauh Rengganis yang sedang berdiri di halaman PKM melihat Gendis mengayun sepedanya dengan cepat. Gadis berkuncir kuda itu dengan pelan menarik standar pada bagian sebelah kiri ontelnya.
“Bu Dokter, ada telepon dari Maminya Bu Dokter.” Gendis mencoba mengatur napasnya yang masih terdengar ngos-ngosan.
“Mami?” Rengganis membundarkan matanya.
“Ayo,” sambungnya lagi. Rengganis mengambil alih sepeda Gendis mencoba untuk mengendarainya.
“Ayo!” ulangnya lagi. Gendis tampak ragu-ragu naik ke atas boncengan dokter cantik itu.
“Kenapa? Takut ya?” tanya Rengganis sambil menahan tawa.
“E-eh, bukan, Bu—Dokter ,” Gendis terlihat bingung akan menjelaskan alasannya.
“Udah, naik saja. Saya bisa kok. Tenang. Di kota juga saya punya sepeda. Saya biasa gowes bareng temen-temen kalau hari minggu ke taman kota sepedahan bareng-bareng.”
Gendis mengangguk-angguk paham. Senyumnya dapat mengembang kini, dengan gesit gadis itu naik ke boncengan Rengganis. Memegang erat jas putih sambil menikmati wangi parfum yang sangat nyaman di penciuman Gendis. Ia tersenyum membayangkan bau kecut yang tercium dari tubuhnya yang terbiasa terpanggang matahari saat membantu Ibu membersihkan halaman pekarangan belakang dan memberi makan pada ternak-ternaknya. Kontras sekali dengan wanita yang selalu jadi idolanya itu.
Jalan berbatu yang terjal membuat Rengganis membutuhkan kekuatan kaki yang lebih dari pada bersepeda di kota seperti yang biasa ia lakukan.
“Capek ya, Bu? Biar saya saja.” Gendis merasa tak enak.
“Gak papa, saya masih kuat.” Rengganis mempercepat gerakan kakinya, sesekali wanita itu berdiri mencoba mengimbangi medan yang harus dilalui.
Belum juga sampai di rumah pak Yayan, Rengganis sudah cukup kehabisan tenaga. Rasanya ia tak sanggup lagi menggowes sepeda milik Gendis untuk melanjutkan perjalanannya menuju telepon Mami.
“Kamu duluan saja, biar aku jalan. Nanti kalau Mamiku telepon bilang hubungi saja beberapa menit lagi ya!” Perintah Rengganis sambil turun dari sepeda.
“Ah tidak, Bu. Biar saya temani.” Gendis menuntun sepedanya menjajari langkah kaki Rengganis.
“Nanti kalau Mami telepon gimana? Gak papa, Gendis duluan saja ya,” rayu Rengganis.
“Ah saya gak mau tinggalkan Dokter sendirian, nanti kalau diculik lagi gimana?” Gendis keceplosan. Gadis lugu itu buru-buru menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
“Hahaha…” Rengganis malah tertawa. Gendis yang melihat hal itu ikut tertawa juga. Hatinya lega, ia pikir dokter muda di sebelahnya itu akan tersinggung dengan kata-katanya barusan ternyata ia malah tertawa renyah sekali. Gendis semakin terkesan pada Dokter Cantik yang baik hati itu.
“Tak apa, duluanlah, saya baik-baik saja.”
Belum sempat Gendis mengeluarkan kata-kata penolakkannya, Katmia melintas di dekat mereka. Sontak wanita yang telah memiliki satu orang anak berusia balita itu menghentikan laju motornya.
“Mau kemana, Bu Dokter?” tanya Katmia.
“Eh Mbak Katmia. Ini mau ke rumah Gendis ada telepon dari orang tua saya,” jelas Rengganis.
“Ayo, biar saya antar saja, Bu. Masih jauh perjalanannya.”
Gendis dan Rengganis tak sengaja saling pandang. Mata Rengganis menangkap gadis muda itu mengangguk beberapa kali memintanya untuk menerima tawaran Mbak Katmia.
“Oke, terima kasih, Mbak, maaf jadi merepotkan.” Rengganis naik ke belakang boncengan Katmia.
__ADS_1
“Ah Bu Dokter kayak apa saja. Ya gak papa, Bu. Kebetulan saya juga mau beli susu titipan Tole, Bu.”
“Susu?”
“Iya, susu kemasan, Bu, jajanan, tadi Dezar minta dibawakan jajan kalau saya pulang kerja nanti.”
“Oh gitu.” Rengganis mengangguk tanpa mengerti maksud Mbak Katmia.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga tak terasa telah sampai di halaman pelataran rumah Pak Yayan.
Belum juga Rengganis turun dari motor Katmia, suara telepon telah berdering dengan sangat nyaring. Gadis berambut selembut sutra itu mempercepat langkahnya. Sampai di ruang telepon, Rengganis melihat Pak Yayan telah mengangkatnya dan setelah menyadari kedatangan Rengganis Pak Yayan segera memberikan gagang telepon pada Rengganis dan pamit ke luar ruangan.
Rengganis menerima gagang itu sambil tersenyum tanda terima kasih pada Pak Yayan.
