My Sweet Girl

My Sweet Girl
Pasti Kuat Melewati Semua ini


__ADS_3

"Nak Alvaro, sebaiknya kamu pulang dulu ke rumah. Biar Ibu dan Ayah yang menunggu Tami disini. Dokter bilang, Tami bisa di pindahkan ke ruang perawatan biasa jika detak jantungnya sudah benar-benar stabil"


"Tidak bisa Bu, aku tidak ingin meninggalkan istri dan anakku"


"Nak, pulanglah biar Ayah dan Ibu yang berada disini saja. Biar nanti kita bisa gantian untuk menunggu Tami" kata Ayah, dia hanya mencoba untuk tegar saat melihat keadaan putrinya yang benar-benar sangat memprihatinkan.


"Iya Al, lebih baik kamu pulang dulu sama Tante sekarang. Kamu juga harus membawa beberapa baju ganti untuk selama disini"


Akhirnya Alvaro menurut, dia pulang ke rumah untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Ketika Alvaro membuka pintu kamar, semua kenangan tentang dirinya dan Tami langsung terlintas dalam ingatannya. Dari awal pernikahan mereka hingga akhirnya kata cinta saling terucap dari keduanya.


"Sayang, kamu pasti kuat dan akan kembali lagi ke rumah ini"


Alvaro masuk ke dalam kamar mandi, segera mandi dan berganti pakaian. Menyiapkan beberapa pakaian dan barang yang mungkin akan dia butuhkan saat menjaga Tami di rumah sakit.


Setelah semuanya siap, Alvaro langsuny turun ke lantai bawah. Melihat Tante yang berada di ruang tengah.


"Tan, Al kembali ke rumah sakit sekarang"


Tante mengangguk. "Yaudah, Tante akan di rumah dulu, besok mungkin Tante akan datang lagi ke rumah sakit"


"Iya Tan, terima kasih"


Alvaro segera pergi kembali ke rumah sakit. Dia tidak bisa jika harus berjauhan terlalu lama dengan istrinya. Sampai disana sudah ada Aiden dan istrinya, juga Alvino bersama istrinya.


"Al, sabar ya" Aiden menepuh bahu Rega, mencoba memberikan sahabatnya ini kekuatan atas cobaan yang sedang menimpanya.


"Iya, makasih ya"


Istrinya Aiden yang juga sahabat Tami, sudah tidak bisa menahan air matanya ketika melihat kondisi sahabatnya saat ini. Dia datang kemarin malam sebelum operasi berjalan, dan Tami terlihat baik-baik saja dan dia selalu yakin jika dirinya pasti bisa melewati semua ini. Tapi, ketika melihat keadaan Tami saat ini, Ayra benar-benar tidak menyangka.


"Bagaimana kata Dokter, Kak Al? Tami pasti sembuh 'kan?" Ayra menghapus kasar air mata yang menetes begitu saja di pipinya.


"Semoga saja Ay, tapi aku yakin jika istriku akan kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini"

__ADS_1


Ayra mengangguk yakin. "Ya, dia gadis yang kuat. Pasti bisa melewati semua ini, Tami pasti kuat"


Dan setelah hari itu hidup Alvaro benar-benar hanya berada di sekitar istrinya. Menunggu istrinya bangun, meski dia tidak tahu kapan waktu itu akan datang. Sampai satu bulan berlalu, keadaan Tami masih belum menunjukan perubahan apapun. Hari ini bayi Alavaro dan Tami sudah bisa di bawa pulang. Berat badannya dan ke-stabilan alat pernafasannya sudah benar-benar baik. Jadi kedua bayi kembar itu diizinkan pulang.


Alvaro masuk ke dalam ruangan Dokter, dia duduk berhadapan dengan Dokter dengan terhalang meja kerja saja.


"Saya ingin membawa istri saya pulang, biarkan dia di rawat di rumah saja"


"Saya mengerti keinginan Tuan, tapi harus ada alat yang perlu di beli untuk istri anda dan juga perawat khusus untuk terus mengontrol keadaan istri anda"


"Saya lakukan, tidak peduli seberapa mahal. Saya hanya ingin istri saya merasakan suasana rumah yang nyaman"


"Baiklah, saya akan mengurusnya. Mungkin harus ada berapa berkas yang harus anda tanda tangani dulu. Dan alatnya akan datang mungkin lusa, dan anda akan mengambil perawat siapa untuk istri anda?"


