
Entah ini mimpi atau nyata, tapi saat Alvaro bangun pagi ini dia melihat mata istrinya yang terbuka. Alvaro sampai mengucek matanya, merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Sayang.." Alvaro benar-benar tidak bisa berucap apapun ketika melihat istrinya yang telah bangun. Tami tidak mengatakan apapun, dia hanya mengedipkan matanya sebagai respon pada panggilan Alvaro barusan.
Alvaro segera berlari ke luar kamar dan memberi tahu semua orang jika Tami telah sadar. Clarissa segera masuk ke kamar Tami, memeriksa keadaannya. Dan dia tersenyum melihat Tami yang telah sadarkan diri, meski Tami masih belum bisa berbicara apapun.
"Ini sungguh keajaiban, setelah satu tahun. Kini kamu kembali membuka matamu, Tami"
Tami menatap Clarissa dengan bingung, dia bertanya-tanya siapa wanita cantik yang berada di depannya saat ini.
Aku akan menikah lagi jika kau tidak kunjung sadar.
Sepintas Tami pernah mendengar suara suaminya yang mengucapkan kalimat seperti itu. Dan sekarang dia sadar jika wanita di depannya mungkin saja adalah istri kedua suaminya. Tami melirk Alvaro yang duduk di atas tempat tidur, disampingnya.
Ternyata kamu tetap tidak bisa bertahan dan benar-benar menunggu sampai aku sadar.
"Loh Sayang, kenapa menangis?" Alvaro kaget ketika melihat air mata Tami yang menetes dari sudut matanya. Dia mengusap air mata itu dengan lembut. "...Ada apa? Kenapa kamu sering sekali menteskan air matamu? Apa ada yang sakit"
Ya, hatiku yang sakit karena kau yang telah mengkhianati aku.
"Al, jangan dulu mengajak Tami banyak bicara. Pita suaranya masih belum pilih sepertinya. Biarkan saja dulu dia istirahat"
"Baiklah"
Alvaro mengelus kepala Tami, lalu mengecup keningnya. Dia benar-benar merasa bahagia ketika melihat istrinya yang telah sadar. Penantiannya selama satu tahun ini, tidak menjadi sia-sia.
"Aku mencintaimu" bisik Alvaro di telinga Tami.
Tami hanya memejamkan matanya, dan air mata kembali mengalir di sudut matanya. Tami ingin bicara, tapi dia tidak bisa. Suaranya seolah hilang begitu saja. Bahkan untuk membuka mulutnya saja, dia sangat kesusahan.
"Sudah ya, jangan menangis lagi. Aku akan selalu bersamamu" Alvaro mengusap air mata yang menetes di sudut mata istrinya itu.
Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Kamu telah menikah lagi dengan wanita cantik itu.
Alvaro benar-benar merasa bahagia ketika melihat istrinya yang telah sadar. Sekarang dia hanya berada di kamarnya, bahkan untuk sarapan dan makan siang pun dia bawa ke dalam kamar. Alvaro tidak mau sekejap saja meninggalkan istrinya. Dia takut jika dia pergi, maka Tami akan kembali tidak sadarkan diri.
"Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh, aku akan menyuapimu makan yang banyak agar tubuhmu itu tidak kurus lagi"
Tami hanya diam, tidak bisa memberikan respon apapun. Tubuhnya masih sangat berat untuk di gerakan. Bahkan mulutnya juga sulit untuk di buka. Padahal Tami ingin sekali berbicara pada suaminya.
Aku marah karena kamu menikah lagi. Tega sekali kamu melakukan ini?
__ADS_1
Semua kalimat yang ingin dia katakan, hanya terucap di dalam hatinya saja. Tami tidak bisa mengucapkannya secara langsung.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Satu hari terlewati sejak Tami bangun dari koma. Pagi ini Avaro sengaja membawa kedua anaknya untuk menemui istrinya yang sudah tersadar.
"Ma..ma..ma.."
Alma dan Alqi menepuk-nepuk tangan mungilnya pada tangan Tami. Melihat kedua anaknya membuat Tami sangat ingin memeluk kedua anaknya itu. Anak-anak yang dia lahirkan, namun baru pertama kali dia melihatnya.
