
Dua hari sudah Alvaro berada di luar kota, tapi sampai saat ini Tami benar-benar belum mendapatkan kabar apapun dari suaminya. Bahkan pesan yang dia kirim di hari Alvaro pergi saja belum terkirim sampai hari ini. Hal ini membuat Tami khawatir sebenarnya, tapi dia mencoba untuk berfikir jernih.
"Mungkin disana susah sinyal, kan kotanya cukup pelosok juga. Ya Tuhan, aku hanya minta lindungi suamiku dimana pun dia berada"
Pulang kuliah kali ini, Tami merasa suasana rumah begitu sepi. Meski ada seorang pelayan yang di tugaskan Alvaro menemani Tami. Sebenarnya dia adalah petugas kebersihan yang biasa datang tiga kali dalam satu minggu. Dan sekarang dia harus berada di rumah selama 24 jam, hanya untuk menemani Tami. Mungkin sampai Alvaro kembali dan selesai dengan pekerjaannya di luar kota.
"Nona, mau makan apa untuk makan malam nanti? Biar saya masakan"
"Apa saja Bu, aku tidak pilih-pilih makanan kok"
"Baik Nona, tapi tidak memakai seafood ya"
Tami mengangguk, pasti suaminya sudah memberi tahu tentang alergi yang di alaminya. Alvaro benar-benar selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya.
"Sama susu kedelai juga ya Bu, aku juga alergi dengan kacang kedelai"
"Baik Nona"
Tami berpamitan pada Ibu petugas kebersihan itu untuk ke kamar. Dia masuk ke dalam kamar dengan langkah yang gontai. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia sedang merasa lemah beberapa hari ini. Padahal dia juga tidak melakukan aktifitas apapun seharian ini. Tapi entah kenapa tubuhnya selalu terasa lemas dan tidak terlalu bersemangat.
"Aku kangen suamiku..."Tami menghidupkan layar ponselnya, namun tetap tidak ada notifikasi pesan dari Alvaro. Pesan yang Tami kirim saja masih tetap centang satu, hal itu membuat Tami menghela nafas pelan. "...Kenapa masih belum aktif juga si"
Akhirnya karena terlalu lelah, Tami malah tertidur dengan posisinya yang tidak benar. Kaki menggantung ke atas lantai, tidur dengan tengkurap.
Di kota yang berbeda, Alvaro sedang uring-uringan pada Odi. Dia kesal karena tidak bisa menghubungi istrinya. Padahal dia sudah sangat merindukan istrinya itu.
"Apa disini akan selamanya tidak ada sinyal?"
"Mungkin ada Tuan, tapi harus ke perbukitan tinggi"
Alvaro mengacak rambutnya kasar, jika dulu dia justru sengaja tidak mengaktifkan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu dirinya saat bekerja. Tapi sekarang situasinya berbeda, dirinya sudah mempunyai Tami yang selalu dia rindukan. Apalagi sudah dua hari ini, dia tidak bisa menghubungi Tami.
"Yasudah antar aku kesana, aku ingin menghubungi istriku. Aku tidak bisa terus berdiam disini, dan belum menghubungi istriku sejak aku datang kesini"
__ADS_1
"Baik Tuan"
Akhirnya Odi mengantar Alvaro ke sebuah perbukitan tinggi di kota itu. Alvaro sampai beberapa kali hampir terjatuh saat naik ke atas bukit ini. Jika tidak di dampingi dengan Odi, mungkin dia akan terjatuh dan dipastikan nyawanya akan melayang.
"Pantas saja disini belum ada Resto berbintang, masih pelosok banget"
"Iya Tuan, ada penginapan saja masih beruntung. Jadi kalau bisa tolong pasang pemancar sinyal untuk ponsel di kota ini. Pasti akan lebih baik juga untuk pengunjung yang datang kesini untuk berwisata, karena suasana asri disini masih memiliki harga jual untuk sebuah tempat wisata"
Mendengar penjelasan Odi, Alvaro sedikit berpikir. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Odi barusan. "Tunggulah, aku akan menelpon temanku dulu"
Akhirnya Alvaro bisa mendapatkan sinyal, meski harus dengan perjuangan yang sangat keras. Menaiki bukit yang tinggi. Alvaro menelepon Aiden, ingin mengusulkan ucapan Odi barusan.