"Saya mengambil Dokter dari luar, teman saya saat kuliah"


Mendengar itu, Dokter sedikit terkejut. Dia sudah membayangkan berapa biaya yang akan di keluarkan Alvaro untuk istrinya ini. Tapi, Dokter juga merasa salut dengan cinta seorang suami yang begitu besar pada istrinya.


"Baiklah, saya akan mengurus semuanya"


"Anak-anak kita sudah satu bulan, mereka sudah bisa pulang. Kenapa kamu masih betah terlelap seperti ini. Apa kamu tidak merindukan aku? Hal apa yang membuat kamu begitu betah dalam mimpi indahmu itu"


Setiap hari Alvaro terus mengajak istrinya untuk berbicara banyak hal, tapi sayang karena tetap tidak ada respon apapun dari istrinya.


"Sayang, nanti kita pulang ke rumah ya. Kita akan kembali tinggal bersama..."Alvaro mengelus kepala istrinya, mengelus kelopak mata yang terus terpejam itu dengan ibu jarinya. "...Kamu pasti bosan berada disini, pasti tidak merasa nyaman dengan keadaan disini"


Alvaro tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca ketika istrinya benar-benar tidak memberikan respon apapun.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Akhirnya setelah beberapa persyaratan yang haru Akvaro setujui, Tami bisa di bawa pulang ke rumah. Alvaro sengaja mengerjakan Dokter yang ahli di rumahnya untuk menjaga dan merawat Tami. Dia adalah teman kuliah dia saat di luar negara.


"Dokter Clarissa, mari masuk"

__ADS_1


Clarissa tertawa mendengar ucapan Alvaro. "Apaan si Al, panggil Clarissa saja seperti biasa. Lagian kita adalah teman"


Alvaro mengangguk, dia tersenyum tipis pada teman kuliahnya dulu. "Baiklah, ayo masuk"


Clarissa masuk ke dalam rumah Alvaro, di dalam rumah cukup banyak orang. Ada keluarga dan sahabatnya yang hadir untuk menyambut kedatangan Tami yang telah bisa di bawa ke rumah, meski keadaannya masih belum menunjukan kemajuan apapun.


"Wahh, seperti reuni ya. Hai, apa kabar Aiden, Rega, Vino dan Saqila"


Clarissa memeluk Saqila, temannya saat kuliah ini terlihat semakin cantik setelah menikah dengan Alvino.


"Baik Cla, kamu apa kabar? Hebat banget sudah jadi dokter sekarang"


"Hehe. Iya, kamu juga sudah mempunyai perasaan scincare yang terkenal. Hebat"


Di pojok ruangan ada Ayra yang duduk di sofa dengan memangku anaknya. Bersama dengan Tante, Ayah dan Ibu. Dia merasa semakin rendah diri ketika melihat golongan teman-teman suaminya yang begitu wahh. Bahkan Saqila saja, sebagai mantan istri suaminya begitu hebat dengan kariernya yang sangat bagus sebagai pengusaha wanita.


"Itu suami kamu terus menatap kesini Ay, mungkin dia ingin kamu kesana" kata Ibu


Ayra menggeleng pelan sambil menatap suaminya. "Ay malu Bu, disana golongan orang-orang kaya semua"


Tante terkekeh melihat kepolosan Ayra itu. "Kamu ini Ay, kamu juga sudah jadi istrinya orang kaya. Lagian kenapa haru malu? Kamu 'kan istrinya Aiden. Jadi seharusnya kamu sudah terbiasa dengan semua teman-teman suamimu itu"


"Iya Tante, tapi Ay tetap malu"


Sikap Ayra ini mengingatkan Tante dan Ibu dengan Tami. Selalu bersikap apa adanya dan terlalu polos.


Semuanya berkumpul untuk makan siang bersama. Barulah setelah makan siang hanya tinggal Tante dan Ibu yang tinggal di rumah. Mereka akan menjaga kedua bayi Tami selama Ibunya masih betah dalam tidur panjangnya.


Alvaro masuk ke dalam kamar, melihat istrinya yang berbaring di atas tempat tidur mereka. Rasanya dia merindukan pemandangan ini. Dimana istrinya berada di atas tempat tidur mereka. Tapi bukan untuk tidur panjangnya seperti ini. Alvaro naik ke atas tempat tidur. Berbaring di samping istrinya dan memeluknya.


"Cepatlah bangun Sayang, aku rindu suara kamu dan pelukan kamu saat tidur"


Alvaro terlelep dengan memeluk istrinya. Setelah satu bulan lamanya, baru kali ini Alvaro kembali merasakan kenyamanan saat tertidur. Ketika dia kembali memeluk istrinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2