My Sweet Girl

My Sweet Girl
Masa Lalu Yang Tersembunyi


__ADS_3

Ketika perasaan cinta sudah terjatuh pada satu orang. Maka berapa banyak penggoda pun tidak akan mempan bagi Alvaro. Seperti saat ini, tiba-tiba saja wanita di masa lalunya datang menemuinya. Seolah Tuhan sedang menguji kesetiaannya.


Alvaro manatap datar wanita yang tiba-tiba datang menemuinya itu. "Ada apa kau sampai datang kesini?"


Wanita berdarah bule itu duduk di kursi depan meja kerja Alvaro. Dia menatap mantan kekasih satu malamnya itu dengan senyuman penuh arti. "Ya ampun Sayang, apa kamu lupa denganku? Dengan cinta kita?"


"Cukup ya Evelin, kita tidak ada hubungan apapun sejak kamu bermain dengan pria lain"


"Ohh, untuk hal itu aku benar-benar minta maaf Alvaro. Tapi sekarang aku datang kesini benar-benar untuk kembali padamu. Aku ingin kita mencobanya lagi"


Alvaro tertawa mendengar itu, masa lalunya saat kuliah di luar negara membuat dirinya terlibat pergaulan bebas. Alvaro bertemu dengan Evelin di sebuah club malam terkenal disana. Hingga dia terlibat cinta satu malam dengan Evelin. Jika di tanah air jika seorang pria yang telah meniduri seorang wanita, maka harus bertanggung jawab untuk menikahinya. Hal itu membuat Alvaro menjadikan Evelin kekasihnya dan siap menikahinya sebagai bentuk pertanggung jawaban.


Tapi, satu minggu kemudian dia melihat Evelin tengah melayani pria lain. Dan semua itu telah membuat Alvaro sadar jika Evelin tidak melakukannya karena sedang mabuk. Tapi memang itu adalah sebuah kebiasaan baginya, atau mungkin sebuah pekerjaan.


"Maaf Evelin, aku sudah menikah" Alvaro mengangkat tangan kirinya, menunjukkan cincin pernikahannya yang melingkar jelas di jari manisnya.


Melihat itu tentu membuat Evelin terkejut, dia pernah menertawakan Alvaro karena berniat menikahinya meski usia mereka masih sangat muda dulu. Hanya karena cinta satu malam. Tapi saat ini, dia baru sadar jika Alvaro benar-benar sosok seorang pria yang sejati yang siap menikahi wanita. Bukan hanya untuk mempermainkannya saja.


"Wahh. Kau benar-benar sudah menikah, lalu apa istrimu tahu tentang kita?"


Alvaro diam, tentu saja Tami tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya. Apalagi tentang dirinya yang pernah tidur dengan Evelin. Jika Tami tahu, mungkin dia akan semakin menutup hatinya untuk Alvaro.


"Haha. Tentu kau tidak akan memberi tahu istrimu tentang hubungan kita. Tapi, kira-kira apa yang akan di lakukan istrimu ya jika tahu tentang masa lalu kamu itu"


"Jangan berani kau mengancamku! Sekarang pergi dari sini!" Alvaro berdiri dari duduknya dan menatap Evelin dengan tajam. Kedua tangannya tertumupu pada meja kerja, Alvaro tidak suka jika ada yang mengusik miliknya. Dan Tami adalah miliknya.


"Aku tidak mengancam mu, aku hanya sedang berandai jika istrimu tahu tentang kita, apa reaksinya"


Alvaro menghela nafas kasar, sepertinya dia harus mengikuti cara main Evelin saat ini. "Apa maumu?!"


Evelin tersenyum saat Alvaro mulai masuk ke dalam perangkapnya. "Aku hanya butuh pengakuanmu atas bayi yang sedang aku kandung. Karena orang tuaku akan sangat marah jika tahu aku hamil tanpa mengetahui siapa pria yang menghamili anaknya"


"Kau gila? Tidak! Aku tidak mau melakukannya. Bayi itu bukan anakku"


"Ya, aku tahu. Sialnya aku kelaparan hingga hamil"

__ADS_1


"Kenapa tidak kau cari saja pria yang menghamilimu"


"Aku tidak tahu dia siapa, karena dia bukan orang dari negara sana"


"Pokoknya aku tetap tidak bisa melakukannya, aku memilih kau memberi tahu istriku tentang masa laluku daripada aku harus mengakui bayi yang bukan darah dagingku!"


Alvaro bisa meyakinkan Tami jika semuanya hanya sebatas masa lalu, jika saja Evelin berani memberi tahu Tami tentang masa lalunya. Tapi, jika dia mengakui anak Evelin sebagai anaknya. Maka masalah akan lebih besar daripada apa yang dia bayangkan.