"Hallo Aiden, aku ada proyek baru untukmu. Selain akan menguntungkan, kamu juga akan banyak membantu banyak orang"
"Apa? Katakan dengan jelas"
Alavro menjelaskan apa yang dibicarakan Odi barusan. Bahkan Alvaro juga memberikan ponselnya pada Odi untuk dia yang berbicara langsung pada Aiden. Dan Aiden meminta waktu untuk memikirkan hal itu dan mendiskusikan dengan beberapa investor di perusahaannya.
"Iya Tuan, semoga saja"
Akvaro segera menghubungi istrinya setelah selesai dengan urusannya dengan Aiden. Duduk di atas bebatuan yang ada disana. Menunggu teleponnya terjawab. Namun, sambungan telepon pertama tidak terjawab oleh Tami. Hingga di sambungan telepon ketiga barulah Tami mengangkat teleponnya.
"Hallo, Sayang"
"Ishh. Kemana aja si, aku udah hubungi kamu dari kemarin. Tapi kenapa ponsel kamu tidak aktif"
Alvaro tersenyum mendengar suara kesal bercampur khawatir dari istrinya di sebrang sana. "Disini susah sinyal Sayang, jadi aku tidak bisa menghubungimu. Ini saja aku harus naik ke perbukitan agar bisa dapat sinyal telepon"
"Ya ampun Sayang, disana masih terlalu pelosok ya"
"Iya Sayang. Oh ya, bagaimana kabarmu? Apa masih suka mual?"
Terdengar helaan nafas panjang di sebrang sana. "Gak tau, masih suka mual sampai sekarang. Tapi keadaan aku baik-baik saja kok. Bagaimana dengan kamu?"
__ADS_1
"Sebaiknya kamu ke dokter lagi, periksa lagi kenapa rasa mualnya terus berlanjut sampai sekarang. Aku baik disini, tapi aku khawatir dengan keadaan kamu"
"Aku tidak papa Sayang, iya nanti kalau aku masih sering mual kayak gini aku akan segera periksa"
Akhirnya Alvaro dan Tami bisa melepas rindu, meski hanya sejenak. Rasanya keduanya tidak ingin mengakhiri panggilan telepon itu, namun Alvaro tetap harus menjalankan beberapa pekerjaannya agar semua pekerjaan disini akan segera selesai dan dia bisa segera kembali ke Ibu kota.
Selesai menghubungi Tami, Alvaro dan Odi kembali ke tempat proyek dimana nantinya akan dibangun Slick Grind Resto cabang disana.
Dengan menggunakan helm proyek, Alvaro melihat-lihat tempat proyek ini sambil mendengarkan penjelasan dari arsitek pemegang pembangunan ini.
Setelah semuanya sesuai dengen keinginannya, Alvaro segera kembali ke penginapan. Dia harus mengistirahatkan tubuhnya agar kembali fresh besok pagi.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Seminggu berlalu, kondisi Tami masih sama. Setiap pagi dia selalu muntah-muntah dan nafsu makannya juga berkurang akhir-akhir ini. Membuat Tami memutuskan untuk pergi ke dokter dan melakukan pemeriksaan.
"Jadi bagaimana keadaan saya Dok? Apa sakitnya tidak parah?"
Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Tami setelah dia selesai melakukan pemeriksaan. "Anda tidak sakit Nona, saat ini anda sedang mengandung"
Deg..
Tami sampai tidak percaya dengan ucapan Dokter barusan. Refleks tangannya mengelus perutnya yang masih rata. Matanya mulai berkaca-kaca. Akhirnya apa yang dia nantikan selama ini, kini telah hadir di dalam perutnya. Rasa bahagia yang tidak bisa Tami ucapkan dengan kata-kata.
"Beneran Dok? Saya beneran hamil?"
Dokter mengangguk dengan yakin, dia masih memegang hasil pemeriksaan Tami barusan. "Iya Nona, dan mulai saat ini tolong di jaga kehamilannya. Jangan terlalu kecapean dan banyak pikiran. Karena semua itu bisa mempengaruhi kesehatan bayi dan Ibu"
Tami mengangguk, dia mengambil hasil pemeriksaan dan beberapa obat dan vitamin yang di berikan Dokter barusan. Lalu keluar dari ruang pemeriksaan dengan perasaan yang begitu bahagia. Perasaan bahagia yang tidak bisa dia ungkapankan lagi dengan kata-kata.
Tangannya terus mengelus lembut perutnya. "Baik-baik dalam perut Mama ya Nak, nanti kita kasih kejutan kalau Papa kamu pulang"
Bersambung
__ADS_1