"Ma..ma.."
Iya Sayang, ini Mama.
Tami berusaha keras mengangkat tangannya dan mengelus kepala Alma. Bibirnya tersenyum lirih saat dia bisa menyentuh anaknya.
Melihat itu Alvaro tersenyum, istrinya benar-benar tidak sabar untuk bisa menggendong anak kembar mereka.
"Sayang, mereka aku beri nama Alma dan Alqi. Cepatlah sembuh, agar kau bisa menggendongnya"
Pintu kamar yang terbuka membuat Alvaro mendongak dan menatap ke arah Clarissa yang berjalan ke arah mereka. "Wah. Alma dan Alqi sudah bisa bertemu dengan Mama ya"
Tami melirik suaminya yang tersenyum mendengar pujian dari Clarissa. Tami jadi kesal sendiri dengan itu, namun dia tidak bisa melakukan apapun.
Berani sekali memuji suamiku di depan istrinya. Meski dia sudah menjadi istrinya juga.
"Yaudah, biar aku periksa ya Tami. Coba buka mulutmu"
Tami membuka mulutnya, Clarissa langsung menyenterken senter kecil ke dalam mulutnya dan melihat keadaan mulut dan tenggorokan Tami.
"Semuanya aman, coba kamu berbicara sedikit"
Tami mencoba mengeluarkan suaranya, namun sangat sulit. Tami tidak mau menyerah begitu saja, dia mencoba lagi untuk bisa mengeluarkan suaranya.
"A..aa.."
"Nah bagus, ayo terus mencoba mengeluarkan suaramu"
"Sayang, ayo panggil aku? Aku merindukan suaramu"
Tami menghembuskan nafas kasar, lalu dia mencoba melakukannya lagi. "A-alvaro"
__ADS_1
"Wah bagus Tami, kamu sudah mulai bisa mengeluarkan suaramu"
Alvaro melengos kesal, baru pertama kalinya Tami memanggil namanya seperti itu selama menikah. "Sayang, kenapa mamanggilku seperti itu"
Clarissa tertawa melihat Alvaro yang merajuk seperti itu. "Memangnya Tami biasanya memanggilmu seperti apa?"
"Sayang, ayolah kenapa memanggilku seperti itu?"
"Tami sepertinya kamu harus mengulangi ucapanmu memanggil suami kamu ini. Dia merajuk sekarang"
"Sa-sayang"
Cup..Cup..
Alvaro langsung mengecup kedua pipi istrinya dengan rasa senang. Begitu merindukan panggilan itu, membuat dirinya sangat senang ketika dia mendengar panggilan itu lagi dari Tami.
"Aku mencintaimu Sayang"
"Sudah, sudah. Aku merasa jadi obat nyamuk melihat kemesaraan kalian berdua"
Tami melirik ke arah Clarissa. Apa mungkin dia cemburu?
Beberapa saat kemudian Tami terus mencoba mengeluarkan suaranya. Hingga dia mulai merasa lebih gampang mengeluarkan suaranya.
"Ma..ma.."
Tami tersenyum mendengar kedua anaknya yang berceloteh memanggilnya. "I-iya Nak, in-ini Ma-ma"
"Itu Mama kalian, kini dia telah bangun. Do'a Alqi dan Alma sudah di dengar oleh Tuhan"
Tami hanya tersenyum ketika melihat kedua anaknya yang begitu lucu. Melihat mereka sehat saja, sudah menjadi anugerah terindah bagi Tami. Bahkan dia tidak pernah berfikir jika dia masih bisa selamat dan melihat kedua anaknya saat ini.
Alvaro mengelus lembut kepala istrinya, mengecup keningnya dengan air mata yang tiba-tiba saja menetes pada dahi Tami.
"Sayang, jangan pernah seperti ini lagi. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Aku sangat mencintaimu"
Dia sampai menangis?
Tami merasa tidak percaya saat melihat suaminya yang menangis. Terlihat jika suaminya benar-benar mencintainya. Tapi fikiran Tami tetap tentang Alvaro yang sudah menikah lagi dengan Clarissa.
Bersambung
__ADS_1