Evelin meraih tangan Alvaro, dia menatap pria itu dengan sangat memohon. "Al, aku mohon. Aku juga tidak sejahat itu jika harus membunuh bayiku sendiri. Aku tidak mau menggugurkannya"


Sebenarnya Evelin sudah tidak terlalu memikirkan tentang masa lalunya dengan Alvaro. Dan kenapa saat ini dia bisa menemui Alvaro dan memintanya untuk mengakui bayi dalam kandungannya ini.


Semuanya karena kejujuran Alvaro di masa lalu. Saat dia yang sedang mabuk, tidak sengaja melakukannya dengan Evelin. Tapi Alvaro benar-benar pria pertama yang langsung mencarinya dan menjadikannya kekasih bahkan berniat menikahinya hanya karena cinta satu malam. Dan Evelin kira Alvaro bisa menjadi ayah untuk anaknya. Meski hanya pura-pura dan sementara saja.


"Tidak Evelin, aku tidak akan mau melakukannya"


Hah..


Evelin menghembuskan nafas berat, ternyata tidak semudah yang dia fikirkan. Akhirnya Evelin menyerah saja. Dia berjalan gontai ke luar ruangan Alvaro. Dan dia tidak sengaja berpapasan dengan pelayan berkaca mata yang tersenyum sopan padanya. Evelin hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


...πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«...


Tami masuk ke ruangan suaminya dengan membawa nampan berisi makan siang untuk suaminya. Seperti biasa, Alvaro akan memintanya untuk mengantarkan makan siang. Padahal sebenarnya itu hanya jadi alasan saja, karena Alvaro yang ingin bertemu dengan istrinya di sela-sela jam kerja.


Siapa perempuan tadi ya, kok dia keluar dari ruangan Tuan Alvaro dengan wajah sedih seperti itu.


"Sayang..."


Tami mengerjap kaget saat Alvaro menegurnya, dia sedang menata makanan di atas meja saat ini. "Eh, i-iya Sayang. Ada apa?"


"Kamu bengong aja deh, ada apa? Kamu sedang memikirkan sesuatu?"


Tami menghampiri suaminya yang sudah duduk di atas sofa. Dia menyimpan nampan kosong di bawah meja depan sofa. "Tidak papa. Ayo makan siang dulu"


"Suapin, tangan aku pegel habis menandatangani beberapa kontrak kerja sama"

__ADS_1


"Masa sampai gak kuat angkat sendok si, ada-ada kamu ini"


Tami hanya menggeleng heran dengan tingkah suaminya yang semakin hari semakin aneh dan banyak maunya. Minta Tami memeluknya, mengelus kepalanya atau seperti saat ini, meminta Tami untuk menyuapinya makan.


Alvaro tidak menjawab, dia malah memeluk tubuh istrinya dari belakang. Menyandarkan keningnya di punggung Tami.


"Sayang, ayo makan siang dulu ih. Aku gak bisa lama-lama ada disini, nanti yang lainnya akan curiga"


Tami mengambil makan siang untuk suaminya dan siap menyuapi suaminya yang kini sudah seperti bayi besar baginya.


Alvaro melepaskan pelukannya "Biarkan saja kalau mereka curiga. Toh memang kamu istriku"


"Ish kamu ini, sudah ahh ayo makan dulu. Buka mulutnya Sayang"


Benar-benar seperti bayi besar yang manja, Alvaro menuruti perintah Tami. Dengan senang dia makan dengan disuapi oleh istrinya itu. Sampai tak terasa makan siangnya telah habis tak bersisa.


"Kamu udah makan Sayang?"


Tami mengangguk, dia membereskan bekas makan suaminya dan dia harus segera kembali pada pekerjaannya. "Sudah tadi di kampus"


Alvaro mengelus kepala istrinya dan memberikan kecupan disana. "Kenapa sudah bekerja, padahal masih datang bulan"


Tami menoleh dan tersenyum pada suaminya. Entah kenapa Tami selalu merasa jika Alvaro begitu tulus padanya. Namun, sampai saat ini Tami masih menjaga hatinya untuk tidak terbuai dengan semua yang Alvaro lakukan padanya. Tami takut kecewa di masa depan nanti.


"Sudah tidak papa kok, kamu tenang saja"


AlvaroΒ  menyandarkan dagunya di bahu Tami, rasanya dia masih tidak rela untuk pisah dengan istrinya saat ini. "Nanti malam siap-siap ya, kita akan datang ke undangan waktu itu"


"Iya, oh ya Sayang tadi ada wanita yang keluar dari ruanganmu ini"


Deg..


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2