“Assalamualaikum.”
“Alaikum salam, Nak. Apa kabar, Sayang?” Suara Mami terdengar penuh kerinduan.
“Baik, Mi. Mami, papi, dan nenek bagaimana?”
“Sama, kami semua di sini baik-baik saja.”
“Alhamdulillah, Mi. Rengganis senang dengarnya.”
“Mami sudah telepon lebih lima kali loh, Re, ini telepon ke enam. Padahal sudah mami beri jarak lima menit lima menit, memang jauh banget ya, Sayang?” Mami merasa kasian dengan perjuangan dan pengorbanan Rengganis.
“Lumayan, Mi. Seperti dari rumah ke butik Exflesso Mami?”
“Ya gak jalan kakilah, Mi.”
“Syukurlah, Mami kira Rengganis jalan kaki, bisa gede tuh betis anak mami,” terdengar suara Mami tertawa.
“Gak kok, Mi, Rengganis gak jalan kaki, Rengganis naik sepeda tadi.”
“What? Naik sepeda, Nak?” Mami kaget bukan kepalang.
“Iya, Mi.” Rengganis yang gantian tertawa.
“Ini siang bolong loh, Sayang. Masak olahraga siang-siang begini. Memang lagi program penurunan berat badan ya? Nanti hitam loh.”
“Ah Mami bisa saja. Oh ya, ada apa, Mi? Apa hanya kangen Rengganis saja nih?”
“Ya dong, Mami kangen banget sama Rengganis. Tapi Mami telepon juga mau kasih kabar yang pasti buat Rengganis seneng.”
“Apa itu, Mi?”
“Ada surat tu dari kampus favoritmu?”
“Yang bener, Mi?”
__ADS_1
“Iya, Sayang.”
“Rengganis diterima, Mi?”
“He-eh.”
“Alhamdulillah ya Allah.” Rengganis berteriak histeris. Hatinya begitu diliputi rasa bahagia. Mami pun tak mampu menahan titisan air mata bahagianya mendengar pekik suka-cita yang keluar dari mulut anak kesayangannya itu.
Rasa bersalah tiba-tiba menyayat-nyayat jantung Mami. Ia menyesal telah membuat putrinya bersedih di kali terakhir perjumpaannya. Kini, jarak yang membentang diantaranya dan Rengganis akan semakin jauh. Tapi demi mewujudkan cita-cita putrid semata wayangnya ia akan menahan semua rasa pedihnya itu.
“Mi, Rengganis pulang besok lusa urus semua berkas kelengkapan dan mulai persiapan.”
“Mami jemput ya?”
“Ah Rengganis bisa sendiri kok, Mi.”
“Gak papa, Mami ingin selalu bersama Rengganis sebelum Rengganis berangkat.”
“Baiklah kalau begitu, Bos.”
Mami menutup telepon. Ia tak sabar ingin segera menjemput putrinya. Ia tak mau kehilangan waktu sedetik pun saat bersama putrinya nanti. Ia akan memeluk Rengganis sebanyak yang ia bisa. Itulah keinginannya kini.
“Nia, cancel semua jadwal saya sampai tiga hari ke depan,” perintah Mami pada sekretaris pribadinya.
“Baik, Bu.” Gadis cantik berkaca mata dengan stelan blazer berwarna abu-abu itu segera mengangkat telepon di meja kerjanya.
Mata Rengganis masih berbinar terang. Pelan-pelan ia meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya. Senyumnya menarik sempurna hingga tercipta mahakarya teristimewa dari wajahnya yang cantik jelita.
Kriiing. Pesawat telepon di dekat Rengganis berbunyi lagi. Ia tahu pasti Mami kelupaan memberi tahunya sesuatu.
“Halo, Mi?” Rengganis dengan secepat kilat menyambar gagang telepon yang baru saja diletakkannya.
Semua hening, tak ada suara terdengar dari ujung sambungan telepon.
“Halo?” ulang Rengganis.
“Mi, Assalamuallaikum.”
“Apa rusak ya?” Rengganis menatap gagang telepon yang tak bersuara itu.
“Halo,” Rengganis memutuskan mengulang panggilannya untuk yang terakhir, jika tetap tak ada suara ia akan menutup sambungan teleponnya.
“Mungkin beneran rusak.” Dengan ragu-ragu gadis cantik itu menutup teleponnya.
Sementara di ujung sambungan telepon, sepasang mata elang mengerjap-ngerjap bimbang dengan tangan memegang dadanya yang berdetak tak karuan.
“Rengganis, aku kangen,” ucap Kapten Biru sambil menahan perasaannya yang tak dapat terbendung.
Sekali lagi tangan Kapten Biru menekan beberapa nomor yang belakangan ini terpatri jelas diingatannya.
__ADS_1
Tut-tut-tut. Teleponnya tak dapat tersambung. Pak Yayan dan Rengganis sedang mengotak-atik pesawat telepon memastikan bahwa pesawat telepon itu benar-benar rusak atau tidak. Pantas saja telepon Kapten Biru tak lagi dapat tersambung.
Tunggu lanjutan kisahnya ya! Bye….